"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. KUA dan Knalpot Brong
Pagi ini, matahari Jakarta terasa jauh lebih bersahabat, setidaknya bagi Juna Raksa yang sejak subuh sudah sibuk memoles motor sport kesayangannya sampai bisa dipakai buat ngaca. Hari ini adalah hari bersejarah. Hari di mana ia akan mendaftarkan namanya dan nama Cantik ke buku besar KUA.
Cantik sudah berdiri di teras rumahnya, mengenakan blus putih tulang dan rok sepan yang sangat rapi. Ia tampak cantik, anggun, dan tentu saja... cemas.
VROOOOOM! DERRR!
Suara ledakan knalpot itu membuat Cantik nyaris menjatuhkan tas tangannya. Juna datang dengan motor sport-nya yang paling bising, mengenakan jaket kulit hitam dan kacamata hitam. Di belakangnya, lima motor temannya mengekor, semuanya memakai atribut bendera kecil bertuliskan: OTW HALAL.
"Juna! Lu apa-apaan sih?! Kita mau ke kantor KUA, bukan mau balap liar!" teriak Cantik saat Juna membuka helmnya dengan cengiran paling nakal.
"Tenang, Kak. Ini namanya iring-iringan kemenangan. Lu harus bangga, calon suami lu ini satu-satunya brondong yang dapet restu jalur 'babak belur'," sahut Juna santai. Ia turun dari motor dan membukakan helm merah muda "ikan mas koki" yang legendaris itu untuk Cantik. "Ayo naik. Kita tunjukin sama Bapak Penghulu kalau cinta ugal-ugalan itu nyata."
Cantik mendengus, melirik ayahnya yang berdiri di pintu dengan gelengan kepala. "Yah, Cantik berangkat dulu ya. Maafin Juna yang urat malunya emang putus satu."
Ayah cuma tertawa kecil. "Hati-hati, Juna. Jangan ugal-ugalan bawa anak Ayah."
"Siap, Yah! Gaskeun!"
Sepanjang jalan menuju KUA, Juna benar-benar bertingkah. Setiap ada lampu merah, dia sengaja menggerung mesin motornya agar semua orang menoleh ke arah Cantik yang sedang menutupi wajahnya dengan kaca helm pink cembungnya.
Sesampainya di kantor KUA, kericuhan belum berakhir. Petugas administrasi yang seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menatap Juna dan Cantik bergantian dengan bingung. Ia melihat berkas Juna, lalu melihat wajah Juna yang masih punya sedikit bekas luka di sudut bibirnya.
"Mas Juna Raksa, kelahiran 2008?" tanya petugas itu memastikan.
"Betul, Pak. Masih seger, masih orisinal, dan yang pasti sudah mandiri lahir batin," jawab Juna dengan tingkat kepercayaan diri yang sanggup meruntuhkan gedung.
"Dan Mbak Cantik... kelahiran 2000? Beda delapan tahun ya?" petugas itu bergumam sambil membetulkan kacamatanya.
Cantik tersenyum kaku. "Iya, Pak. Mohon bantuannya."
"Bentar, Pak," Juna mencondongkan badannya ke meja. "Bapak jangan liat umurnya. Liat nyali saya. Saya ini satu-satunya pria yang berani nikahin mantan calon kakak ipar saya sendiri demi menyelamatkan dia dari 'sampah' keluarga. Luar biasa kan, Pak?"
Cantik menyikut perut Juna dengan keras. "Juna! Diem nggak lu!"
Petugas KUA itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Waduh, Mas... ini kantor pemerintah, bukan panggung komedi. Tapi ya sudah, berkasnya lengkap. Restu orang tua juga sudah ada di sini."
Namun, masalah muncul saat pengisian data wali nikah dan saksi. Juna yang tadinya bercanda, tiba-tiba terdiam saat melihat kolom nama Satria sebagai saksi keluarga (yang biasanya otomatis tertulis di draf lama keluarga mereka).
"Pak, hapus nama Satria dari daftar apa pun di hidup saya," ujar Juna, suaranya mendadak berubah dingin dan serius. "Saksi saya nanti adalah Rian, asisten bengkel saya. Dia lebih punya integritas daripada orang yang sekarang lagi pake baju oranye."
Cantik memegang tangan Juna di bawah meja, mencoba menenangkan. Ia tahu luka soal Satria masih membekas di hati Juna.
"Baik, Mas Juna. Saya ganti," ujar petugas itu, ikut merasakan ketegasan di nada suara Juna.
Setelah urusan administrasi selesai, mereka keluar dari kantor KUA. Juna langsung mengangkat map berisi berkas pendaftaran itu tinggi-tinggi ke arah teman-temannya yang menunggu di parkiran.
"WOI! KITA RESMI DAFTAR! SEBULAN LAGI GUE NGGAK BAKAL JADI BRONDONG ILEGAL LAGI!" teriak Juna.
Teman-temannya langsung menyalakan mesin motor secara serentak, menciptakan suara gemuruh yang membuat satpam KUA keluar dengan wajah garang. "Woi! Jangan berisik di sini!"
"Hehehe, sori Pak! Lagi seneng!" Juna merangkul pinggang Cantik, menatap wanita itu dengan mata yang berbinar bahagia. "Gimana, Kak? Udah siap jadi Nyonya Raksa yang paling cantik di dunia otomotif?"
Cantik tertawa merdu, rasa malunya kini terkalahkan oleh rasa bahagia yang meluap. "Gue cuma siap kalau lu janji satu hal."
"Apa itu? Beliin moge baru? Gampang!"
"Bukan. Janji kalau nanti pas akad nikah, lu jangan bawa megaphone atau knalpot brong ke dalam masjid," bisik Cantik.
Juna pura-pura berpikir keras. "Waduh... berat sih syaratnya. Tapi demi bidadari oliku, gue usahain deh. Paling gue titipin di parkiran aja!"
Malam itu, Juna dan Cantik makan malam sederhana di pinggir jalan, tempat bakso langganan mereka. Di sana, di tengah keramaian Jakarta, Juna memberikan sebuah kejutan kecil. Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil. Isinya bukan cincin biasa, tapi sebuah cincin emas dengan ukiran berbentuk gir motor yang sangat halus dan estetik.
"Gue tahu lu wanita mahal, Kak. Tapi emas ini gue tempa sendiri desainnya. Biar semua orang tahu, kalau cinta gue ke lu itu mesinnya nggak bakal pernah mati," ujar Juna tulus.
Cantik mematung. Air matanya menetes haru. Ia memakai cincin itu di jari manisnya. "Ini cincin paling aneh, tapi paling indah yang pernah gue liat, Jun."
"Ugal-ugalan kan? Kayak gue!" Juna tertawa, lalu mencium kening Cantik dengan penuh kasih sayang.
Fase restu sudah lewat, fase KUA sudah aman. Sekarang, mereka tinggal menunggu hari di mana seluruh jagat maya akan meledak saat tahu si brondong ugal-ugalan benar-benar berhasil menikahi bidadari impiannya.