Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deru Badai Dicakrawala Ungu
Episode 28
Aku melangkah dengan sangat mantap meninggalkan dataran obsidian yang mulai mendingin di belakangku. Setiap pijakan telapak kakiku pada hamparan pasir abu abu yang gembur kini terasa sangat berbeda dibandingkan saat pertama kali aku terbangun di tempat terkutuk ini beberapa waktu yang lalu. Jika dulu kakiku hanya berupa tulang kalsium yang rapuh serta mudah terperosok ke dalam tumpukan abu kini aku memiliki bantalan daging yang tebal serta otot betis yang mampu memberikan daya tekan yang stabil. Aku merasakan bagaimana butiran pasir abu abu menyelusup di antara celah kulit metalik ku memberikan sensasi gesekan yang halus yang bisa ditangkap oleh syaraf perasa ku dengan sangat detail.
Dug... dug... dug...
Jantung esensi ku berdenyut dengan irama yang tenang namun penuh dengan tenaga yang meluap luap. Aliran darah hitam yang mengalir di pembuluh nadi buatanku terasa hangat menyebarkan energi murni ke seluruh jaringan otot paha dan pinggangku. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa konsistensi adalah kunci untuk melewati medan yang luas serta membosankan seperti padang abu ini. Aku mengatur panjang langkahku agar tetap efisien menjaga agar pusat gravitasi ku tidak terlalu banyak bergoyang sehingga aku bisa menghemat cadangan energi esensi yang masih tersisa di dalam tubuhku.
"Goma kau lihat awan hitam yang mulai menggulung di atas sana bukan. Itu bukan awan biasa melainkan akumulasi dari residu jiwa yang terbakar akibat tekanan atmosfer wilayah tengah. Badai esensi kali ini sepertinya akan jauh lebih besar dari yang biasanya kulihat," bisik Kharis yang kini menyembul sedikit dari balik kerah jubah pelayanku yang sudah mulai compang camping akibat pelarian tadi.
Aku menengadah ke arah langit Gehenna yang kini mulai berubah warna dari ungu tua menjadi merah kehitaman yang sangat mencekam. Kilatan petir esensi berwarna biru elektrik sesekali menyambar di balik gumpalan awan menciptakan suara gemuruh yang sangat rendah seolah olah ada ribuan raksasa yang sedang berteriak di kejauhan. Aku bisa merasakan bagaimana partikel listrik di udara mulai membuat rambut hitamku berdiri serta menimbulkan rasa kesemutan yang halus pada permukaan kulit metalik ku.
[ SISTEM: MENDETEKSI PERUBAHAN TEKANAN ATMOSFER ]
[ SISTEM: STATUS LINGKUNGAN: KRITIS ]
[ SISTEM: ESTIMASI WAKTU SAMPAI BADAI ESENSI: 30 MENIT ]
[ SISTEM: PERINGATAN: KEKUATAN ANGIN AKAN MENCAPAI LEVEL PENGHANCUR TULANG ]
[ SISTEM: SARAN: SEGERA CARI TEMPAT PERLINDUNGAN DENGAN INTEGRITAS TINGGI ]
Tiga puluh menit. Waktu yang sangat sempit untuk mencapai Hutan Rusuk yang siluetnya masih terlihat sangat kecil di ujung cakrawala. Aku harus menggunakan seluruh kekuatan fisikku sekarang juga.
Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku merasakan sensasi udara yang semakin kering dan tajam menusuk kerongkonganku. Aku membungkukkan sedikit posisi tubuhku merendahkan pusat massa agar aku bisa melesat dengan daya dorong maksimal. Aku memfokuskan seluruh aliran energi jantungku ke arah otot otot kaki bawahku.
"Pegang yang erat Kharis. Aku akan berlari dengan kecepatan penuh."
