NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Lampu jalanan pinggiran kota yang temaram memantul di aspal basah, menciptakan siluet panjang yang mengikuti langkah gontai ku. Aku melirik jam tangan, pukul 23.45. Sial. Ini sudah lewat hampir empat jam dari janji makan malam yang aku berikan pada Linda pagi tadi. Sebagai seorang manajer di perusahaan logistik yang sedang berkembang, kata "lembur" sudah seperti makanan pokok, tapi aku tahu, bagi istri ku, itu adalah pengkhianatan kecil yang tidak bisa dimaafkan begitu saja.

"Mati aku," gumam ku pelan, napas ku beruap di udara malam.

Tangan ku gemetar saat memasukkan kunci ke lubang pintu apartemen nomor 404. Aku memutar kunci itu pelan, berharap gesekannya tidak menimbulkan suara, seperti seorang pencuri yang menyelinap ke rumahnya sendiri. Namun, begitu daun pintu terbuka, aroma sup soto yang dihangatkan berulang kali dan wangi bunga melati yang menjadi ciri khas Linda langsung menyambut ku. Ruang tamu gelap, hanya ada satu lampu berdiri di sudut ruangan yang menyala, menyinari sosok yang duduk tegak di kursi kayu meja makan.

Linda. Istri ku yang cantik, yang bukan berasal dari ras manusia biasa.

Ia masih mengenakan yukata rumahan berwarna putih yang agak longgar. Rambut cokelat panjangnya yang biasanya terurai rapi, kini sedikit berantakan, dan telinga rubahnya yang berwarna senada menyembul di antara helaian rambut itu, bergetar pelan, tanda bahwa ia sedang dalam puncak kekesalannya. Mata hijaunya yang tajam berkilat di kegelapan, menatap ku tepat di manik mata seolah ia bisa membaca setiap alibi yang sudah aku susun di kepala.

"Baru pulang, Dimas?" suaranya rendah, dingin, dan bergetar, mengirimkan sensasi dingin sekaligus panas ke tulang belakang ku.

"Aku pulang, Sayang..." jawab ku dengan suara serak, mencoba memberikan senyum paling tulus yang bisa aku kerahkan dari wajah yang kelelahan ini.

Linda tidak bergerak. Ia melipat tangan di depan dadanya yang membusung, membuat yukata itu tersingkap sedikit di bagian leher. "Telat. Telat, telat, telat, telat, TELAT!" Ia berdiri tiba-tiba, kursinya berderit keras di lantai kayu. "Sudah jam berapa ini, hah?! Apa kau tahu berapa kali aku memanaskan sup ini? Apa kau tahu berapa lama aku duduk di sini menatap jam dinding yang berdetak seolah mengejek ku?!"

Aku meletakkan tas kerja ku di sofa dan mendekat dengan ragu. "Maaf, Linda. Benar-benar maaf. Ada masalah di gudang, sistem logistiknya sempat crash dan aku harus mengawasi proses reboot manual agar pengiriman besok tidak kacau..."

"Pekerjaan lagi," potongnya, kini ia melangkah mendekati ku. Langkahnya seringan bulu, ciri khas ras siluman rubah yang bisa bergerak tanpa suara. "Kau selalu punya alasan teknis yang membosankan itu. Manajer ini, manajer itu... Apa kau lupa kau juga punya 'jabatan' sebagai suami di rumah ini?"

Ia kini berdiri tepat di depan ku. Linda lebih pendek dari ku, tapi auranya membuat ku merasa seperti tikus yang sedang dipojokkan oleh predator puncak. Mata hijaunya mulai berubah, pupilnya menyempit menjadi celah vertikal yang eksotis.

Gila, keluh ku dalam hati. Dia benar-benar marah, tapi kenapa dia terlihat berkali-kali lipat lebih seksi saat sedang mengamuk begini?

"Lihat aku, Dimas," perintahnya. Aku menunduk, menatap wajahnya yang merona karena amarah. "Aku tidak akan memaafkan mu kali ini. Tidak dengan kata-kata manis atau permintaan maaf murahan."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar dimaafkan?" tanya ku, mencoba keberanian untuk menyentuh bahunya.

Linda menepis tangan ku, tapi kemudian ia justru menarik kerah kemeja ku dengan kasar, memaksa ku membungkuk hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan wangi mint.

"Sidang dimulai," bisiknya dengan nada yang mendadak berubah menjadi manis namun mematikan. "Duduk. Makan. Dan jangan berani menyisakan satu tetes sup pun, meski rasanya sudah hambar karena aku panaskan berkali-kali."

Aku menurut seperti kerbau dicocok hidung. Aku duduk di meja makan sementara Linda berdiri di belakang ku, kedua tangannya bertumpu di bahu ku. Kuku-kukunya yang sedikit lebih tajam dari manusia biasa menekan pelan kain kemeja ku.

"Makan," titahnya.

Aku menyuap sup itu. Benar saja, rasanya sudah agak terlalu asin karena airnya menyusut akibat terus dipanaskan, tapi aku menikmatinya seolah itu adalah hidangan bintang lima. Di setiap kunyahan, aku bisa merasakan pikiran batin ku berkecamuk. Dia sangat posesif. Jika ini wanita biasa, mungkin dia sudah tidur dan mengunci pintu kamar. Tapi Linda? Dia akan menunggu ku, memastikan aku masuk ke dalam jangkauannya, dan mengklaim ku kembali setelah seharian aku 'milik' perusahaan.

