NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29 : KOTA CAHAYA DAN PROSES EKSTRADISI

Jakarta masih menyisakan sisa hujan semalam saat jet pribadi milik keluarga Arkatama bersiap di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma. Udara pagi itu terasa lembap dan berat, seolah ikut memikul beban ketegangan yang menyelimuti rombongan kecil itu. Namun, suasana di dalam kabin jet Gulfstream G650 itu tidaklah sepenuhnya tenang. Devan Arkatama duduk di kursi kulit premiumnya dengan kening berkerut dalam, menatap dokumen ekstradisi yang baru saja ditandatangani oleh otoritas hukum Indonesia dan otoritas Prancis di bawah pengawasan interpol.

Valerie, setelah ditangkap secara dramatis di Jakarta karena pemalsuan dokumen dan pencemaran nama baik, ternyata terseret ke dalam pusaran kasus yang jauh lebih besar dari sekadar dendam pribadi. Ia terindikasi terlibat dalam sindikat pencucian uang internasional yang berkedok investasi properti mewah di Eropa. Karena ia memiliki status penduduk tetap di Prancis dan sebagian besar aset ilegal dari mitra investornya berada di sana, pemerintah Prancis menuntut agar Valerie diadili di Paris di bawah yurisdiksi mereka.

Hal ini jugalah yang memaksa Devan dan Anya untuk segera terbang ke sana. Mereka bukan hanya sebagai saksi kunci yang akan memberatkan Valerie, tetapi juga untuk menghadapi tuntutan balik dari konsorsium investor Prancis yang mencoba memeras Arkatama Shipping lewat laporan kerugian palsu yang disusun Valerie.

Anya Clarissa duduk di samping Devan, mengenakan setelan turtleneck hitam dan long coat berwarna karamel yang membuatnya tampak sangat elegan namun tetap praktis. Ia menggenggam tangan suaminya yang terasa dingin. "Semuanya akan baik-baik saja, Devan. Kita bukan lagi dua orang asing yang bertikai. Kita adalah satu tim sekarang."

Devan menghela napas, jemarinya membalas genggaman Anya dengan kekuatan yang sama. "Aku hanya tidak ingin kamu terus terseret dalam lubang hitam yang diciptakan Valerie, Anya. Kota itu... Paris... seharusnya menjadi tempat yang indah untuk kita kunjungi nanti, bukan sebagai medan perang hukum seperti ini."

Di tengah ketegangan yang mencekam itu, Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) muncul dari bagian belakang kabin pesawat dengan wajah ceria dan langkah yang mantap. Di tangannya, ia membawa sebuah koper kecil berwarna merah menyala yang aromanya sangat mencurigakan—perpaduan antara bau rempah pedas dan sesuatu yang sangat tajam.

"Anya, Sayang! Jangan tegang begitu mukanya, nanti cepat keriput!" seru Mama Sarah sambil duduk di kursi hadapan mereka. "Mama sudah siapkan amunisi paling ampuh kalau-kalau pengacara sombong di Paris itu bikin kita pusing dan susah makan!"

Anya melirik koper kecil itu dengan kening berkerut. "Amunisi apa, Ma? Dokumen tambahan dari Tuan Baskoro?"

"Bukan! Ini amunisi perut!" Mama Sarah membuka resleting koper itu dengan bangga. "Mama bawa sambal terasi saset lima pak, kerupuk udang yang sudah digoreng, sama rendang kering buatan Bi Inah yang bumbunya sudah Mama minta dilebihkan. Ingat ya, di Paris itu makanannya cuma roti keras kayak batu bata dan siput berlendir. Mana kenyang perut orang Indonesia asli kalau nggak kena nasi sama sambal?!"

Mama Sarah mulai menata toples-toples plastiknya di atas meja jet pribadi yang berlapis kayu walnut itu, sangat kontras dengan gelas kristal berisi champagne yang disediakan pramugari. "Nanti kalau kita di hotel, Mama yang masak nasi di rice cooker kecil yang Mama selundupkan di koper besar. Kita makan bareng-bareng di sana!"

