NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:171k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Konfirmasi pembelian: 2x Benih Tomat Matahari Terbit (30 Koin), 1x Pagar Angin Penolak Hama (30 Koin). Total biaya: 60 Koin Alam. Apakah Anda yakin ingin memproses transaksi ini?"

"Ya, proses sekarang."

Ting.

"Transaksi berhasil. Saldo Koin Alam saat ini: 0 Koin. Barang telah dikirim ke dalam inventaris fisik Anda."

Di atas meja kayu di depan Lin Ye, sebuah pusaran cahaya kecil muncul. Saat cahaya itu meredup, dua kantong kertas kecil bergambar tomat merah dan empat buah pasak kayu hitam sepanjang jengkal tangan jatuh di atas meja.

Lin Ye mengambil pasak kayu hitam itu. Benda itu terasa sangat ringan, tapi teksturnya sekeras baja. Terdapat ukiran rune aneh yang berpendar redup di permukaan kayunya.

"Inikah yang namanya Pagar Angin? Sempurna. Zhao He bilang sering ada babi hutan atau hama yang turun dari bukit. Dengan ini, aku tidak perlu begadang semalaman menjaga tanaman," kata Lin Ye sambil mengantongi pasak kayu dan benih tomat tersebut.

Dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Matahari mulai bergerak turun, cuaca di luar tidak lagi terlalu menyengat.

"Waktunya kembali bekerja. Sisa waktuku hari ini akan kugunakan untuk memperluas area tanam dan mencoba benih dari pasar," ucapnya penuh semangat.

Lin Ye mengambil cangkul kayu besi hitamnya, lalu melangkah ke halaman belakang. Pohon Ajaib masih berdiri kokoh, daun-daun zamrudnya berdesir tertiup angin sore. Area dua kali dua meter tempat dia memanen kubis tadi pagi masih terlihat gembur dan lembab.

Dia mulai mengayunkan cangkulnya lagi.

Trak. Trak. Srrk.

Berkat cangkul kayu besi yang mengurangi beban kerja secara drastis, Lin Ye bergerak sangat cepat. Dalam waktu dua jam, dia berhasil membuka petak tanah baru di sebelah petak sebelumnya. Kini total area yang bersih dari tumbuhan liar dan siap ditanami adalah seluas lima kali lima meter persegi. Punggungnya basah oleh keringat, tapi napasnya tetap teratur.

"Sistem, aku akan memasang Pagar Angin Penolak Hama sekarang. Apa ada instruksi khusus untuk memakainya?" tanya Lin Ye.

"Tancapkan keempat pasak kayu pertahanan di empat sudut luar lahan seluas 5x5 meter yang ingin Anda lindungi dan pagar akan aktif secara otomatis."

Lin Ye segera bergerak menuju sudut kanan atas lahan yang berbatasan langsung dengan semak liar dekat hutan. Dia menekan pasak kayu hitam pertama ke tanah.

Jleb.

Begitu pasak itu tertanam setengahnya, ukiran rune di kayunya menyala dengan cahaya biru redup. Lin Ye kemudian berjalan ke tiga sudut lainnya dan menancapkan pasak yang tersisa membentuk bujur sangkar pelindung.

Wushhh.

Saat pasak keempat tertanam, sebuah hembusan angin yang sangat kuat menyapu permukaan tanah tersebut. Tiba-tiba, empat garis cahaya tipis melesat dari masing-masing pasak, saling terhubung satu sama lain membentuk dinding kubus transparan. Dinding energi itu bertahan selama beberapa detik sebelum perlahan memudar hingga tidak terlihat sama sekali.

Lin Ye mengulurkan tangannya mencoba menyentuh area pembatas itu. Tidak ada apa-apa, tangannya bisa menembus masuk tanpa halangan.

"Penghalang ini tampaknya hanya berlaku untuk hewan dan hama yang berniat merusak tanaman, bukan untuk manusia atau pemiliknya," simpulan Lin Ye puas. "Sekarang area ini sudah aman."

Dia mengambil dua bungkus Benih Tomat Matahari Terbit dari sakunya dan mulai membuat lubang-lubang kecil. Dia menanam tomat ajaib itu di setengah bagian lahan. Di setengah bagian lainnya, dia menanam benih bayam dan sawi biasa yang dia beli dari toko lokal. Lin Ye ingin tahu apakah tanah di sekitar Pohon Ajaib ini memberikan efek khusus pada benih biasa, atau efeknya hanya berlaku untuk benih dari sistem.

Setelah semua benih tertanam rapi, dia menimba air dari sumur tua dan menyiram seluruh permukaan tanah tersebut perlahan-lahan.

