NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Ia melangkah satu langkah lebih dekat hingga ia bisa merasakan nafas Haikal, cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa menyempit.

“Aku tahu apa yang Mas butuhkan,” lanjut Laura.

“Aku juga tahu apa yang Mas inginkan, meski Mas sendiri sering menyangkalnya.”

Haikal memejamkan mata sesaat. “Kamu terlalu berani.”

“Bukan mas,” potong Laura cepat. “Aku hanya tidak berpura-pura.”

Ia menatap Haikal tajam, tanpa ragu.

“Mas ingin anak untuk mama mas. Mama Mas ingin penerus. Mas ingin menjadi anak yang berbakti,” katanya terstruktur, dingin, rasional. “Dan kebetulan, aku adalah satu-satunya perempuan yang Mas percaya… dan inginkan.”

Kalimat terakhir itu diucapkan tanpa tekanan, tapi justru itulah yang membuat Haikal semakin terguncang.

“Kenapa kamu suka sekali menggoda saya?” tanya Haikal akhirnya, nyaris seperti keluhan.

Laura tersenyum kecil, lalu menjawab jujur bahkan terlalu jujur.

“Karena Mas mudah goyah,” katanya. “Dan karena aku tidak pernah diajari untuk menunggu laki-laki memutuskan segalanya.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku tidak memaksa,” lanjutnya. “Aku hanya membuka kemungkinan.”

Laura kemudian melangkah mundur satu langkah, mengembalikan jarak, seolah ingin menunjukkan bahwa kendali tetap ada di tangannya—bukan di situasi.

“Kalau Mas belum siap,” katanya ringan, “anggap saja ini hanya obrolan biasa, tapi obrolan dewasa.” bisiknya tepat di telinga Haikal, dan menjilat telinga Haikal dengan sensual.

"Hemmm...." Erang Haikal saat lidah itu terasa panas di telinga nya.

Ia berbalik hendak pergi, lalu berhenti sejenak.

“Tapi kalau Mas terus memikirkan aku,” ucapnya tanpa menoleh, “itu bukan salah aku.”

Haikal berdiri terpaku.

Baru saat itu ia benar-benar menyadari satu hal yang tidak bisa lagi ia sangkal,

Laura bukan sekadar berani.

Ia agresif dengan cara yang halus.

Menggodanya dengan caranya.

Menekan tanpa memaksa.

Dan yang paling berbahaya—

ia tahu persis bagaimana cara masuk ke celah terlemah seorang laki-laki bernama Haikal.

Tidak akan menjadi istri siri.

Ia akan menjadi nyonya rumah itu. Seutuhnya.

Haikal tahu ia sudah melewati batas dan justru karena itulah dadanya berdegup lebih kencang.

Laura berdiri sangat dekat. Terlalu dekat untuk sekadar percakapan. Tatapan perempuan itu tajam, berani, dan penuh tantangan. Kalimatnya barusan tentang “mencicil cucu”—masih menggantung di udara, membuat logika Haikal runtuh seketika.

“Laura…” suara Haikal rendah, tertahan.

Namun Laura tidak mundur. Ia justru mendongak, menatapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Mas yang memanggil aku,” katanya pelan. “Aku hanya menjawab kebutuhan Mas.”

Satu detik.

Dua detik.

Dan Haikal kehilangan kendali.

Ia bergerak cepat bukan dengan kata-kata, tapi dengan keputusan. Laura terkejut, namun tidak menolak. Ada senyum tipis di wajahnya, seolah ia sudah memperkirakan reaksi ini sejak awal. Haikal menarik tubuh Laura hingga terduduk di pangkuan nya. Ia menarik tengkuk gadis itu, melumat bibir ranum dan manis itu dengan kasar, menelusupkan lidahnya kedalam mulut Laura hingga lidah mereka saling melilit. Tangan Haikal pun meremas Himalaya Laura dengan lembut membuat gadis itu semakin membalas ciuman Haikal bak seseorang yang sudah berpengalaman. Ruang kerja yang biasanya dingin berubah menyesakkan. Meja kerja Haikal yang rapi kini menjadi saksi bisu jarak yang kian menghilang di antara mereka. Laura menatap Haikal lurus, napasnya tetap stabil berbeda dengan Haikal yang mulai goyah.

“Kamu benar-benar berbahaya,” gumam Haikal.

“Mas baru menyadarinya sekarang?” balas Laura ringan.

Namun saat Haikal akan kembali mencium bibir Laura...

Tok. Tok. Tok.

Ketukan keras di pintu membuat dunia seakan berhenti berputar.

“Mas?”

Suara itu.

