Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Pagi di rumah Virellia terasa sedikit berbeda.
Biasanya, suara sendok beradu dengan piring dan ocehan ringan Elvarin jadi hal pertama yang Arcelia dengar. Tapi hari itu, suasana lebih tenang. Terlalu tenang.
Arcelia duduk di meja makan sambil mengoleskan selai ke roti panggangnya. Mama Mirella berdiri di dapur, menuangkan teh hangat. Papa Alveron sudah rapi dengan setelan kerja, tapi belum menyentuh makanannya. Kaiven memeriksa ponselnya lagi.
Lagi.
Dan lagi.
“Elvarin belum bangun Ma?” tanya Arcelia.
“Belum Sayang,” jawab Mama Mirella lembut. “Semalam dia belajar cukup lama.”
Arcelia mengangguk. Ia menggigit roti perlahan, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di meja makan.
Suara hatinya bergumam pelan.
Ini tidak bisa terus seperti ini. Kalau kita hanya menunggu, kita akan selalu selangkah di belakang.
“Papa,” Arcelia akhirnya bersuara.
Papa Alveron menatapnya.
“Kalau perusahaan diserang lewat rumor dan kontrak… berarti ada orang dalam yang membocorkan informasi, kan?”
Sendok Mama Mirella berhenti sesaat.
Kaiven mengangkat wajahnya.
Papa Alveron terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Kemungkinan itu selalu ada.”
“Sudah dicari Pa?”
“Kami sedang menyelidikinya Dek,” jawab Kaiven lebih dulu. “Tapi orang seperti ini tidak meninggalkan jejak yang mudah.” lanjutnya
Arcelia menatap meja makan.
Orang dalam…
Tiba-tiba, satu wajah melintas di pikirannya.
Selena.
Tapi bagaimana?
Ia tidak punya akses langsung ke internal Virellia Group. Atau… mungkin ada orang yang membukakan pintu untuknya?
Di sekolah, suasana terasa kontras.
Lorong ramai. Tawa. Poster lomba antar sekolah ditempel makin banyak. Ada latihan debat, olahraga, bahkan simulasi bisnis mini untuk siswa kelas atas.
Arcelia berjalan ke kelas dengan tas di bahunya. Kaelion sudah duduk di bangkunya.
“Selamat pagi,” ucap Arcelia.
“Pagi.”
Nada suaranya tetap tenang seperti biasa.
Arcelia duduk. “Selena datang kemarin.”
“Aku tahu.”
Arcelia menoleh cepat. “Kau tahu?”
“Aku dapat pesan setelahnya.”
“Apa katanya?”
Kaelion terdiam sejenak. “Dia bilang aku membuat keputusan yang salah.”
Arcelia tersenyum tipis. “Kalau dia marah, berarti kita di jalur yang benar.”
Sudut bibir Kaelion terangkat sedikit. Hampir tak terlihat.
“Optimis sekali.”
“Aku realistis,” jawab Arcelia ringan.
Tapi dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar optimisme. Ini pertahanan.
Sepulang sekolah,
Arcelia tidak langsung pulang. Ia duduk di taman kota kecil dekat jalan utama Lumin. Angin sore menggerakkan dedaunan. Anak-anak kecil berlari di lapangan rumput.
Ia membuka ponselnya.
Mencari.
Membaca ulang berita bisnis yang memuat nama perusahaan keluarganya. Komentar-komentar anonim mulai bermunculan.
“Virellia mulai goyah?”
“Katanya ada kontrak besar yang batal.”
“Investor mulai pindah?”
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan cuma rumor kecil… ini sudah dibentuk. Ia menekan layar, menggulir lebih jauh. Satu artikel menarik perhatiannya.
Perusahaan baru yang muncul enam bulan lalu, yang kemarin dibahas di rapat, mendapat investasi awal dari perusahaan investasi keluarga Ravert.
Arcelia menutup matanya sebentar. Jadi memang dia. Tapi membuktikan dan menuduh adalah dua hal berbeda.
Langkah kaki mendekat.
“Sendirian?”
Arcelia membuka mata. Kaelion berdiri di depannya.
“Kau mengikutiku?” tanyanya datar.
“Kebetulan lewat.”
Arcelia mendengus pelan. “Kebetulan yang terlalu sering.”
Kaelion duduk di bangku sebelahnya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain.
“Kau membaca berita itu, ya?”
Arcelia menoleh. “Kau juga kan?”
“Aku tahu Selena tidak akan berhenti di satu langkah.”
Hening sesaat.
“Kaelion,” suara Arcelia melembut, “kalau semua ini makin besar… kau siap melawan keluargamu sendiri?”
Pertanyaan itu berat. Ia bisa merasakannya. Kaelion menatap ke arah anak-anak yang bermain di lapangan.
“Tidak ada keluarga yang benar-benar utuh,” katanya pelan. “Kadang kita harus memilih mana yang masih layak dipertahankan.”
Arcelia menelan ludah. Dan aku memilih keluargaku. Ia berdiri perlahan.
“Aku tidak akan tinggal diam.”
Kaelion ikut berdiri. “Apa yang akan kau lakukan?”
Arcelia tersenyum tipis.
“Cari tahu siapa orang dalam itu.”
Angin sore berhembus lebih kencang.
Di sisi lain kota,
Di sebuah ruangan kantor dengan jendela tinggi, Selena Ravert berdiri sambil menatap layar laptopnya. Grafik penurunan saham Virellia terpampang jelas. Ia mengangkat gelas wine dengan tenang.
“Baru awal,” gumamnya pelan.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Target berikutnya siap.
Senyumnya melebar sedikit. Permainan belum selesai. Dan retakan pertama di dinding keluarga Virellia… sudah mulai terlihat.
