"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Selama beberapa saat dalam pelukan ayahnya, Raline akhirnya melepas pelukan pria yang jadi cinta pertamanya itu. Pak Umar menangkup wajah Raline, berusaha memberikan senyuman hangatnya agar sang putri dapat pergi dengan hati yang lebih tenang.
"Jaga diri baik-baik, ya. Apapun yang perlu Bapak ketahui, langsung saja hubungi Bapak atau Ibu," pesan Pak Umar. Suaranya lembut seperti biasa.
Raline mengangguk. "Bapak sama Ibu juga jaga diri baik-baik, ya. Aku akan sering-sering main kalau sempat."
Pak Umar mengangguk. Sekali lagi ia memeluk putrinya dan mengecup pucuk kepalanya.
Setelah itu, Raline gantian memeluk ibunya. Ia meminta maaf yang sebesar-besarnya pada sang ibu karena telah mengecewakannya.
Sama seperti Pak Umar, Bu Dinar juga memeluk putrinya erat, bersikap hangat demi bisa melihat putrinya pergi dengan hati tenang, walaupun hatinya menangis pilu.
Setelah perpisahan antara Raline dan kedua orang tuanya, Bu Esta bangkit dari duduknya dan mengajak Raline segera pergi karena malam semakin larut.
Raline mengangguk patuh. Sudah saatnya ia pergi, memulai kehidupan yang baru bersama suaminya.
Kaisar ikut berdiri. Ia menghampiri kedua mertuanya untuk pamitan.
Saat Kaisar mengulurkan tangan untuk bersalaman, Pak Umar dengan kesadaran penuh menerimanya.
"Jaga putri saya," ucap Pak Umar, pelan namun tegas. "Jangan sakiti dia, meski itu hanya seujung kukunya. Saya tidak akan pernah terima jika kamu menyakitinya. Bukan hanya saya yang akan maju untuk memberikan hukuman padamu, tapi abangnya juga."
"Saya akan berusaha menjadi suami yang baik, Pak. Saya berjanji," jawab Kaisar mantap.
Pak Umar mengangguk. Berusaha percaya pada pemuda itu. Ia berpikir, tak ada salahnya memberikan kesempatan pada Kaisar untuk membuktikan kualitasnya sebagai seorang pria.
Semua orang keluar dari rumah sederhana itu. Pak Umar membantu memasukkan koper dan barang-barang Raline ke dalam bagasi.
Raline dan kaisar lalu masuk ke dalam mobil setelahnya. Mereka duduk di kursi belakang.
Bu Esta, sebelum masuk ke dalam mobil, ia menghampiri Bu Dinar dan Pak Umar. Wanita yang biasanya bersikap angkuh itu, kini terlihat jauh lebih lembut dari biasanya.
"Pak Umar, Bu Dinar," ucapnya lembut. "Saya meminta maaf untuk semua yang telah terjadi di awal. Sekarang kita sudah berbesan. Saya harap kita bisa memulai hubungan yang baik, meski pernikahan anak-anak kita hanya sementara."
"Kita akan memiliki cucu," lanjutnya. "Kemungkinan kita harus memiliki hubungan yang baik saat dia lahir ke dunia. Dan, walaupun saya meminta Kaisar menceraikan Raline setelah anak itu lahir, tapi saya berjanji bahwa saya tidak akan lepas tanggung jawab sepenuhnya pada anak itu."
"Meski saya tidak menginginkannya. Dan meski saya tidak bisa mengakuinya di depan umum, tapi anak itu tetap cucu saya. Tentunya, saya harus tetap memberikan yang terbaik untuknya," tambahnya.
Pak Umar dan Bu Dinar hanya terdiam mendengar penuturan Bu Esta. Ada secercah lega karena setidaknya pihak laki-laki tidak lepas tangan, namun kata "cerai" dan "tidak mengakui di depan umum" tetap menjadi duri yang menusuk hati mereka. Pak Umar hanya mengangguk kaku, tak mampu membalas kata-kata itu dengan janji muluk. Baginya, saat ini yang terpenting adalah keselamatan Raline.
