NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 orang yang menolak akhir

Fajar mulai menyinari Pulau Perpustakaan XIII Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, cahaya matahari menembus kabut hitam yang selama ini menyelimuti tempat itu.

Semua orang menghela napas lega Gerbang Karunia telah tertutup Kabut menghilang Suara-suara aneh pun lenyap.

Naura menatap langit dengan mata berkaca-kaca.

"Sudah selesai..."

bisiknya.Namun...

"Tidak."

Suara itu membuat semua kembali menoleh Direktur X masih berdiri.

Meski pakaiannya robek dan tubuhnya dipenuhi luka, senyum di wajahnya belum juga hilang.

"Kalian memang berhasil menutup Gerbang."

"Tapi kalian tidak akan pernah bisa menutup harapan manusia."

Alea mengepalkan tangannya.

"Ini semua sudah berakhir!"

Direktur X tertawa kecil.

"Berakhir?"

"Apa kalian benar-benar percaya semua orang di dunia bisa menerima kehilangan?"

"Tidak."

"Suatu hari nanti akan ada seseorang yang kehilangan ibu."

"Kehilangan ayah."

"Kehilangan anak."

"Kehilangan orang yang paling dicintainya."

"Dan saat hari itu tiba..."

"...mereka akan mencari cara untuk mengubah takdir."

Semua terdiam Tak seorang pun mampu menyangkal kata-kata itu Karena kehilangan adalah bagian dari hidup Direktur X memandang Dimas.

"Itulah sebabnya..."

"...Organisasi XIII tidak akan pernah benar-benar mati."

"Tidak peduli berapa kali kalian menghancurkannya."

Lucian menatap Direktur X.

"Lalu kenapa kau bergabung dengan organisasi itu?"

Untuk pertama kalinya...Senyum Direktur X menghilang Ia memejamkan mata.

"Aku punya seorang putri."

Ruangan mendadak sunyi.

"Namanya..."

Alena.

"Dia meninggal saat berusia delapan tahun."

"Aku mencari semua cara agar dia kembali."

"Semua cara."

"Termasuk menjadi bagian dari Organisasi XIII."

Air mata perlahan jatuh dari wajahnya.

"Aku tahu apa yang kulakukan salah."

"Tapi..."

"...seorang ayah sering kali berhenti berpikir jernih saat kehilangan anaknya."

Naura menundukkan kepala Kini ia mengerti.

Direktur X bukan terlahir sebagai orang jahat

Ia hanyalah seseorang yang tidak pernah bisa menerima kenyataan.

Dimas melangkah mendekatinya.

"Kalau Ayahku yang meninggal..."

"...mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."

Direktur X tersenyum pahit.

"Itulah mengapa..."

"...aku berharap kau gagal."

"Supaya aku punya alasan untuk terus berharap."

Dimas menggeleng pelan.

"Luka tidak akan sembuh kalau kita terus hidup di masa lalu."

"Aku juga kehilangan banyak orang."

"Tapi mereka tetap hidup..."

"...di dalam kenangan."

Direktur X menutup matanya lama.

Kemudian ia mengeluarkan lencana Organisasi XIII dari sakunya lencana itu telah menemaninya selama puluhan tahun Tanpa ragu...Ia menjatuhkannya ke lantai .Ting...

"Aku lelah."

Bisiknya lirih.

"Aku benar-benar lelah."

Selena yang sejak tadi diam akhirnya menangis.

"Direktur..."

"Apa semua ini memang harus berakhir?"

Direktur X mengangguk.

"Ya."

"Sudah waktunya."

Ia menatap matahari yang mulai terbit.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Titip salam..."

"...untuk Alena..."

Sesaat kemudian...

Tubuh Direktur X perlahan berubah menjadi cahaya putih.Tidak ada ledakan,Tidak ada teriakan Ia hanya menghilang...

Dengan senyum damai yang selama ini tak pernah terlihat Seluruh anggota Organisasi XIII menjatuhkan simbol mereka satu per satu.