Malam turun perlahan di Lumin.
Rumah Virellia terlihat sama seperti biasa dari luar, lampu hangat menyala, tirai tertutup rapi, taman depan terawat. Tidak ada yang akan menyangka ada badai yang sedang mendekat dari dalam.
Arcelia duduk di lantai kamarnya dengan laptop terbuka. Rambutnya masih sedikit basah karena baru selesai mandi. Aroma sabun lembut masih menempel di kulitnya.
Ia mengetik sesuatu, lalu berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Kalau orang dalam itu benar-benar ada… berarti dia punya akses laporan internal.
Ia membuka ulang artikel berita yang tadi dibacanya. Mencocokkan tanggal publikasi dengan jadwal rapat perusahaan yang pernah tanpa sengaja ia dengar dari papanya.
Tangannya berhenti di keyboard. Tanggalnya terlalu berdekatan. Seolah-olah seseorang langsung memberi bocoran setelah rapat selesai.
Pintu kamarnya diketuk dua kali.
“Masuk,” jawabnya.
Kaiven masuk sambil membawa semangkuk buah potong.
“Kalau mikir terlalu keras, nanti migrain lagi kamu Dek,” katanya santai, meletakkan mangkuk di meja.
Arcelia tersenyum tipis. “Bang, kamu tahu siapa saja yang hadir di rapat internal minggu lalu?”
Kaiven berhenti. Tatapannya berubah lebih waspada.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
“Aku cuma merasa… berita itu keluar terlalu cepat Bang.”
Kaiven menutup pintu kamar Adeknya itu pelan, lalu duduk di kursi belajar.
“Direksi inti. Beberapa manajer senior. Dan satu penasihat eksternal.”
“Penasihat eksternal?”
“Iya. Orang lama Papa. Sudah kerja sama hampir lima tahun.”
Arcelia menggigit bibir bawahnya pelan.
“Menurut Abang… orang itu bisa dipercaya?”
Kaiven terdiam cukup lama.
“Aku ingin bilang iya.”
“Tapi?”
“Tapi situasi seperti ini membuat kita harus meragukan semuanya.”
Suara hatinya langsung bergetar.
Jadi memang ada kemungkinan.
Di sisi lain kota,
Kaelion berdiri di balkon rumah keluarga Ravert. Rumah itu lebih besar dari milik Virellia. Lebih megah. Lebih dingin. Lampu taman menyinari patung-patung marmer di halaman. Indah, tapi terasa tak bernyawa.
Pintu balkon di belakangnya terbuka.
Selena melangkah keluar dengan langkah anggun.
“Kau jarang pulang cepat,” katanya ringan.
Kaelion tidak menoleh.
“Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?” lanjut Selena.
“Lebih tahu dari yang kau kira.”
Selena tersenyum tipis. “Kau berpihak pada keluarga yang sedang tenggelam.”
“Mereka belum tenggelam.”
“Belum,” ulang Selena. “Tapi akan.”
Kaelion akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, dingin.
“Kalau kau menyentuh mereka lebih jauh… aku tidak akan diam.”
Selena tertawa pelan.
“Ancaman?”
“Peringatan.”
Hening.
Angin malam berembus lebih kencang, menggerakkan rambut Selena sedikit.
“Kau berubah, Bang kael.”
“Tidak. Aku hanya tidak lagi ikut permainan kotor.”
Senyum Selena memudar.
“Kita lihat saja seberapa lama kau bisa bertahan.”
Ia berbalik masuk, meninggalkan Kaelion sendirian di balkon. Kaelion menatap langit gelap.
Arcelia…
Nama itu muncul begitu saja di pikirannya. Dan untuk pertama kalinya, ia sadar ini bukan lagi soal strategi. Ini soal pilihan hati.
Keesokan paginya,
Rumah Virellia kembali sibuk. Elvarin berlari kecil ke meja makan dengan tas sekolah hampir terjatuh.
“Mama! Aku dapat nilai tertinggi matematika!” serunya bangga.
Mama Mirella tertawa lembut. “Bagus sekali Sayang.”
Arcelia tersenyum melihat adiknya. Ia menyuapkan potongan telur ke mulutnya sambil menahan pikiran berat yang masih menggelayut.
Papa Alveron masuk ruang makan dengan wajah lebih tegang dari biasanya.
“Kontrak dengan perusahaan Ardent resmi dibatalkan,” katanya tanpa basa-basi.
Sendok Arcelia berhenti di udara.
“Dibatalkan Pa?” ulang Mirella pelan.
“Mereka bilang reputasi kita sedang tidak stabil.”
Kaiven mengatupkan rahangnya. Arcelia merasakan sesuatu di dadanya seperti ditekan.
Target berikutnya siap.
Kalimat itu terngiang lagi di kepalanya, meski ia tidak tahu dari mana rasa yakin itu datang.
Ini bukan kebetulan.
Ini pola.
Dan Selena… bergerak lebih cepat dari yang mereka kira.
Arcelia meletakkan sendoknya pelan. “Aku akan membantu,” katanya tegas.
Alveron menatapnya. “Kau sudah membantu dengan tetap fokus sekolah Sayang.”
“Papa selalu bilang keluarga ini dibangun bersama.”
Alveron terdiam.
Mama Mirella memegang tangan suaminya pelan, seolah memberi izin tanpa kata. Kaiven menatap Arcelia dengan campuran khawatir dan bangga.
“Baik,” kata Alveron akhirnya. “Tapi kau tidak bergerak sendirian.”
Arcelia mengangguk.
Suara hatinya berbisik pelan.
Kalau mereka pikir Virellia akan retak… mereka salah. Karena di balik semua tekanan, Keluarga ini justru mulai berdiri lebih rapat dari sebelumnya.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....