NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama di Balik Tirai

Pangeran Agung tergantung di udara. Cengkeraman tangan kiri Ling Chen pada kerah jubah mewahnya terasa sekencang lilitan ular piton raksasa.

​Napas sang pangeran makin memburu. Matanya melotot, menatap langsung ke dalam sepasang manik biru safir milik Ling Chen yang memancarkan hawa membunuh sedingin es abadi.

​"Aku... aku tidak bisa mengatakannya, Tuan Muda Ling..." ratap Pangeran Agung dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

​"Kalau aku membocorkan nama mereka... jiwaku akan langsung dihancurkan oleh kutukan darah!" lanjutnya dengan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya yang kotor.

​Ling Chen tidak melepaskan cengkeramannya. Dia justru menyipitkan matanya, membuat tekanan spiritual di dalam ruangan bawah tanah itu naik dua kali lipat.

​KRETEK...

​Lantai batu di bawah kaki mereka mulai retak perlahan akibat pancaran energi murni Tulang Dewa milik Ling Chen.

​"Kutukan darah?" Ling Chen tersenyum sinis, sebuah senyuman yang terlihat sangat mengerikan di bawah temaram batu permata malam.

​"Kamu lebih takut pada kutukan darah klan Benua Tengah itu daripada takut padaku, Pangeran?" tanya Ling Chen dengan nada meremehkan.

​"Asal kamu tahu, di depanku, hukum kutukan paling sakral di dunia fana ini tidak lebih dari sekadar coretan tinta anak kecil," lanjut Ling Chen dingin.

​Mu Rong'er melangkah mendekat dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Tangannya masih memeluk kotak kayu berisi Giok Jiwa Sembilan Langit dengan sangat erat.

​"Pangeran! Cepat katakan!" seru Mu Rong'er dengan suara yang bergetar menahan amarah yang mendalam.

​"Siapa yang sudah menghancurkan keluargaku demi giok ini?! Siapa?!" tuntut Mu Rong'er dengan mata yang mulai berkaca-kaca mengingat tragedi masa lalunya.

​"Kyuu~!" Kuro yang ada di pundak Mu Rong'er ikut menggeram rendah, mengeluarkan percikan petir hitam tipis dari tubuh kecilnya sebagai bentuk ancaman.

​Pangeran Agung menggelengkan kepalanya dengan histeris di udara. Wajahnya bener-bener sudah tidak karuan lagi bentuknya.

​"Hamba beneran tidak bisa, Nona Mu! Jiwa hamba sudah ditandai oleh mereka!" jerit Pangeran Agung dengan keputusasaan yang teramat sangat.

​"Begitu nama itu keluar dari mulutku, jantungku akan langsung meledak dari dalam!" lanjutnya sambil memegangi dada kirinya sendiri dengan tangan yang gemetar.

​Ling Chen mendengus pelan, lalu sedetik kemudian tangan kanannya bergerak secepat kilat menyentuh dahi Pangeran Agung menggunakan jari telunjuk dan tengahnya.

​SREEEK~

​Sebuah seberkas cahaya biru tua yang sangat murni mengalir masuk dari ujung jari Ling Chen, menembus langsung ke dalam ruang kesadaran spiritual sang pangeran.

​Di dalam ruang jiwa Pangeran Agung, Ling Chen melihat sesosok tato berbentuk naga hitam bermata merah yang sedang melilit inti jiwanya. Itulah segel kutukan darah yang dimaksud.

​Tato naga hitam itu mendadak membuka mulutnya, mencoba menggigit energi biru murni milik Ling Chen yang baru saja masuk menginvasi.

​"Hanya segel jiwa tingkat rendah buatan kultivator amatir," bisik Ling Chen di dalam batinnya dengan sangat meremehkan.

​"Hancur!" perintah Ling Chen dengan kehendak jiwanya yang setingkat mantan Kaisar Pedang penguasa langit.

​PYAAAARRR!

​Tato naga hitam yang mengunci jiwa Pangeran Agung langsung retak seribu jengkal, lalu hancur lebur menjadi abu spiritual tak berbekas dalam hitungan milidetik.

​UHUK!

​Pangeran Agung memuntahkan seteguk darah hitam yang kental ke atas lantai batu, namun anehnya, dadanya yang tadinya terasa sangat sesak mendadak menjadi luar biasa lega.

​Ling Chen melemparkan tubuh pria paruh baya itu kembali ke atas tanah dengan sangat santai, seolah-olah baru saja membuang sekarung sampah basah.

​BRUK!

​Pangeran Agung terkapar sambil terengah-engah, memegangi lehernya yang kini dipenuhi memar merah bekas cengkeraman tangan kiri Ling Chen.

​"Segel kutukan darahmu sudah kuhancurkan sampai ke akar-akarnya," ucap Ling Chen sambil mengelap tangannya menggunakan selembar kain sutra bersih.

​"Sekarang, kamu tidak punya alasan lagi untuk tetap bungkam di depanku, Pangeran," lanjut Ling Chen dengan nada suara yang kembali datar namun mematikan.

​Pangeran Agung memeriksa kondisi dalam tubuhnya dengan sisa energi Qi-nya yang berantakan, dan matanya langsung melebar sempurna karena rasa syok yang luar biasa.