Setelahnya, Bu Esta masuk ke dalam mobi usai berpamitan.
Mobil milik Bu Esta perlahan meninggalkan halaman rumah. Dari kaca jendela yang tertutup rapat, Raline menoleh ke belakang, menatap sosok ayah dan ibunya yang berdiri mematung di bawah lampu teras yang temaram. Mereka tampak semakin kecil, semakin menjauh, hingga akhirnya hilang ditelan tikungan jalan.
Suasana di dalam mobil begitu mencekam. Bu Esta duduk di depan samping sopir, sementara Raline dan Kaisar duduk di kursi belakang dengan jarak yang sengaja dibuat lebar. Tak ada percakapan. Hanya deru mesin dan suara rintik gerimis yang mulai membasahi kaca mobil.
Raline memeluk tas kecilnya erat-erat, air matanya masih mengalir tanpa suara. Pikirannya melayang pada kamar tidurnya yang kini kosong, pada meja makan tempat ia biasa bercanda dengan Farhan, dan pada masa depan sekolahnya yang kini terancam akan terhenti di tengah-tengah.
Kaisar melirik Raline dari sudut matanya. Ia melihat bahu gadis itu masih berguncang kecil. Ingin rasanya ia mengulurkan tangan, sekadar menepuk bahu istrinya. Ya, istrinya, untuk memberikan penenangan. Namun, menyadari itu terjadi akibat kesalahannya, membuatnya menahan gerakannya. Ia hanya bisa mengepalkan tangan di atas pangkuannya sendiri.
"Kita akan langsung ke rumah baru kalian," suara Bu Esta memecah keheningan tanpa menoleh ke belakang. "Mulai malam ini, kalian akan menempati rumah peninggalan nenekmu, Kai. Di sana tempatnya lebih tenang dan jauh dari tetangga. Mama yakin tempat seperti itu jauh lebih baik untuk kalian, demi menjaga privasi kalian."
"Semuanya sudah disiapkan. Kalian bisa langsung menempatinya," lanjutnya. "Lokasinya agak jauh dari sekolah kalian. Mungkin memakan waktu sekitar dua puluh menit perjalanan jika berkendara."
Raline dan Kaisar hanya mengangguk pelan, meski Bu Esta tak melihatnya.
"Ingat janji kalian pada Pak Umar," kata Bu Esta dengan nada datar namun penuh penekanan. "Kalian harus tidur di kamar terpisah. Mama akan sering datang untuk mengecek. Jangan buat masalah baru yang bisa mempermalukan Mama lebih jauh."
"Iya, Ma," jawab Kaisar singkat, suaranya serak.
Mobil terus melaju menembus dinginnya malam.
Di tengah perjalanan, Raline tiba-tiba merasa perutnya bergejolak hebat. Rasa mual yang sejak sore ia tahan kini memuncak.
"Huft!"
Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya yang semula pucat kini tampak semakin pasi.
Kaisar yang menyadari perubahan raut wajah Raline seketika panik. "Lin? Lo kenapa?"
Raline menggeleng, tangannya masih menutup mulut.
"Mungkin dia merasa mual, Kai," kata Bu Esta, paham betul apa yang Raline rasakan.
Kaisar mendadak merasa panik. Ia mendekati Raline dan meraih bahunya.
"Apa yang harus aku lakukan, Ma?" tanyanya pada sang ibu.
"Buka jendelanya, Kai! Kasih dia udara!" seru Bu Esta dari kursi depan, ikut tegang mendengar suara napas Raline yang mulai tersengal.
Kaisar dengan sigap menurunkan kaca mobil. Angin malam yang dingin langsung menerobos masuk, namun itu tidak cukup untuk meredam gejolak di perut Raline. Wajah Raline kini sudah berkeringat dingin, matanya terpejam rapat menahan rasa asam yang naik ke tenggorokannya.
