NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: JEJAK BISU DI BALIK SERAGAM

Pagi itu, Kota Batu tampak seperti biasa, namun ada ketegangan yang menggantung di udara pasar.

SREK... SREK...

Arka Nirwana sedang duduk di depan tokonya, tangannya yang diperban masih memegang kuas cat. Ia tampak kelelahan, sesekali meringis saat luka di telapak tangannya bergesekan dengan gagang kuas.

Di mata tetangganya, Arka hanyalah korban premanisme yang sedang mencoba memperbaiki hidupnya.

"Mas Arka, istirahat dulu. Biar saya yang lanjutin ngecatnya," ucap Pak RT yang merasa iba melihat "warganya yang malang" itu bekerja dengan tangan terluka.

"Nggak apa-apa, Pak RT. Sedikit lagi selesai. Biar toko ini kelihatan segar, siapa tahu ada pembeli buku baru," jawab Arka dengan senyum ramah yang sangat tulus.

Tak ada satu pun orang yang menyangka bahwa pria ini semalam baru saja melucuti keris ghaib paling ditakuti di Jawa Timur.

Saat Arka sedang menyeka keringat, sebuah mobil dinas kepolisian dengan sirine yang mati berhenti tepat di depan tokonya. CIIIIIT!

DAP! DAP! DAP!

Dua orang polisi berpangkat bintara turun, diikuti oleh seorang pria paruh baya dengan seragam perwira menengah, seorang Komisaris Polisi (Kompol) dengan wajah yang kaku dan mata yang dingin.

Arka segera berdiri, meletakkan kuasnya. Ia menunduk sopan, menunjukkan sikap "rakyat kecil" yang segan pada aparat.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arka dengan nada sedikit gemetar yang dibuat-buat.

Kompol itu, namanya Kompol Wijaya, menatap Arka dari atas ke bawah. Ia melihat perban di tangan Arka. "Kau Arka Nirwana? Pemilik ruko ini?"

"Iya, Pak. Benar."

"Kami menerima laporan tentang keributan di gudang lereng Gunung Banyak semalam. Beberapa saksi menyebutkan melihat motor Honda CB tua, seperti milikmu itu ada di lokasi kejadian,"

Wijaya menunjuk motor butut Arka yang terparkir di samping ruko.

Arka memasang wajah pucat. HAAH... HAAH... Napasnya dibuat tersengal ketakutan. "Gudang? Saya... saya memang ke sana semalam, Pak."

"Tapi saya ke sana cuma mau minta uang saya balik yang dicopet preman-preman itu di pasar. Tapi begitu saya sampai, gudangnya sudah sepi. Orang-orangnya sudah pada pingsan semua. Saya ketakutan, jadi saya langsung pulang."

Kompol Wijaya mendekat, aura intimidasinya sangat kuat. BRAKK!  "Jangan bohong. Tuan Jagad melapor bahwa dia diserang oleh seorang ahli bela diri. Dan kau... tanganmu terluka. Bagaimana kau menjelaskan itu?"

Arka menunjukkan telapak tangannya yang diperban dengan ekspresi sedih. "Ini luka kena paku pas saya benerin rak buku yang dirusak mereka kemarin pagi, Pak."

"Bapak bisa tanya Pak RT, beliau yang bantu saya bersihin ruko kemarin. Saya mana berani lawan Tuan Jagad, Pak. Saya ini cuma tukang buku, lari saja saya sudah ngos-ngosan."

Pak RT yang berdiri di sampingnya langsung membela. "Benar, Pak Kompol! Mas Arka ini orangnya pendiam, sabar banget."

"Kemarin saja pas rukonya mau digusur, dia cuma diam saja sampai Jenderal Wironegoro datang. Mana mungkin dia berani hajar preman-preman sangar itu?"

Wijaya mendengus. Huft!  Ia melihat ke arah ruko Arka yang sederhana. Logikanya mengatakan tidak mungkin pria kurus dengan tangan gemetar ini adalah pelakunya.

Namun, instingnya sebagai orang yang dibayar oleh Lembah Hitam mengatakan ada yang tidak beres.

"Ikut kami ke kantor. Kami butuh keterangan lebih lanjut," perintah Wijaya.

"Tapi Pak... anak saya sebentar lagi pulang sekolah. Siapa yang jemput?" Arka memelas.

"Itu urusanmu. Bawa dia!" Wijaya memberi kode pada anak buahnya.

