Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tiga tahun kembali berlalu sejak insiden lada hitam. Xiao Yan kini berusia enam tahun. Tubuhnya tumbuh sehat seperti anak-anak pada umumnya, meskipun ekspresi wajahnya masih tetap sama, datar dan tidak banyak berubah.
Hari ini adalah hari pertama Xiao Yan masuk Taman Kanak-Kanak Tunas Spiritual, sebuah sekolah dasar untuk anak-anak di Kota Awan Putih mulai mengenal dunia kultivasi.
Di depan gerbang sekolah, lalu lintas terlihat padat. Beberapa orang tua mengantar anak mereka menggunakan mobil bertenaga energi roh, sementara yang lain turun dari langit menggunakan pedang terbang berukuran besar yang dirancang khusus untuk penumpang ganda.
"Yan-er, ingat pesan Ibu," ucap Lin Mei sambil membetulkan kerah seragam biru muda Xiao Yan.
"Ya, Ibu," jawab Xiao Yan singkat.
"Jangan berkelahi dengan teman, dengarkan kata Guru Chen, dan jangan berkecil hati kalau hasil tes bakatmu nanti tidak terlalu tinggi," lanjut Lin Mei. Tangannya mengusap bahu putranya. "Bagi Ibu, kamu sehat dan bahagia saja sudah lebih dari cukup. Mengerti?"
"Um," balas Xiao Yan sambil mengangguk pelan. "Aku mengerti."
"Hah..." Lin Mei menghela napas lega sambil tersenyum. "Bagus. Sana masuk, Ibu harus kembali membuka toko."
Xiao Yan membalikkan badan dan berjalan masuk melewati gerbang. Pandangannya menyapu area halaman sekolah. Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari. Ada yang melompat setinggi dua meter karena berasal dari keluarga bela diri, ada juga yang tidak sengaja membakar rumput saat bersin karena tidak bisa mengontrol energi api bawaan mereka.
"Berisik sekali," batin Xiao Yan. "Aku harap kelasku nanti ada di pojok yang tenang."
Xiao Yan berjalan menyusuri koridor dan menemukan Ruang Kelas Daun Merah. Dia melangkah masuk. Di dalam sana, belasan anak sudah duduk di atas bantal duduk melingkar di atas lantai kayu. Di bagian depan kelas, berdiri seorang wanita muda berkacamata dengan jubah kultivator putih yang disederhanakan. Dia adalah Guru Chen.
Xiao Yan mencari bantal duduk yang paling jauh dari pusat perhatian. Dia memilih tempat di pojok belakang, dekat dengan jendela yang mengarah ke taman.
"Hah..." desah Xiao Yan pelan dari mulutnya begitu dia duduk. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding dan memejamkan mata, bersiap untuk tidur siang.
Belum sampai satu menit dia memejamkan mata, bantal duduk di sebelahnya bergeser.
Srek.
"Hei, kamu mau tidur? Kita kan baru saja sampai!"
Suara anak laki-laki yang cukup keras terdengar tepat di telinga Xiao Yan. Xiao Yan membuka sebelah matanya. Seorang anak laki-laki bertubuh gempal dengan rambut jabrik sedang menatapnya sambil tersenyum lebar.
"Ugh..." lenguh Xiao Yan malas. "Aku mengantuk."
"Namaku Wang Meng! Ayahku adalah kultivator tingkat fondasi emas! Siapa namamu?" tanya anak gempal itu tanpa memedulikan respons datar Xiao Yan.
"Xiao Yan," jawabnya singkat.
"Xiao Yan? Nama yang biasa saja. Hei, tahukah kamu? Hari ini kita akan melakukan tes bakat! Ayahku bilang, bakatku pasti sangat tinggi karena aku sudah bisa memecahkan batu bata dengan kepalaku!" pamer Wang Meng.
"Oh," respons Xiao Yan. Dia sama sekali tidak tertarik.
"Anak-anak! Ayo perhatikan ke depan!" Suara Guru Chen memotong percakapan mereka. Wanita itu bertepuk tangan dua kali, membuat seisi kelas langsung diam dan menatap ke arahnya.
"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di Taman Kanak-Kanak Tunas Spiritual. Hari ini adalah hari pertama kalian, dan agenda utama kita adalah mengukur elemen dan kapasitas energi Qi kalian," jelas Guru Chen sambil tersenyum ramah.
Guru Chen berbalik dan mengambil sebuah kotak kayu dari atas mejanya. Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah batu bundar berwarna abu-abu kusam yang ukurannya sebesar buah melon. Batu itu diletakkan di atas meja kecil di tengah ruangan.
"Ini adalah Batu Pengukur Bakat," lanjut Guru Chen. "Kalian hanya perlu maju satu per satu, meletakkan kedua tangan kalian di atas batu ini, dan mengalirkan sedikit saja tenaga ke dalamnya. Batu ini akan menyala."
Seorang anak perempuan berambut kepang dua mengangkat tangannya.
"Guru Chen! Warna apa yang paling bagus?" tanyanya.
"Pertanyaan bagus, Li Hua," jawab Guru Chen. "Batu ini akan mengeluarkan warna berdasarkan tingkat bakat kalian. Putih untuk bakat rendah, Kuning untuk bakat menengah, Biru untuk bakat tinggi, dan Ungu untuk bakat jenius. Jika batunya bersinar sangat terang, berarti kapasitas energi kalian sangat besar."
Wang Meng yang duduk di sebelah Xiao Yan langsung berdiri dengan semangat.
"Guru! Aku mau mencoba pertama kali!" teriak Wang Meng.
"Baiklah, Wang Meng. Silakan maju," kata Guru Chen mempersilakan.
Wang Meng berjalan ke depan dengan dada membusung. Dia meletakkan kedua tangan gemuknya di atas batu abu-abu itu. Wajahnya berkerut saat dia menahan napas dan mengejan, berusaha mengeluarkan seluruh tenaga dari dalam tubuh kecilnya.
Wung!
Batu itu bergetar pelan. Perlahan, cahaya dari dalam batu itu muncul. Warnanya berubah dari putih menjadi kuning, lalu menguat menjadi warna biru yang cukup terang.
"Wah!" Anak-anak di kelas berseru kagum melihat cahaya biru itu.
"Bakat tingkat biru 11 ma kamu bisa menjadi kultivator pertahanan yang hebat."
Wang Meng tertawa keras dan kembali ke tempat duduknya di sebelah Xiao Yan.
"Hehe, lihat kan? Aku dapat warna biru!" kata Wang Meng bangga kepada Xiao Yan.
"Ya, bagus," balas Xiao Yan datar.