[ SISTEM: MENGAKTIFKAN KEMAMPUAN: BURST DASH (OVERDRIVE MODE) ]
[ SISTEM: KONSUMSI ENERGI ESENSI: 3 % PER DETIK ]
[ SISTEM: STATUS OTOT: SIAP UNTUK KECEPATAN TINGGI ]
Aku meledakkan kekuatan otot pahaku dalam satu sentakan yang luar biasa. Wusss! Tubuhku melesat maju seperti anak panah yang baru saja dilepaskan dari busur baja. Pasir abu abu di bawah kakiku beterbangan menciptakan kepulan debu yang panjang di belakang pergerakanku. Kecepatan ku sekarang jauh melampaui rekor lari manusia mana pun di Bumi. Aku merasa seolah olah aku sedang terbang rendah di atas tanah neraka ini.
Setiap kali telapak kakiku menyentuh tanah aku bisa merasakan dorongan pegas yang dihasilkan oleh tendon Achilles dan otot gastrocnemius baruku. Ini adalah perasaan yang sangat memabukkan. Kekuatan ini benar benar membuatku lupa bahwa aku pernah menjadi mahluk yang sangat lemah dan tidak berdaya. Aku melompati bongkahan bongkahan tulang raksasa yang berserakan di padang abu dengan gerakan akrobatik yang sangat mulus tanpa kehilangan momentum kecepatan sedikit pun.
"Luar biasa Goma! Kau benar benar seperti bayangan yang membelah kegelapan!" teriak Kharis dengan suara yang tertiup angin kencang namun ia terlihat sangat bersemangat.
Namun di tengah lari cepat ku aku merasakan adanya getaran energi yang aneh dari arah samping kiri. Eyes of the Abyss milik ku segera memberikan peringatan visual berupa kilatan warna merah pada sudut pandanganku. Dari balik gundukan pasir muncul sekelompok mahluk berbentuk serigala namun memiliki kulit yang terbuat dari susunan kepingan tulang yang tajam. Mereka adalah Bone Scavengers mahluk pemangsa yang sering memanfaatkan momen sebelum badai untuk mencari sisa sisa daging mahluk yang terluka.
"Ada gangguan Kharis. Aku tidak punya waktu untuk meladeni mereka satu per satu!"
Ada sekitar tujuh ekor serigala tulang yang kini mulai mengejar ku dari sisi kiri. Mereka memiliki kecepatan yang hampir setara denganku serta mereka bergerak dengan formasi berburu yang sangat rapi. Salah satu dari mereka mencoba melompat ke arah bahuku dengan mulut terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi kalsium yang sangat tajam.
Satu tarikan satu dorongan. Jangan biarkan momentum mu berhenti.
Aku menggunakan tangan kiri Black Iron ku untuk menepis kepala serigala tersebut di tengah udara. Ting! Suara benturan logam dengan tulang terdengar sangat nyaring. Serigala itu terpelanting ke arah samping namun ia segera bangkit kembali dengan sangat cepat. Aku menyadari bahwa jika aku berhenti untuk bertarung maka aku akan terjebak di tengah badai esensi yang mematikan.
[ SISTEM: ANALISIS POLA PENGEJARAN ]
[ SISTEM: TARGET MENGGUNAKAN TAKTIK KELELAHAN ]
[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN SERANGAN KEJUTAN UNTUK MENCERAI BERAI KAWANAN ]
Aku memperlambat lariku sesaat secara tiba tiba membuat serigala serigala itu mengira aku sudah mulai kelelahan. Saat mereka semua mendekat untuk mengurungku aku melakukan gerakan putaran tubuh 360 derajat menggunakan kaki kananku sebagai poros. Aku menyapukan tangan kanan berotot ku yang memegang belati kristal ke arah leher mereka.
Sret... sret... sret!
Tiga ekor serigala tulang langsung tumbang dengan leher yang terputus sebagian. Cairan esensi kuning mereka menyemprot ke arah jubahku namun aku tidak berhenti untuk mengambilnya sekarang. Aku justru menggunakan bangkai salah satu serigala itu sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi ke udara.
Hup!
Aku melayang sejenak di atas kawanan serigala yang tersisa. Di saat itulah aku melihat pintu masuk Hutan Rusuk sudah berada hanya sekitar dua ratus meter di depanku. Pohon pohon yang terbuat dari susunan tulang rusuk raksasa itu terlihat seperti perlindungan yang sangat kokoh untuk menahan terpaan angin badai.