Perjuangan panjang itu...Akhirnya benar-benar berakhir.

Matahari pagi menyinari Pulau Perpustakaan XIII.

Untuk pertama kalinya, tempat yang selama bertahun-tahun dipenuhi kabut kini terlihat damai.

Namun di hati Alea, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab Ia menatap Eleanor.

"Ada satu hal yang masih menggangguku."

Eleanor mengangguk pelan.

"Aku tahu."

"Kenapa kami?"

"Kenapa sejak kecil kami yang selalu terlibat?"

Naura, Dimas, Raka, Elang, Keanu, Naya, dan Liora ikut memandang Eleanor.

Wanita tua itu berjalan menuju sebuah rak buku yang mulai rapuh.

Dari balik rak, ia mengambil sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu dipenuhi debu dan ukiran angka XIII Perlahan ia membukanya.

Di dalamnya terdapat delapan gelang kecil dari benang merah.

Masing-masing memiliki sebuah nama.

Alea,Naura,Raka,Dimas,Elang,Keanu,Naya,Liora.

Naura membelalak.

"Itu... nama kami."

Eleanor tersenyum tipis.

"Ya."

"Kalian dipilih... bukan karena memiliki kekuatan."

"Tetapi karena memiliki hati yang mampu memilih."

Alea mengernyit.

"Maksudnya?"

Eleanor menghela napas.

"Lima belas tahun lalu..."

"Lucian sudah mengetahui bahwa Perjanjian Arunika suatu hari akan kembali."

"Karena itu, ia meminta kami mencari delapan anak."

"Anak-anak yang saat dewasa nanti akan menghadapi pilihan besar."

"Bukan yang paling kuat."

"Bukan yang paling pintar."

"Tetapi yang masih memiliki belas kasih."

Dimas menatap gelang bertuliskan namanya.

"Jadi semua ini sudah direncanakan..."

"Sejak kami kecil?"

Eleanor mengangguk.

"Ya."

"Tetapi..."

"Pilihan kalian hari ini tetap murni."

"Tidak ada yang memaksa."

"Kalian sendirilah yang memutuskan untuk saling melindungi."

Elang tersenyum kecil.

"Berarti..."

"Persahabatan kami bukan kebetulan."

"Bukan."

jawab Eleanor.

"Itu adalah harapan terakhir."

Naura memeluk Alea.

"Aku senang..."

"...akhirnya kita tahu semuanya."

Namun...Saat semua mulai merasa lega...

Terdengar suara langkah kaki dari luar perpustakaan.

Tok... Tok... Tok...

Semua langsung menoleh.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di depan pintu Pakaiannya lusuh.

Di tangannya ada sebuah amplop tua berwarna cokelat.

"Permisi..."

"Aku disuruh memberikan ini."

"Kepada Alea."

Alea menerima amplop itu dengan bingung.

"Siapa yang menyuruhmu?"

Anak itu tersenyum.

"Seorang perempuan."

"Dia bilang..."

"...'Kalau semuanya sudah selesai, baru berikan surat ini.'"

"Siapa namanya?"

Anak itu berpikir sejenak.

"Lupa."

"Tapi..."

"Dia memakai seragam sekolah."

Jantung Alea berdetak kencang dengan tangan gemetar ia membuka amplop itu,di dalamnya hanya ada selembar surat.Tulisan tangannya sangat ia kenal tulisan milik...Maya.

Di bagian atas surat tertulis:

«"Untuk Alea... jika kamu membaca surat ini, berarti kamu berhasil."»

Alea langsung meneteskan air mata.Surat itu...

Ditulis Maya sebelum semua tragedi dimulai.

Dan di bagian bawah surat terdapat satu kalimat yang membuat semua kembali terdiam.

«"Masih ada satu tempat yang belum pernah kalian kunjungi..."»

«"Ruang Nomor 13."»

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!