seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
****
Ruang observasi yang semula tenang mendadak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Pernyataan Alan yang mutlak bagaikan petir di siang bolong bagi Dinda. Ia mencoba bangkit, mengabaikan rasa pening yang masih berdenyut di belakang kepalanya.
"Pindah? Apa maksud Tuan?" suara Dinda bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kebingungan yang luar biasa. "Kenapa kami harus pindah? Kontrakan itu adalah rumah kami, Tuan. Hanya itu yang kami punya."
Alan berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana kainnya yang mahal. Ekspresinya kembali datar, seolah-olah guncangan emosional yang ia rasakan saat mendengar laporan Leo tadi telah terkunci rapat di balik topeng CEO-nya.
"Kontrakan itu tidak layak untuk orang sakit, Dinda," ujar Alan tenang. "Adikmu mengidap leukemia. Dia butuh lingkungan yang steril, sirkulasi udara yang baik, dan akses cepat jika terjadi kondisi darurat. Gang sempit tempat kalian tinggal bukan tempat yang tepat untuk pemulihan, aku punya apartemen yang tak jauh dari rumah sakit. Kau bisa menempatinya bersama adik-adik mu."
Dinda terdiam sejenak. Alasan Alan masuk akal secara medis, namun nuraninya berteriak bahwa ini terlalu berlebihan. "Saya tahu kondisi Dita, Tuan. Tapi saya bisa mengusahakannya. Saya akan bekerja lebih keras lagi. Saya tidak bisa menerima bantuan yang terlalu besar seperti ini. Kita bahkan baru saling mengenal."
"Bekerja lebih keras? Sampai Anda pingsan lagi di lantai pabrik saya?" Alan melangkah selangkah lebih dekat. "Jangan keras kepala. Ini demi adik-adikmu, bukan hanya untukmu."
Tepat saat Dinda hendak membalas, pintu ruang observasi terbuka dengan kasar. Dika berdiri di sana. Napasnya masih memburu, dan tatapan matanya jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Ia rupanya telah mendengar sebagian percakapan itu dari balik pintu.
"Kakak tidak akan pergi ke mana-mana," suara Dika terdengar berat dan penuh penekanan.
Dinda menoleh. "Dika..."
Dika berjalan masuk, berdiri tepat di antara Dinda dan Alan, seolah menjadi pagar pelindung bagi kakak perempuannya. Ia menatap Alan dengan keberanian yang jarang dimiliki remaja seusianya saat berhadapan dengan pria sekelas Allandra Ryuga.
"Apartemen? Tinggal bersamamu?" Dika mendengus sinis. "Tuan Alan yang terhormat, kami memang miskin, tapi kami bukan tunawisma yang bisa kamu pindahkan sesuka hati seperti pion catur."
"Dika, jaga bicaramu," tegur Dinda pelan, meskipun hatinya sepaham dengan adiknya.
"Kenapa, Kak? Dia pikir dengan uangnya dia bisa mengatur hidup kita?" Dika kembali menatap Alan. "Dengar, Tuan. Terima kasih atas bantuan medis untuk Dita hari ini. Tapi soal tempat tinggal, jawabannya adalah tidak. Kami punya harga diri."
Alan menatap Dika dengan dingin. "Harga diri tidak bisa membeli obat kimia untuk adikmu, bocah. Apakah kamu ingin melihat Dita kembali kritis karena debu dan polusi di gang itu?"
Wajah Dika mengeras. Pertanyaan Alan menghantam tepat di ulu hatinya. Namun, remaja itu tidak goyah. "Aku akan mencari uangnya. Aku akan bekerja dua kali lipat, tiga kali lipat. Soal biaya rumah sakit hari ini, tolong buatkan rinciannya. Aku akan mencicilnya. Berikan waktu, dan aku akan mengembalikan setiap rupiah yang kamu keluarkan."
Alan hampir saja tertawa mendengar pernyataan sombong itu, namun ia menahannya saat melihat kesungguhan di mata Dika. "Kamu hanya anak SMA. Berapa banyak karung yang harus kamu panggul di pasar untuk melunasi biaya VVIP dan pengobatan leukemia yang mencapai ratusan juta?"
"Itu urusanku! Bukan urusanmu!" bentak Dika. "Dan satu lagi... jangan pernah mendekati Kakakku lagi. Jangan pernah menyentuhnya atau mencoba merayunya dengan kemewahanmu. Aku tahu tipe pria sepertimu. Kamu hanya ingin memanfaatkan kelemahan Kakakku, kan?"
"Dika!" Dinda menarik lengan adiknya, mencoba menenangkan. "Tuan Alan hanya ingin membantu..."
"Membantu tidak perlu sampai menyuruh pindah ke apartemen pribadinya, Kak!" potong Dika cepat. "Dia punya niat lain. Aku bisa merasakannya."
Alan terdiam. Ia tidak bisa menyalahkan kecurigaan Dika. Jika ia berada di posisi remaja itu, ia pun akan melakukan hal yang sama. Namun, Alan tahu sesuatu yang mereka tidak tahu—bahwa keselamatan mereka terancam jika tetap berada di radar publik sebagai keluarga Mahendra yang masih hidup. Tapi ia tidak bisa mengatakannya sekarang.
"Baiklah," ucap Alan akhirnya, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Jika kalian menolak untuk pindah, saya tidak akan memaksa untuk saat ini. Tapi setidaknya, biarkan Dita menyelesaikan perawatannya di sini sampai kondisinya benar-benar stabil. Itu kompensasi dari saya karena kecelakaan semalam. Kalian tidak perlu mencicilnya."
"Kami akan tetap membayarnya," tegas Dika.
Alan menatap Dika lama, lalu beralih ke Dinda yang tampak sangat lelah. "Dinda, kamu tetaplah di sini sampai infusmu habis. Suster akan membawakan makanan. Setelah itu, jika kamu bersikeras pulang, supir saya akan mengantar."
Dinda mengangguk lemah. "Terima kasih, Tuan Alan. Dan maafkan kata-kata adik saya. Dia hanya terlalu khawatir."
"Saya mengerti," jawab Alan singkat. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di samping Dika. Tanpa menoleh, ia berbisik, "Jaga kakakmu dengan baik, Andika. Tapi ingat, terkadang musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang tidak bisa kamu lihat dengan ototmu."
Alan keluar dari ruangan, meninggalkan Dika yang terpaku memikirkan kata-kata itu.
***
Setelah Alan pergi, Dika langsung duduk di tepi ranjang Dinda. Ia mengambil tangan kakaknya, menggenggamnya erat.
"Kak, jangan pernah percaya sama dia," bisik Dika. Suaranya kini lebih lembut, menunjukkan sisi rapuhnya sebagai seorang adik. "Aku nggak mau Kakak kenapa-kenapa. Aku takut... aku takut pria itu cuma mau mempermainkan kita."
Dinda mengusap rambut Dika. "Kakak tahu, Dik. Kakak juga nggak akan mau pindah ke sana. Kita punya rumah sendiri, sesempit apapun itu. Tapi Tuan Alan sudah menyelamatkan nyawa Dita hari ini. Kita harus tetap berterima kasih."
"Aku bakal kerja lebih keras, Kak. Aku janji. Aku nggak bakal bolos sekolah lagi kalau Kakak janji berhenti kerja lembur," ujar Dika.
Dinda tersenyum sedih. "Bagaimana bisa, Dik? Biaya obat Dita sangat mahal."
"Aku punya cara sendiri. Pokoknya Kakak istirahat saja," jawab Dika misterius. Dalam hatinya, ia sudah bertekad untuk mengambil lebih banyak giliran di pasar induk, bahkan jika ia harus tidak tidur sama sekali.
**
Di lorong rumah sakit, Alan berjalan dengan langkah cepat diikuti Leo.
"Tuan, apa rencana selanjutnya? Jika mereka tetap di kontrakan itu, akan sulit bagi kita untuk memantau keamanan mereka tanpa menarik perhatian," tanya Leo.
"Biarkan saja dulu," jawab Alan dengan nada frustrasi. "Anak laki-laki itu... dia punya harga diri yang terlalu tinggi. Jika saya memaksa, dia akan semakin menjauhkan kakaknya dari saya."
Alan berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota. "Leo, pastikan tidak ada seorang pun di pabrik atau di lingkungan rumah sakit yang membicarakan identitas Adinda. Dan soal biaya pengobatannya, buatkan skema anonim. Katakan pada pihak rumah sakit bahwa itu adalah bantuan dari yayasan kanker, agar anak itu tidak merasa berhutang budi pada saya."
"Baik, Tuan. Tapi bagaimana dengan niat Anda untuk... memiliki Adinda?" tanya Leo hati-hati.
Alan terdiam. Ia teringat saat ia hampir mencium Dinda tadi. Kedamaian yang ia rasakan saat melihat wajah tidurnya. "Dia berbeda, Leo. Dia bukan wanita yang bisa dibeli dengan berlian atau apartemen mewah. Semakin saya mencoba menekannya, semakin dia akan melarikan diri."
Alan mengepalkan tangannya. "Dan anak laki-laki itu, Andika... dia mengingatkan saya pada seseorang. Keteguhan matanya itu bukan milik rakyat jelata biasa. Dia memiliki darah pejuang di tubuhnya."
**
Kembali di ruang observasi, Dinda mencoba bangkit lagi saat suster masuk membawa makanan.
"Suster, tolong... saya harus ke ruangan adik saya sekarang. Saya sudah merasa lebih baik," pinta Dinda.
"Nona, infus Anda masih setengah. Tuan Alan berpesan agar—"
"Saya tidak peduli apa pesan Tuan Alan," potong Dinda dengan tegas namun sopan. "Dia bukan keluarga saya. Saya berhak melihat adik saya."
Suster itu tampak ragu, namun akhirnya ia membantu Dinda duduk di kursi roda. Dika dengan sigap mengambil alih, mendorong kursi roda kakaknya menuju lantai VVIP tempat Dita berada.
Saat mereka memasuki ruangan Dita, pemandangan yang ada membuat hati Dinda hancur. Dita terbaring dengan berbagai kabel di tubuhnya, wajahnya yang mungil tampak tenggelam di antara bantal-bantal besar.
Dinda turun dari kursi roda dengan gemetar, lalu duduk di samping ranjang Dita. Ia mencium kening adiknya lama sekali. "Maafin Kakak ya, Dit... Kakak nggak becus jagain kamu."
Dika berdiri di belakang mereka, menatap kedua saudara perempuannya itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia benci kenyataan bahwa untuk mendapatkan ruangan sebagus ini, mereka harus bergantung pada pria seperti Alan.
"Kak," panggil Dika pelan. "Apapun yang terjadi, kita tetap bertiga, kan?"
Dinda menoleh, tersenyum dengan air mata yang menggenang. "Iya, Dik. Hanya kita bertiga. Selamanya."
***
Bersambung...