Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Beberapa berkas sudah siap di meja Radit, ia memperhatikan semua nya yang ternyata banyak juga. Banyak juga target tender yang harus Radit tembus. Dan Radit berjanji dalam hati nya akan melakukan yang terbaik dan akan ia buktikan bahwa perusahaan akan lebih maju di bawah kepemimpinan nya.
Tok,, tok,,,! suara ketukan pintu.
"Masuk!" ucap Radit dengan suara berat
"Ini resume rapat tadi" kata melinda yang baru saja masuk ke dalam ruangan
"Ya taruh saja di situ, terima kasih" ucap Radit datar
Radit tak menoleh pada Melinda, meskipun tercium aroma parfum yang menggairah kan di rongga hidung nya
"Maaf kan aku Raditya" kata Melinda parau
Radit hanya diam, namun sesat kemudian dia berkata "Kamu sudah membuka topeng mu, dan menunjuk kan wajah asli mu pada ku. jadi aku berterimakasih" Radit berkata tanpa melihat ke arah melinda
"Setidak nya lihat aku Raditya, aku benar benar minta maaf"
"Keluar lah dari ruangan ku, aku tak mengenal mu, bahkan bayangan ku pun tak kenal kamu!" kata Radit
"Radit maaf kan aku,," Melinda menangis tersedu. Namun tetap tak bisa membuat Radit tersentuh. Suara isakan melinda seperti bensin yang menyirami kobaran murka. Mata Radit yang sedari tadi hanya melihat layar komputer terpaksa harus melihat nya
Terlihat kedua mata Melinda memerah karena menangis. Gadis itu benar benar menangis. Isakan nya beriringan dengan suara dengkusan hidung nya. Ia memegang dada nya seperti menahan rasa sakit
"Ayo ngomong Dit, jangan diam seperti itu, please! kamu maafin aku kan?"
Radit menggeleng keras
"Aku hanya minta maaf mu, hanya itu" kata Melinda
"Setelah aku berikan kamu maaf, kamu pasti akan meminta belas kasihan ku. Lalu kamu akan menagih cinta ku. Aku sudah tahu alur nya Melinda!" kata Radit pedas
Melinda menggeleng, ia mendekati meja Radit dan mencoba meraih tangan nya, tapi Radit langsung menepis nya
"Jangan sentuh aku Mel, kita gak selevel!" tegas Radit
"Radit! Segitu nya kamu!"
"Loh, kamu sendiri yang bilang kan,, Beberapa kali dan yang terbaru sekitar tiga jam yang lalu, di depan semua orang! Di kantor ku pula!"
Tubuh Melinda sempurna luruh di dekat kaki Radit, tangan nya mencoba meraih betis Radit. Membuat Radit semakin muak melihat nya. kenapa Melinda harus sebegitu nya merendah kan diri setelah tahu siapa Radit.
"Bangun! Aku tak suka cara mu seperti ini" Radit memaling kan wajah nya
"Please Dit, maaf kan aku" kata Melinda
"Terus, kalau aku sudah maaf kan kamu, kamu mau nya apa?"
"Kita akan memperbaiki nya" ucap Melinda tanpa beban.
"Pantang pisang berbuah dua kali Melinda!"
Melinda memegang betis Radit dan menatap dengan tatapan memohon.
Radit bangkit dan menarik kaki nya
"Jangan rendahkan diri mu, itu justru membuat ku semakin muak!"
"Please Dit, aku mohon. Meskipun kita tidak berjodoh, setidak nya kita bisa berteman"
Cih,,, jurus lama, batin Radit. berteman tapi nyeleneh, pasti itu niat Melinda! Radit tak akan terpedaya
"Sekarang silah kan kamu bangun, dan keluar dari ruangan ku" ucap Radit
Melinda menggeleng sambil terisak. Malah ia semakin histeris seperti anak kecil yang sedang tantrum. Betis Radit di genggam nya sambil menunduk menangis. Radit sudah merasa jengah. Tak peduli tangan nya Terpelanting, Radit meninggalkan ruangan nya dengan perasaan marah.
"Pak Nyoman, urus sekertaris mu itu! atau aku pecat dia!" seru Radit lewat handphone sambil melangkah keluar
********
Kembali ke Dahlia
Dahlia bergeming sekian detik seolah ia terpasung oleh oleh bumi
"Ayo silah kan masuk, mbak" kata Parjo sambil tersenyum ramah
Seandainya ada pintu segala ruang, Dahlia pasti memilih membuka pintu itu meski harus berakhir di segitiga Bermuda, seserius itu ia ingin memiliki ilmu menghilang
"Kenapa bengong? Cepat jangan buang waktu"
Pemuda gondrong yang mengejar nya kemarin kini sudah berada di depan mata. Tatapan laki laki itu awas bersama dengan rokok di tangan nya. Ia menyembur kan asap rokok itu secara bebas dengan ekspresi dingin
Dahlia semakin menciut
"Ya Tuhan, siapa dia? Pasti salah satu keluarga Raditya. Matilah aku! Kalau ada yang mengenali aku gimana? Kalau sampai Raditya tahu aku di rumah nya gimana? Ya Tuhan tolong lah hamba mu ini" jerit hati Dahlia
"Buka masker mu, di sini bukan rumah sakit!"
"Saya lagi flu berat mas" kata Dahlia
Daren berdehem
"Pak Parjo, tolong kasih dia perlengkapan untuk bersihin mobil" perintah Daren
"Tapi den,,"
"Cepat pak" mata Daren tak berpaling pada Dahlia yang sedang menunduk
Dahlia terlihat selalu memperbaiki masker nya, ia sangat takut kain penutup wajah nya itu melorot. Tak lama kemudian Parjo membawa ember, selang, sabun dan pengosok mobil.
"Cepat kamu bersih kan sampai kinclong kembali!"
Parjo menggeleng heran sambil mengelus elus dada nya. Sebenar nya dari kemarin Parjo ingin membersih kan mobil itu tapi Daren melarang nya. Kedua anak laki laki Hadi Pratama itu memang keras kepala?
Tanpa banyak tanya lagi Dahlia meraih ember itu dan peralatan lain nya. Dahlia mulai menyirami semua sisi mobil. Dengan cekatan tangan Dahlia menggosok mobil dengan spon yang sudah mengandung cairan pembersih mobil tentu nya. Dahlia memulai dari bagian atas, tangan nya terlihat cekatan dan terampil
Sementara daren duduk Santai merokok sambil menikmati kopi tubruk kesukaan nya sambil sesekali menaikkan ujung bibir nya
"Lincah juga ya" pikir Daren
"Bagian dalam ban nya pastikan bersih juga!" kata Daren
tangan Dahlia bekerja sangat cepat. Kedua mata nya sangat serius menelisik setiap bagian bawah mobil yang terkena lumpur. tubuh Dahlia basah kuyup, tapi ia tidak peduli, dalam pikiran nya ia hanya ingin cepat cepat menyelesaikan pekerjaan nya itu
"Gadis aneh, masih aja memakai maskernya? padahal sudah basah begitu" gumam Daren