"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: DERAJAT YANG TERHEMPAS
Satu jam berlalu seperti kedipan mata yang menyakitkan bagi keluarga Lynn. Gerbang besi raksasa yang dulu menjadi simbol kemegahan mereka, kini tertutup rapat dengan rantai baja dan segel dari Leif Capital. Di luar gerbang, di atas aspal jalanan yang mulai memanas, berdiri empat orang yang tampak linglung dengan tumpukan koper di sekitar mereka.
Elyas Lynn terduduk di atas salah satu koper besarnya, napasnya pendek-pendek sementara Anora terus terisak, memegangi tas tangan bermerek yang kini terasa tidak ada gunanya. Nero berdiri dengan tangan mengepal, menatap bangunan mewah di hadapannya yang kini dihuni oleh "anak angkat" yang dulu ia injak-injak.
"Ini tidak mungkin... Ini pasti mimpi buruk," gumam Nero. Ia menoleh ke arah Elysia yang sejak tadi hanya diam membatu. "Elysia! Lakukan sesuatu! Bukankah kamu bilang kamu punya simpanan? Kamu bilang Andrew memberikanmu aset!"
Elysia menatap kakaknya dengan mata kosong. "Aset apa, Kak? Semuanya diblokir oleh Nerina. Andrew... Andrew bahkan tidak bisa dihubungi. Dia membuangku!"
"Jadi kita benar-benar gelandangan sekarang?" Anora menjerit histeris. "Elyas! Lakukan sesuatu! Telepon relasimu! Telepon teman-teman bisnismu!"
Elyas tertawa hambar, suara tawanya terdengar kering. "Teman bisnis? Anora, mereka adalah orang pertama yang mematikan telepon saat tahu saham kita anjlok. Dunia bisnis tidak mengenal pertemanan, hanya mengenal pemenang. Dan pemenangnya adalah Nerina."
Tepat saat itu, sebuah mobil SUV hitam berhenti di balik gerbang. Kaca jendela belakang perlahan turun, menampakkan wajah Nerina yang dingin dan tak tersentuh. Di sampingnya, Ergino duduk dengan ekspresi datar yang sangat merendahkan.
"Belum pergi?" suara Nerina terdengar jernih melalui celah gerbang. "Kalian menghalangi jalur masuk asisten keuanganku."
"Nerina!" Nero berlari mendekat ke jeruji gerbang. "Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu membiarkan ayah dan ibumu tidur di jalanan? Di mana hati nuranimu?!"
Nerina menatap Nero dengan tatapan yang sangat asing. "Hati nurani? Bukankah kamu yang dulu bilang, Nero, bahwa hati nurani hanya milik orang-orang lemah? Kamu yang mengajariku bahwa di dunia ini hanya ada penguasa dan pecundang. Aku hanya murid yang baik, bukan?"
"Tapi Ayah sedang sakit!" Anora ikut berteriak dari belakang. "Setidaknya biarkan kami tinggal di paviliun belakang!"
"Paviliun belakang?" Nerina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk mereka meremang. "Maaf, paviliun itu sudah kualihfungsikan menjadi gudang penyimpanan barang-barang rongsokan. Oh, tunggu... bukankah kalian bilang aku adalah barang rongsokan dari panti asuhan? Jadi, kurasa tempat itu memang tidak cocok untuk orang-orang 'berdarah murni' seperti kalian."
"Nerina Aralynn!" Elyas berdiri dengan sisa kekuatannya. "Aku yang membesarkanmu!"
"Dan aku yang membayar hutang-hutangmu, Tuan Lynn," sahut Nerina tajam. "Jika bukan karena aku yang mengambil alih rumah ini melalui perusahaan cangkang, rumah ini sudah dilelang secara publik oleh bank dan wajah kalian akan terpampang di setiap koran kriminal. Kalian seharusnya berterima kasih karena aku masih membiarkan kalian membawa pakaian-pakaian mahal itu."
Nerina melirik ke arah Ergino. "Gino, berikan mereka 'hadiah' perpisahan kita."
Ergino mengulurkan sebuah amplop cokelat melalui celah gerbang. Nero menyambarnya dengan kasar.
"Apa ini? Cek?" tanya Nero penuh harap.
"Itu adalah alamat sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota," jawab Ergino dengan suara rendah. "Satu kamar, tanpa pendingin ruangan, dan terletak di gang sempit. Nona Nerina sudah membayarkan uang sewanya untuk tiga bulan ke depan. Itu adalah bentuk kemurahan hati terakhir yang akan Anda terima."
Elysia merampas kertas itu dan membacanya. Wajahnya seketika berubah menjadi hijau. "Di daerah kumuh? Kamu ingin kami tinggal di tempat kotor seperti itu?!"
"Tempat itu jauh lebih baik daripada gudang tua tempat kalian membiarkanku... ah, lupakan," Nerina memotong kalimatnya sendiri. Ia hampir saja menyebutkan tentang kematiannya di kehidupan lalu. "Intinya, itu adalah tempat yang pantas untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Tanpa nama Lynn, tanpa pelayan, dan tanpa kesombongan."
