NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawar Menawar Ala Zidan yang Gagal

Suasana malam di penginapan Ubud terasa berkali-kali lipat lebih dingin dibandingkan Uluwatu. Suara jangkrik dan gemericik air dari sungai kecil di bawah lembah menciptakan harmoni alam yang menenangkan. Namun, di dalam kamar bernuansa kayu jati itu, suasananya justru memanas.

Zidan baru saja menutup pintu balkon, menyisakan cahaya remang dari lampu gantung berbahan rotan. Ia langsung menghampiri Shakira yang sedang duduk di tepi ranjang, berusaha melepaskan ikat rambutnya yang sedikit kusut karena angin saat motoran tadi.

Tanpa aba-aba, Zidan memeluk Shakira dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang masih menyisakan aroma parfum vanila bercampur keringat tipis.

"Mas... mandi dulu ih! Ini lengket banget loh badan aku, kena debu jalanan tadi... Mas!" pekik Shakira sambil mencoba menggeliat lepas, namun pelukan Zidan justru semakin erat.

"Dikit aja, Ra. Aku kangen bau kamu yang kayak gini," bisik Zidan serak. Tangannya mulai bergerak nakal, mengusap lengan Shakira yang halus. "Lagian, debu Ubud itu beda. Debu organik, nggak kotor-kotor banget."

"Organik apanya! Mas Zidan, lepasin dulu. Aku mau mandi, gerah banget tau," Shakira memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. Ia menempelkan telapak tangannya di dada bidang Zidan yang masih terbungkus kaos hitam. "Kamu juga tuh, baju kamu bau asap knalpot motor kustom tadi. Mandi dulu, baru boleh peluk."

Zidan menyeringai, ia menangkap kedua tangan Shakira dan menariknya hingga gadis itu berdiri tepat di depannya. "Oke, kita mandi. Tapi bareng. Biar hemat waktu, hemat air, dan hemat tenaga buat... agenda selanjutnya."

"Mas! Enggak ya, aku mau mandi sendiri!"

"Nggak ada penolakan, Sayang. Ini perintah dari mekanik kepala," Zidan langsung menyambar tubuh mungil Shakira, menggendongnya secara horizontal dan membawanya menuju kamar mandi yang memiliki bathtub batu alam berukuran besar.

"Mas Zidan! Turunin! Aku bisa jalan sendiri!" Shakira memukul-mukul bahu Zidan, namun tawanya pecah saat Zidan mulai menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman singkat yang gemas.

Di dalam kamar mandi, Zidan menyalakan keran air hangat. Uap mulai memenuhi ruangan, menciptakan efek kabut yang menambah kesan sensual. Ia membantu Shakira melepaskan pakaiannya dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah sedang membuka kado yang paling berharga.

"Ra, kamu tau nggak?" bisik Zidan sambil menatap lekat mata Shakira yang kini mulai berkaca-kaca karena gairah.

"Apa?"

"Waktu di sawah tadi, pas aku ambil foto kamu... aku beneran harus nahan diri buat nggak langsung bawa kamu lari ke sini. Kamu cantik banget kena sinar senja, tapi aku jauh lebih suka kamu yang kayak gini. Tanpa polesan, tanpa filter, cuma Shakira-ku."

Zidan menuntun Shakira masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat dengan taburan aroma terapi cendana. Zidan ikut masuk di belakangnya, membiarkan Shakira bersandar di dada bidangnya. Ia mengambil sabun cair dan mulai membasuh bahu serta punggung Shakira dengan sangat telaten.

"Gimana? Masih ngerasa lengket?" tanya Zidan lembut.

Shakira memejamkan mata, menikmati sensasi pijatan tangan Zidan yang kuat namun lembut di bahunya. "Udah mendingan... Makasih ya, Mas."

"Sama-sama. Tapi servisnya belum selesai, Nyonya," Zidan memutar tubuh Shakira agar menghadapnya. Dalam jarak yang sangat dekat, di antara uap air dan keharuman cendana, Zidan kembali mengunci bibir Shakira dengan ciuman yang jauh lebih menuntut daripada sebelumnya.

