Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diselamatkan oleh Seorang Tuan
Bab 33: Diselamatkan oleh Seorang Tuan
Wajah Su Yelan memucat, bukan karena takut melainkan karena amarah yang ditahan rapat di dada.
Tatapannya tajam ketika ia berkata dengan suara dingin namun tegas,
“Tuan Kesembilan, kau tentu tahu aturan antara pria dan wanita tidak boleh bersentuhan sembarangan, bahkan dalam hal sekecil memberi dan menerima.”
Di dalam kereta sempit itu, udara terasa pengap.
Aroma kayu dan kain bercampur dengan hawa tegang yang tak terlihat.
Yan Tianming tersenyum miring, seolah menikmati reaksi yang ia dapatkan.
“Jadi maksudmu… aku harus bertanggung jawab atas tubuhmu hanya karena aku memelukmu tadi?”
Su Yelan menahan napas, lalu menjawab dingin,
“Tidak perlu. Kebaikan terbesarmu adalah… tidak menyentuhku lagi.”
Namun pria di hadapannya justru semakin santai. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Su Yelan dengan mata penuh minat yang sulit ditebak.
“Su Guniang ” ia sengaja masih menggunakan nama itu, “ kau bukan hanya memiliki wajah yang menarik, tapi juga sifat yang… membuat orang penasaran.”
Nada suaranya merendah, hampir seperti godaan.
“Usiamu sudah cukup untuk menikah, tapi kau masih sendiri. Jadi aku berpikir…”
“Siapa bilang aku belum menikah?”
Jawaban Su Yelan cepat, tajam, dan tanpa ragu.
Alis Yan Tianming terangkat sedikit.
“Oh? Lalu dengan keluarga mana kau bertunangan? Siapa dia?”
Su Yelan menatapnya lurus, matanya jernih namun penuh kewaspadaan.
“Itu urusan pribadiku. Tuan Kesembilan tidak berniat memaksaku, bukan?”
Hening sejenak.
Hanya suara roda kereta yang bergesekan dengan tanah, berderit pelan di tengah jalan panjang menuju ibu kota.
Yan Tianming tersenyum tipis.
“Baiklah. Kalau kau tak ingin mengatakannya… aku tidak akan memaksa.”
Namun tatapannya berkata sebaliknya ia belum selesai.
Sepanjang perjalanan, Su Yelan menutup mata, pura-pura tertidur.
Padahal pikirannya jauh melayang.
Ke istana…
Ke seseorang…
Yan Yuxing.
Apakah dia selamat?
Apakah luka itu parah?
Apakah… dia mencarinya?
Dada Su Yelan terasa sesak.
Angin dingin yang masuk dari celah tirai kereta menyentuh kulitnya, namun tak mampu meredakan kegelisahan di hatinya.
Sepanjang jalan, kehidupan rakyat tampak normal pedagang berteriak menawarkan dagangan, anak-anak berlarian, asap dapur mengepul tenang di udara senja.
Tak ada tanda kekacauan.
Itu berarti… kemungkinan besar…
Dia selamat.
Napas Su Yelan sedikit lega.
Namun justru karena itu, rasa rindu yang selama ini ia tekan tiba-tiba melonjak tak terkendali.
Ia merindukan seorang anak kecil yang memanggilnya dengan suara manja…
Yan Longquan.
Ia ingin memeluknya.
Membelai rambutnya.
Mendengar suaranya lagi…
Tanpa sadar, ujung matanya memerah.
Enam jam kemudian, kereta akhirnya berhenti di depan Kediaman Perdana Menteri.
Begitu turun, seorang penjaga langsung mengenali Su Yelan. Wajahnya seketika berseri-seri.
“Su Guniang tidak… Nona… Anda kembali!”
Nada suaranya penuh rasa syukur yang tulus.
Ia masih ingat bagaimana wanita ini telah menyelamatkan ibunya dari penyakit bertahun-tahun.
Sejak saat itu, dalam hatinya, Su Yelan adalah dermawan terbesar dalam hidupnya.
Tanpa menunda, ia segera memerintahkan seseorang untuk melapor ke dalam.