"Enak?" tanya Linda, suaranya kini berbisik tepat di telinga ku. Rambut cokelatnya jatuh menjuntai ke bahu ku.

"Enak, Sayang. Masakan mu selalu yang terbaik," jawab ku jujur.

"Bagus. Karena setelah ini, kau tidak akan punya tenaga untuk memikirkan makanan lagi," ia tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti lonceng perak namun penuh dengan maksud tersembunyi.

Setelah mangkuk bersih, Linda menarik kursi ku berputar sehingga aku menghadapnya. Ia duduk di pangkuan ku secara tiba-tiba, membuat ku terkesiap. Berat badannya yang ringan namun pas terasa nyata di paha lelah ku. Ia melingkarkan lengannya di leher ku, sementara telinga rubahnya menggosok lembut pipi ku, sebuah gestur kasih sayang yang hanya ia tunjukkan jika ia mulai merasa "lapar" akan perhatian.

"Kau tahu, Dimas..." Linda memulai, jemarinya mulai membuka kancing kemeja ku satu per satu dengan gerakan lambat yang menyiksa. "Rasanya sangat menyakitkan saat aku mencium bau kertas kantor, bau asap jalanan, dan bau parfum murah sekretaris mu menempel di tubuh mu. Kau berbau seperti dunia luar yang ingin mengambil mu dari ku."

"Aku tidak punya sekretaris wanita, Linda. Kau tahu itu, asisten ku itu Pak Bambang yang sudah berumur lima puluh tahun," aku mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.

"Diam!" ia mencubit pelan dada ku. "Tetap saja. Kau milik ku. Dan kau melanggar batas waktu yang sudah kita sepakati. Kau tahu hukuman bagi siluman yang melanggar janji di suku ku?"

"Apa?"

"Mereka dikurung di dalam gua selama tujuh hari tujuh malam," matanya berkilat nakal. "Tapi karena kita di apartemen, aku punya hukuman yang lebih... modern."

Linda menarik napas panjang di ceruk leher ku, lalu ia memberikan sebuah gigitan kecil yang meninggalkan bekas kemerahan di sana. Aku mengerang pelan, antara rasa perih dan sensasi nikmat yang merambat ke seluruh tubuh.

"Linda..."

"Ini baru permulaan, Manajer Dimas," ia berbisik, kini tangannya mulai meraba otot perut ku yang menegang. "Kau terlihat sangat lelah, tapi aku tidak peduli. Kau berhutang pada ku empat jam kehidupan mu malam ini. Dan aku akan menagihnya dengan bunga yang sangat tinggi."

Ia berdiri, menarik tangan ku menuju kamar tidur kami. Lampu ruang tamu padam secara otomatis saat ia menjentikkan jarinya, sedikit sihir kecil yang selalu ia gunakan untuk menambah suasana. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya bulan dari balik jendela, Linda melepas ikatan yukatanya. Kain putih itu jatuh ke lantai, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna, kulitnya yang putih pucat seolah bersinar di bawah rembulan.

"Linda, besok aku masih harus masuk pagi..." aku mencoba melakukan pembelaan terakhir, meski jiwa ku sudah menyerah sepenuhnya.

"Besok hari Sabtu, Sayang. Jangan coba-coba membohongi siluman rubah yang sudah menghafal jadwal mu," ia mendorong ku ke tempat tidur. "Malam ini, kau bukan manajer. Kau bukan karyawan. Kau hanyalah manusia milik Linda. Dan aku akan memastikan kau tidak akan sanggup memikirkan pekerjaan mu sedikit pun sampai pagi menjemput."

Aku menatapnya, istri posesif ku yang luar biasa ini. Ada rasa hangat yang membuncah di dada ku, mengalahkan rasa lelah yang menghimpit sejak pagi. Di dunia luar, aku mungkin seorang pemimpin yang harus mengambil keputusan sulit, tapi di sini, di bawah tatapan mata hijau yang mendominasi ini, aku menemukan tempat ku yang sebenarnya.

"Baiklah," kata ku, menariknya ke dalam pelukan ku. "Lakukan hukuman mu, Nyonya Linda."

Linda tersenyum kemenangan, taring kecilnya terlihat sangat manis saat ia mulai mencium ku dengan penuh gairah. Pikiran terakhir di kepala ku sebelum semua logika menghilang hanyalah satu: Mungkin besok aku akan bangun dengan pinggang yang pegal luar biasa, tapi selama itu karena dia, aku bersedia terlambat setiap malam.

Malam itu, apartemen nomor 404 menjadi saksi bisu bagaimana rasa lelah seorang manusia dilarutkan dalam cinta yang obsesif namun murni dari seorang siluman rubah. Linda tidak hanya ingin memiliki ku, ia ingin menyerap setiap sisa energi ku, memastikan bahwa setiap sel dalam tubuh ku tahu kepada siapa aku harus pulang.

Dan saat ia berbisik, "Jangan pernah telat lagi, atau aku akan memakan mu hidup-hidup," aku tahu itu bukan sekadar ancaman, melainkan janji cinta yang paling dalam yang pernah aku terima.

Hukuman manis ini... baru saja dimulai.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘSang Senja @☠️⃝🖌️M⃤
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!