Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Memahaminya...
Tangga darurat kembali hening.
Suara hujan di luar gedung mulai sedikit membesar, memantul pelan di jendela kecil dekat ujung tangga.
Axel masih duduk di samping Rachael sambil memperhatikan gadis itu diam-diam.
Dan semakin lama... ia semakin sadar kalau ketenangan Rachael terasa tidak normal.
Karena ekspresinya terlalu datar, seolah emosinya sedang ditahan kuat-kuat di dalam dirinya sendiri.
Rachael menunduk sambil memainkan bungkus permen lollipop di tangannya. Gerakannya cepat dan berulang tanpa sadar. Tanda kalau pikirannya kembali penuh.
Axel baru ingin bicara lagi saat Rachael tiba-tiba berdiri mendadak.
Axel sedikit terkejut. “Rachael?”
Namun gadis itu tidak menjawab. Ia berjalan beberapa langkah mendekati dinding beton di samping tangga.
Napasnya mulai terdengar lebih berat sekarang.
Tangannya mengepal.
Axel langsung berdiri. “Hey—”
BRAK!
Suara benturan keras menggema di ruangan sempit itu.
Rachael memukul dinding beton dengan tinju kanannya tanpa ragu sangat keras.
Axel langsung membeku beberapa detik. Karena suara pukulan tadi jelas bukan pukulan biasa.
Namun yang lebih membuatnya terkejut, Rachael tidak bereaksi kesakitan sama sekali.
Tidak meringis.
Tidak mengaduh.
Ia hanya berdiri diam dengan napas sedikit tidak teratur, tatapannya kosong, seolah tubuhnya mati rasa.
Axel buru-buru mendekat. “Rachael, tangan mu—”
“Aku nggak apa-apa.” Jawabannya cepat dan tenang.
Rachael perlahan membuka genggaman tangannya lalu melihat buku jarinya yang mulai memerah, tapi ekspresinya tetap biasa saja.
Axel semakin khawatir, karena orang normal pasti akan refleks kesakitan setelah memukul beton sekeras itu. Namun Rachael justru terlihat... tidak merasakan apa pun.
Gadis itu menghembuskan napas panjang pelan.
Lalu seperti tidak terjadi apa-apa, ia membuka bungkus permen lagi dan memasukkan satu ke mulutnya. Gerakannya kembali rapi, tenang dan terkontrol.
Seolah pukulan tadi hanyalah cara sederhana untuk mengeluarkan tekanan di kepalanya.
Axel menatap Rachael tidak percaya. “Kau sering kayak gitu?”
Rachael bersandar ke dinding sambil mengulum permen nya pelan.
"Kadang kalau stres terlalu penuh... aku nggak terlalu ngerasain sakit.” Nada suaranya datar. Terdengar menyeramkan.
Axel mengusap wajahnya pelan frustrasi. “Rachael...” suaranya melemah sedikit, “itu bukan hal biasa.”
Rachael tertawa kecil samar. “Aku tahu.” Tapi cara ia mengatakannya terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu terbiasa hidup dengan keadaan itu.
Tangannya yang memerah masih sedikit gemetar kecil. Namun Rachael malah memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie agar tidak terlihat.
Menyembunyikan semuanya sebelum orang lain mulai khawatir atau menganggapnya aneh.
Axel memperhatikannya cukup lama sebelum akhirnya menghela napas berat. “Dan kau nyimpen semua ini sendirian?”
Rachael diam beberapa detik, lalu tersenyum kecil tipis. “Aku udah biasa sendiri.”
Kalimat itu langsung membuat suasana kembali terasa sunyi.
Axel bisa mendengar satu hal dengan jelas di balik jawaban itu: Rachael benar-benar percaya bahwa dirinya harus menghadapi semuanya sendiri.
Tanpa mereka sadari— seseorang berdiri tidak jauh dari pintu tangga darurat yang sedikit terbuka.
Leon.
Ia sebenarnya datang menyusul Axel untuk mencari Rachael. Namun langkahnya berhenti begitu mendengar suara benturan keras tadi.
Dan sekarang Leon berdiri diam sambil melihat tangan Rachael yang memerah.
Melihat bagaimana gadis itu tetap terlihat tenang setelah memukul beton sekeras itu.
Tatapan Leon perlahan berubah gelap.
Bukan marah pada Rachael, melainkan pada dirinya sendiri.
Karena sekarang ia sadar satu hal, selama ini Rachael menyimpan jauh lebih banyak luka daripada yang ia perlihatkan pada siapa pun.
...----------------...
Tangga darurat kembali sunyi setelah suara benturan keras tadi.
Hanya suara hujan yang masih turun pelan di luar gedung dan napas samar mereka yang terdengar di ruangan sempit itu.
Rachael bersandar di dinding sambil menatap kosong ke arah lantai.
