Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 AMD
Amplop itu belum sempat ia buka ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat jantung Aruna turun satu detik.
Raka Pradipta.
Nama yang tadi siang diputuskan sebagai seorang penanggung jawab proyek Eastbay. Aruna menatap layar itu sampai getarnya berhenti sendiri. Koridor lantai eksekutif terasa terlalu terang, bahkan terlalu terbuka. Ia tidak bisa menjawab di sini.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan masuk.
“Aruna, aku cuma mau tahu satu hal. Apa benar ini salahku?”
Jari Aruna menegang. Ia bisa membalas. Tapi tidak bisa mengatakan ada yang janggal. Ia juga tidak bisa memberi sedikit harapan. Sebaliknya, ia mematikan layar. Langkahnya kembali bergerak. Setiap bunyi hak sepatu di karpet terdengar seperti hitungan mundur.
Di dalam ruangannya sendiri, Aruna akhirnya membuka amplop itu. Isinya bukan sekedar kertas dokumen. Salinan email internal. Log akses sistem. Rekaman waktu perubahan data. Dan satu nama yang membuat napasnya tercekat.
Dimas Wiratama – Chief Financial Officer.
Atasan langsung Raka.
Tanggal perubahan laporan tercatat pada pukul 23.47. Akses dilakukan dari akun yang memiliki otorisasi tingkat tinggi. Tidak mungkin itu dilakukan tanpa izin. Ini bukan kesalahan staf. Ini seperti perintah.
Aruna bersandar perlahan di kursinya. Ujung jarinya terasa dingin lagi.
Pintu ruangannya diketuk. Ia hampir menjatuhkan dokumen itu.
“Masuk,” ucapnya, ia dengan cepat merapikan kertas. ternyata yang masuk bukan staf legal.
Calvin.
Ia menutup pintu tanpa suara. Tanpa sekretaris. Tanpa pengumuman. “Aku ingin memastikan kau membaca semuanya,” katanya datar.
“Apa Anda yakin ingin menyeret CFO ke dalam ini?” tanya Aruna langsung. Kalimat itu keluar sebelum sempat ia saring. Tatapan Calvin berubah. Bukan marah. Lebih seperti tertarik. “Jadi kau melihatnya.”
“Akun aksesnya jelas,” jawab Aruna. “Tapi bukti digital bisa dimanipulasi.”
“Benar,” kata Calvin. “Dan seseorang memang sedang memanipulasinya.”
Sunyi turun di antara mereka. “Ini bukan sekedar laporan yang diubah,” lanjut Calvin pelan. “Ini aliran dana. Eastbay hanya pintu.”
Aruna merasakan sesuatu bergeser di dalam dadanya. “Seberapa besar?” tanyanya.
“Cukup besar untuk seseorang menjatuhkan perusahaan ini. Atau membuatnya diambil alih.”
Kota di luar jendela seperti mendadak lebih jauh.
“Kenapa Anda tidak langsung audit eksternal saja?” tanya Aruna.
“Karena kalau aku bergerak terlalu cepat, mereka akan tahu aku sudah mencium baunya.”
Mereka.
Bukan dia.
Bukan satu orang.
Aruna menelan ludah. “Jadi saya umpan.”
Calvin tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berhenti di sisi meja Aruna. “Kau bukan umpan.”
“Lalu apa?”
“Orang yang cukup cerdas untuk tahu kapan harus bicara dan kapan harus membuat orang lain merasa aman.” Itu pujian. Sekaligus peringatan.
Ponsel Aruna bergetar lagi.
Pesan kedua dari Raka.
“HR bilang aku diskors mulai besok. Tolong jujur padaku, Aruna.”
Calvin melihat perubahan ekspresinya. “Itu dia?” tanyanya pelan.
Aruna tidak menjawab.
“Jawab dia,” kata Calvin.
Aruna mengangkat wajahnya, tidak percaya. “Apa?”
“Jawab. Di depan saya.”
Udara di ruangan terasa makin menipis. Aruna membuka pesan itu. Jari-jarinya bergerak lambat.
Ia mengetik.
Berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Akhirnya, ia mengirim satu kalimat.
“Ikuti prosedur. Jangan ambil keputusan apa pun tanpa pendamping hukum.”
Tidak ada penghiburan. Tidak ada pembelaan. Hanya netralitas.
Calvin memperhatikannya tanpa komentar. “Sulit?” tanyanya.
Aruna tersenyum tipis. “Anda yang menyuruh.”
“Dan kau tetap yang menanggungnya.” Kalimat itu lebih lembut. Dan entah kenapa, justru itu yang membuatnya terasa lebih berbahaya.
“Apa Anda tahu siapa di balik ini?” tanya Aruna.
“Aku punya dugaan.”
“Dan kalau dugaan Anda salah?”
“Kalau aku salah,” Calvin menatapnya lurus, “aku yang akan jatuh.” Itu pertama kalinya ia mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti risiko pribadi.
Aruna berdiri perlahan. “Kalau ini melibatkan lebih dari satu direksi,” katanya, “Anda tidak hanya mempertaruhkan jabatan.”
“Aku tahu.”
“Ini bisa jadi perang.”
Calvin tersenyum samar. “Ini sudah perang.”
Keheningan itu kini bukan lagi sunyi yang pasif. Ia seperti kabel listrik terbuka. “Apa peran saya dalam perang ini?” tanya Aruna.
“Kau akan menemukan siapa yang membocorkan revisi laporan itu sebelum sampai ke mejaku,” jawab Calvin. “Seseorang ingin aku melihat versi yang sudah dibersihkan.”
Aruna memproses cepat. Artinya, bukan hanya manipulasi angka. Tapi juga manipulasi dalam informasi. “Ada mata-mata di legal,” gumamnya.
“Atau di ruang rapat tadi pagi.” Kalimat itu membuat perutnya terasa mengencang.
Ruang rapat itu hanya dihadiri tujuh orang.
Termasuk dirinya.
Termasuk Calvin.
Termasuk Dimas.
Dan “Kalau saya gagal?” tanya Aruna.
Calvin menatapnya lama. “Kau tidak akan gagal.” Itu bukan motivasi. Itu tuntutan.
“Kenapa Anda begitu yakin?” Aruna menantangnya.
Tatapan Calvin tidak sepenuhnya profesional “Karena sejak awal,” katanya pelan, “kau tidak pernah benar-benar diam.”
Jantung Aruna berdetak tidak stabil.
“Diam adalah cara bertahan,” lanjut Calvin. “Tapi orang yang terlalu sadar tidak akan selamanya menahan diri.” Jarak di antara mereka terlalu dekat untuk sekadar percakapan kerja.
Aruna berjalan mundur satu langkah. “Kita tidak sedang membahas saya,” katanya.
“Benar,” Calvin mengangguk. “Kita sedang membahas siapa yang berani bermain di dalam perusahaanku.”
Perusahaanku.
Bukan perusahaan.
Nada kepemilikan itu jelas.
Tiba-tiba pintu diketuk keras.
Keduanya menoleh.
Sekretaris Calvin masuk dengan wajah tegang. “Pak, Pak Dimas ada di luar. Katanya mendesak. Detik itu juga, udara di ruangan berubah. Calvin tidak mengalihkan pandangan dari Aruna.
“Bagus,” katanya tenang. “Kita mulai sekarang.”
Aruna menggenggam dokumen di tangannya lebih erat. Permainan yang tadi terasa seperti strategi diam-diam kini berubah menjadi konfrontasi langsung. Sejak ia memilih diam di ruang rapat—
Aruna menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan. Bisa jadi, Calvin sudah tahu siapa pelakunya. Dan ia sedang menguji di sisi mana Aruna benar-benar berdiri.
Pintu terbuka.
Dimas masuk.
Dan perang itu, resmi dimulai.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/