NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Pagi itu, Hutan Kabut Hitam masih diselimuti oleh kabut putih yang tebal dan dingin.

Arga perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Saat menggerakkan otot-ototnya, ia terkejut karena merasa tubuhnya jauh lebih ringan dan kokoh dibandingkan beberapa hari yang lalu. Pemuda itu kini berdiri tegak tepat di bawah hantaman air terjun raksasa. Anehnya, kali ini ia mampu bertahan hampir satu jam penuh tanpa terpental sedikit pun.

Di dalam alam kesadarannya, Guru Tian mengangguk puas. "Latihan fisik tahap pertama selesai."

Arga langsung menyunggingkan senyum lebar penuh kelegaan. "Akhirnya!"

"Jangan senang dulu," sela Guru Tian cepat. Jiwa tua itu mengarahkan pandangannya ke arah kerapatan hutan yang gelap. "Latihan tahap kedua baru saja dimulai."

"Latihan apa lagi, Senior?"

"Berburu."

Arga menaikkan sebelah alisnya. "Hanya itu?"

"Bukan kau yang berburu binatang liar," Guru Tian menyeringai misterius. "Tapi binatang-binatang liar di hutan ini yang akan berburu dirimu."

Arga seketika menelan ludah dengan susah payah. "Senior... kenapa saya merasa metode latihan Anda dari hari ke hari semakin kejam?"

Guru Tian tidak menjawab dan hanya membalasnya dengan tawa kecil yang sarat makna.

Tak lama berselang, Nara muncul dari balik jalan setapak sambil menjinjing sebuah keranjang anyaman berisi buah-buahan hutan yang segar.

"Pagi!" sapa gadis itu dengan ceria.

"Pagi, Nara."

Melihat raut wajah Arga yang tampak tegang dan gelisah, Nara mengernyitkan dahi. "Ada apa dengan wajahmu? Kenapa tegang begitu?"

"Kata guruku... hari ini aku akan menjadi buruan."

Nara hanya mengangguk-angguk santai sembari mengunyah sebutir buah. "Oh."

"Hah? Cuma 'oh'?" Arga melongo.

"Hal seperti itu memang sudah biasa terjadi di dalam hutan ini," jawab Nara enteng.

Namun, belum sempat Nara menyelesaikan penjelasannya—

Grrr...

Sebuah geraman berat dan sarat ancaman mendadak bergema dari balik semak-semak belukar yang rimbun.

Sesosok Serigala Bertanduk melangkah keluar perlahan-lahan. Ukuran tubuhnya mengerikan, hampir setinggi bahu manusia dewasa, dengan sepasang taring mencuat sepanjang belati. Mata kuningnya yang pekat menatap tajam ke arah Arga tanpa berkedip.

Nara yang tanggap langsung melompat mundur beberapa meter ke atas batu besar. "Nah, itu dia buruanmu."

Arga melempar senyum kaku ke arah serigala tersebut. "Jadi... yang diburu benar-benar aku?"

"Sepertinya begitu."

Roaaar!

Tanpa memberi peringatan lebih lanjut, serigala buas itu mengaum keras lalu menerjang maju, mengincar leher Arga dengan kecepatan tinggi.

"Jangan gunakan pedangmu!" teriak Guru Tian tiba-tiba di dalam benak Arga. "Lawan makhluk itu dengan tangan kosong!"

"Apa?!" Arga nyaris ingin menangis mendengarnya.

Namun, ia tidak punya waktu untuk memprotes. Pemuda itu langsung berguling di atas tanah demi menghindari terkaman maut tersebut.

Brak!

Sepasang cakar tajam milik serigala itu menghantam telak permukaan tanah tempat Arga berdiri sebelumnya, membuat bebatuan di sana hancur berkeping-keping.

"Kalau sampai terkena sekali saja... aku pasti langsung jadi mayat!" gumam Arga ngeri.

Di tengah kepanikan itu, suara Guru Tian tetap terdengar setenang telaga. "Gunakan kekuatan kakimu untuk menghindar. Amati pola napasnya, dan jangan pernah mencoba melawan tenaganya secara langsung."

Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba memaksa jantungnya yang berdegup kencang untuk kembali tenang.

Serigala Bertanduk itu kembali memutar tubuh dan menerjang untuk yang kedua kalinya. Kali ini, Arga tidak lagi panik. Sepasang matanya fokus mengamati pergerakan otot bahu sang serigala sesaat sebelum makhluk itu melompat.

‘Ke kiri!’ batin Arga.

Tubuhnya bergerak secara refleks.

Wus!

Terkaman serigala itu meleset tipis. Memanfaatkan celah tersebut, Arga melayangkan pukulan kuat tepat ke arah tulang rusuk sang serigala.

Buk!

Serigala itu hanya bergeser beberapa senti, sementara kepalan tangan Arga justru terasa nyeri luar biasa seolah-olah baru saja menghantam sebongkah baja.

"Senior! Kulit makhluk ini keras sekali, rasanya seperti memukul batu!" protes Arga sambil meringis.

"Itulah gunanya latihan ini! Cari titik lemahnya dan teruslah memukul!"

Pertarungan sengit itu berlangsung hampir setengah jam lamanya. Sekujur tubuh Arga kini dipenuhi oleh luka cakaran baru, dan napasnya mulai tersengal-sengal karena kehabisan stamina. Namun, anehnya, gerak kaki dan kelincahannya justru terasa semakin terasah di bawah tekanan konstan ini.

Saat serigala itu melompat untuk menerkamnya secara frontal untuk terakhir kali, Arga tidak menghindar ke samping. Ia justru memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum kecepatan lawan, lalu menghantamkan sikutnya sekuat tenaga tepat ke arah urat leher sang serigala yang tidak terlindungi.

Krak!

Suara patah tulang terdengar jelas. Tubuh besar serigala itu seketika roboh ke tanah dan tidak bergerak lagi.

Arga langsung terduduk lemas di atas tanah, memegangi sikutnya yang mati rasa. "Aku... aku berhasil menang?"

Guru Tian tersenyum puas di dalam dimensi kesadaran Arga. "Bukan."

Arga kembali melongo bingung. "Maksud Senior?"

"Kau baru saja menyelesaikan ujian pemanasan, Nak."

Tepat setelah kalimat Guru Tian selesai terucap, belasan pasang mata berwarna merah menyala mendadak bermunculan dari balik kegelapan pepohonan. Satu per satu, kawanan Serigala Bertanduk lainnya melangkah keluar dengan perlahan, membentuk lingkaran rapat yang mengepung mereka berdua.

Nara yang menyaksikan perubahan situasi ekstrem tersebut seketika meraba busur panahnya dengan wajah pucat pasi. "Arga... sepertinya kita sedang berada dalam masalah yang sangat besar."

Namun, hal yang membuat Guru Tian khawatir saat ini bukanlah kawanan serigala buas di depan mereka. Jauh di batas indra perasanya yang tajam, ia menangkap ada tiga riak aura manusia yang sangat kuat sedang bergerak cepat mendekati posisi mereka.

"Mereka... akhirnya berhasil menemukanmu," bisik Guru Tian lirih dengan nada yang teramat serius.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!