Tangan kanannya masih memerah cukup jelas setelah memukul beton tadi.
Kulit di sekitar buku jarinya bahkan mulai sedikit lecet.
Namun ekspresinya tetap biasa saja. Seolah rasa sakit itu tidak benar-benar sampai ke dirinya.
Axel masih berdiri di depannya dengan wajah tidak percaya. Ia berkali-kali melirik tangan Rachael lalu wajah gadis itu. Mencoba memahami bagaimana seseorang bisa terlihat setenang ini setelah memukul dinding sekeras tadi.
“Beneran nggak sakit?” tanyanya pelan sekali.
Rachael menunduk sebentar melihat tangannya sendiri. Lalu mengangkat bahu kecil. “Sekarang nggak terlalu.” Nada suaranya datar.
Bukan sok kuat, tapi benar-benar tidak terlalu merasakan apa pun.
Karena saat terlalu stres, emosi dan tubuhnya sering terasa mati rasa bersamaan.
Rachael mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie-nya.
Lolipop kecil rasa stroberi.
Gerakan itu terlihat sangat biasa.
Sangat normal.
Kontras dengan keadaan tangannya yang masih merah.
Axel memperhatikannya bingung. “Kamu selalu bawa permen?”
Rachael membuka bungkus lolipop perlahan. “Iya.”
“Kenapa?”
Rachael memasukkan lolipop itu ke mulutnya lalu menjawab pelan, “Rasa manis bikin aku lebih tenang.” Tatapannya masih kosong.
Sekarang napasnya mulai sedikit lebih stabil. “Aku nggak terlalu suka pahit.”
Axel terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya duduk kembali di anak tangga sambil mengusap wajahnya pelan. “Gua jadi makin ngerti kenapa Leon bisa stres gara-gara lu.”
Rachael langsung melirik kecil. “Kenapa aku yang disalahin?”
“Nggak nyalahin.” Axel terkekeh kecil lelah. “Tapi kamu tuh bikin orang khawatir tanpa sadar.”
Rachael diam. Lolipop di mulutnya bergerak pelan sementara ia kembali menyandarkan kepala ke dinding.
Perlahan-lahan... raut wajahnya mulai terlihat lebih tenang dibanding tadi. Seolah rasa manis kecil itu benar-benar membantu dirinya kembali stabil.
Axel mulai sadar mungkin ini cara Rachael bertahan selama ini.
Permen lolipop dan rasa manis. Hal-hal kecil untuk menenangkan dirinya sebelum emosinya meledak terlalu jauh.
“Kamu nggak pernah cerita soal beginian ke siapa pun?” tanya Axel hati-hati.
Rachael menggeleng kecil. “Nanti orang takut.” Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Axel langsung tahu, kalimat itu bukan muncul dari satu atau dua pengalaman buruk. Melainkan dari luka yang sudah berulang kali terjadi.
Rachael menunduk lagi sambil memainkan batang lolipop kecil di jemarinya. “Kalau orang lihat sisi jelek aku...” suaranya pelan, “biasanya mereka pergi.”
Axel ingin langsung menyangkal.
Namun sebelum ia sempat bicara— suara langkah kaki pelan terdengar dari dekat pintu tangga darurat.
Rachael langsung sedikit menegang refleks.
Sementara Axel menoleh cepat.
Dan beberapa detik kemudian, Leon muncul dari balik pintu.
Suasana mendadak hening.
Tatapan Leon langsung jatuh ke tangan Rachael yang memerah, lalu ke lolipop kecil di tangan gadis itu.
Dan entah kenapa, pemandangan sederhana itu justru membuat dada Leon terasa semakin sakit. Karena sekarang ia mulai mengerti sesuatu.
Rachael bukan mencari perhatian, bukan sengaja bertingkah aneh. Ia hanya berusaha keras menenangkan dirinya sendiri dengan cara yang paling bisa ia lakukan.
Dan fakta bahwa gadis itu harus melakukannya sendirian selama ini, membuat Leon merasa dirinya benar-benar gagal menjaganya.
Axel memperhatikan suasana langsung menghela napas kecil. “Oke...” gumamnya pelan sambil berdiri. “Gua rasa kalian perlu ngobrol.”
“Axel— Aku nggak mau ngobrol.” Jawaban Rachael langsung memotong ucapan Leon.
Axel langsung memijat pelipis. “Ya Tuhan, kalian berdua bikin umur gua pendek.”
Tidak ada yang tertawa. Rachael menunduk sambil kembali mengulum lolipopnya pelan.
Sementara Leon hanya berdiri diam memperhatikannya. Tatapannya berbeda sekarang.
Penuh kekhawatiran yang terlalu jelas untuk disembunyikan. Dan itu justru membuat Rachael semakin tidak nyaman.
