NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan di Kantor / Romansa / Konflik etika / Slice of Life / Office Romance
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02 AMD

Amplop itu belum sempat ia buka ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat jantung Aruna turun satu detik.

Raka Pradipta.

Nama yang tadi siang diputuskan sebagai seorang penanggung jawab proyek Eastbay. Aruna menatap layar itu sampai getarnya berhenti sendiri. Koridor lantai eksekutif terasa terlalu terang, bahkan terlalu terbuka. Ia tidak bisa menjawab di sini.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan masuk.

“Aruna, aku cuma mau tahu satu hal. Apa benar ini salahku?”

Jari Aruna menegang. Ia bisa membalas. Tapi tidak bisa mengatakan ada yang janggal. Ia juga tidak bisa memberi sedikit harapan. Sebaliknya, ia mematikan layar. Langkahnya kembali bergerak. Setiap bunyi hak sepatu di karpet terdengar seperti hitungan mundur.

Di dalam ruangannya sendiri, Aruna akhirnya membuka amplop itu. Isinya bukan sekedar kertas dokumen. Salinan email internal. Log akses sistem. Rekaman waktu perubahan data. Dan satu nama yang membuat napasnya tercekat.

Dimas Wiratama – Chief Financial Officer.

Atasan langsung Raka.

Tanggal perubahan laporan tercatat pada pukul 23.47. Akses dilakukan dari akun yang memiliki otorisasi tingkat tinggi. Tidak mungkin itu dilakukan tanpa izin. Ini bukan kesalahan staf. Ini seperti perintah.

Aruna bersandar perlahan di kursinya. Ujung jarinya terasa dingin lagi.

Pintu ruangannya diketuk. Ia hampir menjatuhkan dokumen itu.

“Masuk,” ucapnya, ia dengan cepat merapikan kertas. ternyata yang masuk bukan staf legal.

Calvin.

Ia menutup pintu tanpa suara. Tanpa sekretaris. Tanpa pengumuman. “Aku ingin memastikan kau membaca semuanya,” katanya datar.

“Apa Anda yakin ingin menyeret CFO ke dalam ini?” tanya Aruna langsung. Kalimat itu keluar sebelum sempat ia saring. Tatapan Calvin berubah. Bukan marah. Lebih seperti tertarik. “Jadi kau melihatnya.”

“Akun aksesnya jelas,” jawab Aruna. “Tapi bukti digital bisa dimanipulasi.”

“Benar,” kata Calvin. “Dan seseorang memang sedang memanipulasinya.”

Sunyi turun di antara mereka. “Ini bukan sekedar laporan yang diubah,” lanjut Calvin pelan. “Ini aliran dana. Eastbay hanya pintu.”

Aruna merasakan sesuatu bergeser di dalam dadanya. “Seberapa besar?” tanyanya.

“Cukup besar untuk seseorang menjatuhkan perusahaan ini. Atau membuatnya diambil alih.”

Kota di luar jendela seperti mendadak lebih jauh.

“Kenapa Anda tidak langsung audit eksternal saja?” tanya Aruna.

“Karena kalau aku bergerak terlalu cepat, mereka akan tahu aku sudah mencium baunya.”

Mereka.

Bukan dia.

Bukan satu orang.

Aruna menelan ludah. “Jadi saya umpan.”

Calvin tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, berhenti di sisi meja Aruna. “Kau bukan umpan.”

“Lalu apa?”

“Orang yang cukup cerdas untuk tahu kapan harus bicara dan kapan harus membuat orang lain merasa aman.” Itu pujian. Sekaligus peringatan.

Ponsel Aruna bergetar lagi.

Pesan kedua dari Raka.

“HR bilang aku diskors mulai besok. Tolong jujur padaku, Aruna.”

Calvin melihat perubahan ekspresinya. “Itu dia?” tanyanya pelan.

Aruna tidak menjawab.

“Jawab dia,” kata Calvin.

Aruna mengangkat wajahnya, tidak percaya. “Apa?”

“Jawab. Di depan saya.”

Udara di ruangan terasa makin menipis. Aruna membuka pesan itu. Jari-jarinya bergerak lambat.

Ia mengetik.

Berhenti.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya, ia mengirim satu kalimat.

“Ikuti prosedur. Jangan ambil keputusan apa pun tanpa pendamping hukum.”

Tidak ada penghiburan. Tidak ada pembelaan. Hanya netralitas.

Calvin memperhatikannya tanpa komentar. “Sulit?” tanyanya.

Aruna tersenyum tipis. “Anda yang menyuruh.”

“Dan kau tetap yang menanggungnya.” Kalimat itu lebih lembut. Dan entah kenapa, justru itu yang membuatnya terasa lebih berbahaya.

“Apa Anda tahu siapa di balik ini?” tanya Aruna.

“Aku punya dugaan.”

“Dan kalau dugaan Anda salah?”

“Kalau aku salah,” Calvin menatapnya lurus, “aku yang akan jatuh.” Itu pertama kalinya ia mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti risiko pribadi.

Aruna berdiri perlahan. “Kalau ini melibatkan lebih dari satu direksi,” katanya, “Anda tidak hanya mempertaruhkan jabatan.”

“Aku tahu.”

“Ini bisa jadi perang.”

Calvin tersenyum samar. “Ini sudah perang.”

Keheningan itu kini bukan lagi sunyi yang pasif. Ia seperti kabel listrik terbuka. “Apa peran saya dalam perang ini?” tanya Aruna.

“Kau akan menemukan siapa yang membocorkan revisi laporan itu sebelum sampai ke mejaku,” jawab Calvin. “Seseorang ingin aku melihat versi yang sudah dibersihkan.”

Aruna memproses cepat. Artinya, bukan hanya manipulasi angka. Tapi juga manipulasi dalam informasi. “Ada mata-mata di legal,” gumamnya.

“Atau di ruang rapat tadi pagi.” Kalimat itu membuat perutnya terasa mengencang.

Ruang rapat itu hanya dihadiri tujuh orang.

Termasuk dirinya.

Termasuk Calvin.

Termasuk Dimas.

Dan “Kalau saya gagal?” tanya Aruna.

Calvin menatapnya lama. “Kau tidak akan gagal.” Itu bukan motivasi. Itu tuntutan.

“Kenapa Anda begitu yakin?” Aruna menantangnya.

Tatapan Calvin tidak sepenuhnya profesional “Karena sejak awal,” katanya pelan, “kau tidak pernah benar-benar diam.”

Jantung Aruna berdetak tidak stabil.

“Diam adalah cara bertahan,” lanjut Calvin. “Tapi orang yang terlalu sadar tidak akan selamanya menahan diri.” Jarak di antara mereka terlalu dekat untuk sekadar percakapan kerja.

Aruna berjalan mundur satu langkah. “Kita tidak sedang membahas saya,” katanya.

“Benar,” Calvin mengangguk. “Kita sedang membahas siapa yang berani bermain di dalam perusahaanku.”

Perusahaanku.

Bukan perusahaan.

Nada kepemilikan itu jelas.

Tiba-tiba pintu diketuk keras.

Keduanya menoleh.

Sekretaris Calvin masuk dengan wajah tegang. “Pak, Pak Dimas ada di luar. Katanya mendesak. Detik itu juga, udara di ruangan berubah. Calvin tidak mengalihkan pandangan dari Aruna.

“Bagus,” katanya tenang. “Kita mulai sekarang.”

Aruna menggenggam dokumen di tangannya lebih erat. Permainan yang tadi terasa seperti strategi diam-diam kini berubah menjadi konfrontasi langsung. Sejak ia memilih diam di ruang rapat—

Aruna menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan. Bisa jadi, Calvin sudah tahu siapa pelakunya. Dan ia sedang menguji di sisi mana Aruna benar-benar berdiri.

Pintu terbuka.

Dimas masuk.

Dan perang itu, resmi dimulai.

1
Yo Iku
keren banget
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 kak
total 1 replies
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!