Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Bayang Bayang
Sore itu, langit mulai memperlihatkan tanda-tanda hujan. Sael baru saja menyelesaikan hari yang melelahkan di kantornya.
Saat ia melangkah keluar dari lobi gedung, suara bising kota menyambutnya dengan kasar. Ia berdiri di tepi trotoar, memijat pelipisnya yang berdenyut.
Harinya terasa sangat panjang dan desakan untuk segera sampai di rumah terasa seperti satu-satunya tujuan hidupnya saat ini. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang berdiri terlalu dekat dengan tepi jalan, pikirannya masih berkelana pada tumpukan berkas di meja kerjanya.
Tiba-tiba, suara klakson panjang yang memekakkan telinga memecah udara. Dari arah samping, sebuah truk kontainer besar melaju kencang, mencoba menerobos lampu kuning yang hampir berganti merah.
𝘉𝘙𝘈𝘒𝘒
Suara gesekan ban dengan aspal terdengar nyaring, diikuti oleh dentuman logam yang terhempas. Bagi orang lain, itu mungkin hanya kecelakaan kecil di persimpangan. Namun bagi Sael, dunia mendadak berputar di kepalanya. Suara itu adalah rekaman yang berulang di kepalanya selama delapan tahun.
Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dirinya dan kakaknya Killian, karena kecelakaan itu, ia kehilangan kakaknya dan mengalami patah tulang kaki kanannya.
Napas Sael tercekat. Ia mencengkram tas kerjanya. Pandangannya mengabur, bayangan mobil kakaknya yang hancur, suara kaca pecah, dan aroma bensin yang mencekik kembali menyergap. Ia mencoba menarik napas, namun paru-parunya seperti menolak bekerja.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪," batinnya, namun tubuhnya mulai gemetar. Sael mencoba mundur selangkah, kakinya terasa lemas.
Tepat saat ia hampir limbung, sebuah tangan kokoh dan hangat menggenggam lengannya dengan kuat.
"Sael. Lihat aku," suara itu rendah dan familiar.
Sael mendongak dengan napas tersengal, matanya berkaca-kaca menatap Aeros yang berdiri di sana dengan setelan kasualnya.
"Kak Aeros," bisik Sael parau.
"Jangan lihat jalan, lihat aku aja," perintah Aeros pelan. Ia menarik Sael menjauh dari tepi jalan, membawanya ke balik dinding beton sebuah bangunan, membelakangi hiruk-pikuk lalu lintas.
Aeros membiarkan Sael bersandar di dinding. Ia berdiri cukup dekat untuk memastikan Sael tidak jatuh. Kemudian ia mengeluarkan botol air mineral dari tasnya, membukanya dan memberikannya kepada Sael.
"Tarik napas, Sael. Perlahan," ucap Aeros, suaranya datar namun menenangkan. "Ikuti ritme napasku."
Aeros menarik napas dalam secara perlahan, lalu menghembuskannya. Ia terus melakukan itu sampai napas Sael yang tadinya pendek dan cepat, perlahan mulai stabil.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, begitu Sael membuka mata, ia melihat Aeros masih berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sudah lebih baik?" tanya Aeros singkat.
Sael mengangguk pelan, menyeka peluh dingin di dahinya. "Maaf Kak, aku tidak bermaksud... "
"Tidak perlu minta maaf, Sael," potong Aeros.
Ia mengambil alih tas Sael yang terasa berat.
"Mobilmu ada di mana?" tanyanya.
"Di parkiran kantor," jawab Sael pelan.
"Tidak," Aeros menggeleng. "Aku akan mengantar mobilmu ke rumahmu. Kamu ikut aku."
Sael menatapnya dengan ragu-ragu, bingung harus merespon apa.
Melihat keraguan di wajah Sael, Aeros pun menarik pelan pergelangan tangan Sael dan membawanya menuju motor miliknya yang terparkir di pinggir jalan
"Mana kunci mobilmu?" tanya Aeros sambil memakaikan helm miliknya ke kepala Sael.
Sael kembali menatap mata Aeros masih dengan kebingungannya namun tangannya bergerak mencari kunci mobilnya dan memberikannya kepada Aeros.
"Naiklah," ujar Aeros setelah menyalakan motornya dan menurunkan pijakan untuk Sael.
"Makasih ... " Sael naik ke motor Aeros dengan hati-hati.