Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27:Kepulangan Sang Perisai
Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari gerbang utama Akademi Langit Biru, memantulkan pendaran perak pada pilar-pilar batu kuno yang telah berdiri selama ribuan tahun. Angin pagi berembus lembut, memainkan ujung jubah hitam bersulam emas milik Yu Fan dan pakaian tempur sutra merah-kuning milik Putri Jin Yuexin. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka untuk kembali ke Kerajaan Tianwu.
Di depan altar transmisi luar, berdiri Dekan Akademi, Wakil Dekan, dan sesosok bocah perempuan yang kini telah menginjak usia sembilan tahun Chen Yang. Gadis kecil itu berdiri dengan kedua tangan yang menggenggam erat ujung jubah kecilnya, sepasang mata bulatnya tampak berkaca-kaca menahan luapan kesedihan yang amat sangat berat karena harus berpisah dengan sosok yang paling dia sayangi.
"Kakak Yu Fan... Kakak Yuexin... apakah kalian benar-benar harus pergi hari ini?" tanya Chen Yang, suaranya yang kecil terdengar bergetar. Setitik air mata akhirnya lolos dan membasahi pipi mungilnya.
Yu Fan menatap bocah perempuan yang pernah diselamatkannya dari reruntuhan kuno tersebut. Ketegasan di wajah kago nya perlahan melunak, digantikan oleh guncangan rasa hangat seorang kakak yang teramat tulus. Yu Fan melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki di atas tanah agar tingginya sejajar dengan Chen Yang. Tangan kanannya yang hangat bergerak perlahan untuk mengusap sisa air mata di pipi gadis kecil itu.
"Chen Yang, dengarkan aku," ucap Yu Fan, suaranya terdengar teramat dalam dan menenangkan. "Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari hukum alam yang harus dilalui oleh setiap kultivator. Kepergianku hari ini bukan berarti aku melupakanmu. Jika kau tetap tinggal di dalam akademi ini, berlatih dengan tekun di bawah bimbingan langsung dari Dekan dan Wakil Dekan, kau akan tumbuh menjadi seorang penyihir dan kultivator yang sangat kuat. Hanya dengan menjadi kuat, kau bisa melindungi dirimu sendiri dan melihat dunia luar yang luas."
Jin Yuexin ikut melangkah maju, berlutut di sebelah Yu Fan dan menggenggam sepasang tangan kecil Chen Yang dengan senyuman yang sangat ceria, mencoba mencairkan suasana yang sendu. "Benar apa yang dikatakan si kaku Yu Fan, Chen Yang! Kau adalah adik kecil kami yang paling cerdas. Jangan menangis lagi, ya? Kalau kau rajin berlatih dan tidak malas memakan ramuan obat dari Wakil Dekan, wajahmu pasti akan semakin cantik dan energimu akan meluap-luap!"
Chen Yang menatap bergantian wajah Yu Fan dan Jin Yuexin. Dia menghirup napas pendek, mencoba menahan tangisnya dengan mengangguk sekuat tenaga. "U-Uhm! Chen Yang berjanji akan berlatih sangat keras setiap hari! Chen Yang tidak akan malas lagi!"
Tanpa bisa ditahan lagi, bocah perempuan itu langsung menghambur maju, merentangkan kedua tangan kecilnya untuk memeluk leher Yu Fan dan Jin Yuexin secara bersamaan dengan sangat erat. "Jika nanti Chen Yang sudah tumbuh menjadi gadis yang besar dan kuat... Chen Yang pasti akan terbang melintasi batas wilayah untuk berkunjung ke Kerajaan Tianwu dan menemui kalian berdua! Kakak harus menunggu Chen Yang, ya!"
"Tentu saja. Aku akan menunggumu, Chen Yang," jawab Yu Fan pelan, menepuk punggung kecil Chen Yang sebelum perlahan melepaskan pelukannya.
Dekan Akademi melangkah maju sambil mengelus janggut putih panjangnya, sepasang matanya memancarkan kearifan seorang master agung. "Yu Fan, Yuexin... pergilah dengan tenang. Bocah kecil ini memiliki bakat bawaan yang luar biasa, kami berdua yang akan memastikan bahwa dia mendapatkan sumber daya dan perlindungan terbaik di dalam akademi ini selama kalian berada di luar."
