NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Batas

Pagi hari di SCBD selalu terasa seperti mesin raksasa yang baru saja dinyalakan. Deru kendaraan, langkah kaki yang terburu-buru, dan aroma kopi dari kedai-kedai di lobi gedung menciptakan simfoni kesibukan yang memekakkan telinga. Namun, di dalam kepalaku, semuanya terasa sunyi. Keheningan yang aneh itu muncul sejak aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi jawaban atas semua masalah Kaivan.

​Aku melangkah masuk ke ruangan divisi riset dengan perasaan yang lebih ringan, meski aku tahu ada badai yang sedang menunggu di balik meja kayu mahoni itu. Benar saja, Kaivan sudah ada di sana. Kali ini, ia tidak sedang sibuk dengan ponselnya. Ia sedang menatap layar monitornya dengan kening yang berkerut dalam, tampak sedang bergelut dengan barisan angka yang selama tujuh tahun ini selalu kuselesaikan untuknya.

​"Rel," panggilnya begitu aku meletakkan tas. Suaranya tidak lagi ceria. Ada nada keputusasaan yang samar di sana.

​"Ya?" sahutku pendek sambil menyalakan komputer.

​"Bisa bantu aku sebentar? Bagian analisis risiko untuk vendor sektor B ini... angkanya nggak mau link ke draf utama. Aku sudah coba perbaiki formulanya, tapi malah error semua."

​Aku melirik sekilas ke arah layarnya. Masalahnya sederhana, ia hanya lupa memperbarui referensi sel pada tabel pivot. Dulu, aku akan langsung berdiri, memutar kursiku ke arahnya, dan membereskan masalah itu dalam waktu kurang dari satu menit.

​Hari ini, aku hanya menatap layarku sendiri. "Aku juga sedang sibuk, Van. Pak Dimas minta laporan audit keuangan selesai sebelum jam sepuluh. Kamu coba tanya bagian IT atau lihat tutorialnya di portal internal saja."

​Kaivan terdiam. Aku bisa merasakan tatapannya yang tajam menusuk samping wajahku. "Rel, ini cuma sebentar. Kamu kan yang bikin draf aslinya. Masa kamu nggak mau bantu sahabat sendiri?"

​"Justru karena aku yang bikin draf aslinya, aku tahu kamu seharusnya bisa memperbaikinya kalau kamu mau membaca petunjuk yang sudah aku lampirkan di folder bersama, Van," balasku, tetap tenang.

​"Kamu berubah ya, Rel. Sejak ada Bastian, kamu jadi sombong," desisnya, cukup pelan agar tidak terdengar rekan kerja yang lain, namun cukup tajam untuk membuat dadaku berdenyut.

​Aku tidak membalas. Aku memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Aku tahu, setiap kali aku memberikan toleransi pada Kaivan, aku sedang memberikan izin baginya untuk terus meremehkanku.

​Pukul sepuluh tepat, Pak Dimas memanggil kami ke ruangannya. Di sana, suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Beliau sedang memegang sebuah amplop cokelat besar.

​"Arelia, Kaivan. Saya baru saja menerima kabar dari pihak Adhitama Group," Pak Dimas memulai. Wajahnya yang biasanya kaku kini terlihat sedikit rileks. "Bastian Adhitama sangat puas dengan revisi yang dikirimkan Arelia semalam. Beliau secara khusus meminta Arelia untuk memimpin presentasi strategis di depan dewan direksi mereka hari Jumat nanti."

​Jantungku berdegup kencang. Ini adalah panggung terbesar dalam karierku.

​"Dan Kaivan," lanjut Pak Dimas, suaranya kembali dingin. "Untuk sementara, kamu akan ditarik dari tim utama Adhitama. Kamu akan fokus pada proyek perbankan yang terbengkalai. Saya tidak mau risiko sekecil apa pun terjadi pada kontrak Adhitama hanya karena koordinasi data yang berantakan."

​Kaivan seolah baru saja disambar petir. Wajahnya pucat pasi. "Tapi Pak, saya yang memegang akun ini dari awal. Arelia hanya membantu—"

​"Arelia bukan membantu, Kaivan. Dia yang menyelamatkan muka divisi kita kemarin," potong Pak Dimas tegas. "Keputusan ini sudah final. Silakan kembali ke meja masing-masing."

​Keluar dari ruangan Pak Dimas, Kaivan tidak lagi mengejarku di koridor. Ia langsung berjalan menuju mejanya, menyambar kunci mobil, dan pergi tanpa pamit. Aku tahu ia sedang terluka. Egonya yang selama ini kupelihara dengan baik baru saja hancur berkeping-keping.

​Malam harinya, aku masih berada di kantor. Aku harus memastikan presentasi untuk hari Jumat benar-benar sempurna. Saat aku sedang asyik meninjau data, ponselku bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal masuk melalui panggilan WhatsApp.

​Aku mengangkatnya. "Halo?"

​"Arelia?" suara wanita di seberang sana terdengar sangat lembut, namun memiliki daya tekan yang luar biasa. "Ini Nadine."

​Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. "Ada apa, Nadine?"

​"Bisa kita bicara sebentar? Aku ada di kafe lobi gedung kantormu. Aku tahu kamu masih di atas karena aku melihat mobil Kaivan sudah tidak ada, tapi lampumu masih menyala."

​Ia memantauku.