Arka tidak melawan. Ia membiarkan dirinya digiring masuk ke mobil polisi. Di dalam hatinya, ia tersenyum. Ini adalah bagian dari rencananya. Ia butuh masuk ke "dalam" untuk menanamkan benih kehancuran bagi sistem yang korup ini.

***

Di ruang interogasi Polres, suasananya sangat menekan. HUMMMMM... Lampu neon yang terang menyorot tepat ke wajah Arka. Kompol Wijaya duduk di depannya, menghisap rokok dalam diam.

"Dengar, Arka. Kami tahu siapa kau sebenarnya. Kau mantan suami Siska Adiningrat, kan? Kau dendam karena keluargamu dihancurkan oleh mereka, lalu kau main hakim sendiri pada orang-orang Tuan Jagad yang berafiliasi dengan Adiningrat," Wijaya melempar sebuah map ke meja.

Arka hanya menunduk, memainkan jari-jarinya yang gemetar di bawah meja. "Saya tidak dendam, Pak. Saya sudah ikhlas. Saya cuma mau hidup tenang sama Dafa."

"Bohong!" DUM!  Wijaya menghantam meja. "Saksi bilang kau membawa chip memori dari kantor Jagad! Di mana chip itu?!"

Arka gemetar. DRRRRR... "Chip apa, Pak? Saya nggak tahu teknologi kayak gitu. Saya HP saja masih yang layar retak begini." Arka mengeluarkan ponsel murahnya yang layarnya memang hancur.

Wijaya merasa seperti bicara dengan dinding. Ia tahu Arka menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak punya bukti fisik. Setiap kali ia mencoba menekan, Arka selalu merespons dengan ketidakberdayaan yang sangat meyakinkan.

Namun, yang tidak diketahui Wijaya adalah, selama interogasi berlangsung, Arka sedang melakukan sesuatu yang lain.

Melalui kontak fisik singkat saat ia digiring tadi, Arka telah menyalurkan 0,1% Segel Udara ke dalam aliran darah Wijaya, sebuah teknik "Bisikan Angin" yang akan membuat Wijaya merasa sangat gelisah jika ia berbohong atau menerima suap.

"Kau boleh pulang sekarang karena belum ada bukti kuat. Tapi ingat, jangan coba-kali keluar dari kota ini," ancam Wijaya.

Arka membungkuk sopan berkali-kali. "Terima kasih, Pak. Terima kasih. Saya permisi jemput anak saya."

Arka keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai, tampak seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Namun, begitu ia sampai di gang sepi menuju sekolah Dafa, langkahnya mendadak tegap.

Ia merogoh saku rahasia di dalam jaketnya, mengeluarkan chip memori yang asli. PIB-PIB-PIB-KLIK.  Ia menekan sebuah kode di ponsel murahnya. Tak lama kemudian, sebuah suara berat menjawab dari seberang sana.

"Lapor, Gusti," ucap suara itu. Itu adalah Jenderal Wironegoro.

"Interogasi selesai, Jenderal. Kompol Wijaya sudah terkontaminasi. Dia akan segera menghubungi 'pusat' Lembah Hitam karena panik. Lakukan penyadapan pada semua jalur komunikasinya sekarang."

"Chip memori akan saya letakkan di kotak pos biasa di depan sekolah Dafa. Ambil dalam sepuluh menit," perintah Arka. Suaranya kini dingin, penuh otoritas, sangat jauh dari "Mas Arka" yang memelas di ruang interogasi tadi.

"Siap, Gusti. Bagaimana dengan Tuan Jagad?"

"Dia hanya umpan. Fokus pada Tuan Dharma, bos besar di balik Lembah Hitam yang mengendalikan birokrasi Jawa Timur. Aku ingin dia merasa bahwa dunianya sedang runtuh secara perlahan, tanpa tahu siapa yang mendorongnya."

***

Sore harinya, Arka kembali ke toko buku. Ia melihat Reyna sedang menemani Dafa mengerjakan PR di meja kasir. Suasana tampak begitu damai, seolah badai besar tidak sedang mengintai di luar sana.

"Bagaimana di kantor polisi?" tanya Reyna tanpa menoleh.

"Membosankan. Mereka terlalu banyak merokok di ruang tertutup," jawab Arka sambil menggendong Dafa. "Tapi benihnya sudah ditanam. Besok pagi, Kompol Wijaya akan mulai merasakan kegelisahan yang luar biasa."