"Aku tidak sudi!" Elysia membanting kertas itu ke aspal.
"Kalau begitu, silakan cari hotel," sahut Nerina tenang. "Tapi ingat, kartu kredit kalian sudah diblokir. Mobil-mobil mewah kalian sudah disita. Dan berlian di lehermu itu, Elysia... bukankah itu milik perusahaan?"
Elysia refleks memegangi lehernya. "Ini hadiah ulang tahunku!"
"Yang dibeli dengan uang operasional kantor yang belum diaudit," tambah Nerina. "Gino, apakah tim pengacara sudah siap?"
"Sudah, Nona. Surat gugatan pengembalian aset pribadi perusahaan akan dikirimkan sore ini," jawab Ergino.
Elysia gemetar hebat. Ia melepaskan kalungnya dan melemparkannya ke arah mobil Nerina. "Ambil! Ambil semuanya! Aku benci kamu, Nerina! Aku bersumpah akan merebut semuanya kembali!"
Nerina menatap kalung yang jatuh di aspal itu dengan pandangan jijik. "Kamu tidak akan pernah merebut apa pun, Elysia. Karena untuk menjadi penguasa, kamu butuh otak, bukan hanya air mata."
Nerina menaikkan kaca jendelanya. "Gino, jalan. Aku tidak ingin melihat pemandangan menyedihkan ini lebih lama lagi."
Mobil SUV itu melaju masuk ke arah kediaman mewah, meninggalkan keluarga Lynn yang kini benar-benar terpuruk di pinggir jalan.
Di dalam mobil
Nerina menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang empuk. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa, namun ada sedikit kekosongan di hatinya. Bukan karena ia menyesal, tapi karena ia menyadari betapa rapuhnya kekuasaan yang dulu ia puja-puja.
"Nona," panggil Ergino lembut.
"Ya?"
"Anda tidak perlu merasa bersalah. Apa yang Anda lakukan hanyalah mengembalikan keseimbangan. Mereka butuh merasakan apa yang Anda rasakan selama dua belas tahun agar mereka mengerti arti kata menghargai."
Nerina menoleh ke arah Ergino. "Gino, menurutmu... apa mereka akan bertahan di rumah kontrakan itu?"
Ergino tersenyum tipis, tipe senyuman yang hanya diperlihatkan pada Nerina. "Orang seperti mereka akan bertahan selama mereka masih bisa saling menyalahkan. Nero akan menyalahkan Elysia, Elyas akan menyalahkan Nero, dan mereka semua akan berakhir dalam kebencian yang mereka ciptakan sendiri."
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?"
Ergino menghentikan mobil di depan pintu utama mansion. Ia keluar dan membukakan pintu untuk Nerina. Kali ini, ia membungkuk dengan cara yang sangat berbeda—seperti seorang ksatria yang menyambut ratunya kembali ke singgasana yang sah.
"Selanjutnya adalah membersihkan sisa-sisa mereka di perusahaan, Nona," ujar Ergino. "Dan... saya sudah menyiapkan makan malam perayaan. Hanya untuk kita berdua. Di ruang makan utama yang kini benar-benar milik Anda."
Nerina melangkah masuk ke dalam rumah. Untuk pertama kalinya, ia merasa udara di dalam mansion ini tidak lagi sesak. Ia berjalan menuju ruang makan, tempat di mana dulu ia selalu duduk paling ujung dan diabaikan.
Namun, saat ia sampai di sana, ia melihat meja makan panjang itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, ada sebuah meja bundar kecil yang indah dengan lilin-lilin kecil yang menyala di tengah ruangan.
"Aku membuang meja lama itu, Nona," ucap Ergino yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. "Meja itu memiliki terlalu banyak kenangan buruk. Kita butuh awal yang baru."
Nerina tersenyum tulus. "Terima kasih, Gino. Kamu benar-benar tahu apa yang aku butuhkan."
Malam itu, di tengah kemewahan yang kini ia kuasai sepenuhnya, Nerina menyadari satu hal. Ia telah berhasil menghancurkan takhta sang raja, namun ia juga telah membangun sesuatu yang lebih berharga—aliansi yang tak tergoyahkan dengan pria misterius yang selalu berdiri di bayang-bayangnya.
Namun, di pinggiran kota yang kumuh, di sebuah kamar sempit yang pengap, Elysia Lynn sedang duduk di pojokan sambil menatap layar ponselnya yang retak. Ia menghubungi sebuah nomor rahasia.
"Andrew... kamu di mana? Aku butuh bantuanmu. Nerina... dia sudah gila. Dia mengusir kami!"
Suara di seberang telepon terdengar dingin. "Aku sudah bilang, Elysia. Jangan hubungi aku lagi. Aku sedang sibuk mengurus keberangkatanku ke luar negeri. Urus saja masalahmu sendiri."
Klik.
Telepon diputus. Elysia menjerit frustrasi, memukul-mukul kasur tipis yang berbau apek. "Nerina... aku tidak akan membiarkanmu menang! Jika aku harus masuk ke neraka untuk menjatuhkanmu, maka aku akan melakukannya!"
Perang baru saja memasuki babak yang lebih kotor.