🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34: Tahap empat
Langit di atas Sekte Pedang Giok perlahan mulai menjernih, seiring dengan meredanya prahara yang sempat mengguncang martabat seorang petinggi sekte. Setelah penangkapan dramatis Ji Yang beserta antek-anteknya, suasana di lingkungan sekte mengalami pergeseran atmosfer yang sangat terasa. Nama Ji Yang, sang putra Tetua Agung yang semula diagungkan, kini menjadi buah bibir yang sarat akan cemoohan di setiap sudut lorong dan asrama murid. Skandal mengenai persekongkolannya dengan Kelompok Assassin Bulan Sabit Merah untuk menghabisi Qin Xiang telah menjadi rahasia umum yang tak terbantahkan.
Berdasarkan penyelidikan kilat yang dipimpin langsung oleh Tetua Tie, bukti-bukti yang diajukan Qin Xiang terbukti terlalu telak untuk diabaikan. Ji Yang akhirnya dijatuhi hukuman sepuluh tahun pengasingan di penjara bawah tanah Aula Disiplin yang dingin dan lembap. Meskipun beberapa murid merasa kecewa karena hukuman tersebut tidak disertai dengan penghancuran Dantian—sebuah bukti nyata bahwa pengaruh politik Tetua Agung Ji Jie masih bekerja di balik layar—tidak ada seorang pun yang berani menyuarakannya secara terbuka. Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, semua orang memilih untuk menutup mata demi keselamatan leher mereka sendiri.
Di sisi lain, sebagai bentuk upaya pembersihan nama baik dan peredam gejolak, baik Qin Xiang maupun Qu Long menerima kompensasi yang cukup menggiurkan. Ribuan poin sekte dan beberapa botol pil penyembuh peringkat Tinggi dikirimkan langsung ke kediaman mereka.
“Apakah pil ini benar-benar tidak mengandung racun?”
Qu Long memicingkan mata, memandangi sebutir pil hijau zamrud di telapak tangannya dengan raut wajah yang penuh kecurigaan. Ia seolah sedang menatap seekor ular berbisa, bukan sebuah hadiah. Kemurahan hati Tetua Agung yang mendadak ini terasa terlalu janggal di indranya.
Qin Xiang, yang duduk bersandar di sudut kamar sembari menyesap teh hangat, menanggapi dengan nada bicara yang datar dan tenang. “Makanlah. Pil itu murni. Ji Jie mungkin licik, tapi dia tidak sebodoh itu untuk meracuni kita di saat semua mata tertuju padanya. Ia hanya sedang bermain politik; mencoba membasuh tangannya yang kotor dengan tampil sebagai sosok yang bertanggung jawab agar reputasinya tidak hancur lebur di mata Master Sekte.”
“Hmm, rubah tua itu benar-benar lihai bersandiwara,” Qu Long mendengus pelan, lalu menelan pil tersebut meski hatinya masih sedikit menggerutu.
“Kau benar.” Qin Xiang meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi klik yang halus sebelum bangkit berdiri. Jubah putihnya berkibar ringan saat ia melangkah menuju jendela. “Gunakan sumber daya ini untuk pulih secepatnya dan fokuslah sepenuhnya pada kultivasimu. Aku jamin, untuk beberapa waktu ke depan, mereka akan menjaga jarak. Bahkan jika kau tidak sengaja terluka karena tersandung batu di jalanan sekte, semua orang akan menudingkan telunjuk mereka ke arah Keluarga Ji. Mereka saat ini sedang berada di bawah pengawasan publik dan tidak akan bertindakn gegabah.”
Qu Long mengangguk mantap. Keamanan yang dipaksakan ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
...
Malam pun tiba, menyelimuti puncak-puncak gunung sekte dengan kabut tipis yang dingin. Qin Xiang melangkah keluar dari asrama dengan punggung tegak dan tatapan lurus. Tujuannya adalah Aula Kultivasi. Ia membawa lima ribu poin sekte—hasil rampasan paksa yang diambil Tetua Tie dari tabungan pribadi Ji Yang sebagai kompensasi kerugian fisik dan mental.
“Satu bulan ini... aku harus bertambah kuat,” gumam Qin Xiang dengan tekad yang membeku. Alam rahasia, Tetua Agung, dan bahkan dendam masa lalunya—ia hanya bisa menghadapi semuanya setelah cukup kuat.
