Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Zaki dan Santi keduanya menatap serius ke arah Prediansyah yang sedang mengobrol dalam panggilan telepon masuknya di waktu senja itu.
Obrolan panjang di dalam telepon itu, bersama iringan waktu adzan Magrib berkumandang di daerah terpencil Jawa Barat.
" Kau tunggu di sana, jangan kemana mana sebelum aku datang, kemungkinan akan sedikit lama menghampirimu." Titah Prediansyah.
" Baik Tuan." Jawab seseorang dari sebrang telepon. Prediansyah menutup panggilan telepon nya itu.
Setelah menutup panggilan telepon nya, Prediansyah tersenyum ke arah Santi dan Zaki, berkata bahwa temannya yang dari kota J sudah datang namun, ia merasa malu untuk menemuinya karna akan melewati orang orang yang akan pergi melaksanakan sholat magrib di masjid.
" Abang dan Zaki sebaiknya pergi ke masjid, aku nunggu di rumah Zaki, aku bolos Bang, tadi pagi sedang datang tamu bulanan." Santi memberi saran, dan di angguki langsung oleh mereka berdua.
########################
Sedangkan di pinggiran hutan belantara tepatnya di sebuah rumah Kodir, sosok pemuda yang terbaring dan dalam keadaan koma itu, perlahan lahan menggerakkan jari jarinya ketika sang wanita berusia 40 tahunan itu memeriksa dan mengoleskan obat obat tradisional pada kulit kulit yang terluka.
Sontak wanita yang biasa di panggil ibu Iroh itu sesaat terkejut, namun detik berikutnya mengucapkan rasa syukur atas sadarnya pemuda yang kemarin malam di temukan oleh suaminya dan Aden Prediansyah.
Walaupun kedua matanya belum terbuka, namun gerakan jarinya itu, tanda vitalitas kehidupan pemuda itu sangat besar untuk bangkit dari kematiannya. Iroh bergegas pergi ke kamar mandi dan melaksanakan sholat magrib bersama anak-anaknya seraya berdoa pada sang Kholik untuk kesembuhan pemuda itu.
Lima belas menit berlalu, Iroh bersama ke empat anaknya Deden dan Didin serta pangais dan bungsu di suruh oleh sang ibu untuk mengaji di depan pemuda yang masih setia dalam pembaringan tempat tidurnya.
Alunan bacaan Alquran yang keluar dari mulut Deden dan Dadan menusuk kalbu kedalam sanubari pemuda itu, hingga tetesan demi tetesan air mata keluar dari kedua matanya, Iroh mengelapnya menggunakan tissue yang baru di beli oleh Santi.
" Bangunlah Nak, kehidupan mu masih panjang." Iroh memanggil pemuda itu, dengan keyakinan bahwa pemuda itu mendengarkan nya.
" Hidup mu masih panjang, ibu yakin orang orang yang sayang padamu sedang menghawatirkan dan menunggu kedatangan mu nak. Bangun, ayo bangun nak dari tidur lelapmu ini." Iroh kembali bersua, namun pemuda itu semakin mengalir air matanya namun getaran hebat kini tampak di seluruh tubuhnya.
Masih dalam keadaan tidak membukakan matanya, Iroh pun menoleh ke arah anak kembarnya dan meminta salah satu anaknya untuk pergi menemui kakaknya yang berada di rumah Zaki bersama Aden Prediansyah.
Didin pun mengangguk, sementara Deden meneruskan bacaan Alquran nya." Din, bisikan pada kakak mu atau Abang Predi bahwa pemuda itu sudah tanda tanda akan bangun.
" Baik Bu." Didin bangkit dari duduknya melangkah keluar berjalan menyusuri gelapnya malam dengan menggunakan obor sebagai cahaya penerang jalan.
Iroh menyadari bahwa pemuda itu sedang bergelut dalam dimensi alam, dan mudah mudahan suaminya yang sedang bertapa mampu membawa roh dari pemuda ini yang kemungkinan terbesar sedang melawan untuk kembali masuk kedalam raganya.
Semua para warga yang dekat dengan keluarga Kodir meyakini bahwa pasangan suami-isteri itu, mempunyai kelebihan dalam ilmu kebatinan dan mampu menembus alam yang tak kasat mata oleh suaminya, hingga sampai saat ini para warga atau pun yang berada di desa tempat pasangan suami istri yang sudah hampir dua puluh tahun hidup dalam pinggiran hutan belantara, di jadikan tameng atau pun bantuan untuk menyembuhkan hal hal yang di luar nalar.
" Wussssssssss.......................!