"Lin, tahan ya..." bisik Kaisar panik. Ia mencoba mengusap punggung Raline, namun tepat saat ia menarik tubuh Raline agar bersandar padanya, pertahanan gadis itu runtuh.
"Huekk!"
Raline tidak sempat lagi berpaling. Cairan bening dan sisa makanan yang pahit tumpah begitu saja, membasahi celana kain yang dikenakan Kaisar serta jas yang baru saja ia pakai untuk akad nikah tadi.
"Uhuk, uhuk!"
Raline terbatuk-batuk, tubuhnya lemas seperti tak bertulang, hingga kepalanya terkulai lemas di pundak Kaisar.
Mobil seketika hening. Bau asam menyeruak memenuhi kabin mobil mewah itu.
"Ya Tuhan, Raline!" Bu Esta menutup hidungnya dengan tisu, matanya membelalak melihat kekacauan di kursi belakang.
Kaisar mematung. Bukannya merasa jijik, ia justru merasakan hantaman rasa bersalah yang luar biasa. Ia melihat Raline yang kini terisak kecil, tampak sangat menderita dan tak berdaya. Dengan tangan gemetar, Kaisar mengabaikan kotoran yang membasahi pangkuannya. Ia justru merengkuh kepala Raline, membiarkan gadis itu bersandar lebih nyaman di dadanya.
"Gapapa, Lin... gapapa," bisik Kaisar lirih. Ia mengambil tisu dari kotak di dekatnya, menyeka sisa muntahan di bibir Raline dengan lembut. "Maafin gue... maafin gue karena lo harus nanggung ini semua sendirian."
Raline hanya bisa memejamkan mata, tangannya meremas ujung kemeja Kaisar yang tidak terkena noda. Ia terlalu lemas bahkan untuk sekadar merasa malu.
Bu Esta memberikan sebotol air mineral pada Kaisar. "Kasih dia minum. Kasihan."
Kaisar menerima botol mineral itu, lalu perlahan memberikan air minum pada Raline.
Gadis itu meneguk air dari botol yang diberikan Kaisar, menelannya pelan seolah tenggorokannya tidak berfungsi dengan baik meski hanya untuk menelan air.
"Pak Sopir, tolong lebih cepat sedikit!" perintah Bu Esta. "Kai, bersihkan pelan-pelan. Jangan sampai dia dehidrasi. Itu efek mual karena stres juga, bukan cuma karena kandungannya."
"Iya, Ma," jawab Kaisar sambil meletakkan botol air mineral setelah Raline minum.
Ia kembali mengambil beberapa helai tisu dan mengusap mulut Raline dengan lembut.
Tak lupa, ia mengelap sisa muntahan Raline di celananya, dan melepaskan jas perlahan-lahan, hingga menyisakan hanya kemeja putih di tubuhnya.
"Ma, ada sesuatu yang bisa aku pakai buat alas?" tanya Kaisar.
Bu Esta merogoh sesuatu di dalam tasnya. Mengambil sebuah syal dan memberikannya pada Kaisar.
"Pakai ini saja."
Kaisar mengangguk. Mengambil syal itu lalu meletakkan di pangkuan sebagai alas. Kemudian, ia dengan hati-hati meletakkan kepala Raline di pangkuannya. Membuat gadis itu berbaring meringkuk di kursi mobil.
Ia yakin, saat ini Raline butuh istirahat. Butuh tempat bersandar yang nyaman.
Sepanjang sisa perjalanan, Kaisar tidak melepaskan tangannya dari kepala Raline. Ia membiarkan Raline tidur di pangkuannya, terus menjaga kepala istrinya agar tidak terguncang saat mobil melewati polisi tidur. Di bawah lampu jalan yang remang, Kaisar menatap wajah Raline yang masih menyisakan bekas air mata. Inilah awal kehidupan pernikahan mereka: tanpa kemeriahan, tanpa cinta, tanpa momen manis, hanya aroma pahit dari rasa sakit yang harus mereka jalani bersama.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya