Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Reruntuhan Menara dan Strategi Gerilya
Keputusan Adrian untuk menanggalkan jabatan CEO Pramoedya Group adalah gempa tektonik bagi bursa saham Jakarta. Di layar televisi yang terpasang di lobi-lobi gedung perkantoran Sudirman, wajah Adrian terpampang dengan tajuk utama: "Sang Putra Mahkota Mengundurkan Diri: Akhir dari Sebuah Dinasti?".
Namun, bagi Adrian, saat ia melonggarkan dasinya di dalam mobil yang membawanya pergi dari menara itu, rasanya seperti oksigen akhirnya kembali masuk ke paru-parunya setelah bertahun-tahun ia menahan napas.
Mereka pindah ke sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan yang lebih asri, sebuah hunian dua lantai yang ukurannya hanya seperempat dari rumah besar Pramoedya. Tidak ada lagi barisan pelayan berseragam, tidak ada lagi pengawal yang berjaga di setiap sudut. Hanya ada mereka, satu pengasuh setia yang telah melalui proses seleksi ketat, dan ketenangan yang mahal harganya.
Namun, ketenangan itu adalah ketenangan di mata badai. Paman Bram, yang merasa mendapatkan kemenangan telak, tidak puas hanya dengan kepergian Adrian. Baginya, Adrian yang masih memiliki saham pengendali adalah ancaman yang harus dimusnahkan secara finansial.
Minggu ketiga setelah pengunduran diri Adrian, serangan yang diprediksi Arumi mulai terjadi. Eco-Tech Nusantara, perusahaan rintisan yang dibangun Adrian dari nol dengan dana pribadinya untuk fokus pada teknologi pengolahan limbah mandiri, tiba-tiba menghadapi tembok besar.
"Semua vendor material utama kita membatalkan kontrak secara sepihak, Arumi," ujar Adrian suatu malam di ruang kerja barunya yang dipenuhi tumpukan berkas dan layar monitor. "Mereka bilang ada 'tekanan' dari pihak atas. Dan lebih parahnya, bank tempat aku mengajukan pinjaman modal kerja tiba-tiba melakukan audit ulang yang tidak masuk akal."
Arumi meletakkan secangkir kopi di meja Adrian. "Ini cara Paman Bram, Mas. Dia ingin memotong jalur pasokanmu. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa nama besar Pramoedya di belakangmu, kamu tidak lebih dari seorang pengusaha amatir yang akan gagal."
Adrian mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Dia benar-benar ingin aku merangkak kembali ke dewan komisaris dan memohon pengampunan."
"Atau," sela Arumi dengan mata yang berkilat cerdas, "kita berhenti bermain dengan aturan mereka. Selama ini kamu bertarung sebagai gajah melawan gajah. Sekarang, mari kita bertarung sebagai kancil."
Arumi tidak tinggal diam. Ia menggunakan jaringan informannya di dunia literasi dan media yang selama ini ia bangun. Sebagai penulis memoar yang fenomenal, ia memiliki akses ke orang-orang yang biasanya tidak terjangkau oleh radar korporat.
Ia mulai melakukan investigasi mendalam terhadap perusahaan-perusahaan pesaing yang tiba-tiba "menyerang" Eco-Tech. Dengan ketelitian seorang periset novel misteri, Arumi menemukan sebuah pola menarik. Sebagian besar vendor yang membatalkan kontrak ternyata memiliki utang budi atau keterikatan rahasia dengan sebuah firma investasi di Singapura yang pernah disebut oleh Clara.
"Mas, lihat ini," Arumi menunjukkan bagan yang ia buat di papan tulis kecil milik Abimanyu.
"Perusahaan-perusahaan ini tidak membatalkan kontrak karena mereka benci padamu. Mereka melakukannya karena mereka sedang diperas.
Paman Bram menggunakan dokumen-dokumen lama dari firma di Singapura untuk mengancam mereka."
Adrian menatap bagan itu dengan takjub. "Jika kita bisa membuktikan pemerasan ini, kita bukan hanya menyelamatkan Eco-Tech, tapi kita bisa mengirim Paman Bram ke sel yang jauh lebih gelap."
"Tapi kita butuh bukti fisik, Mas. Dokumen asli dari firma itu. Dan satu-satunya orang yang tahu di mana dokumen itu berada adalah... Clara."
Menghubungi Clara adalah langkah yang sangat berisiko. Namun, Arumi yakin bahwa Clara yang kini kehilangan segalanya di Singapura memiliki motif terkuat untuk membalas dendam. Melalui bantuan Julian di London yang memiliki koneksi di firma hukum Singapura, Arumi berhasil melacak keberadaan Clara.
Ternyata, Clara bekerja sebagai staf administrasi biasa di sebuah galeri seni kecil di pinggiran Singapura, jauh dari kemewahan yang dulu ia banggakan.
Adrian dan Arumi memutuskan untuk terbang ke Singapura secara diam-diam. Di sebuah kedai kopi tersembunyi di kawasan Tiong Bahru, mereka bertemu dengan wanita yang pernah menjadi duri dalam pernikahan mereka.
Clara tampak jauh lebih sederhana, namun tatapan matanya masih setajam dulu. "Kalian datang sejauh ini hanya untuk melihat kejatuhanku?" tanya Clara sinis.
