Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Gadis Desa
Bab 34: Seorang Gadis Desa
Langkah Yan Yuxing mantap saat memasuki ruangan.
Aura dingin langsung memenuhi udara, seolah suhu di dalam ruangan turun beberapa derajat.
Tatapannya jatuh tepat pada sosok pria yang masih memeluk Su Yelan dan pada lengan yang melingkar di pinggang wanita itu.
Sorot matanya… dalam.
Tenang.
Namun mengandung sesuatu yang berbahaya.
Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah mendekat.
Dan di detik berikutnya
Dengan gerakan cepat dan tegas, Su Yelan ditarik keluar dari pelukan Yan Tianming… lalu berpindah ke dalam pelukannya sendiri.
Segalanya terjadi begitu cepat.
Seolah-olah… itu adalah sesuatu yang sudah menjadi haknya sejak awal.
Su Yelan tertegun.
Aroma familiar itu langsung menyelimutinya hangat, menenangkan, dan membuat jantungnya berdebar tanpa kendali.
Sementara itu, suara Yan Yuxing terdengar dingin namun tajam,
“Pangeran Kesembilan… bukankah kau seharusnya berada di Fengyang?”
Nada suaranya datar.
Namun setiap kata terasa seperti tekanan yang menyesakkan.
“Mengapa tiba-tiba muncul di ibu kota?”
Yan Tianming sedikit menyipitkan mata.
Pelukan yang tadi ia rasakan menghilang begitu saja, digantikan oleh pemandangan yang membuat sudut bibirnya menegang tipis.
Namun ia tidak langsung menunjukkan emosi.
Sebaliknya, ia tersenyum ringan.
“Kakak…” katanya santai, “sudah enam tahun kita tidak bertemu. Dan ini cara kau
menyambutku?”
Yan Yuxing mencibir tipis.
“Aku hanya ingin mendengar jawaban yang jujur… dari mulutmu.”
Udara di antara dua pria itu menegang.
Tak terlihat, tapi terasa tajam seperti bilah pisau.
Yan Tianming tertawa pelan.
“Apakah Kakak lupa? Dalam waktu dekat akan ada upacara penghormatan leluhur. Bukankah wajar bagiku sebagai keturunan keluarga kekaisaran untuk kembali?”
Yan Yuxing tersenyum dingin.
“Kalau kau benar-benar berniat berbakti… mengapa enam tahun terakhir aku tak pernah melihatmu muncul?”
Sejenak hening.
Lalu Yan Tianming menjawab dengan nada ringan,
“Karena dulu kesehatanku belum pulih. Sekarang aku sudah membaik, jadi aku ingin
menebusnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan
“Lagipula… aku juga mendengar bahwa penyakit mata Kakak sudah sembuh. Tentu aku ingin datang memberi selamat.”
“Begitu ya…”
Nada Yan Yuxing tetap tenang.
Terlalu tenang.
Namun ia tidak membongkar kebohongan itu.
Karena saat ini perhatiannya tidak lagi pada Yan Tianming.
Melainkan…
Pada wanita dalam pelukannya.
Selama beberapa hari ini
Kekhawatiran.
Amarah.
Ketakutan.
Semua bercampur menjadi satu.
Dan kini, saat melihat Su Yelan benar-benar ada di hadapannya… utuh… hidup…
Sesuatu di dalam dirinya akhirnya runtuh perlahan.
Tanpa berkata lagi, ia langsung membawa Su Yelan pergi dari kediaman Perdana Menteri
dengan alasan sederhana Kaisar muda, Yan Longquan, sedang sakit dan membutuhkan dirinya.
Namun semua orang tahu…
Itu hanya alasan.
Begitu mereka naik tandu menuju istana
Yan Yuxing tak lagi menahan diri.
Ia menarik Su Yelan mendekat.
Dan mencium bibirnya.
Dalam.
Kuat.
Seolah ingin memastikan bahwa wanita ini benar-benar miliknya… dan tidak akan hilang lagi.
“Mm…”
Su Yelan terkejut.
Namun hanya sesaat.
Karena detik berikutnya, ia merasakan kegelisahan yang tersembunyi di balik sikap pria itu.
Tangannya perlahan terangkat… memeluk bahu Yan Yuxing.
Membalas.
Hangat.
Lembut.
Namun penuh kerinduan yang selama ini ia tahan.
Ketika ciuman itu berakhir, napas mereka sama-sama tidak stabil.
Su Yelan ingin berbicara.
Menjelaskan.
