NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Nyawa

Tetua Mo mundur satu langkah lagi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahinya. Jenggot putihnya yang tadinya tertata rapi kini tampak kusut ditiup angin malam.

"Jangan main-main, Bocah!" gertak Tetua Mo, suaranya agak pecah karena menahan ngeri.

"Aku ini Tetua dari Sekte Matahari Sabit di Benua Tengah!" lanjutnya sambil menunjuk dada sendiri dengan jari yang gemetar.

"Kalau aku sampai mati di tempat terkutuk ini, sekteku tidak akan tinggal diam! Mereka akan meratakan kota ini!" ancamnya lagi.

Ling Chen terus melangkah maju dengan sangat santai. Ujung pedang hitamnya berdecit pelan saat tidak sengaja menggores batu granit di bawahnya.

"Sekte Matahari Sabit?" Ling Chen menawan senyum sinis.

"Nama yang lumayan bagus untuk ukuran sekte pinggiran," lanjut Ling Chen sambil menatap remeh pria tua di depannya.

"Tapi sayang, di mataku, sekte-sekte di Benua Tengah itu cuma sekumpulan lalat."

"Kalian cuma tahu cara berdengung dan mengganggu telingaku," ucap Ling Chen datar.

Yan Mu yang melihat gurunya mulai ketakutan, langsung panik luar biasa. Pikirannya mendadak kosong.

Dia merangkak mundur di atas tanah yang kotor sambil berteriak histeris dengan sisa tenaganya.

"Guru! Jangan bercanda dengan bocah itu!" raung Yan Mu dengan mata melotot.

"Cepat keluarkan pusaka pelindung tingkat tinggi milikmu, Guru!" teriaknya lagi.

"Bunuh dia! Potong-potong tubuhnya sampai hancur, Guru!" Yan Mu histeris.

"Diam kamu, Yan Mu!" bentak Tetua Mo tanpa berani menoleh ke belakang.

"Jangan banyak bicara kalau kamu tidak tahu apa yang sedang kita hadapi!" ketus pria tua itu.

Matanya tetap terkunci rapat pada sosok Ling Chen yang makin mendekat bagaikan dewa kematian.

Ling Chen berhenti tepat tiga langkah di depan Tetua Mo. Jarak yang sangat ideal untuk mencabut nyawa seseorang.

Aura birunya perlahan memudar dari permukaan bilah pedang, tapi hawa membunuhnya justru makin pekat dan dingin.

"Orang tua, waktu sarapanku sudah lewat karena kalian," ucap Ling Chen memecah keheningan.

"Jadi, mau mati dengan gaya apa hari ini?" tanya Ling Chen dengan nada super santai.

Tetua Mo menggeram rendah. Rasa takut yang sempat menguasai hatinya mendadak berubah menjadi kemarahan yang nekat.

"Kau yang harus mati, Bocah Sialan!" teriak Tetua Mo dengan mata memerah.

Pria tua itu tiba-tiba meremas dadanya sendiri dengan cakar kirinya yang tajam.

BRUUT!

Sebuah cahaya merah darah meledak dari arah jantungnya, membakar sisa-sisa energi spiritual di tubuhnya.

"Teknik Pembakar Darah!" seru Mu Rong'er dari kejauhan dengan wajah panik.

"Tuan Muda Ling, hati-hati! Dia membakar umur dan darahnya untuk menaikkan ranah secara instan!" teriak gadis itu lagi.

"Kyuu~!" Kuro ikut berdiri di atas meja kedai, bulu-bulu hitam di punggungnya kembali menegang siaga.

Dengan kecepatan yang naik dua kali lipat dari sebelumnya, Tetua Mo menerjang maju memotong jarak.

Tangannya berubah menjadi sepasang cakar hitam legam yang diselimuti oleh api merah darah yang panas.

"Mati bersamaku ke neraka, Keparat!" raung Tetua Mo dengan sisa kewarasannya yang hilang.

Cakar maut itu melesat cepat, mengincar langsung ke arah tengah dada Ling Chen.

Ling Chen bahkan tidak berkedip sedikit pun menghadapi serangan nekat itu.

Tangan kirinya perlahan diangkat secara horizontal ke depan dada dengan gerakan yang sangat lambat, namun presisi.

BUM!

Cakar hitam berapi milik Tetua Mo menghantam telapak tangan kiri Ling Chen dengan sangat telak.

Ledakan energi darah yang dahsyat langsung memicu gelombang angin yang membuat debu di sekitar mereka beterbangan tinggi.

Namun, senyuman nekat yang sempat mengembang di wajah tua Tetua Mo langsung lenyap seketika.

