"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rivalitas Di Desa Pinus
Gua turun dari motor bebek Dedik dengan kaki yang masih agak gemeteran.
Belum ilang rasa syok gua gara-gara bensin abis, sekarang gua harus liat pemandangan yang lebih horor, Arlan lagi ketawa-ketiwi akrab banget sama Kak Tiara.
Buat yang nggak tau, Kak Tiara itu asdos paling "sempurna" di fakultas teknik. Cantik, pinter, dan suaranya lembut banget, kebalikan dari suara gua yang cempreng kalau lagi marah.
"Dedik! Reyna! Sini buruan!" Kak Tiara melambai ke arah kita.
Gua ngelirik Dedik. Mukanya lempeng, tapi gua bisa liat tangannya ngeremas stang motor lebih kenceng sebelum dia narik standar samping.
"Logikanya, Arlan itu bukan anak kampus kita," gumam Dedik pelan, hampir kayak bisikan buat dirinya sendiri. "Ngapain dia ada di rapat tim pendamping?"
Gua cuma bisa angkat bahu pasrah. "Mana gua tau, Ded. Sagitarius emang suka muncul di mana-mana kayak iklan YouTube."
Kita nyamperin mereka. Arlan langsung pasang muka penuh kemenangan pas liat gua jalan di samping Dedik yang masih bawa tas gitarnya.
"Lama banget nyampenya, Rey. Gua udah abis kopi satu gelas, lo baru nongol," ejek Arlan.
"Motor gua bukan motor sport yang haus bensin kayak punya lo, Lan," sahut Dedik telak sebelum gua sempet bales. "Gua lebih mentingin efisiensi daripada gaya."
"Tapi efisiensi lo bikin sepupu gua jalan kaki di tanjakan." Arlan nengok ke Kak Tiara. "Tiara, ini nih mahasiswa bimbingan kamu yang katanya jenius tapi lupa isi bensin?"
Kak Tiara cuma senyum kecil, tipe senyum yang bikin cowok-cowok rela antre donor darah. "Udah, udah. Jangan berantem di depan warga desa."
"Dedik, kenalin, ini Arlan. Dia ini perwakilan dari lembaga kreatif di Jakarta yang bakal jadi sponsor tambahan buat proyek 'Harmoni Nada' kalian."
Gua melongo. Dedik ngerutin dahi.
"Sponsor?" tanya Dedik singkat.
"Iya," Kak Tiara ngejelasin. "Arlan ini punya koneksi ke label musik indie dan pengrajin alat musik modern. Dia bakal bantu kita biar hasil riset kalian nggak cuma jadi kertas skripsi, tapi bisa jadi produk nyata."
Arlan majuin badannya, terus ngulurin tangan ke arah Dedik. "Mohon kerja samanya ya, Partner Sialan-nya Reyna. Gua di sini buat mastiin duit sponsor gua nggak kebuang sia-sia buat riset yang... amatir."
Gua nahan napas. Ini orang cari mati apa gimana?
Dedik natap tangan Arlan, terus natap mukanya. Dia nggak nyambut salaman itu. Dia malah benerin letak tas gitarnya di pundak.
"Gua nggak butuh koneksi buat bikin riset gua bagus," kata Dedik tenang, tapi suaranya dingin banget. "Gua butuh data yang akurat. Dan data nggak bisa dibeli pakai duit sponsor lo."
"Wuih, idealis banget," Arlan narik tangannya balik, nggak kelihatan tersinggung sama sekali. "Tapi lo butuh orang yang paham industri buat masarin ide lo, kan? Reyna aja paham kalau sejuta sebulan itu lumayan banget buat mahasiswa."
Gua langsung nunduk. Aduh, Lan, jangan bawa-bawa soal duit di depan Dedik!
"Reyna di sini karena dia punya kemampuan observasi yang bagus, bukan karena duit," bela Dedik, bikin gua agak terharu dikit (walaupun sebenernya emang karena duit).
"Oke, oke! Udah ya perkenalannya," Kak Tiara melerai.
"Ayo masuk ke balai desa. Warga udah nungguin kita buat dengerin demo awal nada bambunya. Dedik, kamu bawa gitarnya kan? Kita butuh pembanding nada modern sama tradisional."
Kita masuk ke balai desa yang asri banget. Bau kayu dan bambu kerasa kuat di sana. Beberapa bapak-bapak pengrajin udah duduk rapi, di depan mereka ada deretan bambu yang udah dipotong-potong aneh.
