NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.

" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.

" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"

" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.

" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Lampu neon jalanan menerangi lahan pertanian modern yang terawat rapi, jauh berbeda dengan hamparan sawah sederhana di kampung. Yusuf berdiri di atas menara pengamatan, tangan memegang pisau lipat kecil yang sudah mengkilap meskipun sering digunakan. Dia menatap lahan yang dipenuhi tanaman unggul yang dia kembangkan sendiri.

Sambil menggosok permukaan pisau dengan jempolnya.

"Kampung dulu selalu bilang, 'anak miskin hanya pantas jadi buruh sawah saja.' Tapi seorang bocah bilang lain – 'tanah tidak akan pernah menyakiti orang yang menjaganya dengan baik, asal kamu tahu cara membacanya.'"

Ia, menurunkan pandangan ke lahan yang sedang disiram secara otomatis.

"Duit yang dia berikan bukan cuma untuk makan atau sekolah. Itu adalah kunci untuk membuka mata aku – bahwa kemiskinan bukan karena tanahnya jelek, tapi karena kita tak pernah diajari cara mengolahnya dengan bijak."

Lima tahun sudah berlalu, dan terakhir aku bertatap muka mengobrol bersama dia setahun belakang hingga ponselnya pun tidak aktif sampai saat ini, di mana dia saat ini apakah dia baik baik saja atau kah dia sudah tiada.!

#Lima tahun ke belakang#

Seorang pemuda berusia 23 tahun sedang di pukuli oleh beberapa warga di sebuah pasar malam, alasan warga tersebut pemuda itu di pukuli karna ketahuan mencuri sepotong roti, sungguh tragis nasibnya saat itu.

"Pukuli sampai babak belur pencuri ini." Warga terlihat geram dan tanpa ampun langsung menghajar nya.

Melihat pemandangan yang sangat memprihatinkan itu, hanya untuk bertahan hidup dia mencuri satu bungkus roti, mempertaruhkan nyawanya. Seorang bocah berusia 15 memakai pakaian seragam menghampiri nya."

BERHENTI.!

Teriak lantang suara bocah itu, hingga para warga yang memukuli pencuri berhenti menoleh ke arah bocah yang dengan lantang untuk menghentikan para warga.

"Bapak bapak tolong jangan main hakim sendiri. "Bocah itu mencoba untuk meredakan amarah para warga.

"Bocah sebaiknya jangan ikut campur, atau ini adalah keluargamu." Ucap salah satu warga.

"Bukan dia bukan saudara ku dan aku pun tidak kenal, aku menyuruh bapak bapak untuk berhenti, karna melihat dia sangat kasihan, walaupun tahu apa yang dia lakukan salah, namun setahu saya dia melakukan nya untuk bertahan hidup, apakah bapak bapak dan yang lainnya tidak tahu siapa yang kalian pukuli itu, dia Kang yusuf yang selalu membantu membawakan barang belanjaan para pembeli." Bocah itu berkata dengan tegas kedewasaan tidak harus dari segi umur.

Semua terdiam, semua mata menoleh ke arah lelaki yang tampak terlihat mukanya babak belur, menyesali apa yang mereka lakukan, bocah itu melangkah ke arah kang Yusuf.

"Nasibnya sunggu sial kali ini, dia berusaha dari pagi untuk menawarkan jasa kuli panggul nya, namun belum ada yang mau, sedangkan perut sudah keroncongan, hanya untuk mengganjal perutnya ia mengambil roti dan kalian dengan kejam memukuli nya." Bocah itu membantu kang Yusuf untuk bangun dan akan membawanya ke puskesmas.

"Miris sekali hidupmu kang Yusuf." Bocah itu membantu nya untuk berjalan sesaat berhenti mengeluarkan uang sepuluh ribu memberikanya pada tukang roti itu.

"Sebaiknya bubar dan kang Yusuf itu menjadi tanggungjawab saya, jika tidak berkenan maka silahkan maju kepada saya." Bocah itu dengan berani berkata lantang menantang para warga yang tadi secara brutal menghajar kang Yusuf.

Jujur dal hati bocah itu, sebenarnya takut ucapan yang terlontar dari mulutnya itu, tapi demi kebenaran dan sosialisasi tinggi mau tak mau ia berkata demikian, untungnya para warga tidak terusik dengan ucapan bocah itu, dengan lenggang bocah itu membawa kang Yusuf ke puskesmas.