Tangan Zidan yang tadinya menyabuni punggung, kini berpindah menelusuri setiap lekuk tubuh Shakira di bawah air hangat. Shakira merespons dengan tarikan napas pendek, jemarinya masuk ke sela-sela rambut Zidan yang basah, menarik pria itu semakin dekat. Suasana di kamar mandi itu seketika berubah menjadi medan magnet yang sangat kuat, menarik keduanya ke dalam arus kenikmatan yang sulit dilukiskan.

"Mas... aku sayang banget sama kamu," rintih Shakira di sela tautan bibir mereka.

"Aku lebih sayang kamu, Ra. Sampai mati," jawab Zidan dengan suara parau yang penuh dengan janji.

Malam itu, di bawah sunyinya langit Ubud, Zidan membuktikan bahwa ia bukan hanya handal dalam memperbaiki mesin yang mati, tapi juga sangat ahli dalam menghidupkan api cinta yang membara di hati istrinya. Sesi mandi yang awalnya hanya rencana untuk membersihkan diri, berakhir menjadi salah satu kenangan paling panas dan intim dalam perjalanan honeymoon mereka.

Satu jam kemudian, mereka keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi putih yang tebal. Zidan membantu mengeringkan rambut Shakira dengan handuk kecil, sementara Shakira duduk di depan meja rias, menatap pantulan wajahnya yang merona bahagia.

"Mas," panggil Shakira.

"Hmm?"

"Besok kita jadi ke pasar seni Ubud? Aku mau cari daster Bali yang banyak."

Zidan memeluk bahu Shakira dari belakang, menatap pantulan mata istrinya di cermin. "Jadi dong. Apapun yang kamu mau. Mau beli satu pasar juga aku jabanin, asal malam ini aku dapet jatah peluk yang lebih lama."

Shakira tertawa kecil, ia berbalik dan memeluk pinggang Zidan. "Iya, Mas Karatan. Malam ini aku milik kamu sepenuhnya."

Zidan mematikan lampu kamar, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan yang mengintip dari celah tirai. Di atas ranjang yang empuk, mereka kembali menyatu, merajut mimpi-mimpi baru di tanah para dewa ini. Bagi Zidan, gelar Sarjana Shakira adalah kebanggaan, tapi memiliki hati Shakira seutuhnya adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.

***

Pasar Seni Ubud pagi itu sangat padat. Aroma dupa yang terbakar bercampur dengan wangi kayu ukiran dan riuh rendah tawar-menawar dalam berbagai bahasa. Zidan, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung dan kaos yang memperlihatkan otot lengannya, tampak sedang dalam mode "tempur". Di depannya, seorang ibu penjual daster Bali sedang bertahan pada harga yang ditawarkannya.

Zidan memegang daster bermotif bunga kamboja itu dengan serius, seolah sedang memeriksa kualitas blok mesin motor.

"Bu, masa segini nggak boleh? Saya kan beli banyak, bukan cuma satu. Ini kalau di Jakarta, harga segini udah dapet sama gantungan bajunya, Bu," ujar Zidan dengan nada bicara yang tegas, khas orang yang biasa negosiasi sparepart langka.

Si Ibu penjual menggelengkan kepala, tetap tersenyum namun kokoh. "Aduh, Bli... ini bahannya bagus, adem. Di tempat lain nggak dapet harga segitu. Pasnya seratus lima puluh tiga daster, Bli."

"Yah, Ibu. Saya ini mekanik, Bu, biasa liat harga jujur. Seratus ribu tiga ya? Saya ambil warna biru, merah, sama kuning ini. Gimana? Deal?" Zidan mencondongkan tubuhnya, otot tangannya menegang saat ia sedikit menepuk meja kayu lapak tersebut, mencoba menggunakan aura intimidasi "otot"-nya agar si Ibu luluh.

Shakira yang berdiri di samping Zidan hanya bisa menutup mulut, menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan. Ia melihat suaminya yang gagah itu berkeringat hanya demi menawar daster Bali. Zidan terlihat sangat bersemangat, seolah sedang memenangkan tender proyek besar, padahal yang sedang ia hadapi adalah seorang ibu-ibu paruh baya yang sudah puluhan tahun meladeni turis.

"Nggak bisa, Bli. Seratus dua puluh lah paling mepet," sahut si Ibu tenang.

