novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Pagi harinya, Delphi Medical Centre sudah seperti sarang lebah yang sangat sibuk. Lyra berjalan cepat menyusuri koridor utama dengan seragam scrub yang rapi dan aroma kopi yang masih menempel di jaketnya. Matanya terus melirik ke kanan dan kiri, mencari sosok pirang yang biasanya sudah berdiri angkuh di tengah jalan untuk mengomelinya.
> Mana sih si Bos Caper? batin Lyra. Tumben jam segini nggak muncul buat pamer jam tangan atau ngetes refleks gue.
Karena terlalu fokus mencari keberadaan "suami rahasianya" itu sambil membaca jadwal di ponsel, Lyra tidak memperhatikan tikungan koridor di depannya.
BRUAAKK!
Lyra menabrak seseorang dengan cukup keras hingga ponselnya hampir terpelanting.
"Aduh! I'm so sorry!" seru Lyra spontan sambil buru-buru menyeimbangkan tubuhnya.
"Wah! Easy there, Doctor! Kayaknya kamu lagi dikejar hantu atau lagi nyari diskon akhir tahun ya?"
Suara itu terdengar sangat ceria dan energik. Lyra mendongak dan melihat seorang dokter perempuan berambut pendek dengan wajah yang sangat ramah. Tag namanya bertuliskan: Dr. Iva - Cardiology.
"Maaf banget, Dok. Saya tadi lagi... fokus nyari ruangan," dalih Lyra sambil tersenyum canggung.
Iva tertawa kecil, matanya berbinar penuh energi. "Santai aja! Kamu pasti dokter dari Indonesia yang lagi viral itu kan? Yang kemaren operasi bareng si 'Tangan Tuhan' Pharma Andriend? Kenalin, aku Iva. Aku di bagian Kardiologi, jadi kita bakal sering ketemu!"
"Eh, iya. Saya Lyra," jawab Lyra merasa lega karena ternyata Iva sangat ramah.
"Lagi nyari Pharma ya?" Iva menyikut lengan Lyra sambil menaikkan alisnya dengan jahil. "Dia lagi ada rapat mendadak sama dewan direksi di lantai atas. Biasalah, orang penting. Tapi tenang aja, kalau kamu butuh 'pemandu wisata' di Delphi ini biar nggak nabrak orang lagi, aku siap sedia!"
Lyra tertawa, merasa langsung nyambung dengan sifat Iva yang sangat terbuka. "Boleh banget, Dok. Kayaknya saya emang butuh temen biar nggak darah tinggi terus ngadepin Bos Anda itu."
"Hahaha! Setuju! Pharma itu emang gantengnya selangit, tapi galaknya juga minta ampun. Kadang aku mikir, apa dia nggak capek ya jadi sempurna terus tiap hari?" Iva merangkul bahu Lyra dengan akrab. "Ayo, mumpung dia lagi sibuk rapat, mending ikut aku ke kafetaria bentar. Ada gosip... eh, maksudku ada info medis penting yang harus kamu tahu!"
Lyra merasa senang akhirnya punya teman perempuan yang asyik di London. Setidaknya, bersama Iva, dia bisa sejenak melupakan ketegangan perannya sebagai "istri rahasia" Pharma.
"Ayo! Kebetulan saya butuh asupan kafein sebelum kena semprot Pharma lagi," sahut Lyra semangat.Sambil merangkul bahu Lyra, Iva membawanya berkeliling koridor sayap barat yang biasanya jarang dilewati dokter baru. Iva menjelaskan setiap sudut Delphi dengan gaya bicara yang super cepat dan seru, sampai mereka tiba di depan depo farmasi.
"Nah, di sini tempat paling krusial kalau kamu mau ambil obat darurat. Dan biasanya..." Iva menggantung kalimatnya sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang berdiri kebingungan di depan mesin pembaca resep. "...tempat nongkrongnya para dokter magang yang mukanya pucat karena kurang tidur."
Pemuda itu menoleh. Wajahnya terlihat sangat muda, mungkin baru lulus koas, dengan rambut yang sedikit acak-acakkan dan kacamata yang melorot di hidungnya. Tag namanya bertuliskan: Raydil - Intern.
"Eh, Dokter Iva! Aduh, untung ada dokter," seru pemuda itu, Raydil, dengan nada lega yang luar biasa. "Ini mesinnya nggak mau baca ID saya, padahal pasien di bangsal 4 butuh laporannya segera."
"Raydil, Raydil... makanya jangan pakai ID buat buka tutup botol soda, jadi lecet kan?" goda Iva sambil membantu menempelkan kartunya sendiri ke mesin. "Kenalin nih, bintang baru kita, Dokter Lyra."
Raydil langsung menegakkan punggungnya, menatap Lyra dengan mata berbinar-binar seolah melihat pahlawan super. "Dokter Lyra?! Yang operasi Lord Sterling kemarin? Wah, selamat ya Dok! Teknik jahit Anda yang di celah koroner itu jadi bahan diskusi semua anak magang pagi ini!"
