Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Pertemuan berlanjut dengan suasana yang tetap formal namun sarat dengan ketegangan yang tak terucapkan.
Setiap kali salah satu pihak menyampaikan poin atau tawaran, jawaban yang diberikan selalu dipertimbangkan dengan sangat matang, seolah setiap kata adalah langkah catur yang harus diperhitungkan agar tidak memberikan celah bagi lawan.
Kim Ae Ra duduk di tempatnya, jemarinya sesekali mengetik pelan di tablet untuk mencatat poin-poin penting, namun sebagian besar perhatiannya terbagi antara mendengarkan pembicaraan dan memperhatikan dua pria di hadapannya—satu di sebelahnya dan satu lagi di seberang meja.
Hyun Jae Hyuk tampil luar biasa profesional. Ia berbicara dengan nada yang tenang namun tegas, matanya tajam menangkap setiap detail yang disampaikan oleh pihak Haesung.
Ia tidak mudah tergoda oleh tawaran-tawaran yang terdengar menguntungkan di permukaan, selalu memastikan untuk menanyakan klausul-klausul tersembunyi atau risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
Gaya kepemimpinannya yang tenang namun berwibawa membuat seluruh tim Aegis merasa aman dan terpandu.
Ae Ra bisa melihat kenapa pria itu bisa duduk di posisi CEO sedemikian muda; ia memang lahir untuk memimpin.
Namun, di balik ketangguhannya itu, Ae Ra sesekali menangkap kilatan tatapan Jae Hyuk yang melirik ke arahnya—tatapan singkat yang seolah memastikan bahwa ia baik-baik saja, atau sekadar memeriksa reaksinya terhadap apa yang sedang dibahas.
Itu membuat hati Ae Ra terasa hangat, sebuah penyangga kecil di tengah suasana yang dingin dan penuh perhitungan ini.
Di sisi lain, Lee Seo Jun juga tidak kalah mengesankan dalam perannya sebagai perwakilan Haesung.
Jika di toserba ia selalu tampak santai dan bersahaja, hari ini ia berubah menjadi sosok pewaris yang ulung. Ia mendengarkan dengan saksama, jarang berbicara kecuali ada hal penting yang perlu disampaikan, namun setiap kali ia membuka mulut, kata-katanya selalu berbobot, cerdas, dan terkadang mengandung strategi yang sulit dibaca oleh lawan bicara.
Ia mampu membalas argumen Jae Hyuk dengan santai namun mematikan, tanpa pernah terlihat agresif atau tidak sopan.
Ae Ra terpaksa mengakui dalam hatinya bahwa Seo Jun sangat pandai dalam hal ini.
Ini adalah dunianya, dunia yang selama ini ia sembunyikan di balik seragam toserbanya. Dan melihatnya beraksi seperti ini, Ae Ra semakin bingung dengan perasaannya sendiri.
Bagaimana bisa pria yang begitu lembut dan perhatian di toserba, yang selalu menyiapkan minuman hangat untuknya, bisa juga menjadi orang yang sedingin dan sestrategis ini di meja perundingan? Apakah ini sisi aslinya, ataukah ini hanya topeng yang ia pakai untuk urusan bisnis?
"Jadi, jika Tuan Hyun setuju dengan skema pembagian keuntungan ini, kami siap menandatangani kesepakatan awal hari ini juga," kata Seo Jun pelan, memecah lamunan Ae Ra.
Ia menatap Jae Hyuk dengan tatapan yang tajam namun tetap sopan, sambil mendorong selembar dokumen ringkasan ke arah tengah meja.
Suasana di ruangan itu menjadi hening sejenak.
Semua mata tertuju pada Jae Hyuk, menunggu keputusannya. Ini adalah momen krusial. Tawaran yang diajukan Seo Jun memang menguntungkan secara angka, namun insting bisnis Jae Hyuk selalu memberitahunya bahwa ada sesuatu yang lebih di balik tawaran yang terlalu manis ini.
Apakah ini murni niat baik untuk kerja sama, atau ada jebakan tersembunyi yang belum terlihat?
Jae Hyuk mengambil dokumen itu, membacanya sekilas dengan mata yang teliti. Ia tidak langsung menjawab. Ia tahu, satu keputusan salah bisa berakibat fatal bagi Aegis Corp.