​Segel kematian yang ditanamkan oleh sosok monster dari Benua Tengah puluhan tahun lalu... bener-bener sudah lenyap tanpa sisa hanya dengan satu sentuhan jari dari pemuda ini.

​"Kam-kau... bagaimana mungkin ada monster sepertimu di wilayah Jakarta dan Jombang yang miskin energi ini?!" bisik Pangeran Agung dengan bibir bergetar.

​"Jangan banyak membuang waktuku dengan pertanyaan bodohmu itu," potong Ling Chen tajam.

​"Katakan namanya sekarang, atau aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya jiwamu dipotong menjadi ribuan bagian secara perlahan," ancam Ling Chen tanpa main-main.

​Pangeran Agung langsung bersujud kembali dengan posisi dahi menempel erat di atas lantai tanah yang lembap dan kotor.

​"Hamba bicara! Hamba akan katakan semuanya, Tuan Muda Ling!" seru Pangeran Agung dengan suara yang nyaring karena ketakutan yang teramat sangat.

​"Klan besar dari Benua Tengah yang mengincar Giok Jiwa Sembilan Langit itu adalah... Klan Gu!" ungkap Pangeran Agung akhirnya.

​"Klan Gu?" Mu Rong'er mengulangi nama tersebut dengan kening yang berkerut dalam, mencoba mengingat-ingat memori masa kecilnya.

​"Ya, Nona Mu! Mereka adalah salah satu dari tiga klan penguasa tertinggi di wilayah timur Benua Tengah!" jelas Pangeran Agung dengan cepat agar tidak dianggap berbohong.

​Ling Chen menegakkan kembali posisi berdirinya, melipat kedua tangannya di balik jubah naga hitam barunya yang masih bersih menawan.

​"Klan Gu..." gumam Ling Chen pendek sambil menatap langit-langit lorong bawah tanah yang gelap.

​"Kenapa klan sebesar itu sampai rela mengutus orang jauh-jauh ke wilayah fana terpencil ini cuma demi sepotong giok hijau?" tanya Ling Chen penasaran.

​"Benda itu... Giok Jiwa Sembilan Langit itu bukan cuma sekadar giok spiritual biasa, Tuan Muda Ling!" jawab Pangeran Agung dengan suara setengah berbisik misterius.

​"Menurut utusan Klan Gu yang datang menemuiku dulu, giok itu adalah salah satu kunci utama untuk membuka pintu makam kuno milik Kaisar Pedang legendaris dari zaman purba!" bongkar Pangeran Agung lagi.

​Mendengar kata "Makam Kaisar Pedang", sudut bibir Ling Chen mendadak berkedut tipis, sebuah senyuman misterius yang sangat sulit diartikan terpahat di wajah tampannya.

​"Makam Kaisar Pedang?" Ling Chen membatin sambil menahan tawa yang hampir meledak di dalam dadanya sendiri.

​"Orang-orang fana di dunia ini bener-bener sangat lucu. Aku sendiri masih hidup dengan segar bugar di sini, tapi mereka sudah sibuk membuatkan makam kuno untukku di Benua Tengah," kekeh Ling Chen di dalam hati kecilnya yang geli.

​Namun, di luar wajahnya tetap terlihat sangat tenang dan berwibawa, tidak menunjukkan gejolak emosi sedikit pun di depan Pangeran Agung dan Mu Rong'er.

​"Tuan Muda Ling, apa yang harus kita lakukan sekarang setelah mengetahui tentang Klan Gu ini?" tanya Mu Rong'er sambil menatap Ling Chen dengan pandangan meminta petunjuk.

​"Sederhana saja," jawab Ling Chen sambil mulai membalikkan badannya berjalan ke arah tangga keluar lorong bawah tanah.

​"Kita beristirahat dengan tenang malam ini di istana ini, dan besok pagi... kita akan mulai melakukan perjalanan menuju ke Benua Tengah untuk meratakan Klan Gu tersebut sampai ke dasar bumi," ucap Ling Chen dengan nada yang teramat santai seolah-olah cuma sedang mengajak Mu Rong'er pergi jalan-jalan sore ke pasar fana.

1
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🫰
eco cute
kata2 nya busuk...kata"bener bener" slalu muncul...lol
Siti Hodijah
bgusss bngettt
Jade Meamoure
koq bahasa jadi berubah pake nggak" beneran... itu bukan bahasa baku n janggal sj d novel begini bahasa pasaran indo d pake
Jade Meamoure
d China ada kota Jombang ya 😱😱😱
Zamo: ee.. ee.. ee😏🤭
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Kenapa ada kata Kota Jakarta ... dan juga sering sebut Jombang🤣🤣🤣 mohon koreksi sebelum Up
Zamo: Jakarta dan jombang itu nama tempat kak, dimana anehnya?
total 1 replies
HINATA SHOYO
sarann tor kalo bisa ling chen pakai cincing ruanglah buat nyimpan2 appun barang yg dia punya klo sllu di simpan di jubah kuramg srekkkk aj .klo ada cincin ruangkan kerennn tuh torr/Grin/👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Uang dan kekuatan itu Mutlak🤣🤣🤣
Nanik S
Minta ganti pintu yang rusak🤣🤣🤣
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Zamo: ganti dengan kata fajar
total 3 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!