Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Duel Air Mata dan Pengorbanan Sang Naga Iblis
Udara di dalam Aula Altar Transmutasi tidak lagi terasa suci; ia menjadi medan perang antara dua energi yang saling menolak. Di satu sisi, cahaya emas murni yang memancar dari tubuh **Lin Meiling**—yang kini menjadi wadah **Permaisuri Cahaya**—terasa begitu agung namun mematikan. Di sisi lain, aura plasma hitam kemerahan dari **Wang Jian** dalam modus **Inkarnasi Naga Iblis** bergejolak liar, menghancurkan setiap ubin kristal yang ia injak.
"Jian... pergi..." bisik suara kecil dari dalam tubuh Meiling, namun segera tenggelam oleh gema suara agung Permaisuri. "Diamlah, jiwa fana. Keberadaan pria ini adalah anomali yang harus dimurnikan."
Permaisuri Cahaya mengangkat tangan Meiling yang lentik. Dari ujung jarinya, meluncur **Pedang Penghakiman Surgawi**, sebuah bilah cahaya padat yang mampu membelah dimensi.
### **Pertempuran yang Memilukan: Menahan Diri di Ambang Maut**
Jian melesat maju, namun gerakannya tidak seganas biasanya. Setiap kali ia hendak mengayunkan tombak hitamnya, bayangan senyum Meiling melintas di benaknya, melemahkan niat membunuhnya.
"Sial!" geram Jian saat pedang cahaya itu menggores bahunya, membakar sisik naga emasnya hingga menghitam.
"Kenapa kau ragu, Wang Jian?!" teriak **Roh Leluhur Wang** yang masih melayang di sudut ruangan, mencoba memulihkan kekuatannya. "Hancurkan tubuh itu, dan kau akan bebas! Jika tidak, dia yang akan membunuhmu!"
"TUTUP MULUTMU, BANGKAI!" raung Jian.
Jian mengaktifkan **Domain Gravitasi Naga** pada tingkat maksimum, mencoba melumpuhkan pergerakan tubuh Meiling tanpa melukainya. Namun, Permaisuri Cahaya hanya tersenyum dingin. Ia mengibaskan tangannya, dan gravitasi Jian berbalik menyerang dirinya sendiri.
*BUMMM!*
Jian tertekuk ke lantai, darah segar menyembur dari mulutnya. Tekanan itu begitu besar hingga lantai kristal di bawahnya ambles sedalam tiga meter.
"Kau mencintainya, namun cinta itulah yang akan menjadi nisanmu," ucap Permaisuri. Ia melayang mendekat, ujung pedang cahayanya menyentuh leher Jian.
### **Bisikan Jiwa dan Strategi Terlarang**
Di tengah tekanan maut tersebut, Jian memejamkan matanya. Ia tidak lagi mencoba melawan dengan otot. Ia mencoba menghubungkan kesadarannya dengan **Star-Core** yang ia bantu tanam di tubuh Meiling saat di Benua Pasir Merah.
*Meiling... jika kau mendengarku... buka jalan kecil di dalam Dantianmu...*
Tiba-tiba, tubuh Meiling gemetar hebat. Cahaya emasnya berkedip. Mata Meiling yang tadinya kosong kembali memancarkan rona ungu bintang sesaat. "Jian... sekarang... hancurkan... segel di dadaku!"
Jian menyadari risikonya. Jika ia menyerang segel itu dengan kekuatan penuh, ada kemungkinan 90% Meiling akan ikut hancur. Namun jika ia tidak bertindak, jiwa Meiling akan sepenuhnya terhapus oleh Permaisuri.
"Maafkan aku, Meiling... tapi ini satu-satunya cara!"
### **Pengorbanan Darah: Teknik Pemisah Jiwa**
Jian menggigit lidahnya, menyemburkan darah naga emasnya ke telapak tangannya. Ia membentuk segel kuno yang diajarkan oleh **Aurelion sang Pengawas** di Lembah Tulang Dewa—teknik pemisah jiwa yang membutuhkan bayaran berupa **Esensi Hidup**.
**"Seni Terlarang: Pemutus Takdir Naga - Pembelah Jiwa!"**
Jian melesat dengan sisa kekuatannya. Ia tidak menggunakan tombak. Ia menusukkan tangan kanannya yang telah berubah menjadi cakar naga murni langsung ke arah dada Meiling, tepat di titik bunga teratai cahaya berada.