Karena ia takut. Takut Leon melihat sisi dirinya yang paling berantakan.
Takut setelah ini Leon mulai menganggapnya aneh seperti orang-orang dulu.
Rachael langsung menggenggam batang lolipopnya sedikit lebih erat. “Aku baik-baik aja.”
Leon akhirnya berjalan mendekat pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari tangan Rachael yang memerah. “Kenapa kamu mukul dinding?”
“Aku udah biasa.” Jawaban itu membuat Leon langsung mengernyit. Seolah melukai diri sendiri karena stres adalah hal normal.
Dan Leon membenci kenyataan bahwa Rachael mengatakan itu dengan wajah setenang ini. “Kamu harus obatin tanganmu.”
“Nggak perlu.”
“Kulitnya lecet.”
“Aku nggak ngerasa sakit.”
Kalimat itu membuat suasana kembali hening.
Karena cara Rachael mengatakannya terdengar terlalu jujur. Leon menghembuskan napas pelan sambil berusaha menahan emosinya sendiri.
Ia ingin marah. Ingin bertanya kenapa Rachael selalu menyimpan semuanya sendiri.
Kenapa gadis itu terus berpura-pura baik-baik saja.
Tetapi saat melihat mata Rachael sekarang, Leon justru tidak sanggup. Karena mata itu terlihat terlalu lelah.
“Aku nggak suka lihat kamu nyakitin diri sendiri.” Suara Leon akhirnya keluar lebih pelan dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Rachael benar-benar menatap Leon lagi.
Tatapan mereka bertemu. Rachael bisa melihat sesuatu di mata Leon sekarang rasa khawatir yang sangat jelas.
Jauh di dalam dirinya, Rachael sudah bersiap kalau Leon akan mulai menjauh setelah melihat sisi dirinya tadi.
Axel yang melihat suasana mulai berubah akhirnya mundur perlahan. “Oke.” Ia mengangkat tangan kecil. “Gua tinggal bentar.”
Tanpa menunggu jawaban, Axel langsung keluar dari tangga darurat, sengaja memberi mereka ruang berdua.
Kini hanya tersisa Leon dan Rachael. Hening kembali memenuhi ruangan.
Rachael langsung memalingkan wajah lebih dulu.
Ia tidak terbiasa ditatap seperti itu. Tidak terbiasa seseorang tetap tinggal setelah melihat sisi buruknya.
“Aku nggak aneh menurutmu?” tanyanya tiba-tiba pelan.
Pertanyaan itu membuat Leon membeku beberapa detik.
Karena cara Rachael mengatakannya terdengar seperti seseorang yang benar-benar takut mendengar jawabannya.
Leon menatap gadis itu cukup lama. Sebelum akhirnya berjalan lebih dekat sebelum duduk di anak tangga tepat di depannya.
“Rachael.” Nada suaranya rendah. “Aku nggak pernah mikir kamu aneh.”
Rachael menggigit pelan bagian dalam pipinya. “Kalau nanti kamu capek?”
Leon langsung menjawab tanpa ragu sedikit pun.
“Aku lebih takut kamu nyimpen semuanya sendirian.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pertahanan Rachael mulai retak sedikit demi sedikit.
Rachael terdiam.
Tangannya yang memegang batang lolipop perlahan melemah sedikit. Tatapannya turun ke lantai, menghindari mata Leon lagi.
Hujan di luar terdengar semakin deras sekarang, menciptakan suara samar yang memenuhi keheningan di antara mereka.
Leon tetap duduk di anak tangga bawah, tepat di depan Rachael. Tidak memaksa, tidak mendekat terlalu jauh. Namun juga tidak pergi, seolah diam-diam memberitahu kalau ia akan tetap di sana.
Rachael menelan ludah kecil. “Aku nggak sesusah itu buat ditolong.”
Leon langsung mengernyit pelan. “Siapa yang bilang aku lagi nolong kamu?”
Rachael akhirnya melirik kecil.
Leon menopang sikunya di lutut sambil menatapnya tenang. “Aku cuma nggak suka lihat kamu nahan semuanya sampai nyakitin diri sendiri.”
Rachael terkekeh kecil hambar. “Kalau nggak ditahan nanti malah lebih berantakan.”
“Kamu selalu mikir semuanya harus kamu tanggung sendiri?”
“Karena biasanya memang begitu.” Jawaban itu keluar cepat.
Sampai Leon sadar kalau kalimat itu sudah tertanam lama di kepala Rachael.
Leon menghembuskan napas pelan. Lalu tanpa banyak bicara, ia berdiri perlahan dan mendekat satu langkah.
Rachael otomatis sedikit menegang.
Namun Leon hanya mengulurkan tangan pelan. “Sini, aku lihat tanganmu.”
“Aku bilang, aku nggak apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa masih dipaksa?”
