Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Arkananta
Suasana ruang tamu kediaman Mahendra mendadak mencekam,
saat deru mobil Arkan berhenti di halaman.
Begitu melangkah masuk,
Arkan langsung disambut oleh tatapan Tajam Baskara, Hendra Wijaya, Siska, dan Clarissa.
"Ada urusan apa lagi kamu datang ke sini, Clarissa?"
tanya Arkan dingin,
Hendra Wijaya langsung menjawab,
"Kami ke sini untuk membahas kelanjutan perjodohanmu dengan Clarissa, Arkan. Kami ingin kalian berdua segera menikah sesuai rencana awal."
Siska menyambung dengan nada menuntut,
"Benar, Arkan. Bukankah waktu itu kamu sudah menyetujui perjodohan ini? Tapi sudah berbulan-bulan berlalu tanpa ada kejelasan sedikit pun. Kami butuh kepastian."
Arkan berdiri tegak di tengah ruangan, menatap satu per satu orang di depannya dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.
"Maaf, Tante Siska... Om Hendra... aku menolak perjodohan ini," ucap Arkan singkat.
Hendra tersentak, wajahnya memerah padam.
"Apa maksudmu membatalkan perjodohan ini secara sepihak, Arkan?!
Ayahmu sendiri sangat ingin kalian segera menikah. Aku dan Baskara sudah merencanakan ini sejak kalian masih kecil!"
"Maaf, aku tidak bisa. Ini sudah menjadi keputusanku," jawab Arkan tanpa ekspresi.
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut,
arkan langsung membalikkan badan dan melangkah masuk menuju kamarnya,
mengabaikan kemarahan yang tertinggal di belakangnya.
Hendra menoleh ke arah Baskara dengan tatapan penuh amarah.
"Baskara! Kenapa kamu diam saja melihat Arkan menghina keluarga kami seperti itu? Aku benar-benar kecewa padamu!"
Baskara menghela napas panjang,
kelelahan tampak jelas di wajahnya.
"Aku sudah bicara berkali-kali dengan Arkan, Hendra. Tapi sepertinya ada sikap Clarissa yang membuat Arkan berpikir ulang. Aku lelah memaksanya, dia sangat keras kepala."
"Om! Aku tidak pernah berbuat apa-apa! Arkan hanya salah paham dengan sikapku, Om," potong Clarissa,
dengan suara seolah terzalimi.
Hendra berdiri dengan kasar. "Keluarga Mahendra benar-benar sudah menginjak harga diri keluarga Wijaya! Kamu mempermainkan kami, Baskara!"
"Beri aku waktu untuk membujuk Arkan, Hendra," ucap Baskara mencoba meredam emosi sahabatnya.
"Aku yakin lama-kelamaan dia akan luluh. Dan untukmu Clarissa, tenang saja... Om akan memastikan Arkan tidak dekat dengan wanita mana pun."
Hendra "Tapi Baskara, kamu tidak bisa—"
"Sudahlah, Ayah," potong Clarissa, matanya berkilat licik. "Kita beri Om Baskara waktu untuk membujuk putranya."
Siska mengangguk setuju.
"Ya sudah kalau begitu, kami pergi. Kabari saja jika putramu sudah siap. Kami akan menunggu kepastiannya."
Keluarga Wijaya akhirnya pergi dan melangkah keluar,
Sementara itu, di dalam kamarnya, Arkan menatap jendela dengan hampa,
meraba aroma bunga yang kini hanya tinggal kenangan di benaknya.
Ketegangan di ruang tamu itu perlahan menguap bersama perginya keluarga Wijaya,
namun sisa amarah masih membekas di wajah Baskara.
Dengan langkah berat dan napas yang memburu,
ia menaiki tangga dan menghampiri Arkan yang baru saja hendak menutup pintu kamarnya.
Baskara berdiri di ambang pintu, menatap putranya dengan tatapan penuh tuntutan.
"Arkan... Ayah harap kamu pertimbangkan lagi penolakanmu terhadap Clarissa.
Kamu harus tahu, menolak perjodohan ini sama saja dengan mempermalukan Ayah di depan keluarga Wijaya!"
Arkan menghentikan gerakannya. Ia tidak menoleh, namun bahunya tampak menegang.
"Sudahlah, Ayah. Aku tidak ingin membahas hal ini lagi. Aku lelah dan ingin beristirahat.
Sekarang, lebih baik Ayah juga istirahat,"
jawab Arkan dengan nada suara yang datar namun dingin.
Baskara terdiam sejenak, merasa otoritasnya sebagai seorang ayah seolah tidak lagi berarti di hadapan prinsip putranya.
"Kamu ini memang sangat keras kepala, Arkan! Kamu tidak memikirkan bagaimana posisi Ayah yang sudah berjanji pada Hendra?"
Arkan akhirnya membalikkan badan, menatap ayahnya dengan sorot mata yang letih.
"Aku tidak bisa menikahi wanita yang semena mena Ayah. Aku berhak menentukan siapa yang akan mendampingiku."
"Dan siapa wanita itu? balas Baskara sinis.
Arkan tidak menjawab.
Ia hanya terdiam, lalu perlahan menutup pintu kamarnya,
meninggalkan Baskara yang berdiri mematung.
Di dalam kamar yang gelap, Arkan menyandarkan punggungnya di balik pintu.
Ia memejamkan mata,
mencoba mengusir bayang-bayang Clarissa yang memenuhi pikirannya dengan aroma parfum yang menyengat,
sangat kontras dengan aroma bunga lembut milik Zevanya yang selalu ia rindukan.
"Aku lebih baik dianggap keras kepala daripada harus hidup dalam kepalsuan," batin Arkan.
Sementara itu, di lantai bawah, Baskara berjalan menuju ruang kerjanya.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Awasi Arkan. Pastikan dia tidak menemui wanita mana pun yang mencurigakan."
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