Lyra sedikit tersipu. "Eh, makasih Raydil. Itu juga berkat bimbingan Dokter Pharma kok."
"Wah, Dokter Pharma ya..." Raydil menggaruk lehernya, ekspresinya mendadak berubah jadi agak ngeri. "Beliau itu idola saya, tapi kalau lewat di depan saya, rasanya kayak ada AC raksasa yang lewat. Dingin banget! Saya nggak berani napas kalau dia lagi visit pasien."
Lyra dan Iva spontan tertawa bersamaan.
"Tenang aja Ray, dia emang begitu. Luarnya aja es, dalemnya... ya tetep es sih," canda Iva yang bikin Raydil ikut nyengir.
Raydil kemudian mengambil beberapa berkas dan menatap Lyra dengan penuh harap. "Dokter Lyra, kalau nanti ada waktu luang, boleh ya saya tanya-tanya soal teknik bedah kemarin? Saya pengen banget bisa sehebat Dokter... atau setidaknya nggak gemeteran kalau liat darah."
"Boleh dong, Raydil. Santai aja," jawab Lyra ramah.Iva dan Lyra melangkah keluar dari lift di lantai atas, area yang lebih tenang dan eksklusif. Iva awalnya ingin menunjukkan taman atap rumah sakit yang cantik, tapi langkah mereka mendadak terhenti di dekat pintu ruang rapat besar.
Di ujung koridor, terlihat Pharma sedang berjalan perlahan. Namun, pemandangan itu membuat jantung Lyra serasa merosot ke lantai. Pharma tidak sendirian. Di sampingnya, seorang dokter wanita bertubuh jenjang dengan rambut pirang platinum yang tertata sempurna tampak sedang menggandeng lengan Pharma dengan sangat akrab.
Wanita itu tertawa kecil sambil membisikkan sesuatu ke telinga Pharma, dan Pharma meskipun wajahnya tetap datar tidak menepis tangan wanita itu.
"Wah, liat tuh. Si Ratu Delphi sudah beraksi lagi," gumam Iva sambil menyipitkan mata.
Lyra mengepalkan tangannya di balik saku scrub-nya. "Siapa dia?" tanya Lyra, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Itu Dokter Veronica, spesialis bedah saraf," bisik Iva. "Dia itu cantik, pinter, dan kabarnya dia satu-satunya orang yang berani 'nempel' ke Pharma tanpa kena semprot. Mereka sudah dekat dari zaman Pharma baru masuk ke sini. Banyak yang bilang mereka itu power couple-nya Delphi. Veronica sering banget nemenin Pharma ke acara-acara penting kalau Pharma lagi nggak pengen sendirian."
Lyra terdiam. Ia melihat betapa serasinya Pharma dan Veronica yang sedang berjalan beriringan. Perasaan panas yang jauh lebih membakar daripada cemburu biasa mulai memenuhi dadanya.
> Oh, jadi ini alasannya dia mau kita pura-pura nggak kenal? batin Lyra pedih. Biar dia bisa bebas digandeng-gandeng sama dokter saraf cantik itu? Bilangnya demi karier gue, tapi ternyata ada 'ratu' lain di sini?
Pharma tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lyra dan Iva berada. Begitu mata birunya bertemu dengan tatapan tajam Lyra, Pharma tampak sedikit tersentak. Ia buru-buru melepaskan lengan Veronica dari tangannya dengan gerakan yang agak canggung.
"Dokter Iva, Dokter Lyra," sapa Pharma, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.
Veronica ikut menoleh, menatap Lyra dari atas ke bawah dengan senyum yang terlihat ramah tapi menyimpan aura persaingan. "Oh, jadi ini asisten bedah baru yang viral itu? Kenalkan, saya Veronica. Pharma sering cerita tentang kamu... katanya kamu 'menarik'," ucap Veronica sambil menekankan kata terakhir.
Lyra hanya memberikan senyum paksa yang sangat tipis. "Salam kenal, Dokter Veronica."
Iva yang merasakan suasana mendadak jadi medan perang dingin, langsung menyenggol lengan Lyra. "Ayo Lyra, kita harus balik ke bawah, kan? Jadwal kunjungan pasien bentar lagi mulai."
Lyra mengangguk tanpa melihat ke arah Pharma lagi. "Iya, ayo. Permisi, Dokter Veronica. Dan... Sir," ucap Lyra ketus, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat tanpa menunggu jawaban Pharma.
Pharma hendak mengejar, tapi Veronica menahan lengannya lagi. "Pharma, kita belum selesai bahas kasus pasien tadi."
Pharma hanya bisa menatap punggung Lyra yang menjauh dengan rahang yang mengeras. Ia tahu, malam ini penjelasan panjang lebar tidak akan cukup untuk meredam amarah istrinya.