Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pemeriksaan
Satu bulan misi pertama Laura yang ingin meluluhkan hati Gaharu dan mengembalikan sifat yang bahkan Laura saja tidak tahu, mulai sedikit demi sedikit membuahkan hasil.
Gaharu tidak lagi bersikap dingin, tidak melayangkan perkataan yang seolah-olah merendahkannya. Ya.. walaupun wajah pria itu masih terlihat datar saat melihatnya. Tapi setidaknya usahanya berjalan dengan lancar.
Rencananya kali ini adalah membawa Gaharu untuk kontrol rutinan ke rumah sakit perihal kakinya. Ia sedikit menggali informasi dari sekertaris Juan tentang permasalahan kakinya. Mencatat point-point penting tentang rekap medis yang masih tersimpan apik di tablet si sekertaris prosedur.
“Kenapa dia tidak datang saat jadwal pemeriksaan?”
“Tiga bulan tidak mendapatkan pemeriksaan, dia ini ingin sembuh tapi menunda-nunda pemeriksaan. Keras kepala,”
Laura bergumam sendiri sambil terus menggulir layar tablet di tangannya, matanya menyipit tajam menatap grafik kesehatan yang sempat terhambat di bulan-bulan sebelumnya. Ia tidak sadar bahwa di belakangnya, suara roda kursi yang berputar pelan telah berhenti.
Gaharu ada di sana, memperhatikan Laura yang tampak begitu sibuk dengan 'urusan pribadinya'.
“Mengumpat di depan catatan medis orang lain bukan hobi yang elegan, Laura.”
Laura tersentak. Ia hampir saja menjatuhkan tablet milik si sekertaris prosedur jika saja ia tidak segera mendekapnya di dada. Ia berbalik, menemukan Gaharu yang menatapnya dengan ekspresi datar yang khas, namun tidak ada lagi nada menghina dalam suaranya.
Laura tersenyum tenang, berbalik menatap Gaharu. “Aku tidak mengumpat. Aku hanya... menyatakan fakta. Kamu melewatkan tiga bulan jadwal pemeriksaan, suami. Tiga bulan itu waktu yang sangat berharga untuk pemulihan saraf.”
Gaharu berdecih, “Pemulihan itu hanya ilusi, mereka hanya menjual kata penenang tanpa ada kepastian. Aku tidak ingin membuang-buang waktu untuk hal itu.”
“Berhenti karena membuang-buang waktu, atau.. kamu sebenarnya memang takut?”
Gaharu mengangkat alisnya, sedikit terusik dengan ujaran yang baru saja di lontarkan istrinya. “Takut?”
Laura berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di hadapan Gaharu yang kini menatap tepat di kedua matanya. “Takut kalau ternyata ada harapan, tapi kamu tidak siap untuk gagal lagi. Jadi kamu memilih untuk berhenti mencoba agar tidak kecewa. Kamu lebih suka jadi pria dingin yang keras kepala daripada jadi pria yang berjuang namun harus bersabar.”
Hening sejenak. Jika ini sebulan yang lalu, Gaharu pasti sudah menyuruhnya keluar dengan kata-kata yang menyayat. Namun sekarang, pria itu hanya terdiam, memandang lantai marmer dengan pandangan menerawang.
“Kamu bicara seolah-olah kamu sudah merasakan bagaimana rasanya duduk di kursi ini setiap hari.”
“Aku memang tidak merasakannya. Tapi aku merasakan bagaimana rasanya melihat suami aroganku 'mati' sebelum waktunya hanya karena dia menyerah pada dirinya sendiri. Hari ini, kita berangkat. Aku sudah mengonfirmasi jadwalnya dengan dr. Januar.”
Gaharu terkekeh ringan. “Apa yang Juan katakan kepadamu?”
Laura menurunkan tablet yang sedari tadi ia dekap di dadanya. Ia mengubahnya dengan menyembunyikan benda persegi itu di belakang tubuhnya.
“Semuanya, termasuk fakta bahwa kamu sangat merindukan cara berjalan dan berdiri tegap di depan orang-orang yang sampai saat ini selalu memandangmu lemah karena berada di atas mesin beroda itu.”
Laura mencondongkan tubuhnya kedepan, membuat Gaharu memundurkan kepala. Agaknya bayang-bayang dua kecupan tiba-tiba yang Laura berikan masih terbayang-bayang di kepalanya.