Begitu ia menginjakkan kaki di pelataran Aula Kultivasi, hiruk-pikuk murid-murid di sana mendadak mereda sejenak. Pasang mata yang semula penuh dengan keangkuhan kini berubah menjadi tatapan penuh kekaguman dan hormat. Sosok yang berjalan di hadapan mereka bukan lagi "Qin Xiang Si Sampah", melainkan seorang jenius yang berhasil mematahkan dominasi Tetua Agung.
“Senior Qin!”
Suara-suara sapaan terdengar serempak. Beberapa murid dengan sigap menangkupkan tinju, mencoba mencari muka atau sekadar menunjukkan keramahan kepada bintang baru yang sedang naik daun tersebut. Sebagian lainnya yang lebih senior segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan urusan mereka sendiri karena tidak ingin mencari perkara dengan sosok yang memiliki lidah setajam pedang itu.
Qin Xiang hanya membalas dengan anggukan tipis, nyaris tidak kentara, sebelum melangkah lebih dalam menuju zona kedua yang memiliki konsentrasi energi lebih pekat. Ia memilih salah satu Ruangan Kultivasi Tertutup dan menutup pintu batu yang berat itu dengan sekali dorongan.
Klik—!
Kegelapan ruangan segera dibuyarkan oleh pendar formasi pelindung di dinding. Qin Xiang duduk bersila, memulai meditasinya.
Waktu seolah melambat di dalam kesunyian itu. Selama satu bulan penuh, Qin Xiang menenggelamkan dirinya dalam lautan energi spiritual, tanpa pernah melihat cahaya mentari. Setiap tarikan napasnya menarik esensi dunia ke dalam meridiannya yang kini telah lebar dan kokoh bak saluran sungai besar. Tubuhnya mulai diselimuti oleh pendar energi emas yang halus dan sangat padat.
Namun, kultivasi Qin Xiang berbeda dari praktisi biasa. Kebutuhannya akan energi alam telah sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan praktisi lain di ranahnya. Jika orang lain mampu membangun pondasi dengan embun, maka Qin Xiang saat ini butuh sebuah sungai untuk mengisi Qi Emas di Dantiannya. Hal ini membuat pertumbuhannya terasa lebih lambat dan menguras tenaga secara mental.
Di akhir masa pengasingannya, Qin Xiang perlahan membuka kelopak mata. Aura yang keluar dari tubuhnya kini sangat mantap dan membawa tekanan yang menindas.
Ranah Qi Fondasi Tahap 4.
Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran tenaga yang berdenyut di bawah kulitnya. Meski kekuatannya sedikit meningkat drastis, ia mulai merasa Dantiannya mencapai titik jenuh terhadap energi spiritual di dalam sekte yang statis. Ia merasa kesulitan hanya untuk membentuk satu atau dua tetes Qi Emas baru jika hanya mengandalkan meditasi di dalam ruangan.
Sudah saatnya mencari keberuntungan di luar,batinnya.
...
Sebelum benar-benar meninggalkan lingkungan sekte, Qin Xiang menyempatkan diri menjumpai Qu Long. Ia mendapati sahabatnya itu telah pulih sepenuhnya, bahkan kini auranya memancarkan kekuatan Qi Fondasi Tahap 5. Qu Long tampaknya benar-benar menggunakan poin kompensasi itu dengan sangat efisien, mengurung diri hingga mencapai batas kemampuannya saat ini.
“Kakak Qin, kau... auramu terasa jauh lebih berat,” Qu Long menyapa dengan binar mata takjub saat melihat Qin Xiang berdiri di depan pintunya. Ia kemudian menyadari pakaian Qin Xiang yang sudah rapi untuk perjalanan jauh. “Kau ingin turun gunung lagi?”
Qin Xiang mengangguk perlahan, menatap ke arah gerbang sekte yang menjulang di kejauhan. “Energi di Aula Kultivasi sudah tidak lagi mencukupi untuk kebutuhanku. Aku harus pergi mencari keberuntunganku di dunia luar sebelum Alam Rahasia itu terbuka.”
Qu Long mengerti sepenuhnya. Ia tidak lagi banyak bertanya, hanya menangkupkan tinjunya dengan rasa hormat yang mendalam.
“Hati-hati di jalan, Kakak Qin. Aku akan menjaga kamar kita di sini,” pungkas Qu Long dengan senyum yang mantap.
Bersambung!