NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: JARUM YANG BERNYANYI DI MALAM HARI

Langit malam di atas Kota Kekaisaran Chang An terlihat gelap dan sunyi. Bulan purnama bersinar samar tertutup kabut tipis, memantulkan cahaya keperakan di atas atap-atap genteng kuno yang berjajar rapi. Angin berhembus dingin, membawa aroma bunga plum yang harum, namun bercampur dengan bau besi tajam yang menusuk hidung—aroma yang selalu hadir sebelum pertumpahan darah terjadi.

Di sebuah gang sempit yang gelap, diapit oleh dua tembok tinggi yang menjulang seperti tembok penjara, suasana mencekam.

Sepuluh orang pria berbadan kekar, mengenakan pakaian hitam legam dan wajah tertutup kain, sedang mengepung satu sosok tunggal di tengah lingkaran maut. Di tangan masing-masing, mereka menggenggam golok berkarat yang panjangnya hampir satu meter. Mata pisau itu berkilau ganas, seolah sudah haus akan nyawa.

"Kau pikir dengan baju putih lusuh itu kau bisa lolos dari tangan kami, bocah sialan?" geram ketua kelompok itu. Ia adalah pria bertubuh raksasa dengan bekas luka memanjang dari dahi hingga ke dagu, membuat wajahnya terlihat semakin mengerikan.

"Kami dari Sekte Darah Hitam tidak pernah melepaskan mangsa kami. Hari ini... adalah hari kematianmu!"

Sosok yang dikepung itu tidak bergeming sedikitpun. Ia hanya berdiri santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam lengan bajunya yang lebar, seolah tidak peduli dengan ancaman nyawa yang mengintai di depannya.

Ia adalah seorang pemuda yang tampan luar biasa. Wajahnya bersih, kulitnya putih bersih, dan rambut hitam pekatnya diikat rapi dengan pita kayu sederhana. Namun, yang paling mencolok adalah ekspresi di wajahnya.

Ia tersenyum.

Bukan senyum ketakutan, bukan pula senyum marah. Melainkan senyum santai, bahkan terlihat sedikit ceroboh, seolah-olah ia bukan sedang dikepung oleh pembunuh bayaran, melainkan sedang duduk santai di taman menikmati secangkir teh hangat.

Namanya Mo Fei.

Di dunia persilatan yang luas ini, nama Mo Fei mungkin tidak setenar Pendekar Pedang Naga atau Raja Tombak yang gagah berani. Tapi bagi mereka yang hidup di dunia bawah tanah, bagi para pembunuh dan penjahat, nama Mo Fei adalah sinyal kematian yang nyata.

"Kalian ini... berisik sekali," ucap Mo Fei pelan. Suaranya lembut, namun terdengar jelas sampai ke telinga sepuluh orang itu, memotong suara angin yang menderu.

"Malam ini seharusnya tenang dan damai. Kenapa harus ada yang merusak suasana dengan amarah yang tak berguna?"

"Berisik!!" teriak si Ketua Luka Pipi, emosinya meledak mendengar jawaban santai itu. "Kau berani menertawakan kami?! Serang!! Bunuh dia!! Cincang tubuhnya jadi seribu potong!! Jangan biarkan satu tulang pun utuh!!"

WUUUSSS!!!

Sepuluh golok diayunkan serentak dengan kekuatan penuh. Udara terbelah, mengeluarkan suara menderu ganas seperti raungan binatang buas. Sepuluh senjata mematikan itu bergerak begitu cepat, menutup segala celah yang bisa dilalui oleh tubuh manusia.

Dalam serangan itu, tidak ada ampun. Hanya ada niat membunuh yang membara.

Para penjahat itu yakin seyakin-yakinnya. Meskipun lawannya adalah pendekar tingkat tinggi, mustahil ada orang yang bisa selamat dari hujan golok sepadat ini. Tubuh bocah berbaju putih itu pasti akan hancur lebur dalam sekejap.

Namun...

Tepat saat senjata-senjata itu tinggal sejengkal lagi dari tubuh Mo Fei, saat jarak antara hidup dan mati tinggal sehelai rambut...

Ting... Ting... Ting-ting-ting!!!

Serentak terdengar bunyi berdenting halus.

Bunyi itu sangat cepat, begitu rapat dan berurutan, hingga terdengar seperti satu bunyi panjang yang memecah keheningan malam. Bunyinya bukan suara besi berbenturan keras dan kasar, melainkan seperti suara kaca berdering halus, atau... suara jarum yang bernyanyi di tengah angin.

Seketika...

Waktu seolah berhenti berputar.

Angin pun seakan berhenti berhembus.

Sepuluh orang penyerang itu membeku kaku di posisi mereka masing-masing. Tangan mereka masih terangkat menggenggam gagang golok, mulut mereka masih terbuka lebar seolah baru saja berteriak mengerikan, tapi... tidak ada satu pun suara yang keluar dari kerongkongan mereka.

Mata mereka terbelalak besar, bola matanya menonjol keluar, penuh dengan keterkejutan dan ketakutan yang tak terlukiskan. Wajah mereka pucat pasi seperti mayat hidup.

Satu per satu...

Plak!