"Ma, ini perjalanan bisnis dan proses ekstradisi internasional, bukan mau piknik ke Puncak," tegur Devan sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Kita akan makan di restoran terbaik di Paris, tidak perlu bawa rendang di koper."

"Bisnis itu butuh energi, Devan! Kamu kalau kurang makan rendang nanti otakmu nggak jalan, terus kalah debat sama pengacara Prancis itu!" sahut Mama Sarah tak mau kalah. Ia bahkan sempat-sempatnya mengeluarkan sebuah syal bulu berwarna kuning neon yang sangat mencolok dari tasnya dan mencoba melilitkannya ke leher Anya. "Pakai ini, Anya. Biar orang Paris tahu kalau menantu keluarga Arkatama itu selera modenya... menyala!"

Anya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah mertuanya yang sangat luar biasa itu. Setidaknya, kehadiran Mama Sarah dengan segala kegaduhan "logistik nusantaranya" membuat rasa takut Anya akan persidangan maut di Paris sedikit berkurang.

Setelah penerbangan belasan jam yang melelahkan, melintasi beberapa zona waktu dan samudera, mereka akhirnya mendarat di Bandara Charles de Gaulle yang berselimut kabut dingin. Paris di musim ini memiliki atmosfer yang melankolis namun tetap mempesona. Begitu rombongan sampai di Hotel Plaza Athénée, tempat mereka menginap di kawasan Avenue Montaigne, Anya segera melangkah menuju balkon kamarnya.

Ia menatap lurus ke arah Menara Eiffel yang puncaknya tertutup kabut tipis. Ingatannya kembali ke foto Valerie yang pernah membuatnya hancur. Dulu, ia benci membayangkan Devan di sini bersama wanita itu. Namun kini, realita telah berubah.

Devan mendekat perlahan, melingkarkan lengannya di pinggang Anya dari belakang, memberikan kehangatan di tengah udara Paris yang menusuk. "Valerie sudah dipindahkan ke rumah tahanan sementara di Palais de Justice sore ini. Dia sedang dalam pengawasan ketat interpol karena keterlibatannya dalam sindikat pencucian uang itu. Dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi, Anya."

"Rasanya aneh berada di sini, Devan," ucap Anya pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Dulu aku merasa kota ini adalah bukti bahwa aku tidak pernah benar-benar memilikimu. Tapi sekarang, aku di sini bersamamu untuk menghancurkan kebohongan itu bersama-sama."

Malam itu, Devan memutuskan untuk mengajak Anya keluar secara privat. Ia ingin menghapus memori "Paris 2022" yang palsu itu dengan memori yang nyata. Ia membawa Anya ke sebuah bistro kecil yang tersembunyi di kawasan Montmartre, tempat di mana para seniman jalanan masih setia menata kanvas mereka di bawah lampu temaram.

Di bawah lampu jalanan yang remang dan suara akordeon yang terdengar sayup-sayup dari kafe sebelah, mereka berjalan berdua menyusuri tangga batu yang ikonik. Devan menghentikan langkahnya tepat di depan halaman gereja Sacré-Cœur yang menghadap langsung ke seluruh gemerlap lampu kota Paris.

"Anya," Devan mengambil kedua tangan Anya dan mencium punggung tangannya secara bergantian dengan penuh perasaan. "Paris bagi dunia adalah kota cinta. Bagiku, dulu ini adalah kota tempatku terjebak dalam ekspektasi Papa yang berat. Tapi malam ini, aku ingin menjadikan Paris sebagai saksi bahwa aku bukan lagi pria yang menikah hanya karena tekanan keluarga atau karena dua belas miliar."