"Silakan, Dedik," kata Kak Tiara.
Dedik duduk di kursi kayu, ngeluarin gitarnya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Begitu jarinya nyentuh senar, suasana balai desa mendadak hening.
Dia mulai metik satu melodi pelan, nadanya unik, perpaduan antara blues tapi ada rasa-rasa etniknya.
Gua akuin, kalau udah megang gitar, Dedik itu auranya beda 180 derajat. Dia nggak kelihatan nyebelin, dia kelihatan... berkharisma.
Tapi baru aja Dedik mau masuk ke bagian chorus, Arlan tiba-tiba nyeletuk dari kursi sebelah gua.
"Kurang catchy sih menurut gua. Terlalu teknis. Orang kota nggak bakal suka dengerin nada serumit itu, Ded. Coba bikin yang lebih... pop. Biar gampang dijual."
Dedik berhenti metik gitar. Dia natap Arlan datar. "Ini riset frekuensi, Lan. Bukan bikin lagu buat TikTok."
"Justru itu! Riset lo harus punya nilai jual!" Arlan nengok ke gua. "Ya nggak, Rey? Lo kan anak Akuntansi, lo pasti paham soal market demand kan?"
Gua bingung. Gua liat Dedik yang mukanya udah merah nahan kesel, terus liat Arlan yang nunggu jawaban gua.
"Gua... gua rasa..." suara gua ngecil.
"Reyna, fokus ke data observasi lo aja. Jangan dengerin saran dari orang yang cuma mikirin angka di rekening," potong Dedik tajem.
Dedik berdiri, nyimpen gitarnya balik ke tas. "Kak Tiara, kayaknya gua butuh waktu berdua aja sama Reyna buat observasi mandiri di area hutan bambu belakang desa. Biar nggak keganggu sama... polusi suara."
Gua kaget. Berdua? Di hutan bambu?
"Loh? Nggak rapat dulu bareng sponsor?" tanya Kak Tiara bingung.
"Data lapangan lebih penting sekarang," jawab Dedik mutlak. Dia langsung narik tangan gua, beneran narik tangan gua, Bro! dan bawa gua keluar dari balai desa.
Gua cuma bisa ngikutin langkah kaki Dedik yang cepet banget. Arlan di belakang teriak, "Hati-hati, Rey! Jangan sampe motornya abis bensin lagi di dalem hutan!"
Pas kita udah agak jauh dari balai desa dan masuk ke area rimbun pohon bambu, Dedik akhirnya ngelepasin tangan gua. Dia napasnya agak pendek, kayak abis lari maraton.
"Ded... lo nggak apa-apa?" tanya gua hati-hati.
Dedik diem sebentar, ngebelakangin gua. "Gua benci orang yang ngeremehin proses riset cuma demi jualan."
"Iya, gua tau. Tapi Arlan kan cuma mau bantu..."
Dedik nengok ke arah gua. Matanya tajem banget. "Lo lebih milih saran dia daripada progres kerja kita?"
"Bukan gitu, Ded! Tapi lo kenapa sih jadi sensi banget tiap ada Arlan? Jangan bilang lo beneran..."
"Beneran apa?" potong Dedik.
Gua nahan napas sebentar. "Beneran takut gua diambil sama dia?"
Dedik diem seribu bahasa. Udara di hutan bambu itu mendadak jadi sunyi banget, cuma ada suara daun bambu yang gesekan kena angin.
Dedik maju satu langkah deketin gua, bikin gua refleks mundur sampai mentok ke batang bambu gede.
Dia natap mata gua dalem banget, jarak kita deket banget sampai gua bisa nyium bau parfum maskulinnya yang campur bau sabun mandi.
"Logikanya, Reyna..." suara Dedik rendah banget, bikin bulu kuduk gua merinding. "Gua nggak bakal biarin partner gua diambil orang, sebelum tugas dia buat nemenin gua kelar."
Gua nelen ludah. "Terus... kalau tugasnya udah kelar?"
Dedik senyum tipis, tapi kali ini senyumnya beda. "Itu masalah nanti. Sekarang..."
Tiba-tiba, dari arah semak-semak belakang kita, kedengeran suara kresek-kresek gede banget barengan sama suara geraman rendah.
"Ded... itu suara apa?!" gua langsung megang erat lengan jaket Dedik.
Dedik waspada, dia narik gua ke belakang punggungnya. Matanya natap tajam ke arah semak-semak yang makin goyang hebat.