Tentang Yan Tianming, tentang semua yang terjadi…
Ia tidak ingin kesalahan di masa lalu terulang lagi.
Namun Yan Yuxing menatapnya dalam, lalu berkata pelan,
“Aku percaya padamu.”
Tiga kata sederhana.
Namun cukup untuk menghentikan semua penjelasan di bibirnya.
Suara itu tulus.
Tanpa keraguan.
Tanpa prasangka.
Hati Su Yelan bergetar.
Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
Sepanjang perjalanan kembali
Ia menceritakan semuanya.
Dengan jujur.
Sementara Yan Yuxing mendengarkan dalam diam, matanya sesekali menggelap saat mendengar nama Yan Tianming disebut.
Sesampainya di istana, seorang anak kecil berlari keluar dengan langkah tergesa.
“Yelan Jiejie!”
Yan Longquan langsung memeluknya erat, tanpa peduli statusnya sebagai kaisar.
Tubuh kecil itu gemetar.
Menangis.
Su Yelan tertegun lalu segera membalas pelukan itu.
Air matanya jatuh tanpa sadar.
“Yang Mulia… aku kembali…”
Di samping mereka, Yan Yuxing menghela napas pelan.
Ia ingin menegur putranya karena menangis seperti itu.
Namun…
Melihat pemandangan itu
Hatinya justru terasa hangat.
Bukankah ini… yang selama ini ia inginkan?
Sebuah keluarga.
Utuh.
Tak lama kemudian, Yan Longquan mendekatkan bibirnya ke telinga Su Yelan dan berbisik nakal,
“Selama kau pergi… Ayah hampir tidak makan dan tidur.”
Ia tersenyum kecil.
“Aku tahu Ayah menyukaimu… dan aku juga menyukaimu.”
Matanya berbinar.“Jadi aku sudah minta izin kalau kau kembali… Ayah akan menikahimu dan menjadikanmu permaisuri!”
Wajah Su Yelan langsung memerah.
Ia tak menyangka anak sekecil itu akan berbicara seblak-blakan ini.
Secara refleks, ia melirik ke arah Yan Yuxing, yang sedang minum teh dengan tenang.
Namun saat mata mereka bertemu
Pria itu tersenyum samar.
Licik.
“Yelan,” katanya santai, “aku ingat… seseorang pernah berjanji sesuatu padaku di perjalanan dari Kuil Putuo.”
Nada suaranya lembut.
Namun penuh tekanan.
“Masih ingat?”
Jantung Su Yelan berdegup kencang.
Tentu saja ia ingat.
Ia… pernah berjanji akan menikah dengannya lagi.
Dan sekarang
Di hadapannya ada dua orang
Seorang kaisar…
Dan seorang ayahnya, Kaisar Xianghuang…
Jika ia berani menyangkal
Itu sama saja dengan menipu keluarga kekaisaran.
Sementara itu
Di sudut lain istana…
Di Istana Harpa Bertatahkan.
Zhao Ruxi gemetar karena amarah.
Ia mengira rencananya sempurna.
Ia yakin gadis itu sudah mati.
Namun kenyataannya
Su Yelan kembali.
Hidup.
Dan bahkan lebih dekat dengan Yan Yuxing.
Dengan tangan gemetar, ia menulis surat dan mengikatnya pada merpati pos.
Namun
Burung itu bahkan belum jauh terbang
Sudah ditangkap.
Tanpa ia sadari…
Sebuah jaring besar telah lama dipasang oleh Yan Yuxing.
Diam-diam.
Rapi.
Mematikan.
Dan saat surat itu dibuka
Semua rahasianya…
Terungkap.
Di ruang interogasi
Wajah Zhao Ruxi pucat.
Di hadapannya, Yan Yuxing berdiri dengan tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang paling menakutkan.
Dengan bukti di tangan
Ia tak bisa menyangkal lagi.
Air matanya jatuh.
“Sebelum aku mati…” suaranya gemetar, “aku hanya ingin tahu…”
Ia menatap pria itu dengan putus asa.
“Jika… Shen Lanruo tidak pernah ada…”
“Apakah… kau akan mencintaiku?”
Hening.
Lalu
Yan Yuxing tersenyum tipis.
Namun senyum itu… dingin.
“Zhao Ruxi,” suaranya pelan namun menusuk,
“kau lupa… alasan aku memilihmu dulu?”
Hati wanita itu hancur seketika.
Karena ia tahu jawabannya.
Sejak awal
Ia tidak pernah dipilih karena cinta.