NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

Hari itu menjadi hari yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Sekolah Sihir Everton. Aula utama dipenuhi seluruh murid dari berbagai tingkatan, para guru berdiri di sisi kanan dan kiri dengan wajah yang lebih serius dari biasanya, sementara para tetua berada di bagian depan, menciptakan suasana yang terasa sakral… sekaligus menegangkan.

Semua mata tertuju pada satu orang.

Evelyn Edison.

Ia berdiri di tengah aula dengan tenang, tanpa ekspresi berlebihan, tanpa rasa gugup yang terlihat. Tidak ada keraguan di wajahnya. Hanya ketenangan yang justru terasa asing bagi sebagian besar orang yang hadir.

Hari itu bukan sekadar hari penentuan.

Itu adalah sejarah.

Untuk pertama kalinya dalam dunia sihir, seorang siswi mencapai tingkat tertinggi—kelas A—dengan pencapaian mutlak. Tidak ada keraguan dari para tetua. Tidak ada perdebatan. Tidak ada penilaian ulang.

Evelyn Edison telah melampaui semua batas yang pernah ada.

Dan karena itu, ia diberikan hak yang bahkan jarang diberikan sepenuhnya—

Hak untuk meminta apa pun.

Bisikan mulai muncul di seluruh aula, pelan namun semakin lama semakin jelas.

“Dia yang pertama…”

“Perempuan lagi…”

“Pasti karena dia cari muka…”

“Ah, sok hebat saja…”

Evelyn mendengarnya.

Semua kata itu sampai ke telinganya dengan jelas.

Namun seperti biasa—

Ia tidak bereaksi.

Ia hanya berdiri.

Diam.

Seolah semua suara itu hanyalah latar belakang yang tidak penting.

Salah satu tetua melangkah maju, tongkatnya menyentuh lantai dengan suara pelan yang langsung membuat seluruh aula kembali sunyi.

“Evelyn Edison,” suaranya dalam, menggema ke seluruh ruangan, “kamu telah mencapai tingkat tertinggi. Pencapaian yang belum pernah diraih oleh siswi mana pun sebelumnya.”

Sunyi.

“Dengan ini,” lanjutnya, “kamu diberikan hak untuk memilih. Apa pun yang kamu inginkan akan dipertimbangkan sebagai kehendak mutlak.”

Semua mata kembali tertuju padanya.

Menunggu.

Menilai.

Menghakimi.

Evelyn menarik napas pelan.

Lalu—

Ia tersenyum tipis.

Bukan senyum bangga.

Bukan juga senyum bahagia.

Melainkan senyum yang… pasti.

Namun sebelum ia sempat berbicara—

Suara dari barisan belakang terdengar.

“Paling juga minta sesuatu yang biasa saja.”

“Iya, sok hebat padahal.”

“Tunggu saja, paling cuma gaya.”

Beberapa murid dari kelas B tertawa kecil.

Salah satu dari mereka bersuara lebih keras, “Jangan bilang kamu mau jadi kayak Wiliam, ya?”

Tawa mulai menyebar.

“Ah, pasti mau ikutin dia.”

“Bilang saja kalau naksir!”

Suasana mulai sedikit gaduh.

Namun Evelyn tidak menoleh.

Tidak terpancing.

Ia hanya berdiri, menatap ke depan.

Lalu berkata—

“Aku ingin menjadi manusia.”

Sunyi.

Kalimat itu jatuh dengan tenang.

Namun dampaknya langsung terasa.

Aula yang tadinya dipenuhi bisikan kini benar-benar diam… hanya sesaat.

Lalu— Tawa pecah.

“HAH? SERIUS?”

“Beneran?!”

“Jadi benar! Dia cuma ngikutin!”

“Udah jelas! Pasti gara-gara Wiliam!”

Salah satu murid kelas B melangkah sedikit ke depan, wajahnya penuh ejekan. “Bilang saja kalau kamu naksir kak Wiliam! Nggak usah sok beda!”

Evelyn akhirnya menoleh.

Tatapannya dingin.

“Jangan asal bicara.”

“Oh? Jadi bukan?” balas murid itu, tersenyum miring. “Terus kenapa pilih jadi manusia?”

Evelyn tidak menjawab langsung.

Namun sebelum ia sempat berbicara—

Suara lain muncul dari sisi kiri.

Kali ini dari kelas C.

“Ah, paling cuma ikut-ikutan.”

“Iya, maling ngaku penjara penuh.”

“Dia pikir dia spesial apa?”

“Semua orang bisa ngomong, tapi belum tentu berani!”

Tawa kembali terdengar.

Lebih keras.

Lebih menusuk.

Namun Evelyn tidak mundur.

Ia justru melangkah sedikit ke depan.

Tatapannya menyapu mereka semua.

“Aku tidak mengikuti siapa pun.”

Suara itu tidak keras.

Namun cukup untuk membuat sebagian orang terdiam.

“Aku tidak butuh alasan kalian untuk memilih apa yang aku inginkan.”

Salah satu murid menyeringai. “Sok percaya diri.”

Evelyn menatapnya lurus. “Lebih baik daripada hanya bisa berbicara tanpa pernah mencoba.”

Sunyi.

Beberapa wajah mulai berubah.

“Kalau kalian pikir ini tentang orang lain…” lanjutnya pelan, “kalian salah.”

Ia menarik napas.

“Aku memilih ini karena aku mau.”

Kata-kata itu sederhana.

Namun tegas.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada pembenaran.

Hanya… keputusan.

Para tetua saling bertukar pandang.

Para guru tetap diam.

Namun suasana kini berubah.

Dari ejekan… menjadi sesuatu yang lebih serius.

Salah satu tetua kembali melangkah maju.

“Pilihanmu telah kami dengar.”

Evelyn menatapnya.

“Apakah kamu yakin?”

Pertanyaan itu menggantung.

Bukan sekadar formalitas.

Melainkan ujian terakhir.

Evelyn tidak ragu.

“Ya.”

“Tanpa penyesalan?”

“Ya.”

“Tanpa keraguan?”

Evelyn tersenyum tipis lagi.

“Tidak ada yang perlu aku ragukan.”

Sunyi kembali turun.

Namun kali ini—

Sunyi itu penuh arti.

Pilihan telah dibuat.

Dan tidak bisa ditarik kembali.

Di belakangnya, bisikan masih ada.

Namun kini lebih pelan.

Lebih… tidak pasti.

Karena untuk pertama kalinya—

Evelyn tidak hanya bertahan.

Ia memilih.

Dan pilihannya…

Berbeda.

Bukan kekuatan.

Bukan kekuasaan.

Bukan keabadian sebagai penyihir.

Melainkan sesuatu yang dianggap lemah oleh banyak orang—

Menjadi manusia.

Namun bagi Evelyn—

Itu bukan kelemahan.

Itu adalah kebebasan.

Ia berdiri tegak.

Tatapannya lurus ke depan.

Karena ia tahu—

Langkah ini adalah akhir dari satu dunia.

Dan awal dari dunia yang lain.

Dan di suatu tempat, di dunia yang belum pernah ia sentuh—

Seseorang mungkin sedang berjalan…

Menunggu tanpa sadar.

Dan kali ini—

Evelyn tidak akan berhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!