Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - DARAH DINGIN
Kegelapan di bawah kaki Lembah Kabut Abadi tidaklah sunyi. Kegelapan itu bernapas, berdenyut, dan berbau seperti besi berkarat serta kotoran yang membusuk. Bagi Kaelan, cahaya adalah ingatan yang memudar—sesuatu yang pernah ia lihat dalam mimpi buruk tentang matahari yang membakar kulit. Sudah tujuh musim dingin lewat sejak ia diculik dari desa pinggiran, dan kini, identitasnya sebagai manusia telah terkikis habis, menyisakan hanya selongsong kulit yang dipaksa bertahan hidup.
Kaelan meringkuk di sudut sel batu yang lebarnya tak lebih dari rentangan tangannya. Lantainya selalu basah oleh rembesan air tanah yang mengandung mineral beracun. Di sini, di bawah pengawasan Sekte Gerhana Biru, ia bukan lagi seorang remaja; ia adalah "Subjek 07".
Ssttt...
Suara gesekan sisik di atas batu yang kasar membuat telinga Kaelan berkedut. Dalam kegelapan total, indra pendengarannya telah menajam melampaui batas manusia normal. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang melambat, sebuah teknik pernapasan yang ia pelajari secara otodidak agar oksigen di sel sempit itu tidak cepat habis.
Seekor ular kobra gua, yang entah bagaimana bisa masuk melalui celah ventilasi sempit di atas, merayap mendekatinya. Ular itu adalah satu-satunya "teman" sekaligus satu-satunya sumber nutrisi. Tanpa ragu, tangan Kaelan yang pucat dan kurus melesat secepat kilat. Gerakannya tidak memiliki keraguan. Jari-jarinya yang kuat mencengkeram tepat di belakang kepala reptil itu sebelum ia sempat mematuk.
Kaelan bisa merasakan otot ular itu melilit lengannya, mencoba meremukkan tulang yang hanya dibalut kulit tipis. Namun, Kaelan justru menggigit leher ular itu. Darah amis dan hangat membanjiri mulutnya. Rasa pahit dari empedu dan racun ular mulai menjalar di lidahnya, memberikan sensasi terbakar yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.
"Satu lagi hari di neraka," batinnya. Suaranya di dalam kepala terdengar asing, seolah-olah milik orang lain.
Setiap kali ia mengonsumsi daging mentah dan racun tersebut, tubuhnya mengalami kejang hebat. Namun, inilah cara Sekte Gerhana Biru menempa "Pedang Bayangan" mereka. Mereka menyuntikkan racun dosis rendah ke dalam pasokan air dan membiarkan para tawanan memakan predator yang ada di dalam gua. Tubuh yang tidak mampu beradaptasi akan membusuk dari dalam, berubah menjadi tumpukan tulang yang dibuang ke jurang tanpa dasar di ujung lorong.
Kaelan menutup matanya, mencoba mengingat wajah ibunya atau aroma kayu bakar di musim gugur, tetapi yang muncul hanyalah bayangan perak. Rambutnya, yang dulu hitam legam, kini mulai berubah warna menjadi putih susu akibat kekurangan sinar matahari dan efek mutasi racun. Kulitnya menjadi sangat pucat hingga pembuluh darah biru terlihat jelas seperti peta sungai yang rumit.
Tiba-tiba, suara dentuman logam bergema di sepanjang lorong sel. Itu adalah suara yang jarang terdengar—suara gerbang utama yang dibuka.
"Bawa keluar yang masih bernapas," sebuah suara dingin dan berwibawa memerintah.
Cahaya obor yang tiba-tiba menusuk celah jeruji sel membuat mata Kaelan terasa seperti disiram air keras. Ia mengerang, menutupi matanya dengan tangan yang masih berlumuran darah ular. Pintu selnya terbuka dengan derit engsel yang memekakkan telinga.
Dua orang pria bertopeng perak, mengenakan jubah hitam dengan sulaman bulan sabit biru di dada mereka, masuk ke dalam sel. Mereka melihat Kaelan yang sedang duduk di atas tumpukan tulang ular dengan tatapan jijik namun penuh minat.
"Subjek 07 masih bertahan. Luar biasa. Lihat matanya... pupilnya sudah tidak lagi bereaksi terhadap cahaya secara normal," ujar salah satu penjaga.
"Tarik dia keluar. Tuan Besar ingin melihat hasil dari 'Penempaan Rahim Batu' ini. Dari lima puluh anak yang kita lempar ke sini tujuh tahun lalu, hanya tiga yang tersisa. Dia adalah yang paling tenang di antara mereka," sahut yang lain.
Kaelan tidak melawan saat kerah bajunya yang compang-camping ditarik paksa. Kakinya yang gemetar dipaksa berjalan di atas lantai batu yang dingin. Saat ia melewati sel-sel lain, ia melihat pintu-pintu yang terbuka lebar. Di dalamnya hanya ada kegelapan atau mayat yang sudah mengering.
Bau udara segar—atau setidaknya udara yang tidak berbau busuk—mulai masuk ke hidungnya saat mereka mencapai permukaan. Namun, bagi Kaelan, kebebasan ini terasa lebih mengancam daripada selnya. Di ujung lorong, sebuah aula besar yang diterangi oleh ribuan lilin telah menunggu. Di sana berdiri seorang pria tua dengan janggut panjang dan tatapan mata setajam silet.
Inilah awal dari transformasi Kaelan. Bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai predator puncak yang akan merobek rembulan dari langit.
"Selamat datang kembali ke dunia, pembunuhku," ucap pria tua itu dengan senyum yang tidak mencapai matanya.
Kaelan menatap pria itu. Di dalam dadanya, rasa benci yang selama ini membeku mulai mencair, berubah menjadi api yang dingin. Ia akan patuh, ia akan belajar, dan ia akan membunuh. Sampai tiba saatnya, tidak akan ada satu pun anggota Sekte Gerhana Biru yang tersisa untuk menceritakan kisah tentang 'Bayang Rembulan Perak'.