Golok-golok besar yang tadinya terangkat tinggi itu terlepas begitu saja dari genggaman tangan mereka yang tiba-tiba menjadi lemas, jatuh menghantam tanah berbatu dengan suara berisik.

Lalu, tubuh mereka pun ikut robohur.

BUM! BUM! BUM!

Suara benturan keras terdengar bergantian saat tubuh-tubuh kekar itu ambruk ke tanah tanpa daya, tak bergerak lagi.

Hening.

Kembali hanya ada suara angin yang berhembus pelan.

Di tengah tumpukan tubuh yang tak bernyawa itu, Mo Fei masih berdiri tegak. Baju putihnya masih bersih, tak seujung rambut pun tersentuh, tak setetes darah pun menempel. Ia perlahan mengeluarkan tangannya dari dalam lengan baju, lalu menepuk-nepuk bahunya seolah ada debu halus yang menempel.

Ia melirik santai ke arah tubuh si Ketua Luka Pipit yang paling besar itu.

Tepat di antara kedua alis pria itu, tepat di titik pertemuan antara kehidupan dan kematian, tertancap sebuah benda kecil yang berkilauan memantukan cahaya bulan.

Sebuah jarum emas.

Panjangnya tidak lebih dari satu jari jempol, tipisnya seperti helai rambut, namun tajamnya bisa menembus baja keras.

Hal yang sama terjadi pada kesembilan orang lainnya. Di titik vital yang sama, tepat di antara alis, semua tertancap satu jarum emas yang sama persis.

Tidak ada darah yang menetes. Tidak ada luka yang mengerikan.

Mereka mati begitu cepat, begitu bersih, sebelum sempat merasakan sakit, bahkan sebelum sempat menyadari bahwa mereka sudah terkena serangan mematikan.

"Sayang sekali," gumam Mo Fei sambil menghela napas pendek, senyumnya masih mengembang manis di bibirnya. "Aku sudah bilang kan... jangan berisik. Jarum-jarumku ini sangat sensitif. Mereka tidak suka orang yang suka berteriak-teriak tak jelas dan mengganggu ketenangan malam."

Ia melangkah santai berjalan melewati tubuh-tubuh itu. Saat ia berjalan, terlihat kilatan-kilatan kecil berwarna emas terbang keluar dari tubuh para penjahat itu. Gerakannya anggun seperti kupu-kupu, melayang kembali dengan patuh masuk ke dalam lengan baju Mo Fei.

Seribu jarum itu, kembali ke sarangnya.

Di kejauhan, di atas atap sebuah kuil tua yang runtuh, dua sosok pendekar topeng sedang menyaksikan seluruh kejadian itu dari tadi. Tangan mereka gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh punggung mereka meskipun udara malam tidak terlalu dingin.

"Apakah... apakah kau melihat gerakannya tadi?" bisik salah satu dari mereka dengan suara parau dan tertahan.

"Tidak... Aku tidak melihat apa-apa," jawab temannya dengan napas memburu. "Aku hanya melihat kilatan cahaya emas sekilas lewat di depan mataku, dan... semuanya sudah berakhir. Itu bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh manusia biasa."

"Padahal senjatanya hanya jarum kecil... tidak gagah, tidak menakutkan... tapi kenapa kekuatannya..."

"Itu bukan sekadar senjata. Itu adalah Seni Maut," potong temannya dengan nada penuh hormat bercampur ketakutan yang luar biasa. "Dia tidak melempar jarum. Dia menembakkan niat membunuh yang terkonsentrasi pada satu titik terkecil. Di tangannya, benda sekecil apa pun bisa menjadi senjata paling mematikan di dunia."

Mereka berdua tahu betul, jika tadi mereka turun dan ikut menyerang, nasib mereka pasti tidak akan berbeda dengan teman-temannya di bawah sana.

"Siapa dia sebenarnya? Pendekar dari Sekte Mana?"

"Dia Mo Fei," jawab temannya. "Orang-orang menyebutnya Pengamat Malam. Orang yang datang tanpa suara, dan pergi tanpa meninggalkan jejak, kecuali mayat-mayat yang tertancap jarum emas."

Mo Fei sudah sampai di ujung gang. Ia berhenti sejenak, mendongak menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang di langit tinggi.

"Dunia persilatan ini semakin hari semakin ramai dan berisik ya," gumamnya pelan, bicara pada angin dan bulan. "Banyak sekali serigala berbulu domba yang merasa diri mereka raja hutan. Mungkin... sudah waktunya aku membersihkan sedikit tempat ini supaya lebih teduh."

Ia tersenyum lagi, kali ini senyum itu terlihat lebih lebar, sedikit nakal, namun menyimpan bahaya yang tak terbayangkan bagi siapa saja yang berani menjadi musuhnya.

"Siapa tahu... sambil bekerja membersihkan dunia, aku bisa menemukan seseorang yang layak menerima salah satu jarumku... atau mungkin... seseorang yang bisa membuatku berhenti tersenyum sendirian di tengah malam yang sepi ini."

Dengan langkah ringan seperti melayang di atas awan, sosok berbaju putih itu menghilang lenyap di balik kabut malam, meninggalkan misteri dan legenda baru yang akan segera bergema di seluruh penjuru dunia persilatan.

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!