Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan Duo R
Asap putih dari granat asap masih memenuhi koridor, tapi bagi Feng Yan, pandangannya justru semakin tajam. Di sampingnya, Reyhan sudah tidak lagi terlihat seperti polisi ramah. Matanya berkilat liar—inilah mode "Detektif Gila" yang ditakuti dunia bawah tanah Metropol.
"Rendy! Kau masih di sana, bocah penakut?" teriak Reyhan sambil melepaskan dua tembakan presisi ke arah bayangan di balik asap.
"Jangan panggil aku penakut, Detektif Saraf!" sahut suara Rendy dari pengeras suara gedung. "Sistem pertahanan internal aktif. Selamat menikmati pertunjukan cahaya!"
KLIK!
Seketika, lampu darurat merah padam dan berganti dengan lampu strobe yang berkedip sangat cepat, membutakan siapa pun yang tidak memakai kacamata khusus. Di saat yang sama, Rendy mengaktifkan frekuensi ultrasonik lewat speaker plafon yang membuat musuh-musuh itu kehilangan keseimbangan.
"Sekarang, Chen Lian!" perintah Feng Yan.
Dari langit-langit plafon yang gelap, Chen Lian (Shadow Master) turun seperti malaikat maut. Tanpa suara, tanpa peluru. Hanya kilatan belati titanium yang menyambar sendi-sendi lawan. Dalam lima detik, tiga orang di barisan depan tumbang tanpa sempat berteriak.
"Jangan main keroyok, hadapi aku langsung!" tantang Feng Yan. Ia melangkah maju ke tengah kerumunan musuh, menghajar siapa pun yang mendekat dengan teknik bela diri yang efisien dan mematikan.
Di sudut ruangan, Dr. Kanaya tetap berdiri tenang, meski peluru sesekali menyerempet dinding di dekatnya. Ia menatap Rendy lewat kamera CCTV terdekat. "Rendy, kau terlalu banyak bicara. Fokus pada enkripsi pintu belakang, atau Liu Ruyan akan masuk lewat server darurat!"
"Cerewet sekali, Dokter! Aku sedang melakukannya!" Rendy berteriak, jarinya menari secepat kilat. "Aku si Jenius IT, tidak akan membiarkan sepotong kode pun lolos!"
Namun, di tengah baku hantam itu, sebuah suara dingin terdengar dari alat komunikasi salah satu musuh yang tergeletak.
"Feng Yan... kau sangat menikmati pestanya, hm?" Itu suara Liu Ruyan. "Tapi sementara kau sibuk dengan 50 pionku, apakah kau sudah memeriksa detak jantung Mutiara-mu?"
Feng Yan tersentak. Ia menoleh ke arah Lin Diya, namun Diya justru sedang menatap Dr. Kanaya dengan tatapan aneh. Tiba-tiba, Diya memegang dadanya, wajahnya pucat pasi.
"Diya!" Feng Yan berlari mendekat.
"Jangan menyentuhnya!" teriak Kanaya sambil menghalangi Feng Yan. "Ini bukan serangan fisik, Feng Yan. Ini neuro-toxin yang dipicu oleh frekuensi ultrasonik milik Rendy! Liu Ruyan sudah menyabotase frekuensi kita sendiri!"
Rendy membeku di depan monitornya. "Apa? Tidak mungkin! Aku... aku yang melakukannya?"
Dilema besar menghantam Rendy. Dia yang ingin melindungi, malah menjadi senjata yang melukai. Di sisi lain, 50 musuh tadi kembali bangkit karena frekuensi pengacau itu kini justru berpihak pada mereka.
"Reyhan! Feng Yan!" teriak Rendy dengan nada putus asa. "Aku harus mematikan sistemnya, tapi kalau kumatikan, pintu baja akan terbuka dan mereka akan masuk semua!"
Feng Yan menatap Diya yang kesakitan, lalu menatap koridor yang penuh musuh. "Matikan, Rendy! Biarkan mereka masuk! Biar kuhancurkan mereka dengan tanganku sendiri!"
Penutup Bab 29: Pintu baja terbuka perlahan dengan bunyi derit yang menyayat hati. Rendy tertunduk lesu di markasnya, merasa gagal melindungi orang-orang yang ia sayangi. Sementara itu, Dr. Kanaya langsung berlutut di samping Diya, mengeluarkan suntikan otomatis yang tadi ia siapkan.
"Bertahanlah, Diya," bisik Kanaya. "Karena rahasia Kiara... adalah alasan kenapa kau harus tetap hidup."
Feng Yan berdiri di depan pintu yang terbuka, melepas dasinya, dan menggulung lengan kemejanya yang kini bercak darah. "Kalian ingin tahta? Silakan ambil di atas mayatku."