Tak lama, langkah tergesa terdengar.
Perdana Menteri Liang Guozheng muncul, napasnya sedikit terengah, namun wajahnya jelas menunjukkan kelegaan yang luar biasa saat melihat Su Yelan berdiri dengan selamat.
“Syukurlah… kau baik-baik saja…”
Namun saat pandangannya beralih ke pria di sampingnya
Wajahnya berubah.
“Pangeran… Anda…?”
Suasana langsung menegang.
Ia mengenali pria itu.
Sangat mengenal.
Seseorang yang dulu pernah mengguncang istana…
Seseorang yang menjadi bayangan kelam dalam sejarah kerajaan.
Namun sebagai pejabat tinggi, Liang Guozheng segera menenangkan diri.
“Silakan masuk,” katanya dengan sopan, meski hatinya waspada.
Di saat yang sama, ia diam-diam memberi isyarat kepada pelayan untuk segera mengirim kabar ke istana.
Di dalam ruangan.
Aroma teh hangat memenuhi udara, namun ketegangan tak kunjung mereda.
Su Yelan dengan tenang menjelaskan kejadian beberapa hari terakhir.
Liang Guozheng terkejut.
“Jadi… Tuan Kesembilan yang menyelamatkanmu?”
“Aku tidak ingat detailnya,” jawab Su Yelan hati-hati, “saat sadar, aku sudah berada di kediamannya.”
“Tuan Kesembilan…” gumam Perdana Menteri pelan.
Yan Tianming tersenyum ringan.
“Su Guniang, kau tidak keberatan aku tidak mengungkap identitasku sebelumnya, kan?”
Su Yelan menunduk sedikit.
“Kau berasal dari keluarga kerajaan. Itu bukan sesuatu yang bisa dipertanyakan oleh orang biasa sepertiku.”
Jawabannya sempurna.
Terlalu sempurna.
Mata Yan Tianming menyipit tipis.
“Jawabanmu… membuatku berpikir,” katanya perlahan, “bahwa kau sudah tahu siapa aku sejak awal.”
Jantung Su Yelan berdetak keras.
Namun wajahnya tetap tenang.
Di dalam hati ia waspada.
Pria ini… terlalu tajam.
Belum sempat ia menjawab
Langkah kaki terdengar dari luar.
Cepat.
Tegas.
Familiar.
Dan kemudian “Lan’er”
Suara itu.
Hangat.
Dalam.
Menggetarkan jiwa.
Tubuh Su Yelan langsung menegang.
Ia berdiri tanpa sadar, matanya melebar.
Yan Yuxing.
Dia benar-benar di sini.
Tanpa berpikir, ia melangkah maju ingin mendekat, ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar nyata.
Namun
Kakinya terpeleset.
Rasa sakit menjalar dari pergelangan.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Dan sebelum ia jatuh
Seseorang menariknya.
Lengan kuat melingkar di pinggangnya.
Menahannya.
Memeluknya.
Yan Tianming.
Dalam sekejap
Ia berada dalam pelukannya.
Dan tepat di saat itu Yan Yuxing berdiri di ambang pintu.
Tatapan mereka bertemu.
Waktu seolah berhenti.
Udara membeku.
Ekspresi Yan Yuxing… tidak marah.
Namun justru itu yang lebih menakutkan.
Matanya gelap.
Dalam.
Tak terbaca.
Sementara suara Yan Tianming terdengar lembut di dekat telinga Su Yelan
“Yelan… kau ini ceroboh sekali.”
Nada itu… terlalu intim.
“Tulang kakimu belum sembuh, tapi kau sudah berlari seperti ini. Kalau aku tahu, kita seharusnya menunda perjalanan beberapa hari lagi…”
Setiap kata seperti sengaja diucapkan.
Untuk didengar.
Untuk disalahartikan.
Untuk… memancing reaksi.
Wajah Su Yelan memucat.
Ia ingin menjelaskan.
Namun saat ia menoleh
Ia melihat Yan Yuxing hanya berdiri diam.
Tanpa berkata apa pun.
Dan justru karena diam itulah
Hatinya terasa… semakin tidak tenang.