Langit mulai gelap. Matahari terbenam dan malam pun tiba, menggantikan warna jingga menjadi hitam pekat yang dihiasi taburan bintang.

Lin Ye membersihkan dirinya dengan air sumur di kamar mandi luar yang kondisinya sangat mengenaskan. Setelah itu, dia masuk ke dalam rumah, mengunci pintu belakang, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kayu. Hari yang panjang dan melelahkan, tapi sangat produktif. Hanya dalam dua hari, dia telah menghasilkan lebih banyak uang daripada minggu terakhirnya di kantor, dan dia memiliki ladang ajaib yang baru saja ditanami.

Perlahan, rasa kantuk mulai menyerang matanya. Lin Ye memejamkan mata, membiarkan suara jangkrik dari luar menjadi pengantar tidurnya. Jendela kamarnya dibiarkan terbuka sedikit agar udara segar bisa masuk ke dalam ruangan yang pengap.

Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Desa Qingshui tertidur lelap.

Krek.

Suara ranting kering yang terinjak sepatu bot terdengar sangat samar dari arah batas pagar yang memisahkan ladang Lin Ye dan ladang Zhao He.

Sesosok bayangan hitam mengendap-endap berjalan menembus barisan tanaman jagung. Bayangan itu memakai mantel gelap dan topi rajut yang menutupi wajahnya. Tangannya memegang sebuah ember plastik kecil yang ditutupi oleh kain karung.

Itu adalah Zhao He.

"Anak kota sialan. Beraninya dia mempermalukanku di depan warga desa siang tadi," batin Zhao He dengan penuh kebencian. "Dia pikir dia hebat karena punya sedikit uang pesangon? Aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang. Aku akan menghancurkan semangatnya malam ini juga."

Zhao He telah merencanakan hal ini sejak sore hari. Di dalam ember plastik yang dia bawa, terdapat puluhan ulat daun pemakan tanaman dan beberapa ekor tikus ladang yang lapar. Dia sengaja mengumpulkannya dari sudut-sudut kotor ladangnya. Rencananya sederhana, dia akan melepaskan hama-hama ini tepat di tanah yang sudah dibersihkan oleh Lin Ye. Jika Lin Ye baru menabur benih, tikus-tikus itu akan menggali dan memakan semuanya sebelum fajar menyingsing. Jika ada tunas yang tumbuh, ulat daun akan menghabisinya.

'Besok pagi, anak manja itu akan menangis darah melihat ladangnya hancur berantakan. Lalu dia akan memohon padaku untuk membeli tanah ini," Zhao He tersenyum jahat di balik kegelapan.

Dia tiba di dekat pagar pembatas. Dengan sangat hati-hati, Zhao He merangkak melewati celah pagar kayu yang patah, masuk ke dalam wilayah halaman belakang Lin Ye.

Zhao He berjalan mengendap-endap mendekati area tengah ladang. Mata tuanya mencoba beradaptasi dengan kegelapan. Dia bisa melihat gundukan-gundukan tanah yang basah dan rapi di bawah bayangan pohon raksasa itu.

"Oh, rajin sekali dia menanam sesuatu di malam hari. Sayang sekali semua ini akan jadi makanan peliharaanku," gumam Zhao He dalam hati.

Dia membuka kain karung yang menutupi embernya. Zhao He bersiap untuk melemparkan isi ember tersebut tepat ke tengah-tengah petak lahan Lin Ye.

Di dalam kamar yang gelap, Lin Ye masih tertidur lelap. Namun, tiba-tiba saja layar hijau sistem menyala terang dengan sendirinya di dalam benaknya.

Tit. Tit. Tit.

"Peringatan Darurat: Terdeteksi Niat Buruk."

"Sistem Keamanan Pasif mendeteksi adanya aktivitas sabotase dari luar yang berusaha memasuki perimeter Pagar Angin Penolak Hama. Ancaman tingkat rendah terdeteksi di koordinat sudut barat daya ladang."

Suara gema mekanis itu langsung berbunyi nyaring di kepala Lin Ye, membangunkannya secara paksa dari tidur lelapnya.

Lin Ye tersentak duduk di atas kasur, matanya melebar dalam kegelapan. Jantungnya berdebar kencang.

"Sabotase? Siapa yang berani masuk ke ladangku jam segini?" bisik Lin Ye dengan suara serak. Tangannya langsung meraba lantai kayu di dekat kasur, mencari pegangan cangkul kayu besi hitamnya.

Lin Ye bangkit berdiri, matanya menatap tajam ke arah pintu belakang yang tertutup. Seseorang sedang mencari masalah dengannya malam ini, dan Lin Ye memastikan orang itu akan menyesali perbuatannya.

1
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
black swan
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!