“Dengar, suami... jika kamu memang ingin membungkam mulut mereka, maka berhentilah mengasihani dirimu sendiri dengan cara bersembunyi di balik sikap aroganmu ini.”
Laura memangkas jarak, suaranya kini merendah namun penuh penekanan yang tak terbantahkan. Ia bisa melihat jakun Gaharu naik-turun, pertanda pria itu sedang menelan kegelisahannya sendiri. Fenomena yang sungguh jarang terjadi.
“Tunjukkan pada mereka bahwa Gaharu Gardapati tidak hancur hanya karena sepasang kaki yang sedang beristirahat. Jadikan pemeriksaan ini sebagai langkah pertama untuk berdiri lagi, bukan sebagai beban yang memalukan.”
Gaharu membuang muka, mencoba mencari celah untuk menghindar, namun Laura dengan 1001 cara meletakan tablet di tangannya lalu menangkup kedua sisi wajah Gaharu. Memaksa netra gelap milik suaminya untuk balik menatapnya.
“Jangan memberikan janji yang tidak bisa kamu tepati, Laura. Jika dr. Januar mengatakan hal yang sama seperti dokter-dokter sebelumnya—”
“Kamu hanya perlu yakin!” potong Laura cepat. “Kamu tidak perlu lagi merasakan kecewa sendirian, merasakan marah sendiri, kini ada aku. Jika kamu merasa tidak cocok, aku akan menemanimu untuk mencari dokter pengganti bersama-sama dan menemukan solusi yang menjadi beban pikiranmu selama 2 tahun ini..”
Gaharu terdiam cukup lama, merasakan kehangatan telapak tangan Laura yang kontras dengan kulit wajahnya yang dingin. Ada desiran aneh yang membuatnya ingin menepis tangan itu, namun di sisi lain, ia merasa sangat membutuhkannya.
“Keras kepala,” gumam Gaharu.
Laura melepaskan tangkupan tangannya pada wajah Gaharu. Ia tertawa ringan mendengar gumaman itu.
“Tentu saja, itulah sebabnya kita menikah. Sifat kita sepertinya tidak jauh berbeda.”
Gaharu menghela napas panjang, sebuah helaan yang tidak lagi terdengar penuh kebencian, melainkan sebuah penyerahan yang manis. Ia melirik jam tangan mewahnya sekilas. Laura sudah mendapatkan jawabannya.
Gerakan itu adalah sebuah persetujuan.
“Aku akan bersiap, 10 menit! Tunggu aku ya, suami.”
Laura berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Gadis itu hendak masuk namun terhenti dan kembali berbalik menatap Gaharu yang masih betah berdiam di tempatnya, menatap Laura dengan wajah datar.
“Ah ya! Sekertaris Juan sudah menyiapkan mobil di depan. Berkas-berkas yang harus di bawa juga sudah di siapkan.”
“Licik..” pelan namun terdengar jelas oleh telinga Laura.
“Aku hanya belajar menjadi istri yang berbakti kepada suaminya. Tunggu aku di mobil ya, suami!”
Sebelum tubuh itu hilang tertelan oleh pintu kamar, Laura sempat-sempatnya memberikan kedipan jahil yang sukses membuat Gaharu memalingkan wajahnya dengan telinga yang mendadak panas.
Saat tubuh itu benar-benar hilang, Gaharu menyentuh pipinya yang tadi disentuh istrinya. Ia menatap pantulan dirinya pada lantai marmer. Wajahnya masih datar, namun sorot matanya tidak lagi sekosong sebelumnya. Ada api kecil yang mulai menyala kembali, api yang selama ini ia padamkan sendiri karena ketakutan akan kegagalan.
***
Pemeriksaan berlangsung cukup lama. Dr. Januar melakukan beberapa tes refleks dasar dan meninjau kembali rekam medis yang dibawa Laura. Gaharu hanya terdiam, wajahnya kembali datar, namun Laura menyadari betapa kuatnya pria itu meremas pegangan kursi rodanya saat dokter mulai mengetuk saraf di lututnya.
“Ada kabar baik, Tuan muda. Meskipun refleks motorik kasar Anda masih lemah, respons di ujung saraf kaki kiri Anda menunjukkan sensitivitas yang meningkat dibanding tiga bulan lalu. Ini artinya, keputusan untuk berhenti terapi kemarin adalah kesalahan besar.”
Laura melirik Gaharu dengan tatapan 'sudah kubilang, 'kan?' yang membuat Gaharu sedikit salah tingkah.
“Jadi... maksudmu masih ada.. harapan?”