"Seratus sepuluh, Bu! Ayolah, ini buat istri saya yang baru lulus sidang. Masa Ibu nggak kasihan?" Zidan mulai membawa-bawa alasan personal, suaranya makin meninggi tapi tetap dalam koridor bercanda.

Shakira akhirnya tidak tahan lagi. Ia menarik lengan baju Zidan, membuat suaminya itu sedikit terjajar mundur. "Mas... udah, Mas. Kamu maksa banget nawarnya, ih. Malu-maluin tau diliatin orang!"

"Loh, Ra, ini namanya seni. Kita harus dapet harga terbaik. Ekonomi harus efisien," bantah Zidan sambil mengelap keringat di dahi.

Shakira menggeleng-gelengkan kepala. "Mas, nawar itu pake otak sama perasaan, bukan pake otot begitu. Yang ada kamu malah capek sendiri, Ibunya juga jadi tegang. Sini, biar aku aja."

Shakira maju selangkah, ia melepaskan kacamata hitamnya dan memberikan senyum paling manis—senyum yang biasanya membuat Zidan langsung luluh tak berdaya.

"Ibu... daster ini buat saya pake di rumah baru nanti. Biar suami saya betah di rumah terus nggak ke bengkel mulu," ujar Shakira dengan suara lembut yang sedikit manja. "Ibu kan cantik, baik hati lagi. Masa sama pengantin baru nggak dikasih harga spesial? Bu, ini jadinya seratus ribu dapet tiga ya? Boleh ya, Bu?"

Shakira mengedipkan matanya sekali, sambil sedikit memegang tangan si Ibu penjual. Suasana yang tadinya tegang karena "otot" Zidan, mendadak jadi cair dan penuh tawa.

Si Ibu penjual tertawa kecil, ia menepuk tangan Shakira. "Aduh, Mbaknya pinter banget ngomongnya. Ya sudah, buat pengantin baru biar langgeng, seratus ribu tiga saya kasih."

Ibu itu mulai melipat daster-daster tersebut ke dalam kantong plastik. Zidan yang berdiri di belakang Shakira langsung melongo. Mulutnya sedikit terbuka, matanya menatap kantong plastik itu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Lah? Kok? Bu, tadi saya tawar seratus sepuluh aja Ibu bilang belum boleh? Kok sama dia langsung dikasih seratus tiga?" tanya Zidan protes, suaranya terdengar sangat bingung.

Si Ibu penjual terkekeh sambil menyerahkan kantong plastiknya pada Shakira. "Beda, Bli. Kalau Bli yang nawar, bawaannya kayak mau ngajak berantem. Kalau Mbaknya yang nawar, bawaannya kayak mau ngajak sodaraan. Rezeki anak solehah, Bli."

Shakira tertawa menang, ia menerima plastiknya dan menoleh ke arah Zidan yang masih mematung dengan wajah "terkhianati". "Tuh kan, Mas. Aku bilang juga apa. Mekanik handal boleh jago bongkar mesin, tapi kalau bongkar harga pasar, kamu masih kelas amatir."

"Curang itu, Ra. Kamu pake jurus rayuan maut," gerutu Zidan, meskipun ia tetap mengeluarkan dompet dan membayar daster tersebut.

"Bukan curang, Mas. Itu namanya diplomasi," sahut Shakira sambil menggandeng tangan Zidan menuju lapak selanjutnya. "Udah, jangan melongo terus. Nanti lalat masuk ke mulut kamu baru tahu rasa."

Zidan merangkul pundak Shakira, menariknya lebih dekat hingga kepala istrinya bersandar di bahunya. "Oke, oke. Aku nyerah. Urusan tawar-menawar aku serahin ke kamu. Aku bagian angkat belanjaan sama jagain kamu dari cowok-cowok pasar yang lirik-lirik aja."

"Gitu dong! Baru itu suamiku," Shakira mencium pipi Zidan sekilas, membuat rasa kesal Zidan karena kalah tawar-menawar tadi hilang tak berbekas.

Mereka melanjutkan perjalanan di tengah riuhnya pasar. Zidan benar-benar menjalankan perannya sebagai pengawal pribadi yang setia, membawa kantong-kantong belanjaan daster, kain Bali, hingga pernak-pernik kayu. Setiap kali ada pedagang yang mencoba menawarkan barang dengan harga selangit, Zidan hanya melirik ke arah Shakira sambil berbisik, "Tunjukkan pesonamu, Sarjana Diplomasi Pasar."

