NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Rina fisiknya lemah, jadi sepanjang jalan mereka harus berhenti beberapa kali buat istirahat. Untungnya, nggak ada bahaya lebih parah yang muncul lagi.

Akhirnya mereka sampai di Desa Rina. Rina langsung kelihatan lega. “Ini sekolah lama aku. Dulu banyak anak cowok main renang di sungai sebelah sekolah, tapi sekarang udah lama ditinggalin,” Rina cerita sambil menghela napas panjang.

Seorang ibu-ibu lewat dari arah berlawanan, langsung nyapa, “Eh, Rina! Pulang ya?” Lalu dia lihat Budi, senyum-senyum, “Ini pacarmu ya?”

Rina langsung awkward. “Eh, nggak, Bu. Cuma temen yang nemenin aku pulang.”

Ibu itu kelihatan nggak percaya. “Kenapa nggak? Cowoknya ganteng, kamu juga nurut dari kecil. Tapi Ibu nggak bisa ngobrol lama-lama. Pasti orang tuamu lagi nunggu di rumah. Cepet pulang ya! Besok mampir ke rumah Ibu, makan bareng temenmu ini!”

“Oh, dia hari ini juga pulang kok,” Rina buru-buru tolak.

“Ya ampun, kenapa nggak nginep beberapa hari aja?” Ibu itu masih nggak percaya.

Begitu ibu itu pergi, Rina langsung minta maaf pelan, “Maaf ya… Itu saudara jauh keluarga. Biasa dia antusias banget. Semoga nggak ganggu kamu.”

“Nggak apa-apa,” jawab Budi singkat.

Desa ini kasih perasaan damai dan tenang. Penduduknya ramah, kayak orang-orang zaman dulu sebelum dunia berubah gila. Tapi Budi ngerasa ada yang aneh terlalu tenang, kayak nggak nyata. Dia nggak yakin aman sepenuhnya. Setelah jalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di depan rumah kecil tua.

“Bip!”

“Misi selesai!”

“Komentar: Luar biasa.”

“Hadiah Pengalaman Dasar: 400”

“Bonus Komentar: +200”

Budi langsung merasa sangat lega saat mendengar suara sistem itu. Beban di dadanya kayak hilang seketika.

“Plis diem ya nanti, jangan bikin salah paham. Kalau ayahku nanya kamu punya pacar apa nggak, jawab aja iya,” Rina bisik cepet, suaranya tegang.

“Oke, ngerti. Aku janji nggak ngaco,” Budi langsung setuju.

Rina lega, lalu ketuk pintu dengan semangat. “Bu! Ayah! Aku pulang!”

“Dap, Dap!” Langkah kaki ibu Rina buru-buru ke pintu. Panggangan dibuka, seorang ibu pake celemek keluar. Dia langsung peluk Rina erat, keduanya nangis bahagia.

Budi lihat dari samping, agak gelisah. Orang tuanya udah meninggal kecelakaan dulu, jadi pemandangan kayak gini bikin dadanya hangat sekaligus sesak. Setelah beberapa saat, ibu Rina hapus air mata, lepas pelukan, lalu lihat Budi. “Eh, ini temen Rina ya? Masuk, masuk! Kenapa nggak diperkenalin?”

Sulit nggak notice penampilan Budi. Tinggi, ganteng, plus setelah latihan dan pertarungan, auranya lebih dewasa dan stabil. Sekarang dia kelihatan kayak cowok luar biasa.

Mata Rina berkaca-kaca sebentar lihat Budi, lalu jawab ibunya, “Biasa aja, Bu. Cuma temen biasa. Eh, ayah mana?”

Ibunya langsung ngomel, “Kok bilang gitu sih?” Lalu balik ke Budi, “Maaf ya, Nak. Masuk dulu. Rina bantu ibu di dapur bentar. Rina, bantu Ibu bikin teh ya.”

“Nggak apa-apa, Bu. Nama saya Budi Santoso, panggil aja Budi. Makasih banyak,” kata Budi sopan.

“Ya udah, ya udah! Rina, temenin Budi dulu ya. Ayahmu sama si Jali lagi ke peternakan, katanya mau siapin daging buat kamu. Bentar lagi pulang,” kata ibu Rina senang sambil lirik Budi.

Rina kaget, mukanya langsung pucat. “Bu! Kok bolehin ayah pergi sendirian? Di luar bahaya banget! Aku cari sekarang!”

Dia lirik Budi minta tolong, Budi angguk pelan.

Tapi ibunya santai aja. “Tenang, Nak. Ada si Jali kok. Dia hebat, nggak ada binatang yang bisa ngalahin. Nanti kamu kaget sendiri lihatnya.”

Ekspresi Budi langsung berubah. “Lagi-lagi hewan mutan?” pikirnya dalam hati.

Rina duduk di ruang tamu bareng Budi, pas lagi hening tiba-tiba terdengar suara gembok dibuka di luar. “Pasti ayah!” Rina langsung berdiri.

Begitu pintu dibuka, seekor binatang raksasa hampir dua meter tingginya merangsek masuk. Ekornya dikibas-kibasin senang, tapi yang bikin mata melotot adalah bulu merah menyala kayak api. Naik-turun ikut lompatannya, merah terang kayak nyala api beneran.