"Kami datang untuk menawarkan kesempatan, Clara," jawab Arumi tenang. "Paman Bram menggunakan kehancuran keluargamu untuk memperkaya dirinya sendiri. Dia mengambil aset Valois Energy melalui skema yang tidak sah saat kamu sedang terpuruk. Kamu ingin diam saja melihatnya berpesta di atas penderitaanmu?"
Clara terdiam. Tangannya yang memegang cangkir sedikit bergetar. "Dia licik. Dia punya pengacara di setiap sudut kota."
"Kami punya kebenaran," timpal Adrian. "Berikan kami bukti tentang keterlibatan Paman Bram dalam pemerasan vendor di Jakarta, dan aku akan memastikan tim pengacaraku membantumu mendapatkan kembali sebagian aset keluargamu yang disita secara ilegal."
Clara menatap Adrian, lalu beralih ke Arumi. Ia melihat sebuah ketulusan yang aneh di mata wanita yang dulu ia anggap sebagai 'cadangan'.
"Kalian benar-benar gila. Kalian mempertaruhkan segalanya hanya untuk sebuah prinsip?"
"Kami bertarung untuk masa depan anak kami, Clara," ujar Arumi.
Clara akhirnya menarik sebuah amplop cokelat dari tasnya. "Aku sudah menyimpannya selama berbulan-bulan, menunggu seseorang yang cukup berani untuk menggunakannya. Ini adalah salinan percakapan dan aliran dana antara Paman Bram dan firma hukum Singapura. Ini adalah 'bom' yang kalian cari."
Kembali ke Jakarta, Adrian dan Arumi tidak langsung melapor ke polisi. Mereka melakukan serangan gerilya. Adrian mulai mendekati vendor-vendornya secara personal, satu per satu, menunjukkan bukti bahwa Paman Bram sebenarnya tidak sekuat yang mereka kira dan bahwa dokumen yang digunakan untuk memeras mereka bisa dipatahkan secara hukum.
Kepercayaan mulai kembali. Satu per satu, vendor material mulai menyuplai kembali Eco-Tech Nusantara. Adrian bahkan berhasil mengamankan investasi dari seorang pengusaha muda yang juga tidak menyukai cara-cara kotor Paman Bram.
Puncaknya terjadi pada rapat tahunan pemegang saham Pramoedya Group. Adrian datang bukan sebagai CEO, melainkan sebagai pemegang saham pengendali yang menuntut transparansi total atas dana-dana yang diselewengkan oleh dewan komisaris melalui skema Paman Bram.
Di depan dewan sesepuh yang dulu menghinanya, Adrian memutar rekaman suara dan menunjukkan bukti-bukti yang didapatkan dari Clara. "Kalian ingin suksesi yang kuat?" suara Adrian menggema di ruang rapat. "Suksesi tidak dibangun di atas pemerasan dan kebohongan.
Jika kalian terus melindungi Paman Bram, kalian semua akan terseret dalam kehancuran hukum yang sudah saya siapkan."
Dewan sesepuh terpojok. Kekuatan mereka runtuh saat mereka menyadari bahwa Adrian kini memiliki senjata yang jauh lebih mematikan daripada sekadar uang: bukti kejahatan mereka.
Malam itu, setelah hari yang sangat melelahkan di kantor polisi dan ruang rapat, Adrian pulang ke rumah. Ia menemukan Arumi sedang membacakan cerita untuk Abimanyu yang hampir tertidur.
Adrian berdiri di ambang pintu, menatap dua orang yang menjadi alasannya untuk tetap berdiri tegak. Ia menyadari bahwa kemenangan sejati bukan saat ia mengalahkan Paman Bram di ruang rapat, tapi saat ia bisa pulang ke rumah ini dengan tangan yang bersih.
"Semuanya sudah berakhir, Arumi," bisik Adrian saat Arumi keluar dari kamar Abi. "Paman Bram akan menghadapi tuntutan baru. Dewan komisaris sudah setuju untuk melakukan reformasi total."
Arumi memeluk Adrian, merasakan detak jantung suaminya yang kini jauh lebih tenang. "Dan Eco-Tech?"
"Kita jalan terus. Tanpa bayang-bayang dinasti. Kita bangun sesuatu yang benar-benar milik kita."
Namun, di tengah kelegaan itu, Arumi teringat sesuatu. "Mas, ada satu hal yang belum kita bahas. Saat di Singapura, Clara sempat membisikkan sesuatu padaku sebelum kita pergi."
"Apa itu?"
"Dia bilang... Siska tidak hanya sekadar pergi karena takut pada ayahmu. Ada seseorang yang memberitahu Siska tentang rencana perjodohan kita jauh sebelum pernikahan itu gagal.
Seseorang di dalam keluarga kita sendiri yang ingin pernikahanmu dengan Siska hancur agar mereka bisa mengendalikanmu melalui 'istri pengganti'."
Adrian mengernyit. "Maksudmu, pernikahan kita sejak awal adalah bagian dari rencana orang lain?"
Arumi mengangguk pelan. "Dan orang itu masih ada di sekitar kita, Mas. Seseorang yang kita anggap sebagai sekutu."