Aku mendarat dengan posisi jongkok yang sangat stabil kemudian kembali melesat dengan sisa tenaga ototku. Serigala serigala yang tersisa tampak ragu untuk mengejar lebih jauh karena mereka juga merasakan bahwa badai esensi sudah berada sangat dekat di belakang mereka. Mereka akhirnya memilih untuk bersembunyi di balik gundukan pasir sementara aku terus memacu tubuhku menuju jantung hutan.
Angin badai mulai menghantam punggungku dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Aku merasakan bagaimana butiran pasir sekarang mulai terasa seperti peluru tajam yang mencoba menembus jubah dan kulit metalik ku. Langit Gehenna sekarang benar benar gelap gulita hanya diterangi oleh kilatan petir ungu yang terus menerus menyambar.
Aku berhasil mencapai barisan pertama pohon tulang Hutan Rusuk. Aku segera mencari sebuah celah di antara akar tulang yang besar yang menjorok masuk ke dalam tanah. Aku melompat masuk ke dalam lubang tersebut kemudian merapatkan tubuhku ke dinding tulang yang dingin.
Brak!
Tepat saat aku masuk badai esensi menghantam seluruh wilayah hutan dengan kekuatan penuh. Suara raungan angin di luar sana terdengar sangat memekakkan telinga seolah olah dunia ini sedang dihancurkan oleh kemarahan para dewa. Aku bisa melihat dari mulut lubang bagaimana pohon pohon tulang raksasa bergoyang hebat tertiup angin yang membawa partikel energi ungu yang sangat panas.
"Kita sampai tepat waktu Goma... hah... hah... aku pikir kita benar benar akan menjadi debu tadi," ucap Kharis yang kini keluar dari jubahku dengan tubuh asap yang terlihat agak lemas.
Aku menyandarkan kepalaku pada dinding tulang sambil mencoba mengatur ritme napas ku yang tersengal. Aku merasakan kelelahan yang luar biasa pada seluruh jaringan otot kakiku. Meskipun aku sekarang sudah sangat kuat namun menggunakan Burst Dash dalam durasi yang lama tetap memberikan beban yang besar pada sistem sirkulasi esensi ku.
[ SISTEM: MODE PERLINDUNGAN DIAKTIFKAN ]
[ SISTEM: INTEGRITAS TUBUH: 82 % ]
[ SISTEM: CADANGAN ENERGI: 15 % ]
[ SISTEM: ESTIMASI DURASI BADAI: 6 JAM SIKLUS ENERGI ]
Enam jam. Aku akan menggunakan waktu ini untuk memulihkan tenaga serta melanjutkan proses deskripsi peta dimensi. Aku harus tetap tenang serta tidak boleh ada yang mengganggu tidurku malam ini.
Aku memejamkan mata kuning keemasan ku merasakan getaran badai yang merambat melalui dinding tempatku bersandar. Di dalam kegelapan lubang perlindungan ini aku kembali memikirkan rencanaku untuk kembali ke Bumi. Peta di dalam memoriku sudah mulai menunjukkan detail detail kecil tentang lokasi gerbang yang kucari.
Ibu Widya badai di neraka ini tidak akan mampu menghentikan langkahku. Aku telah menaklukkan tebing tebing paling berbahaya di dunia lama serta aku akan menaklukkan setiap badai dan mahluk di dunia baru ini hanya untuk bisa melihat senyummu sekali lagi.
Aku membiarkan jiwaku perlahan lahan masuk ke dalam mode istirahat esensi sementara sistem di kepalaku terus bekerja mengawasi situasi di sekitar. Goma sang pendaki kini sedang beristirahat di bawah perlindungan tulang rusuk neraka bersiap untuk langkah selanjutnya yang akan jauh lebih menantang serta lebih berdarah. Perjalanan pulang ini bukan lagi sekadar impian namun sudah menjadi takdir yang sedang aku rakit sepotong demi sepotong.