Kaki-kakinya kekar banget, kasih aura kuat. Meski cuma dilihat dari jauh, orang langsung ngerasa tertekan. Tapi anehnya, lehernya dirantai, ujung rantainya dipegang seorang pria. Padahal dari ukuran dan energi binatang itu, dia bisa putusin rantai gampang kalau mau.

Rina kaget, langsung berdiri mundur. Dia nggak nyaman lihat anjing raksasa ini kelihatan nggak nyata.

Badan Budi tegang, mukanya serius banget kayak ketemu musuh kuat. Tangan kanannya langsung ke gagang pisau, siap bertarung.

Tiba-tiba seorang pria masuk sambil pegang rantai. Umur sekitar 50-an, ranselnya dari kulit ular. “Eh, anakku! Akhirnya pulang! Kaget ya?” tanyanya ke Rina.

“Ini… si Jali?” Rina tanya gemetar.

Anjing raksasa itu terus kibas ekor, ngeluarin suara senang pas lihat Rina. Dia nggak langsung nyerbu ke Rina, malah balik badan lihat ayahnya. Ayah Rina marahin pelan, anjing itu merengek tapi nurut dirantai di pohon besar sebelah rumah. Sepanjang waktu matanya tetep nempel ke Rina sambil merengek pelan.

Budi maju cepat, jabat tangan ayah Rina. “Halo, Om. Saya Budi.”

Ayah Rina lihat Budi, senyum. “Temen Rina ya? Tenang aja, si Jali nggak gigit. Dia pintar banget. Biasanya kita lepas keliling rumah.” Dia lihat pisau di pinggang Budi, tanya, “Perjalanan pulang aman?”

Meski pakaiannya sederhana, ayah Rina jelas bukan petani biasa. Bahasanya lancar banget, indonesia standar. Pasti pernah hidup di kota besar sebelum pindah ke desa.

“Oh, aman kok, Om. Cuma masalah kecil, untung ada pisau,” Budi jawab sambil senyum.

Tapi ayah Rina udah notice noda darah kecil di baju Rina. Dia bisa nebak perjalanan mereka nggak gampang. Mukanya agak khawatir. “Kayaknya semuanya makin parah lebih cepat dari dugaan. Aku kira kota lebih aman, kalau nggak aku jemput di terminal. Untung ada kamu nemenin. Nggak kebayang kalau nggak ada kamu.”

“Sama-sama, Om. Rina sering bantu saya, kayak adik sendiri. Saya cuma lakuin yang harus,” Budi jawab hormat.

Rina berdiri di samping, mukanya manyun. “Adik apaan?” pikirnya dalam hati.

Ayahnya lanjut, “Ya udah, nggak usah dibahas lagi. Aku pengen dia balik, tapi kira kota lebih aman. Bagus sekarang dia pulang, setidaknya makanan cukup di sini. Ibunya juga nggak ngomel tiap hari lagi.”

Tiba-tiba ibu Rina panggil dari dapur. Ayahnya senyum, “Duduk dulu ya, Nak. Om bantu ibumu bentar. Nanti kita ngobrol sambil makan malam.”

Budi langsung jawab, “Siap, Om! Makasih banyak.”

Begitu ayahnya ke dapur, Budi tanya Rina pelan, “Gimana penampilanku tadi?”

Rina lirik sekilas, “Biasa aja.” Lalu tanya balik, “Kapan kamu pergi?”

“Belum pernah lihat orang sejahat itu sama orang yang bantu dia. Nggak enak banget ditawarin makan malam dulu sebelum aku pergi? Aku laper,” Budi bilang sambil pegang kepala pura-pura ingat sesuatu. “Oh iya! Kamu nggak rencana beli celana dalam buat ganti?”

“Dasar mesum!! Otaknya cuma mikir yang begituan!” Rina marah, mukanya merah padam. Dia mau lari ke lantai atas, tapi Budi tahan, kasih pistol pelan. “Simpen baik-baik ya.”

Rina ambil pistol hati-hati, lirik sekitar, lalu buru-buru lari. Budi senyum kecil, lalu keluar ruang tamu. Dia lihat anjing raksasa itu lagi rebahan malas di tanah. Tingginya masih setengah meter meski rebahan. Telinganya gerak sedikit pas sadar ada orang deket, mata dibuka setengah, lalu ditutup lagi. Matanya biru muda jernih, kayak kristal.

Budi maju pelan, lalu berhenti. Anjing ini beda sama tikus mutan. Meski ayah Rina bilang jinak dan pintar, Budi nggak mau ambil risiko. Kalau salah, dia bisa dilempar lima-enam meter cuma pake satu pukulan. Ukuran tubuhnya di luar nalar. Meski Budi yakin bisa bunuh, pasti kena luka lumayan. Tapi… harus dibunuh.

Dia lihat ada bulu merah panjang sekitar 20 cm di tanah. Diambil satu, langsung pakai identifikasi.

Bulu Anjing Raksasa Mutasi

Fungsi: Sumber Daya

Kelangkaan: Biru Muda

Berat: 0,01 kg

Komentar: Bulu dari anjing mutasi yang mengandung kekuatan api kecil.

“Beneran!” Budi kaget, tapi tebakannya terbukti. Rina aman di sini.

Budi nggak tahu faktor apa yang nentuin kecepatan mutasi. Beberapa hewan mutasi lebih cepat dari yang lain. Tapi satu hal pasti: Jali ini udah level tinggi. Dan itu artinya desanya mungkin lebih aman dari yang kelihatan.

Atau justru lebih berbahaya.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!