NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Sikap Dingin Ada Rasa Takut Kehilangan

Sejak kejadian memalukan dan penuh emosi di hotel beberapa hari lalu, suasana di dalam rumah keluarga Sterling berubah menjadi sangat dingin dan kaku. Dua sosok yang dulunya sering bersitegang namun tetap saling bicara, kini seolah menjadi dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Ziva dan Kevin sama-sama memilih diam, saling menghindar, dan tidak pernah menyapa satu sama lain lagi. Jika bertemu di lorong, mereka hanya melewati dengan wajah datar, mata menatap lurus ke depan seolah tidak melihat ada orang lain. Kebekuan hubungan itu terasa begitu jelas hingga bisa dirasakan oleh siapa saja yang ada di rumah itu.

Malam itu, di ruang makan yang luas dan mewah, keheningan masih terasa menyelimuti. Hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar sesekali memecah keheningan. Di ujung meja duduk pasangan suami istri, James dan Victoria, yang dari tadi memperhatikan tingkah laku anak-anak mereka dengan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran. Mereka bisa merasakan ketegangan yang tebal mengudara, terlebih antara putra kedua mereka, Kevin, dan putri kembar yang baru saja kembali, Ziva.

Victoria akhirnya meletakkan sendoknya perlahan, menatap keduanya bergantian dengan tatapan lembut namun penuh selidik.

"Sebenarnya selama kami pergi ke luar negeri, apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?" tanya Victoria lembut namun tegas, suaranya memecah keheningan malam itu. "Mama perhatikan... ada yang tidak beres. Terutama antara kamu Kevin, dan juga kamu Ziva. Kalian berdua... sepertinya sedang bertengkar hebat ya? Kenapa jadi begini? Biasanya kalian memang sering beda pendapat, tapi tidak sampai sedingin ini."

Daniel yang duduk di sebelah ibunya langsung mengangkat wajah, memberikan senyum tipis yang berusaha terlihat wajar, berniat menutupi segalanya agar kedua orang tuanya tidak cemas.

"Ah, Mama jangan khawatir berlebihan begitu," jawab Daniel santai sambil mengaduk sup di depannya. "Hanya kesalahpahaman kecil biasa kok. Nanti juga selesai sendiri, tidak ada masalah serius. Kevin memang lagi banyak pikiran, Ziva juga sedang lelah, makanya suasananya agak kaku sedikit saja."

Victoria mengangguk ragu, namun percaya saja pada penjelasan putra sulungnya. Namun, tiba-tiba James yang sedari tadi diam dan tenang berbicara, menatap Ziva dengan penuh perhatian.

"Ngomong-ngomong Ziva, soal pria yang berada di kamarmu... dia sudah tidak mengganggumu lagi kan?" tanya James santai, namun pertanyaan sederhana itu seolah melempar bom ke tengah meja makan.

Seketika, kedua mata Kevin dan Ziva saling bertemu pandang. Di dalam tatapan itu, terselip rasa marah, rasa malu, dan ketegangan yang belum usai.

Melihat reaksi keduanya, sudut bibir Kevin terangkat sedikit, membentuk senyum penuh kemenangan yang licik. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya sendirian. Ia ingin kedua orang tuanya tahu, agar mereka juga ikut menegur Ziva.

"Mengganggu? Itu kata yang terlalu ringan, Yah," ucap Kevin dengan nada santai namun penuh sindiran tajam, membuat semua mata tertuju padanya. "Mungkin bukan sekadar mengganggu lagi, Yah. Bisa jadi sebentar lagi dia akan menjadi calon menantu Ayah dan Mama. Bahkan mungkin lebih cepat dari yang kalian bayangkan."

"Apa maksudmu, Kevin?" tanya Victoria kaget, wajahnya berubah cemas.

Kevin menatap tajam ke arah Ziva, seolah ingin menusuk hati adiknya itu. "Maksudku, mereka sudah cukup akrab. Bahkan... Ziva sudah tidur bersamanya sampai dua kali. Kalau bukan pacar, lalu apa lagi hubungannya? Tidak salah kan Ziva? Dia bukan pacar, tapi sudah berani melakukan hal sedekat itu?"

"APA?!!"

Terik kaget meledak serentak dari mulut James dan Victoria. Wajah mereka seketika memucat pasi, mata mereka terbelalak tak percaya menatap putri yang baru saja mereka temukan kembali itu. Syok, kaget, dan rasa khawatir bercampur menjadi satu.