"Terima kasih atas segala bimbingan dari Dekan dan Wakil Dekan selama beberapa tahun ini," ucap Yu Fan dan Jin Yuexin secara bersamaan, membungkukkan tubuh mereka dengan hormat memberikan salam perpisahan terakhir.
WUZHUUUUU!
Detik berikutnya, Yu Fan dan Jin Yuexin melompat secara bersamaan dari atas tanah. Energi batin alami mereka meledak dalam pendaran cahaya emas murni dan api phoenix merah yang sangat benderang, membentuk sepasang sayap energi spiritual yang sangat megah di punggung mereka. Kedua tubuh mereka melesat naik menembus awan pagi, terbang dengan kecepatan tinggi menuju arah barat daya, meninggalkan area Akademi Langit Biru yang perlahan-lahan menyusut menjadi titik kecil di bawah sana. Chen Yang terus melambaikan tangan kecilnya ke arah langit hingga bayangan kedua kakaknya benar-benar lenyap ditelan garis cakrawala.
Setelah melakukan perjalanan udara selama beberapa jam melintasi hamparan pegunungan hijau dan sungai-sungai besar, benteng pertahanan raksasa Kerajaan Tianwu akhirnya mulai terlihat di balik cakrawala. Di pusat wilayah kekuasaan tersebut, berdiri sebuah kota yang sangat padat dan megah Ibukota Qian Ye.
Dari atas langit, Jin Yuexin tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Yu Fan! Lihat! Itu Ibukota Qian ye! Ahhh... aku benar-benar sangat merindukan rumah dan aroma makanan di jalanan kota kelahiranku!" pekik sang putri dengan mata berbinar-binar penuh kerinduan.
Yu Fan hanya tersenyum tipis, mengendalikan aliran energi emas alaminya untuk menurunkan kecepatan terbang mereka. Kedua tubuh mereka meluncur turun dengan anggun, mendarat dengan sangat mulus tepat di atas pelataran gerbang utama bagian dalam ibukota yang terbuat dari batu pualam putih.
Kedatangan mereka yang secara tiba-tiba seketika memicu kegemparan luar biasa di antara ribuan warga kota yang sedang memadati jalanan pusat perbelanjaan. Begitu melihat lencana Senior Agung yang bersinar di dada jubah hitam Yu Fan serta lambang keluarga kerajaan di gaun tempur Jin Yuexin, seluruh lautan manusia di jalanan kota seketika bersorak riuh rendah bagai gemuruh guntur.
"Lihat itu! Itu Murid Agung Yu Fan! Dia telah kembali bersama Putri Yuexin!" teriakan seorang pedagang paruh baya langsung memicu gelombang manusia untuk berkumpul.
"Hidup Pahlawan Akademi! Hidup Perisai Tianwu!!!" seru ratusan prajurit jaga yang langsung menjatuhkan diri memberikan hormat militer dengan menepukkan tombak besi mereka ke atas tanah. BANG! BANG! BANG!
"Tuan Muda Yu Fan! Terima kasih karena telah menghancurkan ancaman mayat hidup di perbatasan waktu itu! Selama ada dirimu yang berdiri sebagai perisai di Kerajaan Tianwu kita... wilayah ini pasti akan selalu aman dan tidak akan pernah bisa disentuh oleh kekaisaran kejam mana pun!" pekik para sesepuh warga dengan air mata haru.
Melihat sambutan yang begitu luar biasa dahsyat dari rakyatnya, Jin Yuexin membusungkan dadanya dengan sangat bangga, melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan dengan senyuman ceria yang teramat manis. Sifat cerewetnya langsung keluar saat dia menggandeng erat lengan jubah Yu Fan, menarik pemuda kaku itu berjalan membelah kerumunan warga.
"Ayo, Yu Fan! Mumpung kita baru sampai dan tidak ada pengawal kerajaan yang mengawasi, kau harus menemaniku berjalan-jalan sejenak di pasar bawah! Aku ingin membeli manisan tusuk dan kue daging kesukaanku sebelum kita masuk menemui Ayahanda Raja!" cerocos Yuexin tanpa memberi kesempatan bagi Yu Fan untuk menolak.
Yu Fan hanya bisa pasrah membiarkan dirinya ditarik ke sana kemari oleh sang putri di antara kerumunan warga yang terus memberikan sorak-sorai pujian. Bagi Yu Fan, melihat kebahagiaan yang jujur dari para warga fana ini memberikan sebuah kedamaian batin tersendiri, sekaligus memperkuat tekadnya untuk terus menjadi perisai yang kokoh bagi tempat ini.
Satu jam kemudian, gerbang emas ganda Aula Utama Istana Kerajaan Tianwu terbuka lebar.
Langkah kaki Yu Fan dan Jin Yuexin menggema tegas di atas karpet merah beludru yang membentang luas menuju singgasana tertinggi. Di sepanjang sisi kiri dan kanan aula, berbaris puluhan jenderal besar dan menteri kekaisaran dengan zirah kebesaran mereka yang berkilau. Begitu Yu Fan melangkah masuk, riak kekaguman dan bisik-bisik penuh pujian langsung memenuhi seisi ruangan.
"Sungguh aura batin yang sangat luar biasa padat... Ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir di usia yang begitu muda!" puji Jenderal Utama Angkatan Darat dengan tatapan mata yang berbinar hormat.
Di atas singgasana emas tertinggi, duduk sesosok pria paruh baya dengan mahkota naga perak yang menghiasi kepalanya. Raja Jin Wu. Penguasa tertinggi Kerajaan Tianwu itu memiliki tubuh yang tegap dan mata yang memancarkan pendar api phoenix yang sangat solid, sebuah bukti nyata bahwa dia telah berhasil menerobos batasannya menuju Ranah Master Tingkat 6 Tahap Akhir.
Yu Fan dan Jin Yuexin menghentikan langkah mereka tepat sepuluh langkah di depan podium singgasana. Secara bersamaan, keduanya menundukkan kepala dan membungkukkan tubuh mereka dengan sangat dalam, memberikan salam hormat kekaisaran yang paling tinggi.
"Yu Fan, memberikan salam hormat kepada Baginda Raja Jin Wu. Semoga kejayaan selalu menyertai Kerajaan Tianwu," ucap Yu Fan dengan nada suara yang teramat mantap dan berwibawa.
"Putri Yuexin, memberikan salam kepada Ayahanda Raja!" seru Yuexin dengan senyuman manja yang tersembunyi di balik ketegasannya.
Raja Jin Wu berdiri dari singgasananya, tawa baritonnya yang menggelegar seketika memenuhi seisi aula utama istana. "Hahaha! Bangkitlah! Bangkitlah, wahai Perisai Tianwu-ku dan putri semata wayangku yang terkasih!"
Raja Jin Wu melangkah turun dari podium, menghampiri keduanya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa kebanggaan yang teramat luar biasa besar sebagai seorang ayah sekaligus seorang penguasa kerajaan. Kedua tangan besarnya menepuk pundak Yu Fan dan Yuexin secara bergantian dengan sangat kokoh.
"Luar biasa! Benar-benar luar biasa!" puji Raja Jin Wu dengan dada yang membusung bangga. "Akademi Langit Biru adalah institusi tertinggi yang terkenal memiliki sistem kelulusan yang teramat sangat ketat dan kejam di seluruh benua fana ini. Banyak jenius dari berbagai faksi besar membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun hanya untuk bisa mendapatkan gelar kelulusan standar. Namun kalian berdua... kalian berhasil menyelesaikannya dalam waktu beberapa tahun saja dengan pencapaian yang memecahkan rekor sejarah! Yu Fan... kau benar-benar telah membuat nama Kerajaan Tianwu kita bergema dengan sangat agung di langit benua luar!"
"Ini semua berkat dukungan batin dan sumber daya yang diberikan oleh kerajaan, Baginda," jawab Yu Fan dengan kerendahan hati yang tulus.
Para jenderal di sekitar aula langsung bersorak setuju, memuji kebijaksanaan Yu Fan yang tidak menjadi sombong meskipun telah memiliki kekuatan setingkat master inti. Raja Jin Wu mengangguk sangat puas, lalu melambaikan tangannya ke arah para menteri. "Hari ini adalah hari kemenangan bagi kerajaan kita! Adakan pesta perjamuan besar di halaman luar untuk menyambut kembalinya para Senior Agung kita!"
Malam pun tiba melingkupi Istana Qian Ye. Langit malam yang bersih bertabur jutaan bintang, memantulkan pendar cahaya keperakan di atas permukaan air kolong kolam istana.
Berbeda dengan suasana halaman luar istana yang riuh rendah oleh suara musik perjamuan dan tawa para pejabat, sudut dalam taman rahasia istana terasa sangat sunyi dan menenangkan. Di pusat taman tersebut, berdiri sebuah pondok kayu tradisional kuno yang menghadap langsung ke arah kolam luas berisi ratusan ikan koi spiritual berwarna merah-emas yang berenang dengan tenang.
Malam ini, Raja Jin Wu sengaja memanggil Yu Fan secara pribadi untuk datang ke pondok tersebut. Sang raja tidak mengajak serta Putri Yuexin, karena sebagai seorang putri semata wayang dan calon penerus tahta garis darah phoenix, Yuexin malam ini harus menghadiri kelas khusus di paviliun barat bersama para menteri luar negeri untuk mempelajari perkembangan konstelasi ilmu politik dan pergerakan kerajaan fana lainnya.
Di dalam pondok kayu, sebatang dupa aromaterapi kayu cendana memancarkan asap tipis yang menenangkan. Raja Jin Wu duduk bersimpuh di atas tikar bulu, sementara di seberang meja kayu pendeknya, Yu Fan duduk dengan posisi tegap yang teramat rapi, jubah hitamnya tertata dengan sempurna di atas lantai kayu.
Grojok...
Raja Jin Wu dengan tangannya sendiri menuangkan air teh hangat yang mengepulkan uap spiritual harum dari teko tanah liat kuno ke dalam sebuah cangkir porselen kecil di depan Yu Fan. "Silakan diminum, Yu Fan. Ini adalah Teh Daun Embun Suci, dipetik langsung dari puncak Pegunungan Tianwu oleh para tetua sekte dalam seminggu yang lalu. Sangat baik untuk menenangkan sirkulasi energi batin setelah perjalanan jauh."
"Terima kasih, Baginda, anda repot-repot menuangkan untuk diriku, saya merasa sangat tidak enak" ucap Yu Fan, mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat cangkir porselen tersebut dengan sopan, menyesapnya perlahan. Rasa hangat yang teramat segar seketika menjalar di sepanjang meridian tubuhnya, membantu menenangkan sisa-sisa gejolak energi dari luka pertempurannya dengan Lin Xueru malam sebelumnya.
Raja Jin Wu meletakkan tekonya, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Yu Fan yang jernih dengan ekspresi wajah yang perlahan-lahan berubah menjadi sangat serius dan mendalam.
"Yu Fan," panggil Raja Jin Wu, suaranya merendah, hanya menyisakan deru angin malam dan kecipak air ikan koi di kolam. "Alasan utama aku memanggilmu ke tempat sunyi ini tanpa melibatkan Yuexin... adalah karena ada sebuah badai besar yang saat ini sedang mengintai fondasi Kerajaan Tianwu kita dari balik kegelapan."
Yu Fan meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja, pandangan matanya menajam. "Apakah ini berkaitan dengan pergerakan Kekaisaran Tianhuang, Baginda?"
Raja Jin Wu mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang ke arah ikan-ikan koi yang berenang di bawah cahaya bulan. "Kau benar-benar memiliki insting politik yang tajam. Intelijen bayangan kerajaan kita baru saja mengonfirmasi bahwa Kaisar Xuanyuan Lie telah berhasil menembus batasannya dan kini memegang kekuatan Ranah Master Tingkat 6 Tahap Akhir seutuhnya. Seluruh delapan jenderal besar mereka juga telah mencapai Tingkat 4 Tahap Akhir. Nafsu penaklukan mereka telah menyala kembali, dan Tianwu kita berada di urutan teratas dalam daftar wilayah yang akan mereka ratakan."
Raja Jin Wu mengepalkan tangan besarnya di atas meja. "Kekuatan militer biasa mereka mungkin bisa kita tahan menggunakan formasi pelindung kota. Namun... ada informasi yang jauh lebih mengerikan. Xuanyuan Lie dikabarkan telah melakukan sekutu terlarang dengan Sekte Tengkorak yang sesat. Mereka berencana untuk membangkitkan jiwa dari Dua Jenderal Legendaris masa lalu Kekaisaran Tianhuang yang saat hidupnya telah mencapai Ranah Master Tingkat 7 seutuhnya!"
Mendengar kata "membangkitkan orang mati" dan "Tingkat 7", Yu Fan tetap diam, namun riak aura emas di sekeliling tubuhnya bergetar tipis, memancarkan kewaspadaan yang kokoh.
"Untungnya," lanjut Raja Jin Wu dengan seberkas binar harapan di matanya, "Kerajaan Tianwu kita tidak berada di dalam posisi yang lemah. Leluhur Jin Taixu kita telah lulus melewati hukuman guntur langit kuno dan kini memegang kekuatan Ranah Master Tingkat 7 seutuhnya. Beliau sengaja menolak kenaikan ke Alam Dewa Pertama demi terus tinggal di dunia fana ini sebagai kartu as terakhir pertahanan kita. Namun... jika dua jenderal kuno Tianhuang itu benar-benar bangkit, Leluhur Jin Taixu pun akan sangat kewalahan jika harus menahan gempuran dua monster Tingkat 7 sekaligus sendirian."
Raja Jin Wu memajukan tubuhnya di atas meja, menatap Yu Fan dengan pandangan yang sarat akan permohonan seorang pemimpin yang tulus. "Yu Fan... kau adalah Perisai Tianwu yang diakui oleh seluruh rakyat. Di dalam badai perang kekaisaran yang akan pecah dalam hitungan bulan ini... aku, sebagai Raja Tianwu, secara pribadi memohon kepadamu untuk berdiri di garda terdepan bersama Leluhur Jin Taixu. Bantu kami melindungi tanah ini, bantu kami menjaga senyuman rakyat fana ini dari kehancuran penaklukan tirani Tianhuang!"
Yu Fan terdiam selama beberapa detik. Hembusan angin malam menerpa wajah kagonya, membuat bayangan daun pohon bambu menari-nari di atas cangkir tehnya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, potongan-potongan kepedihan masa lalu, tradisi busuk sekte teratai, hingga ambisi darah kekaisaran tiran seolah mengontervensi menjadi satu jalur takdir yang jelas di depan matanya. Dia tahu dia tidak bisa melarikan diri lagi dari pusaran dunia fana ini jika dia ingin melindungi kedamaian yang ada di sekitarnya.
Yu Fan menegakkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam sepasang mata Raja Jin Wu dengan pancaran aura emas alami yang mendadak berkilat teramat sangat kokoh bagai dinding baja yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh apa pun.
"Baginda Raja Jin Wu... tegaskan ini di dalam hatimu," ucap Yu Fan dengan nada suara yang teramat absolut dan berwibawa, menggema menembus keheningan malam taman istana. "Selama jubah hitamku ini masih berkibar di atas tanah Tianwu, dan selama Pedang Yin di pinggangku ini masih bisa membelah ruang udara fana... tidak akan ada satu pun jenderal, kaisar, atau bahkan monster mayat hidup dari Kekaisaran Tianhuang yang akan dibiarkan melangkah melintasi gerbang pertahanan kita untuk menumpahkan darah rakyat Tianwu. Aku bersumpah... aku akan menjadi perisai mutlak yang akan mematahkan setiap ambisi tirani mereka dan menghapus mereka semua dari muka bumi ini jika mereka berani menyentuh kedamaian tempat ini!"
Mendengar sumpah mutlak yang begitu megah dari mulut Yu Fan, Raja Jin Wu tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman kebesaran yang sarat akan rasa lega dan keyakinan mutlak terukir di wajah sang raja. Badai perang besar kini telah membayangi garis cakrawala benua fana, namun di bawah saksi rembulan malam istana, sang perisai agung telah menetapkan takdir bertarungnya untuk menghancurkan setiap tiran yang berani menantang jalurnya.