Mata keriputnya melebar sempurna, menatap telapak tangan Ling Chen dengan rasa tidak percaya.

Cakar apinya yang diklaim bisa melelehkan baja tingkat tinggi sama sekali tidak bisa menembus kulit tangan kiri pemuda itu.

"Bag-bagaimana bisa... fisikmu..." bisik Tetua Mo dengan suara bergetar hebat.

"Bagaimana mungkin fisik manusia fana bisa sekuat besi purba?!" teriaknya frustrasi.

"Ini bukan besi purba seperti yang ada di otak dangkalmu itu," ucap Ling Chen dingin.

"Ini adalah kekuatan fisik murni dari Tulang Dewa," lanjut Ling Chen dengan nada meremehkan.

"Sebuah kekuatan yang bahkan tidak akan pernah bisa kamu sentuh dalam seribu kali reinkarnasi," bisik Ling Chen tepat di depan wajah Tetua Mo.

Sebelum Tetua Mo sempat menarik kembali cakarnya, Ling Chen sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan pria tua itu.

Cengkeraman tangan kiri Ling Chen terasa bagaikan jepitan catok besi raksasa yang tidak bisa digoyahkan.

"Lepaskan! Lepaskan tanganku, Bocah Gila!" jerit Tetua Mo mulai panik.

KRETEK!

"AAAAAAKKK!"

Suara patahan tulang pergelangan tangan Tetua Mo bergema sangat nyaring di persimpangan jalan yang sepi itu.

Pria tua yang tadinya begitu agung dan sombong, kini langsung berlutut pasrah di depan kaki Ling Chen.

Dia memegangi tangan kanannya yang sudah lunglai dan hancur dengan wajah yang dibanjiri air mata kesakitan.

Yan Mu yang menyaksikan adegan mengerikan itu dari belakang langsung lemas total.

Seluruh sendi di tubuhnya berasa copot, dan pandangannya mendadak menjadi gelap gulita.

BRUK!

Pemuda berbaju jubah putih itu langsung pingsan seketika di atas tanah karena syok melihat gurunya memohon seperti anjing jalanan.

Ling Chen menatap Tetua Mo dari atas dengan pandangan mata yang hampa dan dingin.

Pedang hitam karatan di tangan kanannya perlahan diangkat, diposisikan tepat berada di atas leher pria tua itu.

"Tolong... ampuni aku, Tuan Muda..." ratap Tetua Mo dengan suara parau.

"Aku punya banyak pusaka di cincin ruangku... ambil saja semuanya, tapi tolong biarkan aku hidup..." mohonnya lagi.

"Di duniaku, tidak ada kata ampun untuk anjing yang sudah berani menggonggong di depan gerbangku," kata Ling Chen datar.

"Tunggu! Aku tahu rahasia besar tentang Giok Jiwa Sembilan Langit itu!" teriak Tetua Mo dengan cepat.

Dia mencoba menukar informasi rahasia tingkat tinggi demi bisa menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk.

"Pangeran Agung... dia sebenarnya cuma pion! Dia bekerja sama dengan klan teratas di Benua Tengah untuk—"

SLASH!

Ling Chen tidak membiarkan Tetua Mo menyelesaikan kalimat terakhirnya yang panjang itu.

Dengan satu tebasan kilat yang sangat bersih dan rapi, bilah pedang hitam itu memotong leher sang tetua.

BUGH!

Kepala Tetua Mo langsung terpisah dari tubuhnya, menggelinding beberapa meter di atas tanah granit.

Darah segar menyembur tinggi, membasahi jalanan yang sudah hancur berantakan akibat pertarungan tadi.

Tubuh tanpa kepala milik master Benua Tengah itu akhirnya ambruk perlahan, kehilangan seluruh energinya.

Ling Chen mengibas pedangnya sekali ke arah samping untuk membersihkan sisa darah yang menempel di bilahnya.

SREK!

Pedang hitam karatan itu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dengan bunyi klik yang sangat pas.

Ling Chen membalikkan badannya, lalu menoleh ke arah Yan Mu yang masih terkapar pingsan tidak jauh dari sana.

"Mu Rong'er, kemari," panggil Ling Chen dengan suara yang kembali tenang.

Mu Rong'er yang sejak tadi menahan napas, buru-buru keluar dari dalam kubah pelindung transparan.

Dia berjalan mendekat sambil tetap memeluk Kuro dengan sangat erat di dadanya.

Langkah kaki gadis itu agak ragu-ragu dan memutar saat harus melewati jasad Tetua Mo yang masih mengeluarkan darah.