Malam itu, Arka tidak beristirahat. Ia masuk ke ruang bawah tanah tokonya yang tersembunyi di balik rak buku sejarah.

Di sana, ia melakukan latihan fisik yang lebih ekstrim. Ia menggantung tubuhnya di langit-langit hanya dengan menggunakan ujung jari tengahnya, menahan beban tubuhnya selama berjam-jam.

KRING! KRING! KRING!

Bel pintu toko berbunyi di tengah malam. Arka segera turun, waspada namun tetap tenang. KREEEEKKKK. Begitu ia membuka pintu, ia tidak menemukan preman.

Ia menemukan seorang wanita cantik dengan pakaian formal yang sangat mahal, rambutnya tertata rapi, namun wajahnya tampak hancur oleh tangisan.

Itu adalah Ajeng, mantan kekasih Arka yang dulu mengkhianatinya demi pria kaya di Singapura. Wanita yang dulu menghina Arka sebagai "sampah yang tak punya masa depan".

BRUK!

"Arka... tolong aku..." bisik Maya, suaranya parau. Ia langsung ambruk di depan pintu toko Arka.

Arka berdiri mematung. Ia tidak segera menolong. Ingatannya kembali pada saat Ajeng membuang cincin pemberiannya ke selokan dan tertawa bersama pria-pria kaya itu. Namun, sebagai Satria Piningit, emosi pribadinya harus ditekan.

Arka membungkuk, membantu Ajeng duduk di kursi teras. "Apa yang dilakukan seorang sosialita kelas atas di toko buku loak tengah malam begini, Ajeng?"

Ajeng menatap Arka dengan mata yang bengkak. "Mereka... Lembah Hitam... mereka menculik suamiku. Mereka bilang suamiku berhutang pada Tuan Dharma. Dan mereka bilang, hanya kau yang bisa menyelamatkannya."

Arka mengerutkan kening. "Aku? Aku hanya penjual buku. Kenapa mereka bilang begitu?"

"Aku tidak tahu! Mereka bilang kau punya 'sesuatu' yang diinginkan Tuan Dharma. Jika aku tidak membawamu ke Villa Lembah Hitam malam ini, mereka akan mengirimkan kepala suamiku dalam kotak!" Ajeng memegang tangan Arka yang diperban, memohon dengan sangat hina.

Arka menarik tangannya dengan halus. Ia tahu ini adalah jebakan. Tuan Dharma ingin menguji apakah benar Arka hanyalah penjual buku atau "naga yang menyamar".

Menggunakan Ajeng sebagai umpan adalah taktik yang cerdik, memanfaatkan masa lalu Arka untuk memancing emosinya.

"Pulanglah. Aku tidak bisa membantumu," ucap Arka dingin.

"Arka! Aku tahu aku dulu jahat! Aku tahu aku menghianatimu! Tapi tolong... ini soal nyawa manusia!" teriak Ajeng histeris.

Tiba-tiba... SYUUUUUTTTTT-BRAAAKKK!

Dari kegelapan di seberang jalan, sebuah lampu tembak mobil menyala terang, menyilaukan mata mereka. Sebuah suara lewat pengeras suara terdengar.

"Mas Arka... sepertinya tamu spesialmu butuh bantuan segera. Atau kau lebih suka kami yang masuk ke dalam dan menjemput anak kecil yang sedang tidur itu?"

Arka merasakan desiran panas di punggungnya. Segel Bumi miliknya berdenyut kencang. Mereka telah melintasi garis batas. Mereka mengancam Dafa lagi.

"Reyna, kunci pintu," ucap Arka tanpa menoleh. TAP. TAP. TAP.

Ia melangkah turun dari teras, menuju cahaya terang itu. Ia berjalan dengan tangan yang masih diperban, tampak sangat kecil di hadapan deretan mobil mewah yang menutup jalanan.

"Ajeng, masuk ke dalam," perintah Arka.

"T-tapi mereka mau kamu, Arka!"

"Aku tahu." Arka berdiri di tengah jalan. Dari mobil paling depan, turun seorang pria dengan setelan jas putih bersih, memegang tongkat dengan kepala naga emas. THAK! Tongkat naga emasnya menghantam aspal. Itu adalah Tuan Dharma, sang penguasa Lembah Hitam yang sesungguhnya.

"Satria Piningit... atau Mas Arka si penjual buku?" Dharma tersenyum tipis. "Aku sudah menunggu lama untuk melihat siapa yang berani menyentuh keris kesayanganku."

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melepas perban di tangannya yang sudah mulai sembuh secara ajaib.

Di bawah sinar lampu mobil, telapak tangan Arka tampak bersih tanpa luka sedikit pun, padahal baru beberapa jam lalu Pak RT melihatnya berdarah-darah.

Dharma menyipitkan mata. "Penyembuhan instan? Menarik. Tapi apakah kau bisa sembuh dari ini?"

Dharma memberi isyarat tangan. KLIK! KLIK! KLIK!  Seketika, puluhan pria bersenjata api muncul dari balik pohon-pohon di pinggir jalan, semuanya mengarahkan moncong senjata ke arah ruko Arka.

"Pilih, Arka. Kau ikut kami secara sukarela, atau ruko ini akan kami jadikan kuburan bagi anakmu dan wanita-wanita itu dalam sepuluh detik," ucap Dharma dengan nada yang sangat sopan namun mematikan.

Arka menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah jendela lantai dua, di mana ia tahu Dafa sedang tidur. Ia kemudian menatap Dharma.

"Sepuluh..." Dharma mulai menghitung. "Sembilan..."

Arka mengepalkan tangannya. Ia merasakan belenggu di sukmanya menderu. Ia harus membuat pilihan yang sangat sulit.

Melindungi identitasnya dan membiarkan rukonya ditembaki, atau melepaskan 5% Segel Bumi di depan umum dan membiarkan seluruh dunia tahu bahwa sang Satria Piningit telah bangkit.

"Dua..." Dharma tersenyum penuh kemenangan. "Satu..."

KLIK! (Suara pelatuk ditarik serentak).

Namun, sebelum peluru pertama keluar, Arka melakukan sesuatu yang tidak disangka oleh siapa pun. Ia tidak menyerang. Ia justru berlutut di tengah jalan, meletakkan telapak tangannya di aspal.

"Maafkan aku, Bumi Nusantara... aku harus meminjam sedikit kekuatanmu tanpa ijin," bisik Arka.

DUMMMMMM!!!

Seketika, bumi di bawah kaki mereka bergetar hebat. Bukan gempa bumi biasa, tapi getaran frekuensi tinggi yang membuat seluruh mesin mobil mendadak mati dan seluruh senjata api di tangan para preman itu mendadak macet secara permanen.

Di tengah kebingungan itu, Arka berdiri perlahan. Tubuhnya kini dikelilingi oleh debu-debu halus yang melayang secara aneh.

"Tuan Dharma," ucap Arka, suaranya kini bergetar seperti suara ribuan gunung yang berbicara. "Kau ingin aku ikut? Baiklah. Tapi kau tidak akan menyukai tempat yang akan kutunjukkan padamu."

Tiba-tiba, dari arah belakang Arka, muncul puluhan bayangan hitam yang bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia.

Mereka bukan preman, bukan polisi. Mereka adalah Pasukan Wironegoro yang sudah mengepung tempat itu secara senyap.

Pertempuran besar di tengah kota Batu hampir pecah, namun di saat yang sama, sebuah pesan masuk ke ponsel Tuan Dharma. Wajah Dharma yang tadi tenang, mendadak berubah menjadi biru kehijauan saat membaca pesan itu.

"Ini... tidak mungkin! Bagaimana bisa?!" Dharma berteriak histeris, menatap Arka dengan ketakutan yang tak terkendali.

"Apa isinya, Tuan Dharma?" tanya Arka dengan nada dingin. "Apakah itu berita bahwa seluruh aset perbankanmu di luar negeri baru saja dikosongkan oleh 'hantu' digital?"

Dharma gemetar. Ia menyadari satu hal yang sangat terlambat: Ia tidak sedang berhadapan dengan penjual buku. Ia sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki kendali atas dunia nyata dan dunia ghaib sekaligus.

Namun, di tengah kepanikan itu... DORRRRRRR!!!

Sebuah tembakan tunggal meletus dari arah kegelapan hutan. Bukan ke arah Arka, bukan ke arah Dharma. Peluru itu melesat tepat ke arah jendela lantai dua ruko Arka. Ke arah kamar Dafa.

"TIDAK!" Arka berteriak, suaranya menggetarkan langit malam.

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!