"Ziva... apa benar itu yang dikatakan Kevin?!" tanya Victoria dengan suara gemetar, air matanya sudah mulai menggenang.

Melihat keadaan mulai tidak terkendali dan wajah kedua orang tuanya yang mulai terlihat pucat dan syok, Daniel segera bertindak cepat. Ia tahu, kesehatan orang tuanya tidak boleh terganggu karena hal ini, apalagi usia mereka sudah tidak muda lagi.

"Sudah, sudah! Jangan dipikirkan dulu, kalian pasti lelah setelah makan. Ayo, Ayah, Mama, biar saya antar istirahat dulu ke kamar. Nanti kita bicarakan lagi kalau suasana sudah tenang," kata Daniel cepat, ia langsung memapah kedua orang tuanya berdiri dan membawa mereka keluar dari ruang makan, menjauh dari ketegangan yang ada di sana.

Setelah memastikan orang tuanya sudah masuk ke kamar dan tenang, Daniel kembali turun dan duduk di kursi utama ruang tamu, menunggu kedua adiknya. Wajahnya yang biasanya lembut kini berubah serius dan tegas.

"Kevin," panggil Daniel dingin. "Sikapmu semakin hari semakin keterlaluan. Apa yang baru saja kamu katakan itu? Kamu sadar tidak kalau ucapanmu itu secara tidak langsung menyakiti hati Ziva dan membuat orang tua kaget sampai seperti tadi? Dia itu adik kandungmu, darah daging kita sendiri. Sebagai kakak, seharusnya kamu mengalah, mengerti, dan melindungi dia, bukan malah mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu yang menyakitkan seperti itu terus-menerus."

Kevin berdiri tegak, menatap kakak sulungnya dengan tatapan yang sedikit mereda namun masih penuh keyakinan.

"Maka dari itu, Kak," jawab Kevin, nadanya sedikit melunak, namun isinya tetap tegas dan tulus. "Justru karena dia adik kandungku, justru karena aku sangat menyayanginya, aku tidak ingin Ziva terkecoh dan masuk ke dalam sarang pria brengsek yang tidak bertanggung jawab. Aku menjaga dia dengan caraku yang keras ini, karena aku takut. Kak, kita sudah kehilangan dia puluhan tahun lamanya. Bertahun-tahun kita hidup dengan rasa kehilangan dan penyesalan. Dan baru saja kita berkumpul kembali, baru saja kita merasa lengkap, tiba-tiba dia akan diambil oleh pria lain? Dia akan menikah dan pergi meninggalkan rumah ini? Apa kamu rela, Daniel? Apa kamu sanggup melihatnya pergi begitu saja baru sebentar kembali?"

Kalimat itu menohok tepat di dada Daniel. Ia terdiam, tak sanggup menjawab.

Dan kalimat itu juga terdengar jelas di telinga Ziva yang sedari tadi diam duduk di meja makan mendengarkan percakapan mereka. Hati Ziva yang tadinya penuh amarah dan rasa kesal perlahan luluh seketika. Ia tidak menyangka... di balik ketegasan yang menyiksa, di balik sikap dingin dan keras kepala Kevin, ternyata tersimpan rasa takut kehilangan yang begitu besar. Ternyata semua larangan, semua aturan ketat, semua kecemburuan itu bukan karena dia ingin menguasai hidupnya, melainkan karena dia tidak mau kehilangan anggota keluarga yang baru saja ditemukannya kembali. Dia takut Ziva pergi, takut Ziva meninggalkan mereka lagi.

"Tapi dia sudah dewasa, Kevin. Dia berhak memilih jalan hidupnya sendiri," sahut Daniel pelan, akhirnya bisa bicara.

"Terserah kalianlah, aku sudah selesai makan!" seru Kevin tiba-tiba dengan nada tinggi, ia langsung bangkit dari kursi dengan kasar dan berjalan cepat keluar rumah, menuju taman belakang. Ia merasa sesak di dada jika harus berlama-lama di sana.

Melihat punggung kakaknya yang menjauh, hati Ziva bergetar. Instingnya berkata, ia tidak boleh membiarkan jarak ini semakin melebar. Ia harus meluruskan semuanya, ia harus menyadarkan kakaknya bahwa rasa takut itu tidak berdasar.

Tanpa pikir panjang, Ziva segera berlari menyusul ke luar rumah.

Ia mencari keberadaan Kevin di setiap sudut taman yang luas itu, hingga akhirnya ia menemukannya duduk sendirian di sebuah bangku batu di pojok paling sepi, di bawah pohon rindang yang besar. Di sana, Kevin sedang duduk menunduk, tangannya memegang sebatang rokok yang sedang dihisapnya pelan, asap putih mengepul perlahan di udara malam yang dingin.