*SLASH!*
Cakar Jian menembus baju zirah cahaya dan masuk ke dalam dada Meiling. Namun, alih-alih merobek jantungnya, Jian mengalirkan **Plasma Badai** yang sangat halus untuk membakar hubungan antara kesadaran Permaisuri dan meridian Meiling.
"TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Permaisuri di dalam tubuh Meiling. Energi cahaya meledak keluar dari tubuhnya, mencoba menghancurkan Jian dari jarak dekat.
Jian tidak melepaskan cengkeramannya. Ia membiarkan energi cahaya itu membakar kulitnya, menghanguskan sayap naganya, dan meretakkan tulang-tulangnya. Ia memberikan seluruh **Esensi Naga Primordial**-nya ke dalam tubuh Meiling sebagai "jangkar" bagi jiwa Meiling agar tidak hanyut.
### **Runtuhnya Sang Permaisuri dan Pelarian Leluhur**
Sebuah ledakan cahaya dan kegelapan yang luar biasa terjadi di pusat altar. Seluruh Kuil Cahaya Abadi bergetar hebat, pilar-pilar kristalnya mulai runtuh satu per satu.
Jiwa Permaisuri Cahaya yang belum menyatu sempurna terpaksa keluar dari tubuh Meiling akibat "polusi" darah naga Jian yang panas. Roh wanita agung itu menjerit saat ia kembali menjadi bola cahaya yang meredup dan terbang melarikan diri ke kedalaman kuil.
"Rencana ini gagal! Aku harus pergi!" Leluhur Wang, yang melihat kesempatan, segera melesat pergi menuju retakan dimensi di belakang altar, melarikan diri sebelum Jian sempat menangkapnya.
Jian jatuh berlutut, memegangi tubuh Meiling yang kini terkulai lemas. Cahaya emas itu telah hilang, digantikan oleh aura bintang ungu yang kembali murni, namun sangat lemah.
"Meiling... bangunlah..." bisik Jian. Suaranya parau. Wajahnya kini tidak lagi sangar; ia tampak seperti pria biasa yang kelelahan.
Meiling perlahan membuka matanya. Kali ini, itu adalah tatapan yang ia kenal. Tatapan yang hangat dan penuh kasih. "Jian... kau... kau benar-benar datang..."
Ia menyentuh pipi Jian yang terbakar, air mata menetes dari matanya. "Tapi lihat dirimu... kau memberikan segalanya untukku..."
### **Keadaan Darurat: Terkunci di Dimensi Musuh**
Kebahagiaan mereka hanya bertahan sesaat. Kuil Cahaya Abadi mulai hancur secara total. Suara alarm dari para penjaga yang tersisa terdengar mendekat.
"Pencuri! Penghancur suci! Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup!"
Jian mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Ranahnya merosot drastis dari **Kristalisasi Inti Bintang 7** kembali ke **Bintang 2**, bahkan lebih rendah karena kehilangan esensi darah naga.
"Meiling, kita harus pergi..." Jian merangkul pinggang Meiling.
"Lewat sini!" Meiling menggunakan sisa energi bintangnya untuk menciptakan gerbang portal kecil. "Saat aku dirasuki, aku sempat mengakses memori Permaisuri. Ada jalur pelarian menuju **Hutan Larangan Arwah** di pinggiran Benua Mistis."
Mereka berdua melompat ke dalam portal tepat saat langit-langit aula runtuh menimpa altar.
### **Status Kultivasi Akhir - Bab 27:**
* **Nama: Wang Jian**
* **Ranah:** **Kristalisasi Inti Bintang 2** (Sangat Lemah).
* **Kondisi:** Cacat Fisik Sementara (Sayap hancur, meridian terbakar), Esensi Naga berkurang 50%.
* **Status:** Berhasil menyelamatkan Meiling namun dalam pelarian.
* **Nama: Lin Meiling**
* **Ranah:** **Pemurnian Qi Bintang 5** (Meningkat akibat sisa energi Permaisuri).
* **Kondisi:** Lemah, namun memiliki **Memori Permaisuri** yang bisa menjadi kunci masa depan.
* **Musuh:** Seluruh otoritas Benua Mistis, Roh Leluhur Wang (Dalam pelarian).
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.