"Tuan Muda Ling, kenapa kamu tidak mendengarkan rahasia dari dia sampai selesai tadi?" tanya Mu Rong'er penasaran.

"Bukannya informasi tentang giok ibumu itu sangat penting buat rencana kita ke depan?" lanjutnya lagi sambil menatap wajah Ling Chen.

"Ngak perlu mendengarkan omongan orang tua itu," jawab Ling Chen enteng sambil berjalan ke arah Yan Mu.

"Informasi yang keluar dari mulut orang yang sedang ketakutan biasanya banyak bohongnya," lanjutnya lagi.

"Mereka cuma bakal bicara apa saja yang sekiranya bisa membuat mereka tetap hidup," ucap Ling Chen logis.

"Lagipula, menebak konspirasi murahan seperti ini sama sekali tidak menantang buatku," tambah Ling Chen.

"Lebih baik kita tanya langsung ke Pangeran Agung di istananya besok malam," kata Ling Chen dengan senyum tipis.

Mu Rong'er cuma bisa melongo mendengar jawaban yang kelewat percaya diri dari pemuda berjubah biru itu.

Ling Chen jongkok di samping tubuh Yan Mu yang masih tidak sadarkan diri di atas tanah kotor.

Dia mengangkat ujung sarung pedang hitamnya, lalu menepuk-nepuk pipi pemuda jubah putih itu dengan agak kasar.

"Hei, bangun. Jangan pura-pura mati di depanku," ucap Ling Chen dengan nada dingin.

Yan Mu mengerang pelan, kepalanya terasa pusing akibat syok spiritual yang dia terima sebelumnya.

Dia pelan-pelan membuka kedua matanya yang masih terasa berat dan kabur.

Begitu pandangannya menjadi jelas dan melihat wajah Ling Chen berada tepat di depannya, dia langsung berteriak histeris.

"J-jangan bunuh aku! Tolong jangan bunuh aku, Kakak Agung!" jerit Yan Mu sambil mencoba merangkak mundur dengan panik.

"Aku punya banyak uang! Aku punya ribuan batu roh tingkat murni di rumahku! Ambil saja semuanya!" tangisnya pecah.

Ling Chen berdiri kembali dari posisi jongkoknya, menatap Yan Mu dengan pandangan meremehkan.

"Aku nggak bakal bunuh kamu sekarang, jadi simpan tangisan bayimu itu," kata Ling Chen tenang.

"Kamu masih punya satu tugas penting yang harus diselesaikan pagi ini," lanjut Ling Chen lagi.

Yan Mu seketika menghentikan jeritannya, meskipun air mata dan keringat dingin masih membanjiri wajahnya yang pucat.

Dia menatap Ling Chen dengan kombinasi rasa bingung sekaligus takut yang teramat sangat.

"Tu-tugas apa, Tuan Besar?" tanya Yan Mu dengan suara yang masih bergetar parah.

"Bawa mayat gurumu ini kembali ke dalam istana Pangeran Agung sekarang juga," perintah Ling Chen santai.

Ling Chen menunjuk ke arah jasad Tetua Mo yang tergeletak mengenaskan dengan ujung ibu jarinya.

"Hah? Bawa... bawa mayat Guru kembali ke istana?" Yan Mu melongo bodoh, mengira dia salah dengar perintah.

"Iya, bawa dan tunjukkan pada tuanmu yang ada di dalam sana," tegas Ling Chen lagi.

"Dan jangan lupa, katakan satu pesan penting dariku pada pangeran busuk itu," lanjut Ling Chen dengan mata berkilat biru safir.

"P-pesan apa, Tuan?" tanya Yan Mu sambil menelan ludahnya yang terasa sangat pahit.

"Katakan padanya, besok malam aku sendiri yang akan datang berkunjung ke istana intinya," ucap Ling Chen pelan namun penuh penekanan.

"Aku mau menagih ganti rugi atas pintu kamarku yang sudah dirusak oleh anjing-anjing penjaganya semalam," lanjut Ling Chen sambil tersenyum menakutkan.

Yan Mu bener-bener tidak berani membantah lagi. Dia buru-buru mengangguk cepat seperti ayam yang sedang mematuk beras.

"Baik! Baik! Aku pasti sampaikan pesan ini pada Pangeran Agung! Terima kasih karena tidak membunuhku!" seru Yan Mu lega.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, pemuda jubah putih itu buru-buru membungkus jasad gurunya dan berlari pergi sekencang mungkin tanpa berani menengok ke belakang lagi. Badai besar di Ibukota beneran sudah dimulai pagi ini.

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!