Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 Ruang Direktur
Ruang direktur lebih sunyi daripada ruang rapat.
Dinding kaca memantulkan cahaya kota yang mulai gelap. Dari lantai dua puluh, Jakarta terlihat seperti hamparan lampu yang tak pernah tidur. Aruna berdiri beberapa langkah dari meja kerja Calvin, tangannya terlipat di depan, sikapnya formal—terlalu formal untuk seseorang yang baru saja dipanggil secara pribadi.
Calvin berdiri membelakanginya, menatap jendela. Ia belum mengatakan apa pun sejak Aruna masuk.
“Duduk,” ucapnya akhirnya, tanpa menoleh.
Aruna menarik kursi dan duduk. Detak jam dinding terdengar terlalu jelas di telinganya. Ia tahu, pertemuan ini tidak akan singkat.
Calvin berbalik. Tatapannya jatuh lurus pada Aruna, tajam, seolah berusaha membaca sesuatu yang ia simpan rapat. Ia mengambil satu map tipis dari meja, membukanya, lalu mendorongnya ke arah Aruna.
“Ini laporan revisi,” katanya. “Versi yang masuk ke mejaku pagi ini.”
Aruna melirik isi map itu. Angka-angka yang familiar. Tanggal yang bergeser satu hari. Tanda tangan yang rapi—terlalu rapi.
“Menurutmu, ada yang janggal?” tanya Calvin.
Pertanyaan itu sederhana. Namun Aruna tahu, jawabannya tidak.
Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Secara administratif, tidak.”
Calvin menyandarkan tubuhnya ke meja. “Secara faktual?”
Sunyi kembali jatuh, lebih berat dari sebelumnya.
Aruna menahan napas. Inilah celahnya. Ia bisa memilih sekarang. Ia bisa memperbaiki semuanya—atau menguatkan kebohongan yang baru saja ia izinkan terjadi.
“Tidak ada yang bisa dibuktikan tanpa audit lanjutan,” katanya akhirnya.
Calvin tersenyum tipis. Bukan senyum puas, bukan pula senyum marah. Lebih seperti seseorang yang baru saja mengonfirmasi sesuatu dalam pikirannya.
“Kau sangat hati-hati,” ucapnya pelan.
Aruna menunduk sedikit. “Itu tugasku.”
Calvin menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu ia berjalan kembali ke kursinya dan duduk. Jemarinya mengetuk meja sekali, lalu berhenti.
“Orang yang akan menanggung akibat dari keputusan rapat tadi… kau mengenalnya?”
Aruna terdiam.
Ia mengenal nama itu. Ia pernah bekerja satu tim. Pernah berbagi lembur. Pernah mendengar cerita tentang anak yang sering sakit dan cicilan rumah yang belum lunas.
“Secara profesional,” jawab Aruna.
“Dan secara pribadi?”
Aruna mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, jarak profesional itu terasa menipis—nyaris rapuh.
“Tidak,” katanya.
Calvin mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan satu amplop cokelat. Tidak ada label. Tidak ada cap.
“Besok pagi,” katanya, “aku akan mengumumkan investigasi internal lanjutan.”
Jantung Aruna berdegup.
“Dan?” tanyanya hati-hati.
“Dan aku butuh seseorang yang bersih. Tidak tercantum di struktur tim yang terlibat. Tidak punya kepentingan.”
Ia mendorong amplop itu ke arah Aruna.
“Aku menunjukmu.”
Aruna menatap amplop itu tanpa menyentuhnya. “Itu konflik kepentingan.”
“Tidak, jika kau memang tidak tahu apa-apa,” balas Calvin.
Kalimat itu seperti pisau bermata dua.
Jika Aruna menerima, ia akan berdiri tepat di pusat kebohongan yang ia jaga. Jika menolak, ia akan terlihat mencurigakan.
“Kenapa aku?” tanya Aruna pelan.
Calvin menatapnya lama. Terlalu lama untuk sebuah jawaban formal.
“Karena kau memilih diam,” katanya akhirnya. “Dan orang yang memilih diam biasanya tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.”
Aruna meraih amplop itu. Jemarinya terasa kaku, seolah berat itu bukan berasal dari kertas di dalamnya, melainkan dari keputusan yang belum ia ucapkan.
Saat ia berdiri untuk pergi, Calvin kembali berbicara.
“Aruna.”
Ia menoleh.
“Apa pun yang terjadi nanti,” ucap Calvin, suaranya rendah, “pastikan kau siap menanggungnya.”
Pintu ruang direktur tertutup di belakang Aruna.
Ia berdiri sesaat di koridor, menatap amplop cokelat di tangannya, dan untuk pertama kalinya ia berpikir—jika ia terus memilih diam, bukan hanya orang lain yang akan hancur, tapi dirinya sendiri.
Di tangannya, amplop itu terasa jauh lebih berat dari isinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak rapat tadi, Aruna menyadari—
diamnya kini bukan lagi pilihan.
... BERSAMBUNG...
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/