kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"Sekarang aku mau keluar. Kalau aku lari, aku nggak akan pernah tahu siapa yang bayar harga mahal itu." Tinta berhenti. Ayu menutup buku catatan, menyimpannya kembali ke laci, lalu mengunci pelan. Suara kayu berderit itu kecil dan ayu melihat ayah dan kakaknya ada diruang tamu
Saat mendengar pintu kamar terbuka dan suaranya berderit, kadir langsung menoleh ke arah kamar dan melihat wajah anaknya yang masih pucat dan Senyumnya dipaksakan, tapi keringat dingin masih membasahi pelipisnya ."kenapa keluar kamar, ayu kan masih sakit".
"ayu tidak apa-apa ayah." suara serak ayu menjawab pertanyaan ayah dan kakaknya. Wati dan yang lainnya juga langsung menghampiri.
"jangan banyak bergerak dek, lebih baik istirahat agar tenaganya cepat pulih". Mereka hanya menatap ayu dengan sendu, karena masih teringat kejadian tadi malam. jika terlambat sedikit saja, mungkin ayu sudah menyusul ibunya. tapi karena pertolongan Allah lewat perantara kakeknya yang sudah meninggal dunia, akhirnya ayu bisa selamat dari lembah Kematian dan musibah yang terjadi tadi malam menjadi pukulan mendalam bagi keluarga kardi
Kadir langsung berdiri. Wajahnya berubah saat melihat mata Ayu. Lingkaran hitam di bawahnya terlalu pekat untuk ukuran anak yang cuma demam semalam dan Itu bukan demam biasa. Itu ciri orang yang baru ditarik balik dari ujung."Jangan bohong sama Ayah," kata Kadir pelan tapi tajam. "Malam tadi ayah hampir kehilangan kamu....ayu! Cukup ibu yang meninggalkan ayah dan saudaramu yang lain, ayah tidak sanggup lagi jika harus kehilangan kamu".
Ayu menunduk. Wati langsung menutup mulutnya dan napasnya tercekat karena dia juga menyaksikan sendiri, bagaimana mana adiknya hampir dibunuh oleh makhluk tersebut.
"Maaf Ayah, mulai sekarang ayu akan lebih berhati-hati" bisik Ayu.
Kadir menghela napas panjang. Bahunya yang tadinya kaku perlahan mengendur, tapi matanya tetap tak lepas dari wajah Ayu.
"Berhati-hati saja tidak cukup, Ayu," katanya pelan. "Orang yang mengirim itu tidak akan berhenti cuma karena kau minta maaf."
Ayu mengangguk kecil, Tangan Wati yang sedari tadi mencengkeram lengan Ayu kini terasa dingin."Kalau begitu... apa yang harus kita lakukan, Yah...?" tanya Wati, suaranya nyaris berbisik. "Lapor polisi?"
Kadir tertawa pendek, tapi tidak ada lucunya sama sekali. "Polisi tidak bisa menangkap angin, Nak. Santau itu tidak meninggalkan sidik jari. Yang bisa mereka lihat cuma tubuh anakku yang hampir mati."
Suasana menjadi hening dan anak kadir yang lain hanya diam membisu dengan pikirannya masing-masing.
"Dia masih punya benteng," gumam kadir. "Alhamdulillah, orang tua yang kalian lihat semalam , ia adalah kakek kalian yang sudah meninggal puluhan tahun yang lalu ."
Kata-kata itu seperti tamparan dingin.
Ayu menggigit bibir dan Rasa bersalah kembali mencuat. "Maaf,,, yahhh! Karena aku... semua jadi repot."
"Jangan minta maaf untuk sesuatu yang bukan salahmu," potong Kadir tegas. "Yang salah itu orang yang berani main dengan nyawa orang lain pakai nama Allah."
Kadir menoleh ke arah jendela. Langit di luar mulai mendung, awam hitam mengumpal dilangit yang tadinya cerah dan tidak lama lagi akan hujan dan malam nanti adalah tahlilan ke dua midah. Kadir tidak tahu apakah akan ada orang yang datang setelah kejadian tadi malam atau tidak.
"Malem nanti kita jaga," kata Kadir akhirnya. Suaranya rendah, tapi berat. "Aku, kau, kakak dan kakak iparmu dan Kita tunggu siapa yang berani datang lagi."Kadir menatap ke luar jendela. Halaman rumah sudah basah karena angin membawa rintik pertama. Suaranya pelan, tapi tiap kata jatuh berat:
Wati memegang tangan Ayu lebih erat. "Kau tidak sendirian, Dek. Kali ini kalau dia datang, dia harus lewat kami dulu."
Ayu menatap satu per satu wajah keluarganya. Untuk pertama kali sejak bangun tadi pagi, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Takutnya masih ada, tapi kali ini dia tidak berdiri sendiri menghadapinya
Kakak ayu yang nomor dua bernama sari melangkah mendekat, meletakkan tangannya di kepala Ayu.
"Air wudhu jangan putus malam nanti," katanya pelan. "Kalau mereka datang pakai gelap, kita lawan pakai terang."
Saat sore hari, Di ruang tengah tikar sudah digelar untuk tahlilan dan persiapan untuk menyambut tamu yang datang akan di siapkan. Foto Midah diletakkan di depan, senyumnya tenang di tengah kesunyian. Suara azan maghrib sebentar lagi akan berkumandang, bercampur dengan suara petir jauh di ujung kampung.
Kadir menarik napas panjang. "Kalau mereka datang pas orang-orang lagi baca tahlil, itu artinya mereka tidak takut pada manusia... tapi kita lihat, apakah mereka takut pada Allah."Lilin kecil di samping foto Midah mulai dinyalakan satu per satu. Cahaya kuningnya bergoyang pelan setiap kali angin luar menyusup lewat celah pintu.
Di dapur, Wati dan adik-adiknya sibuk menata piring berisi nasi tumpeng, air putih, dan kue apem, suami Wati yang bernama Akbar datang untuk membantu. Bau kemenyan dari sudut ruangan bercampur dengan aroma bawang goreng, menciptakan suasana yang aneh—antara doa dan waspada.
Napasnya teratur, tapi tangannya dingin. Di pangkuannya buku Yasin yang sudah usang itu terasa berat."Jangan takut," bisik Wati dari samping. "Baca aja bareng kami. Suara kau itu bentengnya juga."
Pintu rumah ditutup rapat. Lampu luar dimatikan, menyisakan cahaya dari dalam dan kilat yang sesekali menyambar langit,
Imam memulai pembukaan. Suara "Al-fatihah..." mengalir pelan, diikuti jawaban serempak dari tamu yang hadir.