Semilir angin menerpa pundak Iroh, merasakan bulu kuduknya seketika merinding, Iroh meyakini makhluk tak kasat mata datang dengan tanpa di undang ingin mengusik dirinya karna berusaha untuk menyembuhkan pemuda yang ia tolong seharusnya menjadi santapan penguasa Gunung Nyongkokot.
Kedua anaknya yang masih berusia belia menoleh ke sana ke sini, sosok bayangan mulai melintas lintas dengan cepat, namun tidak membuat dua bocah itu ketakutan, itu sudah hal lumrah bagi mereka berdua, Deden sendiri masih bergelut dalam irama membaca Alqur'an tanpa menoleh sedikit pun matanya ke arah lain.
" Aku sama dengan dirimu, sama sama makhluk yang di ciptakan oleh sang jagad raya ini, dan aku juga sama sama penguasa dari bukit ini, ini tamu ku dan ini adalah kunci bagiku dan suamiku untuk mengungkapkan tabir yang selama ini, Bukit ini di jadikan pembuangan para mayat yang tak bersalah, jadi saya harap anda yang tak terlihat oleh mata peda kami untuk tidak ikut campur." Iroh berkata tegas namun mampu menekan bayangan bayangan yang melintas lintas di dalam rumahnya.
" Bumm......................!
" Duarrrrrrrr.............................!
" Gerrrrrr....................!
Ledakan keras terdengar di telinga mereka dari arah perkarangan rumah nya. Iroh dan ketiga anaknya bergeming tak beranjak dari tempatnya, setelah mendengar suara mirip binatang buas itu.
Kini kedua anaknya yang nomor empat dan lima mulai ketakutan beranjak dari duduknya memeluk erat pada sang ibu. Deden berhenti dari alunan membaca Alqur'an. Namun sang ibu langsung menegurnya.
" Teruskan Den, jangan sampai kamu takut dengan makhluk yang sama sama di ciptakan oleh sang jagad raya ini, harusnya makhluk itu yang takut pada kita, karna kita makhluk yang paling sempurna yang di ciptakan oleh penguasa langit Bumi ini.
Deden kembali membaca ayat suci Alquran dan suara ledakan kembali terdengar namun auman suara binatang tampak tak terdengar di telinga nya.
Hampir 30 menit setelah ledakan kedua itu terdengar tak terjadi lagi, getaran di tubuh pemuda itu pun berhenti di iringi tangisan pun mereda. Lalu dari balik pintu masuk terbuka dan sosok yang familiar tampak menatap ke arah Iroh dan lainnya.
" Teh Santi.........!
" Abang Aden Prediansyah.............!
Panggil kedua bocah itu bersamaan, Deden menghentikan bacaannya tersenyum ke arah mereka berdua yang masuk di iringi sang adik dan dua pemuda yang satunya tidak Deden kenal.
" Bu ada apa? Di luar kok Sahung biasa kita neduh hancur dan bahkan tampak seperti habis terbakar, kayu kayunya sudah berubah menjadi arang.?" Tanya Santi sekaligus memberitahukan Sahung biasa di pakai neduh hancur berkeping-keping.
Deden dan kedua adiknya langsung terkejut, tidak dengan Iroh yang sudah tahu dari tadi suara ledakan itu. Iroh tersenyum seraya mengelus ngelus rambut anak sulungnya itu.
" Aden muda." Panggil Iroh, Predi yang sedang menatap ke seluruh ruangan mencari tahu apa yang terjadi langsung menoleh ketika wanita istri dari Mang Kodir memanggilnya.
" Iya Bi." Prediansyah langsung duduk di ikuti oleh Zaki bersama pemuda yang seumuran dengan Prediansyah.
Iroh memajukan wajahnya ke arah telinga Prediansyah membisikkan sesuatu yang hanya di dengar oleh Prediansyah sendiri, tampak sesekali Predi berkerut keningnya dan mengangguk.
" Apakah Aden mengerti?" Tanya Iroh.
" Mengerti Bi.... Bibi tenang saja." Jawabnya.
Di awal menyuruh Didin untuk menjemput anak pertamanya bersama Prediansyah untuk kembali karna, ia sendiri akan menyusul suaminya, namun kedatangan mereka bersama Zaki dan lelaki seumuran Prediansyah membuat Iroh hanya bisa mengatakan dengan secara berbisik di telinganya, itu karna sesuatu rahasia yang tak boleh orang lain tahu, adapun Prediansyah sendiri sudah di anggap adik oleh Kodir atau pun istrinya dan lebih tenang menitipkan anak anaknya pada Prediansyah.
" Baiklah kalau begitu, ibu akan siap siap terlebih dahulu, ibu harap jangan sampai jauh jauh dari pemuda ini." Iroh bangkit dari duduknya.
Bersambung.