Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Gerbang Seribu Tebing dan Hukum Perdagangan Darah
Perjalanan melintasi Hutan Daun Perak memakan waktu setengah hari. Bagi manusia fana, melintasi medan bergelombang dengan gravitasi tiga kali lipat bumi adalah hukuman mati. Namun, dengan perlindungan jarum Qi dari Arya, Elena mampu mengimbangi langkah cepat tuannya, meski seragam taktisnya basah oleh keringat.
Di ufuk depan, pemandangan luar biasa mulai terkuak. Sebuah ngarai raksasa yang seolah dibelah oleh kapak dewa membentang membelah daratan. Di kedua sisi dinding tebing vertikal yang tingginya mencapai ribuan meter itu, terpahat ratusan ribu bangunan kayu dan batu yang saling terhubung oleh jembatan gantung dan rantai besi raksasa.
Itulah Kota Seribu Tebing, pusat transit dan perdagangan terbesar di batas luar Dimensi Kunlun.
Arya berhenti di tepi tebing, menatap kota itu dengan mata memindai. Berbagai fluktuasi energi bertebaran di udara. Mulai dari Ranah Pemurnian Qi (tahap dasar) yang lalu lalang sebagai kuli panggul, hingga Ranah Pembentuk Fondasi yang bertindak sebagai elit penjaga.
"Arsitektur yang mengabaikan hukum fisika modern, ditopang sepenuhnya oleh formasi penyangga gravitasi dan susunan rune pelindung," analisis Arya, otaknya bekerja membedah struktur kota tersebut. "Tempat yang sempurna untuk memulai perputaran modal."
Keduanya turun menuju gerbang utama kota yang terletak di dasar ngarai. Antrean panjang para kultivator pengembara dan kereta monster buas terlihat mengular. Bau keringat, kotoran monster, dan aroma herbal spiritual bercampur aduk di udara.
Pakaian modern Arya—jaket taktis trench coat dan celana kargo—serta seragam kulit Elena mengundang tatapan aneh dari penduduk lokal yang mayoritas mengenakan jubah panjang ala pendekar atau zirah kulit binatang. Beberapa menatap dengan pandangan meremehkan, mengira mereka berdua adalah orang udik dari desa terpencil.
"Uang masuk! Dua Batu Spiritual Tingkat Bawah per orang! Jika tidak punya, tinggalkan barang berharga atau merangkaklah lewat jalur anjing di sana!" bentak seorang penjaga gerbang yang bertubuh gemuk dengan pedang besar di punggungnya.
Tepat ketika giliran Arya dan Elena tiba, sebuah keributan memecah antrean dari arah belakang.
"Minggir! Minggir semua, anjing-anjing rendahan! Tuan Muda Kuang dari Keluarga Mahendra ingin lewat!"
Suara cambuk yang melengking di udara disusul oleh deru kereta kencana berbahan perunggu. Kereta itu ditarik oleh tiga ekor Serigala Api Bercula Hitam yang besarnya menyamai mobil SUV. Kereta itu menerobos antrean tanpa menurunkan kecepatan, menabrak dan menginjak beberapa kultivator lemah yang tidak sempat menghindar.
Tuan Muda Kuang, seorang pemuda berpakaian sutra emas dengan kipas lipat di tangannya, duduk santai di dalam kereta sambil tertawa melihat kepanikan di bawahnya. Keluarga Mahendra adalah salah satu dari tiga keluarga pedagang terbesar di Kota Seribu Tebing; kekayaan dan arogansi mereka tidak memiliki batas.
Jalur kereta itu mengarah lurus ke tempat Arya dan Elena berdiri.
"Tuan, awas!" seru Elena, bersiap mencabut pedangnya.
Arya tidak bergeser satu sentimeter pun. Ia menatap serigala api terdepan yang berlari ke arahnya dengan taring beringas. Otaknya melakukan kalkulasi instan.
[Ding! Target tabrakan: Serigala Api Bercula Hitam (Monster Spiritual Tingkat 2). Kekuatan tabrakan setara dengan 50 ton.]
Tepat ketika cula serigala raksasa itu berjarak satu jengkal dari dada Arya, tangan kanannya melesat keluar dari saku jaketnya.
BAM!
Suara benturan teredam menggema ke seluruh gerbang. Kereta perunggu itu berhenti mendadak hingga bagian belakangnya terangkat ke udara.
Seluruh antrean membeku. Rahang para kultivator hampir jatuh ke tanah.
Pria berjaket aneh itu menghentikan terjangan monster seberat tiga ton yang berlari dengan kecepatan penuh... hanya menggunakan satu telapak tangan. Tangan Arya mencengkeram moncong serigala raksasa itu dengan sangat santai.
"Hewan peliharaan yang tidak diajari tata krama lalu lintas adalah cerminan dari kecacatan logika pemiliknya," ucap Arya datar. Ia meremas moncong monster itu sedikit.
KRAK! Tulang rahang serigala raksasa itu retak. Monster yang tadinya beringas itu langsung merintih seperti anak anjing dan berlutut ketakutan, menundukkan kepalanya ke tanah karena ditekan oleh aura pembunuh murni dari Arya.
Tuan Muda Kuang yang hampir terlempar dari keretanya karena pengereman mendadak itu seketika murka. Ia melompat turun, wajahnya merah padam.
"Bocah rendahan! Beraninya kau melukai hewan penarik Keluarga Mahendra! Nyawamu dan sepuluh generasimu tidak akan cukup untuk menggantinya!" Kuang berteriak histeris, lalu matanya beralih pada Elena yang berdiri di belakang Arya. Seringai mesum seketika muncul di wajahnya. "Oh... tapi wanita berpakaian aneh di belakangmu itu lumayan juga. Serahkan dia padaku untuk dihangatkan di ranjang malam ini, dan aku akan mengampuni nyawa anjingmu!"
Elena menggertakkan giginya. Jika bukan karena perintah Arya untuk menahan diri, ia sudah memotong lidah pemuda itu.
Arya menatap Kuang dengan pandangan mati. "Kompensasi. Konsep yang menarik. Mengingat kau baru saja membuang waktuku yang berharga dan memberikan polusi suara yang mengganggu fungsionalitas pendengaranku..."
Arya melangkah maju. "Aku yang akan menuntut kompensasi."
"Kau? Menuntutku?!" Kuang tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon terbaik abad ini. "Pengawal! Bunuh dia dan seret wanita itu ke kamarku!"
Empat pengawal berpakaian zirah perak, yang semuanya berada di Ranah Pembentuk Fondasi Tahap Awal, melesat dari belakang kereta. Mereka menghunus golok besar dan menerjang Arya secara bersamaan. Di Kota Seribu Tebing, membunuh gelandangan di depan gerbang adalah hal yang lumrah.
Penjaga gerbang kota hanya menonton sambil bersedekap, tidak berniat ikut campur dalam urusan Keluarga Mahendra.
Namun, yang terjadi selanjutnya menentang semua akal sehat penduduk Kunlun di sana.
Arya tidak mengambil kuda-kuda. Ia hanya menjentikkan jarinya empat kali ke udara terbuka.
Crat! Crat! Crat! Crat!
Empat bilah angin Qi yang sangat padat dan nyaris tak kasat mata melesat menembus udara. Sebelum keempat pengawal itu sempat mengayunkan golok mereka, lutut mereka meledak menjadi kabut darah secara serentak.
"AAARGHHH!" Keempat elit itu jatuh tersungkur di atas debu, merintih kesakitan dengan kaki buntung. Serangan itu begitu cepat hingga saraf mereka terlambat memproses rasa sakit.
Kuang terbelalak. Kipas di tangannya jatuh ke tanah. "Q-Qi Eksternal yang bisa menembus zirah perak spiritual?! K-Kau... kau dari sekte mana?!"
Arya telah berdiri tepat di hadapan Kuang. Tangan kirinya melesat, mencengkeram leher pemuda kaya itu dan mengangkatnya ke udara seperti mengangkat seekor ayam yang akan disembelih. Kaki Kuang meronta-ronta, wajahnya berubah keunguan karena kekurangan oksigen.
"Berdasarkan analisis pasar lokal, cincin spasial di jari tengahmu terbuat dari Giok Luang kelas atas," ucap Arya rasional, matanya tertuju pada cincin hijau di jari Kuang. "Itu akan menjadi kompensasi yang cukup untuk insiden tabrakan lalu lintas ini."
Tanpa menunggu persetujuan, Arya mematahkan jari tengah Kuang, melepas cincin spasial itu, dan menghancurkan ikatan spiritual di dalamnya dengan paksaan Qi absolut. Kuang menjerit tertahan karena lehernya masih dicekik.
Di dalam cincin itu, Arya mendeteksi tumpukan Batu Spiritual Tingkat Menengah, berbagai ramuan herbal, dan sebuah token VIP dari Paviliun Bintang Jatuh—rumah lelang terbesar di kota itu.
"Modal awal yang efisien," gumam Arya puas. Ia kemudian melempar Kuang ke arah keretanya seperti membuang karung sampah. Pemuda itu terbatuk darah, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun saat melihat tatapan Arya yang sedingin jurang maut.
Arya berbalik, menatap penjaga gerbang gemuk yang kini berdiri mematung dengan kaki gemetar hebat. Arya melempar dua Batu Spiritual Tingkat Bawah yang ia jarah dari raksasa sebelumnya ke dada penjaga itu.
"Ini biaya masukku dan asistenku. Apa kau masih membutuhkan barang berharga lainnya, atau aku harus melewati jalur anjing?" tanya Arya, nadanya sangat tenang, namun tekanannya membuat penjaga itu merasa seperti sedang ditatap oleh naga purba.
"T-Tidak, Tuan! Silakan masuk! Gerbang ini terbuka lebar untuk Anda!" penjaga itu membungkuk hingga dahinya hampir menyentuh tanah.
Arya tidak membuang waktu. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku trench coat-nya dan melangkah masuk ke dalam Kota Seribu Tebing.
"Elena," panggil Arya pelan.
"Ya, Tuan?"
"Tujuan kita selanjutnya adalah Paviliun Bintang Jatuh. Di bumi, aku memulai kerajaan bisnisku dengan sepuluh triliun dolar," Arya menyeringai tipis, sebuah senyum ambisius yang dikalkulasi secara logis. "Mari kita lihat berapa banyak Batu Spiritual yang bisa aku hasilkan di hari pertamaku di Kunlun. Kuil Kegelapan berpikir mereka bisa bersembunyi di balik kekuasaan sekte-sekte ini... maka aku akan membeli seluruh sekte mereka."