Dua puluh menit berlalu, kang Yusuf sudah di tangani oleh pihak puskesmas, tapi akibat lukanya yang serius maka pihak puskesmas angkat tangan dan harus di bawa ke rumah sakit.

Tanpa pikir panjang bocah itu langsung membawa kang Yusuf ke rumah sakit, memakai ambulans dari pihak puskesmas, semua berjalan lancar.

"Kang Yusuf saya harap kau bisa bertahan hidup, karna saya membutuhkan mu di kemudian hari." Ucap bocah itu dalam hatinya.

Tiga jam telah berlalu, dokter yang menangani pencuri roti itu akhirnya keluar, bocah itu langsung menghampiri dokter itu.

"Bagaimana keadaan kakak saya dok.?"

"Alhmdllah masa kritis nya sudah lewat dan sebentar lagi akan di pindahkan dari ruang oprasi, dengan siapa saya bicara.?" Tanya dokter.

"Saya Langit dok, pasien adalah kakak angkat saya."

"Begini Nak keinginan hidup pasien sangat tinggi padahal dari segi lukanya hal mustahil untuk sembuh, ini sungguh sebuah mukjizat bahwa kakak kamu telah melewati masa kritis nya, kemungkinan sekitar tiga atau empat hari juga sudah bisa pulang." Ucap dokter.

"Apakah bagian administrasi sudah di selesaikan nak Langit.?" Tambah dokter bertanya.

"Sudah dok, semua sudah saya urus administrasi. " Jawab bocah yang memperkenalkan namanya Langit.

"Baiklah kalau begitu saya undur diri." Sang dokter pamit, Langit langsung mengangguk tersenyum.

Setelah dokter itu pamit, tak lama kemudian dari ruangan oprasi terbuka sosok pria yang tadi pagi babak belur di hajar masa tampak di dorong menuju kamar yang di siapkan. " Alhmdllah kang Yusuf baik baik saja, sebaiknya aku pulang dulu ke rumah takutnya nenek menghawatirkan.

Perjalanan dari rumah sakit menuju kampung tempat Langit singgah memakan waktu kurang lebih empat puluh menit, tampak seorang nenek tua mondar mandir tak karuan.

"Assalamu'alaikum, nenek Langit pulang nek." Nafasnya menderu tak beraturan, Langit berlari agar nenek tak khawatir.

"Waalaikum salam, akhirnya cucuku pulang juga, kamu dari mana bikin khawatir aja.?"

"Maaf membuat nenek khawatir, tadi di pasar ada sedikit insiden. Jadi lupa deh amanah yang di titah kan oleh nenek. " Langit pun lalu menjelaskan semuanya tentang menolong kang Yusuf yang jadi amukan warga.

"Tidak apa apa cucuku, justru nenek bangga, kamu punya jiwa sosial tinggi, uang bisa dicari tapi nyawa hanya sekali, jangan merasa bersalah setelah kamu memakai uang untuk kepentingan orang lain, justru nenek bangga." Tegas sang nenek tidak mempermasalahkan uang hasil penjualan tanah di dekat rumahnya habis di pakai oleh Langit karna membantu kang Yusuf.

"Terima Kasih nek.! Eh nek mungkin besok Langit sehabis pulang sekolah langsung ke rumah sakit jadi maaf jika pulang nya agak telat."

"Iya tidak apa-apa, yang penting ngabarin dulu, agar nenek tak khawatir, sebaiknya kamu mandi lalu makan, waktu senja sudah hadir dan sebentar lagi adzan magrib berkumandang.

"Baik Nek kalau begitu Langit masuk dulu." Sang nenek mengangguk tersenyum, cucunya akan menjadi orang hebat di masa depan.

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Neng
🤭🤭🤭🤭🤭
Neng
lumayan
Neng
👍👍👍👍
Tuyul
🤣🤣🤣🤣
Tuyul
😍😍😍😍
sitanggang
muter2 kek gangsing 🙄😵😵‍💫
RAJA CHAN
sangat bagus
Tuyul
menarik
Tuyul
👍👍👍
Aden
ayam dasar lemah
Aden
lumayan menarik
Robet
🤭🤭🤭🤭🤭 lumpur Lapindo
Aris Nugraha
🤣🤣🤣
Aris Nugraha
keren kak
Robet
🤣🤣🤣
Robet
keren
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!