Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7. Misi Rahasia Papa Arya
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Suasana di ruang tengah akhirnya mulai mereda. Setelah adegan emosi yang cukup menegangkan, Mama Laras akhirnya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Suasana rumah kembali hening, namun ketegangan masih terasa menguar di udara.
Melihat istrinya sudah masuk dan pintu kamar tertutup, Papa Arya diam-diam mendekati Aisyah yang masih duduk di sofa dengan wajah cemas.
"Sayang..." panggil Papa Arya pelan, suaranya dibuat serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke kamar.
"Iya Pa?" jawab Aisyah cepat, menoleh ke arah ayahnya.
"Kunci mobil kamu mana?" bisik Papa Arya lagi, tangannya meminta kunci itu.
"Di sini Pa..." Aisyah segera merogoh tasnya dan menyerahkan kunci mobil itu. "Kenapa Pa? Mau dipakai?"
"Papa mau jemput mobil kamu di kampus," jawab Papa Arya santai namun tegas. "Kasihan ditinggal di situ semalaman, nanti kalau dibiarkan takut ada apa-apa, hilang, atau malah diderek satpam karena parkir sembarangan. Papa bawa ke pom bensin dulu biar ada bensinnya, baru Papa bawa pulang ke garasi. Jadi besok kamu bisa pakai lagi."
Aisyah mengerutkan kening, khawatir. "Tapi Pa... Mama kan lagi marah besar. Nanti kalau tahu Papa pergi keluar gimana? Nanti Mama ngamuk lagi lho."
Papa Arya tersenyum tipis, lalu mengelus kepala anaknya pelan. "Udah biarin. Papa punya akal. Nanti Papa bilang mau ke warung beli rokok atau ke kantor sebentar ambil berkas. Kamu jangan bilang-bilang ya, rahasia kita berdua."
Papa Arya mengedipkan sebelah matanya, memberikan kode bahwa dia melakukan ini bukan hanya soal mobil, tapi juga karena dia merasa lega dan senang tahu bahwa yang membantu Aisyah adalah anak dari keluarga yang sangat ia hormati. Ia memang tidak mau mobil anaknya ditinggal sembarangan, dan di sisi lain, ia ingin memastikan semuanya aman tanpa sepengetahuan istrinya yang sedang sensitif dan emosional.
"Siap Pa..." jawab Aisyah pasrah namun lega.
Akhirnya, Papa Arya keluar rumah dengan santai. Ia tidak membawa mobil pribadinya agar tidak mencurigakan, melainkan berjalan kaki sedikit menuju pinggir jalan utama. Tak lama menunggu, lewatlah sebuah angkutan umum (angkot). Papa Arya pun menaikinya, menuju arah kampus Aisyah dengan perasaan campur aduk antara ingin menyelesaikan tugas dan rasa penasaran yang masih membuncah.
Perjalanan dengan angkot terasa cukup berdebu dan panas, namun Papa Arya tidak memedulikannya. Sesampainya di area parkir kampus yang mulai sepi, matanya yang tajam langsung menemukan mobil Aisyah terparkir rapi di sudut tempat tadi.
"Nah, ada dia," gumamnya lega.
Papa Arya segera masuk ke dalam kabin mobil. Ia memasukkan kunci kontak, memutarnya, namun yang terdengar hanyalah suara krek... krek... krek... Mesin mati total karena bensin benar-benar habis sampai tetes terakhir.
"Ya Allah... dasar anak perempuan, sudah cantik pintar tapi lupa isi bensin," gerutu Papa Arya sambil tersenyum kecut dan menggelengkan kepala. Ia pun keluar kembali dan mendorong mobil itu perlahan menuju jalan keluar area parkir, lalu mencari pom bensin terdekat.
Beruntung tidak jauh dari situ ada SPBU 24 jam yang lampunya terang benderang. Dengan hati-hati, Papa Arya memasukkan mobil ke area pengisian.
"Full ya Pak!" seru Papa Arya kepada petugas.
Sambil menunggu tangki bensin terisi penuh, Papa Arya turun dan menghirup udara sejuk malam hari. Matanya menatap sekeliling, dan tiba-tiba pikirannya melayang kembali ke sosok Gus Aqlan.
"Anak Kiyai Abdul ternyata makin gagah dan sopan ya... Aura kesalehannya kelihatan banget. Pantas saja Aisyah sampai terpesona dan merasa nyaman. Sayang sekali Laras terlalu keras kepala dan memendam masalah masa lalu, sampai-sampai menolak kebaikan anak baik seperti itu," batin Papa Arya menghela napas panjang.
"Padahal kan kalau dipikir-pikir, justru ini takdir Tuhan. Mereka berdua ketemu lagi, saling tolong-menolong. Mungkin memang jodoh mereka yang dipertemukan kembali. Laras saja yang terlalu baper dan curiga," lanjutnya dalam hati.
Setelah mesin kembali menderu halus dan stabil, Papa Arya menghela napas lega.
"Nah, gitu dong. Jadi bisa dipakai lagi," ujarnya puas sambil membetulkan posisi duduknya.
Saat sedang bersiap untuk pulang, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari temannya sesama pengusaha, mengajak kopi darat. Namun Papa Arya menolak halus karena ingin segera mengantar mobil ini pulang.
Setelah merasa cukup dan memastikan semua aman, Papa Arya pun membawa mobil Aisyah pulang ke rumah dengan hati-hati, memastikan tidak menimbulkan suara berisik agar tidak membangunkan atau ketahuan Mama Laras. Ia berniat akan menyimpan mobil itu di garasi dalam keadaan rapi, dan nanti akan beralibi kalau ia sudah menyelesaikan semua urusan dengan lancar, supaya istrinya tidak curiga lebih jauh dan suasana rumah kembali aman.
BERSAMBUNG...