​Aku menarik napas panjang. Aku tidak boleh terlihat lemah. "Tunggu sepuluh menit. Aku turun."

​Nadine duduk di pojok kafe, mengenakan dress sutra berwarna biru pastel yang sangat elegan. Ia terlihat sangat cantik, tipe kecantikan yang membuat wanita lain merasa perlu memperbaiki riasan mereka saat berada di dekatnya.

​"Terima kasih sudah mau turun," ucapnya saat aku duduk di hadapannya.

​"Langsung saja, Nadine. Aku masih banyak pekerjaan," kataku tanpa basa-basi.

​Nadine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Aku hanya ingin meminta bantuanmu, Arelia. Sebagai teman lama Kaivan, kamu pasti tahu dia orang yang sangat ambisius. Kejadian di kantor tadi pagi... dia sangat hancur. Dia datang ke tempatku dan terus-menerus bicara soal bagaimana kamu 'mengkhianatinya'."

​"Mengkhianati?" Aku tertawa hambar. "Aku hanya bekerja profesional, Nadine. Jika Kaivan merasa dikhianati karena aku melakukan pekerjaanku dengan benar, maka masalahnya ada pada dia, bukan aku."

​"Aku tahu. Tapi tolong... bisakah kamu mundur sedikit? Biarkan dia yang memimpin presentasi hari Jumat. Kamu kan masih punya banyak waktu, tapi bagi Kaivan, reputasi adalah segalanya. Dia butuh pengakuan itu untuk masa depannya... masa depan kami," Nadine menekan kata 'kami' dengan sangat halus namun tajam.

​Aku menatap Nadine lekat-lekat. Ia tidak sedang meminta bantuan; ia sedang mencoba menyingkirkanku dari jalan Kaivan agar Kaivan tetap terlihat hebat di matanya. Ia ingin menikmati hasil kerja kerasku melalui kesuksesan Kaivan.

​"Nadine, dengarkan aku," aku menyandarkan punggungku, menatapnya dengan pandangan yang paling berani yang pernah kumiliki. "Selama tujuh tahun, aku sudah mundur terlalu jauh. Aku sudah memberikan panggungku, dataku, dan waktuku agar Kaivan bisa berdiri tegak. Dan apa hasilnya? Dia tidak pernah melihatku sebagai rekan, hanya sebagai penopang."

​"Arelia, jangan egois—"

​"Aku tidak egois. Aku hanya baru menyadari nilaiku," aku memotong kalimatnya. "Jika Kaivan ingin panggung itu, suruh dia bekerja untuk itu. Jangan kirim wanitanya untuk mengemis kesempatan baginya. Itu memalukan."

​Aku berdiri, meninggalkan Nadine yang tampak terperangah. Aku berjalan menuju lift dengan langkah mantap. Saat aku sampai di kantorku kembali, aku mendapati sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang baru saja kusimpan semalam.

​Bastian Adhitama: Jangan biarkan suara-suara di luar sana mengaburkan fokusmu, Arelia. Aku sudah menyiapkan tim pendukung untuk presentasimu. Kamu tidak akan sendirian.

​Aku menatap layar ponsel itu lama. Bastian seolah tahu apa yang baru saja terjadi. Ia memberikan rasa aman yang selama tujuh tahun ini tidak pernah diberikan Kaivan.

​Tiba-tiba, pintu kantorku terbuka. Kaivan masuk dengan wajah yang sangat gelap. Ia berjalan menuju mejaku dan membanting sebuah map.

​"Puas kamu sekarang?" teriaknya. "Kamu bicara apa sama Nadine sampai dia menangis meneleponku?"

​Aku berdiri, menatapnya dengan tenang. "Aku bicara soal batas, Kaivan. Batas antara bantuanku dan kewajibanmu. Dan batas antara aku dan urusan pribadimu."

​"Kamu jahat, Rel! Kamu hancurin karierku, dan sekarang kamu sakiti wanita yang aku cintai!"

​"Wanita yang kamu cintai?" Aku tertawa, kali ini air mata nyaris jatuh, namun aku menahannya. "Lalu selama tujuh tahun ini, aku ini apa buat kamu, Van? Apa aku cuma pengisi waktu luang sampai dia kembali?"

​Kaivan terdiam. Ia tampak terguncang melihat kemarahanku yang meledak.

​"Pergilah, Kaivan," kataku sambil menunjuk ke arah pintu. "Uruslah wanitamu. Dan mulai sekarang, jangan pernah lagi memintaku untuk membereskan kekacauanmu. Kariermu adalah tanggung jawabmu. Dan hidupku... bukan lagi urusanmu."

​Kaivan menatapku dengan tatapan yang sulit dijabarkan—ada amarah, tapi juga ada ketakutan. Ia akhirnya berbalik dan pergi, meninggalkan kesunyian yang mencekam di ruangan itu.

​Aku jatuh terduduk di kursi. Aku menangis, namun kali ini bukan karena sedih. Aku menangis karena akhirnya aku berani menarik garis. Aku telah menetapkan batas. Dan meski batas itu terasa sangat dingin dan sepi, aku tahu di seberang sana, ada dunia yang jauh lebih luas yang sedang menungguku.

​Nyaris jadi kita? Tidak, Kaivan. Kita sudah benar-benar selesai. Dan aku tidak sabar untuk melihat siapa aku tanpa bayang-bayangmu.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!