NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Sinar matahari pagi yang biasanya menyelinap malu-malu ke celah jendela kamar Adelia kali ini terasa seperti cahaya yang menyakiti mata. Ia membuka kelopak matanya perlahan, setiap gerakan kepalanya terasa berat seolah diisi timah. Punggungnya masih nyeri berdenyut akibat benturan kemarin, lututnya yang tergores terasa perih saat tersentuh kain kasar seprai, dan yang terburuk, dadanya kembali terasa sesak—sisa dampak dari serangan asma yang hampir merenggut napasnya semalam.

Adelia mencoba duduk, tapi tubuhnya gemetar hebat. Ia meraih inhaler yang kini ia simpan di bawah bantal, tempat yang paling aman menurutnya. Setelah menekannya dua kali perlahan, napasnya mulai sedikit lebih lega, namun rasa dingin yang menyelimuti hatinya tak kunjung hilang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil di sudut ruangan: wajahnya pucat pasi seperti kertas, mata cokelatnya besar dan cekung karena kurang tidur, ada memar samar di pelipisnya, dan bekas goresan di lututnya terlihat jelas meski sudah ia bersihkan seadanya.

"Ini rumahku..." bisiknya lirih pada bayangan di cermin. "Tapi kenapa rasanya seperti aku adalah tamu yang tidak diinginkan, bahkan tamu yang harus disembunyikan?"

Tak ada jawaban selain keheningan yang mencekam. Ia berjalan tertatih menuju lemari tua, mengambil pakaian yang paling longgar untuk menutupi memar di tubuhnya. Ia takut jika ada yang melihat, orang tuanya malah akan menuduhnya sengaja melukai diri sendiri demi mencari perhatian—tuduhan yang pernah ia dengar berkali-kali sebelumnya.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi saat akhirnya ia memberanikan diri keluar kamar. Biasanya pada jam ini rumah sudah sepi karena Adam Yhosep dan Belinda Yhosep sudah ke kantor atau ke acara sosial, sedangkan Adelin sedang di studio pemotretan. Namun hari ini, suara percakapan terdengar dari ruang tengah, membuat Adelia segera bersembunyi di balik tiang tangga.

"Tadi Gyantara menelepon lagi," suara Belinda terdengar cemas. "Dia bertanya lagi tentang gadis kemarin. Dia bilang sikap gadis itu tidak cocok dengan deskripsi Adelin selama ini. Dia juga bertanya apakah ada hal yang kami sembunyikan soal kondisi kesehatan keluarga."

Hati Adelia berdegup kencang. Apakah Gyantara menyadari sesak napasnya kemarin? Apakah ia tahu ia menderita asma?

"Katakan saja itu hanya kerabat jauh yang pemalu," jawab Adam singkat namun tegas. "Jangan berikan penjelasan berlebihan, nanti malah dicurigai. Lagipula, asma itu penyakit biasa. Siapa pun bisa memilikinya. Kita pastikan saja Gyantara tidak pernah berpapasan dengan Adelia lagi sebelum hari pernikahan."

"Dan satu hal lagi," timpal Adelin dengan nada dingin. "Pastikan dia tidak sakit parah. Kalau sampai dia masuk rumah sakit, pasti orang-orang akan bertanya siapa dia. Kita tidak bisa menyembunyikan keberadaannya selamanya kalau dia sering muncul di tempat umum."

Kata-kata itu menusuk Adelia lebih tajam dari luka fisiknya. Mereka tidak khawatir apakah ia sakit atau tidak—mereka hanya takut rahasia mereka terbongkar. Mereka menganggap kesehatan dan nyawanya hanya sekadar halangan bagi rencana besar mereka.

Adelia tak sanggup berdiri lebih lama lagi. Ia menyelinap pergi menuju halaman belakang, ke bangku kayu tua di bawah pohon mangga—satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa bernapas lega. Baru saja ia duduk, dadanya kembali sesak hebat. Ia batuk-batuk hingga air matanya menetes, napasnya terputus-putus, dan punggungnya bersandar lemah pada batang pohon kasar.

Ia memeluk dirinya sendiri erat-erat, menangis tanpa suara. Air matanya jatuh membasahi tanah kering di bawahnya, seolah berusaha menyiram kesepian yang tak berujung. Ia bertanya pada langit, pada takdir, pada siapa pun yang mau mendengar: apakah kesalahannya hanya karena ia lahir di saat yang sama dengan kakaknya? Apakah karena wajahnya mirip sehingga ia dianggap ancaman? Apakah karena ia cerdas sehingga ia dianggap pesaing? Mengapa kasih sayang orang tua harus dibagi sedemikian rupa hingga tak tersisa sedikit pun untuknya?

"Del?"

Suara lembut namun cemas itu terdengar tak jauh dari sana. Adelia menoleh dengan susah payah, melihat Julian Leonard melompati pagar tanaman dengan wajah pucat karena takut. Di belakangnya, Tama Alvaro berjalan cepat dengan langkah tergesa.

Melihat kondisi Adelia yang terkulai lemas, wajahnya basah oleh air mata, dan napasnya yang tersengal-sengal, Julian langsung berlari mendekat dan berjongkok di hadapannya. Ia tidak bertanya dulu, langsung mengambil inhaler yang tergeletak di tangan Adelia dan membantunya memakainya dengan benar.