Devan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari saku coat-nya. Di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk daun yang terbuat dari zamrud hijau murni—warna yang melambangkan kecintaan Anya pada alam dan profesinya. "Aku ingin kamu memakai ini. Sebagai simbol bahwa meskipun aku seorang pelaut yang kaku, jiwaku sudah tertanam di tanah yang kamu bangun. Aku mencintaimu, Anya Clarissa. Melampaui kontrak manapun yang pernah kita buat."

Anya tidak bisa menahan air matanya yang jatuh memantulkan cahaya lampu kota. Ia memeluk Devan dengan sangat erat, merasakan detak jantung suaminya yang kuat di balik dadanya. "Aku juga mencintaimu, Devan. Terima kasih sudah membawaku ke Paris yang sebenarnya."

...****************...

Keesokan paginya, suasana romantis itu harus berganti dengan realita yang keras. Devan menghabiskan waktu hampir sepanjang hari di kantor hukum internasional L'Avocat, berkonsultasi dengan pengacara-pengacara terbaik di Prancis. Sebagai CEO maritim, ia harus membuktikan secara teknis bahwa kapal-kapal Arkatama Shipping tidak pernah terlibat dalam pengiriman kargo ilegal. Pekerjaan Devan melibatkan pengecekan ribuan manifes digital, pelacakan rute GPS satelit yang sangat rumit, hingga koordinasi lintas otoritas pelabuhan dari Marseille hingga Rotterdam. Ia harus memastikan setiap sen transaksi perusahaannya di Eropa tercatat dengan bersih untuk membantah tuduhan sabotase Valerie.

Anya pun tidak tinggal diam. Ia menggunakan keahliannya sebagai arsitek lanskap dan ahli lingkungan untuk menganalisis data lahan yang menjadi inti sengketa properti di Prancis. Ia menemukan sebuah anomali teknis; proyek pembangunan yang diklaim gagal oleh investor mitra Valerie sebenarnya adalah lahan resapan air yang dilindungi pemerintah Prancis. Valerie telah memalsukan dokumen geologi tanah agar terlihat layak bangun demi mendapatkan dana investor, yang kemudian ia cuci ke rekening pribadinya.

"Ini kuncinya, Devan," ucap Anya saat mereka berdiskusi di kamar hotel yang kini penuh dengan tumpukan kertas denah dan data geologi. "Kita akan menyerang mereka dari sisi teknis lingkungan. Mereka tidak bisa membantah sifat fisik tanah. Valerie telah melakukan penipuan lingkungan dalam skala besar."

Mama Sarah yang sedang sibuk menyetrika kemeja Devan menggunakan setrika perjalanan kecil ikut menimpung pembicaraan. "Dan jangan lupa, Mama Sarah sudah siapkan kejutan di dalam tas Mama buat dibawa ke pengadilan besok! Biar pengacara mereka tahu rasa kalau sudah ketemu emak-emak Indonesia!"

Anya dan Devan saling pandang, merasa cemas sekaligus terhibur dengan semangat Mama Sarah. Namun mereka sadar, mereka adalah satu tim yang sangat solid sekarang. Perpaduan antara kekuatan logistik Devan dan kecerdasan analisis Anya adalah senjata yang mematikan bagi siapapun yang mencoba menghancurkan keluarga mereka.

Malam itu, mereka tertidur sambil berpegangan tangan di bawah langit Paris, bersiap menghadapi persidangan maut di pagi hari yang akan menentukan nasib perusahaan dan nama baik mereka. Di sisi lain kota, di balik jeruji besi rumah tahanan sementara, Valerie sedang menatap kegelapan dengan amarah yang membara, menyusun kartu as terakhirnya untuk mencelakai Anya secara fisik jika ia merasa posisi hukumnya mulai terdesak.

1
Dara Sari
awal nikah didepan penghulu ...tp nikah ulang nya kok di altar??maaf Thor ini gimn yaa...kok gitu..maaf koreksi ya
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!