Shakira hanya membalasnya dengan tawa renyah. Di tengah padatnya Pasar Ubud, Zidan menyadari satu hal: istrinya bukan hanya hebat di depan dosen penguji, tapi juga punya "kekuatan" luar biasa yang bisa menaklukkan siapa saja—termasuk dirinya yang keras kepala ini.

"Habis ini mau beli apa lagi, Nyonya?" tanya Zidan saat mereka berhenti di depan penjual kerajinan rotan.

"Mau cari tas rotan yang bulat itu, Mas. Tapi kamu jangan ikut nawar ya! Kamu diem aja, pasang muka sangar biar mereka takut kasih harga mahal, nanti biar aku yang eksekusi pake senyum," instruksi Shakira.

"Siap, laksanakan! Mode pengawal sangar diaktifkan," sahut Zidan sambil memasang kembali kacamata hitamnya dan berdiri tegak di belakang Shakira dengan tangan bersedekap.

Pasar Seni Ubud hari itu tidak hanya memberikan mereka barang-barang cantik untuk rumah baru, tapi juga menambah deretan cerita lucu dan hangat dalam perjalanan honeymoon mereka. Bagi Zidan, kalah nawar dari sang istri bukanlah sebuah kekalahan, melainkan pengingat bahwa ia telah memilih wanita yang tepat untuk menyeimbangkan hidupnya yang selama ini hanya penuh dengan suara besi dan oli.

***

Siapa nih yang suka sama pasutri gemes ini🥹

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, YA. UNTUK NOVEL TO THE BONE, MAS AJUDAN aku hapus dulu bentar. Kalo novel mas Zidan sama Shakira udah selesai kemungkinan akan aku up lagi. Tungguin terus yaa. Temenin Zidan sama Shakira jangan ngilang 😘♥️♥️

1
Rita Rita
lama nunggu up mas karatan akhirnya AQ suka tipe tipe suami yg meratukan istri nya. mas Zidan,mas ajudan. definisi istri adalah rumah untuk pulang,,😍😍
Penulis GenZ: karena kita juga pengennya dapet lagi kayak gitu kan🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya pasutri karat ini up lagi🤭
Penulis GenZ: ditunggu terus yaaa
total 1 replies
apiii
kangen bngt sama mas karatan beberapa hati ga up🥲
Penulis GenZ: sabar ya kak. nanti aku usahain hari ini double hehe. tungguin trs sampe ada baby zidan
total 1 replies
Rita Rita
semangat kerja untuk ngeraih rezeki buat pak boss dan Bu bos Zidan.💪💪😍😍
Rita Rita
disini mas Zidan karatan sedang ngadain syukuran dan sebelah mas Langit lagi konser tunggal bersikipapap,,🤭🤣🤣
Rita Rita: sedikit jujur Thor 🤭🤣
total 2 replies
apiii
gaada notif🥲
apiii
semangat ya mas zidan🥲
apiii
semangat terus ya qq, aku tunggu mas mekanik sama istri sarjana tataboga up lagi ❤️
Rita Rita
tetap semangat Thor,, di tunggu up nya dan AQ mau mampir di novel author yg baru up keknya
Penulis GenZ: boleh mampir silakan.. kasih riview jangan lupa hehe
total 1 replies
Nurminah
semangat
Rita Rita
asyik banget jadi mas Zidan,,, semoga rumah tangga nya samawa 🤲❤️
apiii
mentang" dirumah sendiri main dimna pun di gas wkwkw
apiii
kasian bngt yg abis turun mesin🤣
apiii
aduhhh🤣
Rita Rita
dikasih kode mas suami langsung gass poll 🤭🤣🤣 gacor syukuran nya🤭🤣🤣🤣😍
Rita Rita
gemes banget dengan pasangan ini mas karatan dan Bu pelicin 🤭🤣🤣😍
Rita Rita
makin gacor aja tuh syukuran paksu makin dingin makin anget 🤭🤣😍😍
apiii
ayo guys kasih komentar dan like nya biar author semangat up nya❤️
apiii
makin suka sama pasangan ini😍
Rita Rita
pokoknya mas Zidan suami idaman banget,,, peka terhadap pasangan 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!