"Tarik napas pelan... hembuskan perlahan... begitu, Del, begitu..." bisiknya menuntun irama napas gadis itu. Tangannya yang besar dan hangat mengusap punggung Adelia perlahan, berusaha mengurangi rasa tegang di sana.

Tama berdiri menjaga jarak, matanya menatap tajam ke arah pintu belakang rumah Yhosep seolah siap melawan siapa pun yang berani mengganggu saat itu. "Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya pelan tapi penuh amarah yang tertahan. "Bekas di lututmu... memar di pelipismu... ini bukan jatuh biasa, kan?"

Setelah napasnya sedikit lebih tenang, Adelia menunduk, air matanya kembali mengalir. Ia menceritakan semuanya: tuduhan tanpa bukti kemarin, benturan punggungnya, inhaler yang dibuang Adelin, dan percakapan yang baru saja ia dengar tadi. Ia bercerita betapa lelahnya ia harus hidup dalam ketakutan, betapa takutnya ia kalau suatu hari nanti ia sakit parah dan tak ada yang peduli.

Mendengar itu, Julian mengepal tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang biasanya tenang kini menyala marah. "Ini sudah melampaui batas kemanusiaan. Mereka adalah darah dagingmu sendiri, Del. Tapi mereka memperlakukanmu lebih buruk dari pelayan, lebih buruk dari hewan peliharaan."

"Aku tahu aku tidak berhak ikut campur urusan keluargamu," tambah Tama dengan suara bergetar menahan emosi. "Tapi kalau kamu terus di sini, kamu akan hancur perlahan. Bukan hanya hatimu, tapi juga nyawamu. Asma itu bisa mematikan kalau terus dipicu stres dan kekerasan seperti ini."

"Aku mau pergi..." bisik Adelia lemah. "Tapi aku takut mereka akan mencari dan memaksaku kembali. Aku takut mereka akan menyakiti kalian berdua kalau aku lari."

Julian menatap mata Adelia lekat-lekat. "Kami tidak takut pada mereka. Tapi kami takut kamu semakin terluka. Dengarkan aku, mulai hari ini kami akan mencari cara agar kamu bisa aman. Dan satu hal lagi—kemarin setelah pulang dari pesta, Rama Febrian mencariku lewat pesan singkat."

Adelia mengerutkan kening, bingung. "Rama? Sahabat Gyantara?"

"Ya," Julian mengangguk. "Dia bilang Gyantara tidak berhenti memikirkannya. Dia bilang ada sesuatu yang sangat salah dengan keluarga Yhosep. Gyantara menyuruh Rama mencari tahu siapa kamu sebenarnya. Dia tidak puas dengan alasan 'kerabat jauh' itu."

Jantung Adelia berdegup tak beraturan lagi, kali ini bukan karena sakit, tapi karena kaget dan kebingungan. Mengapa pria yang belum pernah ia bicara dengannya pun begitu bersikeras ingin tahu keberadaannya? Mengapa Gyantara yang dingin dan fokus pada pekerjaan begitu tertarik pada gadis yang seharusnya tak ada ini?

"Rama juga bilang," lanjut Tama pelan, "bahwa Gyantara pernah bertanya soal penyakit keturunan keluarga Yhosep. Dia ingin tahu apakah Adelin juga menderita asma. Karena menurut pengamatannya, Adelin tidak pernah terlihat sesak napas, tidak pernah membawa obat, sedangkan kamu... dia melihatmu meraih saku baju kemarin dengan panik."

Adelia terdiam. Ia tak pernah menyangka tatapan dingin itu ternyata penuh pengamatan yang begitu teliti. Pria itu tak sekadar melihat wajah yang mirip—ia melihat perbedaan yang tak disadari orang lain. Dan itu berarti rahasia yang dijaga mati-matian keluarganya mulai retak dari sisi yang tak terduga.

"Kalau Gyantara tahu kebenarannya..." gumam Adelia pelan, "apa yang akan terjadi? Apakah dia akan membenci kami semua? Atau... apakah dia akan membenci aku karena terlihat seperti orang yang ia cintai?"

Julian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti: semakin lama kamu menyembunyikan diri, semakin besar bahayanya bagimu. Kebohongan ini seperti bom waktu, Del. Dan rasanya waktu pelurunya sudah mulai berdetak cepat."

Sore itu mereka bertiga duduk lama di bawah pohon mangga itu. Angin berhembus pelan membelai rambut Adelia, membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Di dadanya masih ada rasa sakit, di matanya masih ada sisa air mata, tapi kini ada rasa penasaran yang bercampur ketakutan.

Siapa sebenarnya Gyantara Raharja? Apakah ia pria yang buta oleh cinta seperti yang dikatakan orang tuanya? Atau ia pria yang cukup cerdas dan berani untuk melihat melampaui topeng manis Adelin? Dan jika ia tahu kebenaran—bahwa selama ini ada gadis lain yang hidup dalam bayang-bayang—apakah ia akan menjadi ancaman terbesar bagi Adelia, atau justru satu-satunya orang yang bisa membebaskannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Satu hal yang pasti: tak ada jalan kembali. Semakin Adelia berusaha diam, semakin dunia di luar sana berusaha membuka selubung yang menutupi wajahnya. Dan di balik selubung itu, takdir yang tak terduga sedang menunggunya—mungkin penuh badai, mungkin juga penuh cahaya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!