Ziva melangkah mendekat perlahan, langkahnya lembut, tidak ada lagi rasa marah atau benci di dalam hatinya. Ia duduk di sebelah kakaknya itu.

"Kak..." panggil Ziva lembut, suaranya begitu halus hingga terdengar seperti bisikan angin.

Kevin menoleh sedikit, matanya masih terlihat merah padam menahan emosi, namun ia diam saja.

"Kak, aku datang kemari untuk meluruskan semuanya," kata Ziva pelan namun tegas, menatap wajah kakaknya itu dalam-dalam. "Hubunganku dengan Arsen... tidak seperti yang Kakak pikirkan, dan tidak seperti yang Kakak katakan tadi di depan Ayah dan Mama. Hubungan kami murni hanya saling membantu. Saat pertama kali bertemu, aku yang menolong dia saat dia terluka, dan dia berjanji akan mentraktirku makan sebagai balasan terima kasih. Tapi saat makan malam itu, dia diracun dan dibius oleh orang jahat, dia butuh pertolongan, dan aku ada di sana. Aku menjadi penawar baginya karena tidak ada jalan lain. Dan kejadian kedua di hotel itu... giliranku yang diracun, dan dia yang datang menolongku, dia yang menjadi penawarku. Kami berdua tidak saling terikat janji apa pun, kami tidak pacaran, tidak ada hubungan khusus. Jadi tolong tenangkan dirimu, Kak. Aku tidak akan sembarangan memberikan diriku pada sembarang pria, dan aku tidak akan pergi semudah itu dari rumah ini."

Penjelasan yang jujur dan tulus itu masuk ke dalam telinga Kevin, menembus pertahanan keras hatinya. Kevin mematikan rokoknya, membuang jauh ke dalam asbak batu di sampingnya. Ia menatap Ziva, matanya perlahan berkaca-kaca.

"Kau tahu Ziva..." suara Kevin terdengar serak dan berat, penuh rasa emosi yang tertahan. "Membayangkan dirimu menikah, membayangkan kamu pergi meninggalkan rumah ini dan hidup bersama pria lain... rasanya dadaku sesak sekali. Rasanya sakit dan sedih luar biasa. Kamu baru saja ditemukan kembali, baru sebentar kita berkumpul, rasanya belum cukup rasanya belum puas aku melihatmu di sini. Asal kamu tahu, Ziva... waktu itu, saat kamu dan Zio baru saja lahir, aku masih kecil, tapi aku sangat bahagia dan bangga sekali. Aku punya adik kembar, dan salah satunya perempuan. Aku berjanji dalam hati akan selalu melindungimu. Tapi kemudian... yang dibawa pulang bukan kamu, melainkan orang lain. Saat itu aku sangat marah, sangat kecewa, dan sedih. Bertahun-tahun aku selalu bertanya di mana kamu, selalu mencari keberadaanmu. Hingga akhirnya takdir mempertemukan kita kembali. Dan sekarang... aku tidak mau, aku tidak sanggup kehilanganmu lagi untuk kedua kalinya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Setelah mengucapkan itu, Kevin tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia menarik tubuh Ziva dan memeluknya dengan sangat erat, seolah takut jika dilepas gadis itu akan lenyap lagi. Dan di saat itu juga, tanpa sadar, air mata pria yang gagah dan kuat itu akhirnya jatuh juga, membasahi bahu baju Ziva. Tangis yang tertahan puluhan tahun akhirnya pecah juga.

"Maafkan aku ya Ziva... maafkan aku kalau selama ini sikapku terlalu keras, terlalu mengekang, dan menyakitkanmu. Aku cuma takut... aku cuma takut kehilanganmu lagi..." bisik Kevin parau di telinga adiknya.

Ziva membalas pelukan itu dengan lembut, tangannya mengelus punggung kakaknya dengan penuh kasih sayang dan pengertian. Ia baru menyadari, betapa besar rasa sayang yang tersimpan di balik sikap dinginnya itu.

"Aku juga minta maaf, Kak. Aku yang tidak mengerti perasaan Kakak. Maafkan aku..." bisik Ziva lembut.

Di bawah sinar bulan yang lembut, di taman yang sepi itu, permusuhan dan kebekuan akhirnya mencair, digantikan oleh kehangatan kasih sayang kakak beradik yang tulus.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!