Suara yang tidak seharusnya ada di sana.

Itu Sagita.

“Mas kamu di dalam, kan? Pintunya dikunci… biasanya kamu tidak pernah mengunci pintu.”

Wajah Haikal berubah seketika. Panik. Tegang. Napasnya tertahan. Ternyata saat masuk tadi Laura mengunci pintu. Dan mereka terselamatkan.

Laura tidak berteriak. Tidak panik. Justru sebaliknya ia bergerak cepat, tenang, penuh perhitungan. Ia mendekat ke Haikal, berbisik singkat,

“Buka pintu nya. Aku tahu harus di mana.”

Tanpa menunggu jawaban, Laura menghilang dari pandangan bersembunyi di kolong meja kerja besar itu, menahan napas, menutup mata, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum kecil.

Haikal merapikan dirinya secepat mungkin, menghela napas dalam, lalu membuka pintu.

Sagita berdiri di sana dengan alis berkerut.

“Ngapain pintunya dikunci?” tanyanya curiga.

“Lagi kerja,” jawab Haikal cepat. Terlalu cepat.

Sagita masuk, matanya menyapu ruangan. Meja kerja. Sofa. Rak buku. Tidak ada siapa-siapa.

Ia menatap Haikal lama.

“Kamu aneh belakangan ini,” katanya. “Sering menyendiri. Mengurung diri. Kamu lagi ada masalah di kantor?”

Haikal berjalan kembali ke kursinya, duduk, mencoba terlihat tenang.

“Kamu kenapa ke sini? Gak biasanya” tanyanya, berusaha mengalihkan.

Sagita menghela napas. “Aku cari kamu. Dari tadi aku nungguin kamu di kamar.”

Ia melirik sekeliling sekali lagi dengan curiga, tapi lalu menggeleng kecil.

“Lagipula,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri, “mana mungkin kamu melakukan hal aneh dengan perempuan lain.”

Kalimat itu menusuk.

Di bawah meja, Laura menutup mulutnya menahan tawa dengan punggung tangan agar tidak tertawa.

Bukan karena lucu, melainkan karena ia tahu betapa kelirunya keyakinan Sagita. Ia kemudian mempunyai ide jahil. Dengan hati-hati ia membuka pengait celana Haikal, menurunkan resleting dan berusaha untuk mengeluarkan Jojo. Haikal kaget dan memajukan kursi nya kedepan agar Gita tidak melihat apa yang di lakukan Laura. Gadis itu tersenyum gemas kemudian memainkan lidahnya pada kepala Jojo dan melumat, menghisap serta mengulum nya membuat desaan Haikal tertahan.

Haikal menelan ludah.

Sagita melangkah mendekat. “Kamu benar-benar cuma kerja?”

“Iya,” jawab Haikal singkat.

"Kenapa wajah kamu memerah. Bukan kah disini dingin?" Tanya Gita merasa aneh.

"Aku hanya lagi banyak pikiran. Mungkin karena stress."

Sagita menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Ya sudah. Aku ke kamar.”

Begitu Sagita keluar dan pintu tertutup kembali, Haikal masih diam menunggu, memastikan langkah itu benar-benar menjauh.

Beberapa detik kemudian,

"Aaah....sssshhhh... Enak banget Baby. Hemmmmppp." Erang Haikal. Laura menghentikan aksinya di saat Haikal baru mulai.

Laura muncul dari balik meja. Wajahnya tenang. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya bersinar. Ia mengusap bibirnya dengan jari telunjuknya.

“Rasanya manis.” katanya ringan. “Dan....”

Haikal menatapnya lama, lalu berkata lirih,

“Kamu hampir membuat kita ketahuan.”

Laura mendekat, mencondongkan tubuh sedikit, suaranya berbisik tajam,

“Tidak, Mas. Hidup Mas sudah retak. Saya hanya menunjukkan celahnya.”

Ia berbalik, melangkah pergi menuju pintu.

“Hari ini sebatas itu,” ucapnya tanpa menoleh.

“Dan ingat mas tadi bukan aku yang memulai.”

Pintu tertutup.

Haikal duduk terpaku di kursinya, sadar satu hal yang tak bisa lagi dihindari,

Ia tidak hanya terjebak dalam situasi. Ia sedang jatuh ke dalam permainan Laura dan ia tahu ia menyukainya. Ia menatap JoJonya yang masih tegak menantang.

"Sial!!! gadis itu mempermainkan ku. Awas kamu gadis nakal. Aku akan buat kamu gak bisa jalan saat kita sudah nikah nanti." Gumam Haikal berusaha menidurkan Jojo kembali dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!