“Karena lecetnya tetap nyata meski kamu nggak ngerasa sakit.”
Kalimat itu membuat Rachael diam.
Leon bicara pelan sekali, tapi tepat mengenai dirinya.
Karena memang itu masalahnya, hanya karena ia mati rasa bukan berarti lukanya tidak ada.
Rachael akhirnya menyerah kecil sambil mengulurkan tangan kanannya pelan.
Leon langsung menggenggam tangannya hati-hati.
Dan detik jemari mereka bersentuhan, Rachael sedikit terkejut.
Karena tangan Leon hangat. Sangat hangat dibanding jemarinya yang dingin.
Leon memperhatikan kuku jarinya yang merah dan sedikit lecet. Rahangnya mengeras samar.
“Ini yang kamu bilang nggak sakit?”
Rachael mengalihkan pandangan. “Udah biasa.”
Leon mengusap pelan area sekitar luka itu dengan ibu jarinya, sangat hati-hati seolah takut menyakitinya lebih jauh.
Dan anehnya...
Sentuhan kecil itu justru membuat dada Rachael terasa sesak.
Bukan karena sakit.
Tapi karena terlalu lama tidak ada yang memperlakukan dirinya sepelan ini.
“Aku benci kata ‘udah biasa’ tiap keluar dari mulutmu,” gumam Leon pelan.
Rachael menatapnya lagi bingung kecil.
Leon tertawa pendek tanpa humor. “Karena tiap kamu ngomong kayak gitu...” tatapannya turun ke tangannya yang lecet, “artinya kamu udah terlalu sering nyakitin diri sendiri.”
Keheningan kembali turun.
Rachael perlahan menggigit batang lolipopnya kecil-kecil, kebiasaan saat dirinya gugup.
Leon memperhatikan itu. “Permennya selalu rasa stroberi?”
Rachael tampak sedikit bingung dengan perubahan topik mendadak itu. “…Iya, enggak juga...”
“Kenapa harus stroberi?”
“Habisnya manis.”
“Itu doang?”
Rachael berpikir beberapa detik. “Ya, semua permen manis.”
Leon tersenyum kecil samar untuk pertama kalinya malam itu.Dan senyum kecil itu membuat ketegangan di bahu Rachael sedikit mengendur.
“Lucu,” gumam Leon.
Rachael langsung mengernyit. “Apa yang lucu?”
“Kamu mukul dinding kayak mau perang sama dunia,” jawab Leon pelan, “tapi nenanginnya pakai lolipop stroberi.”
Rachael refleks ingin membalas sinis, namun belum sempat, sudut bibirnya malah bergerak kecil senyum tipis.
Tapi cukup membuat Leon membeku sepersekian detik. Karena mungkin... itu pertama kalinya Rachael tersenyum kecil di depannya tanpa dipaksa.
Rachael sendiri langsung sadar dan buru-buru memalingkan wajah.
Leon menahan senyum kecilnya. “Nah. Gitu lebih bagus.”
“Apanya?”
“Muka kamu kalau nggak pura-pura kuat terus.”
Kalimat itu membuat dada Rachael kembali terasa aneh.
Ia tidak tahu kenapa setiap Leon bicara seperti itu, pertahanannya terasa makin susah dipertahankan.
Rachael menarik napas pelan. “…Kalau suatu hari aku benar-benar bikin kamu capek gimana?”
Leon menatapnya cukup lama. Lalu menjawab pelan, “Kalau suatu hari kamu mulai jatuh terlalu jauh, yaudah aku tarik lagi.” Jawaban sederhana.
Tapi justru itu yang membuat mata Rachael perlahan memanas. Ia langsung menunduk cepat sebelum Leon menyadarinya.
Namun terlambat, Leon melihat jelas bagaimana jemari Rachael sedikit gemetar sekarang, karena dirinya mulai goyah.
Leon melunak. “Hey…”
Rachael langsung menggeleng kecil cepat. “Aku nggak nangis.”
“Aku juga belum bilang kamu nangis.”
“...” Rachael diam.
Leon hampir tersenyum lagi.
Rachael menggigit bibir kecil sambil memegang lolipop nya lebih erat. Ia terlihat seperti sedang berusaha keras mengendalikan sesuatu di dalam dirinya sendiri.
“Aku cuma…” suaranya mengecil, “nggak ngerti kenapa kamu masih baik sama aku setelah lihat sisi jelek aku.” Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Kali ini Leon menjawab tanpa jeda sedikit pun.
“Karena itu bukan sisi jelek.”
Rachael langsung menatapnya.
Leon melanjutkan pelan, “Itu sisi kamu yang capek.”
Hening.
Suara hujan terus jatuh di luar sana.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama... Rachael merasa dirinya tidak sendirian di tangga darurat itu.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe