NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02 Ruang Direktur

Ruang direktur lebih sunyi daripada ruang rapat.

Dinding kaca memantulkan cahaya kota yang mulai gelap. Dari lantai dua puluh, Jakarta terlihat seperti hamparan lampu yang tak pernah tidur. Aruna berdiri beberapa langkah dari meja kerja Calvin, tangannya terlipat di depan, sikapnya formal—terlalu formal untuk seseorang yang baru saja dipanggil secara pribadi.

Calvin berdiri membelakanginya, menatap jendela. Ia belum mengatakan apa pun sejak Aruna masuk.

“Duduk,” ucapnya akhirnya, tanpa menoleh.

Aruna menarik kursi dan duduk. Detak jam dinding terdengar terlalu jelas di telinganya. Ia tahu, pertemuan ini tidak akan singkat.

Calvin berbalik. Tatapannya jatuh lurus pada Aruna, tajam, seolah berusaha membaca sesuatu yang ia simpan rapat. Ia mengambil satu map tipis dari meja, membukanya, lalu mendorongnya ke arah Aruna.

“Ini laporan revisi,” katanya. “Versi yang masuk ke mejaku pagi ini.”

Aruna melirik isi map itu. Angka-angka yang familiar. Tanggal yang bergeser satu hari. Tanda tangan yang rapi—terlalu rapi.

“Menurutmu, ada yang janggal?” tanya Calvin.

Pertanyaan itu sederhana. Namun Aruna tahu, jawabannya tidak.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Secara administratif, tidak.”

Calvin menyandarkan tubuhnya ke meja. “Secara faktual?”

Sunyi kembali jatuh, lebih berat dari sebelumnya.

Aruna menahan napas. Inilah celahnya. Ia bisa memilih sekarang. Ia bisa memperbaiki semuanya—atau menguatkan kebohongan yang baru saja ia izinkan terjadi.

“Tidak ada yang bisa dibuktikan tanpa audit lanjutan,” katanya akhirnya.

Calvin tersenyum tipis. Bukan senyum puas, bukan pula senyum marah. Lebih seperti seseorang yang baru saja mengonfirmasi sesuatu dalam pikirannya.

“Kau sangat hati-hati,” ucapnya pelan.

Aruna menunduk sedikit. “Itu tugasku.”

Calvin menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu ia berjalan kembali ke kursinya dan duduk. Jemarinya mengetuk meja sekali, lalu berhenti.

“Orang yang akan menanggung akibat dari keputusan rapat tadi… kau mengenalnya?”

Aruna terdiam.

Ia mengenal nama itu. Ia pernah bekerja satu tim. Pernah berbagi lembur. Pernah mendengar cerita tentang anak yang sering sakit dan cicilan rumah yang belum lunas.

“Secara profesional,” jawab Aruna.

“Dan secara pribadi?”

Aruna mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, jarak profesional itu terasa menipis—nyaris rapuh.

“Tidak,” katanya.

Calvin mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan satu amplop cokelat. Tidak ada label. Tidak ada cap.

“Besok pagi,” katanya, “aku akan mengumumkan investigasi internal lanjutan.”

Jantung Aruna berdegup.

“Dan?” tanyanya hati-hati.

“Dan aku butuh seseorang yang bersih. Tidak tercantum di struktur tim yang terlibat. Tidak punya kepentingan.”

Ia mendorong amplop itu ke arah Aruna.

“Aku menunjukmu.”

Aruna menatap amplop itu tanpa menyentuhnya. “Itu konflik kepentingan.”

“Tidak, jika kau memang tidak tahu apa-apa,” balas Calvin.

Kalimat itu seperti pisau bermata dua.

Jika Aruna menerima, ia akan berdiri tepat di pusat kebohongan yang ia jaga. Jika menolak, ia akan terlihat mencurigakan.

“Kenapa aku?” tanya Aruna pelan.

Calvin menatapnya lama. Terlalu lama untuk sebuah jawaban formal.

“Karena kau memilih diam,” katanya akhirnya. “Dan orang yang memilih diam biasanya tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.”

Aruna meraih amplop itu. Jemarinya terasa kaku, seolah berat itu bukan berasal dari kertas di dalamnya, melainkan dari keputusan yang belum ia ucapkan.

Saat ia berdiri untuk pergi, Calvin kembali berbicara.

“Aruna.”

Ia menoleh.

“Apa pun yang terjadi nanti,” ucap Calvin, suaranya rendah, “pastikan kau siap menanggungnya.”

Pintu ruang direktur tertutup di belakang Aruna.

Ia berdiri sesaat di koridor, menatap amplop cokelat di tangannya, dan untuk pertama kalinya ia berpikir—jika ia terus memilih diam, bukan hanya orang lain yang akan hancur, tapi dirinya sendiri.

Di tangannya, amplop itu terasa jauh lebih berat dari isinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak rapat tadi, Aruna menyadari—

diamnya kini bukan lagi pilihan.

... BERSAMBUNG...

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!