Dan di saat yang sama, ia juga sadar bahwa di seberang meja ini duduk pria yang selama ini dekat dengan Ae Ra, pria yang menyembunyikan identitasnya, pria yang mungkin memiliki agenda pribadi selain urusan perusahaan.
"Tawaran anda menarik, Tuan Lee," jawab Jae Hyuk akhirnya, suaranya rendah dan tenang.
"Namun, ada beberapa poin yang menurut kami masih perlu didiskusikan lebih dalam, terutama mengenai klausul tanggung jawab risiko dan hak kepemilikan atas inovasi yang dihasilkan nanti. Kami tidak bisa mengambil keputusan besar hanya dalam satu kali pertemuan tanpa memastikan semua aspek sudah terlindungi dengan baik."
Seo Jun tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu akan keluar.
"Saya mengerti, Tuan Hyun. Keputusan yang bijak. Kami tidak mendesak. Bagaimanapun, kerja sama yang baik harus dibangun di atas dasar yang saling menguntungkan dan saling percaya. Mungkin kita bisa menunda pembahasan detail teknis ini ke pertemuan berikutnya, dan untuk hari ini, kita cukup menyepakati kerangka umumnya saja sebagai tanda niat baik dari kedua belah pihak."
Jae Hyuk mengangguk pelan. "Itu terdengar lebih masuk akal."
Pertemuan pun dilanjutkan dengan pembahasan kerangka umum yang lebih luas, dan akhirnya, sekitar dua jam kemudian, pertemuan resmi itu diumumkan selesai dengan kesepakatan untuk bertemu lagi dalam minggu depan guna membahas detail yang lebih spesifik.
"Terima kasih atas waktu dan diskusinya yang produktif hari ini, Tuan Hyun," kata Seo Jun saat mereka semua berdiri untuk bersalaman kembali di akhir pertemuan.
"Sama, Tuan Lee. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya," balas Jae Hyuk singkat.
Para eksekutif dari kedua belah pihak mulai berbicara ringan, mencairkan suasana yang tegang tadi, namun Ae Ra hanya berdiri diam di samping Jae Hyuk, memegang tabletnya erat-erat.
Ia berharap bisa segera pergi dari tempat ini, namun ia tahu ia harus tetap bersama Jae Hyuk sampai semua urusan selesai.
Saat kerumunan mulai bergerak menuju pintu keluar, Seo Jun yang berjalan di depan rombongan Haesung perlahan melambat, hingga ia berjalan beriringan dengan Ae Ra dan Jae Hyuk di koridor yang agak sepi di belakang kelompok utama.
"Ae Ra," panggil Seo Jun pelan, suaranya hanya cukup didengar oleh mereka bertiga.
Ae Ra menoleh sedikit, menatap Seo Jun dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada rasa sakit, ada rasa bingung, tapi juga ada rasa sayang sebagai teman lama.
"Aku…" Seo Jun berhenti sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat.
Wajahnya yang tadi tampak begitu tegas dan profesional kini sedikit melunak, memperlihatkan sisi Seo Jun yang biasa Ae Ra kenal di toserba.
"Aku tahu kau mungkin terkejut atau kecewa dengan apa yang kau temukan kemarin. Dan aku tidak memintamu untuk langsung memaafkanku. Aku hanya ingin kau tahu, ada alasan kenapa aku melakukan ini. Dan aku berharap, suatu saat nanti kau akan mengerti."
Ae Ra menelan ludah, hatinya terasa sesak mendengar kata-kata itu.
Ia ingin bertanya banyak hal—kenapa kau menyembunyikannya? kenapa kau bekerja di toserba? apa semua perhatianmu itu palsu?—tapi di hadapan Jae Hyuk dan di tempat umum seperti ini, ia menahan diri.
"Saya mengerti, Tuan Lee," jawab Ae Ra pelan, kembali menggunakan sapaan formal itu sebagai benteng pelindung dirinya.
"Ini adalah urusan bisnis, dan saya menghormati posisi Anda. Sekarang, tidak agenda lain, kami harus segera kembali ke kantor."
Seo Jun tampak terpikir sedikit mendengar sapaan itu lagi, namun ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresi yang sedih.
"Baik. Hati-hati di jalan, Ae Ra. Dan… jaga dirimu baik-baik."
Jae Hyuk yang sejak tadi diam memperhatikan interaksi itu akhirnya berbicara, suaranya terdengar tegas namun tetap sopan.
"Kita pergi, Ae Ra."
Ae Ra mengangguk, lalu berjalan cepat mengikuti langkah Jae Hyuk menuju lift, meninggalkan Seo Jun yang berdiri diam di koridor itu, menatap punggung gadis itu dengan perasaan bersalah dan rindu yang mendalam.
Di dalam perjalanan pulang menuju Aegis Corp, suasana di dalam mobil kembali hening.
Namun kali ini, keheningan itu terasa lebih berat. Ae Ra menatap ke luar jendela, matanya sedikit berkaca-kaca namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh.
Ia merasa lelah, lelah secara emosional. Dunia yang ia kenal ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan, dan ia merasa dirinya terseret di tengah-tengahnya tanpa persiapan.
Jae Hyuk di sampingnya memperhatikan gadis itu dari sisi. Ia bisa melihat bahu Ae Ra yang sedikit menunduk, dan ekspresi sedih yang tergambar jelas di wajah profilnya.
Hatinya terasa sakit melihat Ae Ra seperti itu. Ia tahu, gadis itu sedang terluka.
Terluka karena mengetahui bahwa teman dekatnya menyembunyikan rahasia besar, dan terluka karena harus menghadapi kenyataan pahit itu di tempat kerja yang seharusnya menjadi dunianya.
"Ae Ra," panggil Jae Hyuk pelan, memecah keheningan.
Ae Ra menoleh perlahan, menatap Jae Hyuk dengan mata yang sedikit basah. "Ya, Tuan?"
"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk bersikap terlalu kuat di depanku," kata Jae Hyuk lembut, suaranya terdengar tulus dan menenangkan.
"Aku tahu hari ini berat bagimu. Dan aku tahu apa yang kau rasakan saat berhadapan dengan dia tadi. Jika kau ingin marah, atau jika kau ingin bicara, aku di sini. Aku akan mendengarkan."
Kata-kata itu adalah pukulan terakhir yang membuat pertahanan Ae Ra runtuh sedikit demi sedikit.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes perlahan di pipinya. Ia tidak menangis tersedu-sedu, hanya air mata yang mengalir pelan, mewakili rasa kecewa, bingung, dan lelah yang ia rasakan.
"Kenapa semuanya jadi begini, Tuan?" tanya Ae Ra pelan, suaranya bergetar.
"Kenapa orang-orang yang aku percaya selalu menyembunyikan sesuatu dariku? Apa aku tidak bisa tahu kebenaran apa pun tentang hidupku sendiri?"
Jae Hyuk menghela napas panjang, lalu dengan gerakan yang perlahan dan hati-hati, ia mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Ae Ra pelan, memberikan kenyamanan yang ia butuhkan.
"Aku tidak bisa menjawab kenapa orang lain melakukan apa yang mereka lakukan, Ae Ra," jawab Jae Hyuk pelan, matanya menatap mata gadis itu dengan serius.
"Tapi aku berjanji padamu satu hal. Aku tidak akan pernah menyembunyikan apa pun darimu selamanya. Mungkin bukan sekarang, mungkin belum waktunya untuk menceritakan semuanya, tapi aku janji, suatu saat nanti, kau akan mengetahui semua kebenaran. Dan aku akan ada di sana bersamamu saat kau menghadapinya."
Ae Ra menatap Jae Hyuk, melihat ketulusan yang begitu dalam di mata pria itu.
Di tengah kekacauan dan rasa sakit yang ia rasakan saat ini, Jae Hyuk seolah menjadi pelabuhan yang aman, sosok yang bisa ia andalkan.
Ia mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Terima kasih, Tuan," bisiknya pelan. "Terima kasih sudah ada di sini."
Jae Hyuk tersenyum tipis, lalu menarik tangannya kembali, memberikan ruang bagi Ae Ra untuk menenangkan diri.
Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Masih banyak rahasia yang harus diungkap, masih banyak konflik yang harus dihadapi—baik dalam bisnis maupun dalam hubungan pribadi mereka.
Tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan Ae Ra menghadapi semua ini sendirian lagi. Ia akan melindungi gadis itu, apa pun yang terjadi.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota Seoul yang sibuk, membawa mereka kembali ke realita yang penuh dengan tantangan, namun juga membawa harapan baru bahwa di tengah badai, selalu ada tangan yang siap menolong dan bahu yang siap dijadikan sandaran.