NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Kembalinya Sang pewaris.

Michelle duduk manis di antara kedua suaminya. Dengan penuh kelembutan, ia menyuapi Mahendra dan Dika secara bergantian, senyum tipis terukir di bibirnya setiap kali keduanya mencuri pandang padanya. Suasana di ruang makan itu hangat, seolah dunia luar tak lagi penting.

Namun ketenangan itu pecah ketika suara bel menggema.

“Ting… tong…”

Seorang pelayan muncul dan membungkuk sopan.

“Tuan, ada seorang wanita yang mencari Anda.”

Wajah Mahendra langsung mengeras.

“Siapa yang berani mencariku tanpa izin? Untuk apa?” tanyanya dengan nada sedingin es.

“Saya tidak tahu, Tuan.”

“Baik. Suruh dia masuk.”

Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu. Hanya dalam hitungan detik, dua sosok masuk Liora dan John berjalan sejajar, penuh wibawa. Aura mereka seketika memenuhi ruangan.

Tatapan Liora langsung tertuju pada putranya yang sedang duduk nyaman di pangkuan Mahendra dan Dika. Putranya… yang kini memeluk leher kedua pria itu seperti anak kecil mencari perlindungan.

“Siapa kau? Untuk apa kau datang mencariku?” tanya Mahendra tajam.

“Aku ingin bicara dengan pemuda yang kau pangku itu,” ujar Liora, suaranya bergetar di balik ketegasan.

Lalu ia menatap Michelle putranya.

“Dirgantara, sayang… ini ibumu.”

Michelle menatapnya lama, matanya kosong.

“Siapa kau? Aku tidak merasa punya seorang ibu.”

Ucapan itu menghantam hati Liora seperti palu godam.

“Dan namaku bukan Dirgantara. Aku Michelle. Aku tidak ingat pernah punya nama lain.”

Tiba-tiba, Michelle memegangi kepalanya.

“Dirgantara… Dirgantara…” bisiknya lirih, seolah mencoba mengingat sesuatu yang jauh.

Ingatan- ingatan lama muncul seperti kilatan cahaya.

“Ayah memang jago masak… Boys, jangan remehkan ayah…”

“Apa Ibu boleh ikut makan? Harum sekali sop buatanmu, Mas…”

Gambar-gambar masa kecilnya bermunculan tanpa ampun.

“Akh… kepalaku… sakit…”

Tubuh Michelle limbung.

Mahendra panik. “Michelle! Apa yang terjadi?”

Saat itulah, anak buah Liora bergerak cepat. Ketika Mahendra dan Dika sedang fokus pada Michelle, suntikan obat tidur melayang dan menembus kulit mereka. Keduanya langsung roboh tak sadarkan diri.

Liora tak membuang waktu.

“Bawa mereka ke markas. Kita akan interogasi mereka,” perintahnya.

Michelle atau Dirgantara —akhirnya ikut kehilangan kesadaran. John menggendong putra mereka dengan hati-hati dan bersama Liora meninggalkan mansion Mahendra dengan rencana yang telah disusun matang selama berhari-hari.

Beberapa jam kemudian, mereka telah berada di pesawat pribadi menuju mansion keluarga Anderlecht, tempat Heron menunggu dengan gelisah.

Saat mereka tiba, Heron segera menyambut.

“Liora, Nak… bagaimana? Apa kamu berhasil?”

Liora mengangguk sambil menahan amarah dan takutnya.

“Dirgantara sudah kembali kepada kita. Tapi… sepertinya ia belum sepenuhnya mengingat.”

Dirgantara yang masih pingsan dibaringkan di sofa besar. Namun di dalam benaknya, kenangan masa kecil tiba-tiba meraung, memanggilnya kembali.

“Dirgantara, jangan lari-lari, Nak…”

Ia teringat kakeknya, Heron, yang mengangkatnya tinggi-tinggi. Ingatan itu hangat… terlalu hangat untuk diabaikan.

Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya yang masih terpejam.

Tidak lama kemudian, kelopak matanya terbuka pelan. Pandangannya buram, tetapi hatinya seperti menemukan sesuatu yang hilang.

“Ibu…” bisiknya.

Suara itu bergetar, seolah pecah dari dinding-dinding ingatan yang runtuh.

“Ibu… ibu…”

Liora terdiam, lalu tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya ia menangis. Ia langsung memeluk putranya dengan seluruh kekuatan yang ia punya.

“Putraku… Dirgantara…”

Ia menangis seperti seorang ibu yang bertahun-tahun kehilangan anaknya.

John mendekat.

“Boys…”

Dirgantara bangkit dan memeluk ayahnya.

“Ayah… maafkan Dirgantara…”

“Kau tidak bersalah, Nak… Ini semua kesalahan kami.”

Heron memanggil lembut.

“Ceritakan semuanya, cucuku.”

Dirgantara menjelaskan dengan perlahan dan jelas — tentang Mahendra, tentang Dika, tentang kebingungannya, amnesia, dan bagaimana ia terjebak dalam situasi yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. Semua mendengar dalam diam yang pekat.

“Untuk apa mereka menculikmu?” tanya Heron.

“Mungkin… mereka ingin menguji Ibu,” jawab Dirgantara, suara hampir tak terdengar. “Ingin tahu apakah Ibu sanggup kehilangan aku.”

Tetapi setelah itu, Dirgantara mengucapkan sesuatu yang membuat semua terdiam.

“Ibu… aku ingin kembali kepada kedua suamiku. Aku mencintai mereka. Tolong… jangan sakiti mereka.”

Ruangan hening.

Dirgantara menatap Liora, memohon sepenuh hati.

“Ibu… aku mohon…”

Liora menutup mata, menahan gejolak yang hampir meledak. Setelah beberapa detik, ia membuka mata dan berkata perlahan:

“Baiklah. Temui mereka. Ibu tidak akan menghalangimu. Tapi ingat—jika mereka menyakitimu… Aku akan menghancurkan mereka.”

“Iya, Bu. Terima kasih…”

Dengan cepat, Dirgantara pergi ke tempat Mahendra dan Dika ditahan. Ia membuka ikatan mereka, mengangkat tubuh keduanya masuk mobil, dan membawa mereka ke pesawat pribadi yang langsung terbang kembali ke Thailand.

Sesampainya di sana, Riki sudah menunggu.

Dirgantara duduk di kursi belakang sambil mencengkeram tangan kedua suaminya. Beberapa menit kemudian, Mahendra dan Dika mulai sadar.

“Kita… ada di mana, Michelle?” tanya Dika yang masih bingung.

“Kita pulang,” jawab Michelle lembut. “Ke Thailand. Ke rumah kita. Ke dunia kita.”

Dika tersenyum dan mengecup keningnya. Mahendra menyusul dengan kecupan lembut di bibirnya.

“Kau kembali kepada kami,” bisik Mahendra.

“Itu pilihanku. Aku mencintai kalian.”

Dirgantara mencium keduanya bergantian, sementara Mahendra dan Dika saling bertukar senyum penuh makna.

“Lihat saja nanti, Baby,” ujar Mahendra sambil mencubit pelan dagunya. “Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan seminggu.”

Dirgantara tertawa kecil.

“Aku menantikannya.”

Ketiganya tertawa bersama, hangat dan penuh cinta.

Dirgantara lalu menyandarkan kepala di dada kedua suaminya. Dalam dekapan itu, ia tertidur dengan damai.

“Kami mencintaimu, Baby…” bisik mereka bersamaan.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!