Dokter tersebut mengangguk. “Harapan selalu ada jika pasiennya kooperatif. Saya ingin kita memulai jadwal fisioterapi intensif dua kali seminggu. Dan Nyonya Laura...”
“Ya, Dok?”
“Dukungan emosional sangat berpengaruh pada proses regenerasi saraf. Sepertinya Anda sudah melakukan pekerjaan luar biasa dalam sebulan ini. Tuan muda terlihat jauh lebih stabil secara mental.”
Gaharu berdehem keras, berusaha memutus pembicaraan yang menurutnya terlalu sentimental itu.
“Cukup, berikan saja resep atau jadwalnya. Aku ingin segera keluar dari sini. Bau antiseptik membuatku muak.”
Laura mendelik sinis mendengar perkataan itu, sementara dr. Januar tersenyum maklum. Sudah terbiasa dengan respon tersebut.
Setelah dr. Januar menyerahkan map berisi jadwal terapi baru dan beberapa resep obat, Juan segera mengambil alih untuk membereskannya di meja administrasi. Kini, tersisalah Laura yang mendorong kursi roda Gaharu menyusuri koridor rumah sakit yang panjang menuju area parkir.
Langkah Laura terasa ringan, kontras dengan kaku dan tegaknya punggung Gaharu.
“Kenapa tidak bilang saja kalau kamu senang?” pancing Laura sambil tetap fokus mendorong.
“Senang untuk apa? Mendengar dokter berkata aku harus disiksa dengan fisioterapi dua kali seminggu?” jawab Gaharu dingin, namun tak ada lagi desis amarah di sana.
“Bukan itu. Senang karena ternyata kakimu belum sepenuhnya 'menyerah' padamu. Tadi dr. Januar bilang ada sensitivitas yang meningkat, kan?”
Gaharu terdiam sejenak, “Itu hanya sedikit saraf yang berkedut. Jangan berlebihan.”
“Sedikit itu awal dari segalanya, suami.”
Mereka sudah sampai di depan mobil mewah yang terparkir apik. Juan yang telah selesai dengan urusan administrasi, membukakan pintu penumpang bagian belakang.
Saat Laura hendak membantu Gaharu berpindah, pria itu memberikan isyarat tangan agar Laura berhenti.
“Aku bisa sendiri,” ucapnya singkat.
Laura mundur selangkah, memberikan ruang. Ia memperhatikan dengan saksama bagaimana Gaharu mengerahkan kekuatan lengannya, bertumpu pada pinggiran pintu mobil dan kursi roda. Wajah pria itu memerah karena usaha keras, keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Saat tubuhnya berhasil bergeser ke jok mobil, nafasnya memburu.
Mobil mulai berjalan saat Laura masuk dan menutup rapat pintu mobil. Gadis itu duduk tepat di samping Gaharu.
“Suami,” panggil Laura pelan. Gaharu hanya menoleh dan berdeham pelan.
Laura tersenyum manis, amat manis sampai-sampai Gaharu merasakan getaran aneh pada dadanya.
“Aku akan mengubah jadwal kuliahku agar dapat menemanimu di setiap jadwal pemeriksaan,” ujarnya.
“Aku bukan anak kecil yang butuh di temani, Laura.”
“Tentu saja harus di temani! Siapa yang tahu jika kamu tiba-tiba lari dari jadwal pemeriksaan hanya karena tidak nyaman dengan bau antiseptik dan takut suntikan.”
Gaharu langsung menatap tajam pada Laura. “Apa maksudmu?”
Laura meringsek maju, mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya, suaranya mengalun pelan, terdengar seperti bisikan.
“Tadi saat pemeriksaan, kamu bukan hanya takut akan hasil dokter, tapi.. kamu juga takut jarum suntikan, bukan? Aku melihat matamu tertuju pada suntikan dengan wajah takut, persis seperti balita.”
“Omong kosong!” Gaharu menggeser sedikit tubuhnya dengan susah payah, menempel pada pintu mobil.
Laura yang melihat respon tersebut menyesuaikan kembali duduknya. Merasa lucu dengan tingkah si Tuan yang katanya arogan itu.
Sementara di depan kemudi, Juan sesekali memperhatikan tingkah mereka berdua. Senyum tipis terukir di dua belah bibir Juan.
'Apakah sudah tumbuh benih-benih cinta?'
***
Sabtu, 02 Mei 2026
Published : Sabtu, 02 Mei 2026