Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Ballroom megah sebuah hotel ternama dipenuhi cahaya kristal dan rangkaian bunga putih yang menjuntai anggun dari langit-langit.
Karpet tebal membentang menuju pelaminan, tempat Nara dan Arkan berdiri berdampingan.
Arkan tampak gagah dalam setelan jas hitam dengan detail elegan. Wajahnya tenang, penuh wibawa, namun tatapannya selalu lembut setiap kali menoleh pada istrinya.
Di samping Arkan, Nara terlihat begitu anggun. Gaun putih yang kemarin Nara pandangi di depan cermin kini benar-benar menyatu dengan tubuhnya. Detail payetnya berkilau lembut saat terkena sorot lampu. Senyum Nara tidak dibuat-buat, itu adalah sebuah senyum perempuan yang tahu ia sedang menjalani salah satu hari terpenting dalam hidupnya.
Di barisan terdepan, Indah dan suaminya berdiri dengan wajah berbinar.
Bertahun-tahun mereka menerima pertanyaan yang sama dari kerabat dan rekan bisnis yaitu “Kapan Arkan menikah?”
Hari ini, pertanyaan itu terjawab dengan cara paling megah.
Indah tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Ia menggenggam tangan suaminya sesekali, matanya berkaca-kaca melihat putranya akhirnya berdiri sebagai kepala keluarga.
Dekorasi yang disiapkan hampir sempurna. Meja-meja tamu dihiasi bunga segar dan lilin kristal. Menu makanan tersaji berlapis-lapis, mulai dari hidangan lokal, premium, hingga sajian internasional yang memanjakan lidah.
Setiap sudut ruangan mencerminkan kemewahan tanpa terasa berlebihan.
Tamu-tamu berdatangan mengenakan busana terbaik mereka. Para relasi bisnis, sahabat, keluarga besar, hanya teman kuliah Nara yang tidak di undang, karena Nara hanya mengundang Sandra.
Bisik-bisik yang terdengar tidak ada yang meremehkan, semuanya bisik-bisik pujian.
“Cantik sekali pengantinnya.”
“Serasi banget ya mereka.”
“Arkan memang pilihannya nggak salah.”
Nara mendengar sebagian komentar dari tamu saat berjalan menyapa tamu.
Nara tersenyum sopan, menyapa keluarga yang datang dari kampung dengan penuh haru. Orang tuanya tampak bangga, meski masih sedikit canggung berada di tengah kemewahan sebesar yang dibuat oleh ibu mertuanya.
Arkan tidak pernah melepas genggaman tangan Nara terlalu lama.
Setiap kali ada tamu penting yang datang, Arkan selalu memperkenalkan Nara dengan penuh keyakinan. “Istri saya." Dua kata yang diucapkan Arkan terdengar sederhana. Tapi bagi Nara, itu adalah pengakuan yang paling berharga.
Di tengah gemerlap pesta, Nara sempat menoleh pada Arkan.
“Sayang..” Arkan membalas tatapan Nara.
“Hmm?”
“Terima kasih.” kata Nara.
Arkan tersenyum tipis. “Harusnya aku yang bilang begitu.” jawab Arkan yang memang sangat berterima kasih ke Nara karena sudah hadir di hidupnya.
Lampu sorot perlahan meredup untuk sesi foto utama. Tepuk tangan menggema saat Arkan dan Nara berdiri di tengah panggung.
Tamu-tamu melihat pasangan pengantin sebagai simbol keserasian, tampan dan cantik, mapan dan elegan.
Tidak ada yang tahu ada badai yang sempat mencoba menghancurkan pernikahan hari ini.
Tidak ada yang tahu betapa dekatnya kebahagiaan yang sedang di dialami pengantin dengan jurang fitnah.
Yang para tamu lihat hanyalah dua orang yang saling menatap dengan cinta yang nyata.
Momen inilah membuat Nara semakin sadar, Ia tidak sedang membuktikan apa pun pada siapa pun.
Ia hanya menjalani hidup yang memang sudah ditakdirkan untuknya. Sebagai istri Arkan.
Sebagai perempuan yang beruntung.
Sebagai pengantin yang hari ini benar-benar bersinar.
Di antara para tamu yang datang dengan senyum dan ucapan selamat, ada satu pasang mata yang tidak benar-benar ikut bahagia.
Dia adalah Karina
Karina datang dengan gaun mahal dan riasan sempurna, berdiri di antara para sosialita dan rekan bisnis keluarga Arkan. Dari luar, ia tampak seperti tamu undangan biasa. Tapi di dalam hatinya, ia membawa satu tujuan yaitu mencari celah.
Sebelum hari ini, Karin sudah menyebarkan narasi halus. Bahwa Nara tidak setara. Bahwa latar belakangnya terlalu sederhana untuk berdiri di samping Arkan. Bahwa keluarga Nara pasti akan terlihat canggung dan kampungan di pesta sebesar ini.
Karina yakin rumor itu akan hidup dengan sendirinya.
Namun kenyataan di hadapan Karina justru menamparnya pelan.
Begitu para tamu melihat Nara berdiri di pelaminan, yang terlihat adalah Nara yang anggun, percaya diri, dengan tutur kata lembut tapi tegas, bisik-bisik yang terdengar bukanlah ejekan.
Malah bisik-bisik yang Karina dengar membuat Karina semakin jengkel.
“Cantik sekali.”
“Pembawaannya elegan ya.”
“Pantas jadi istri Arkan.”
Tidak ada yang menyebut soal asal-usul.
Tidak ada yang membandingkan kelas sosial.
Rumor yang Karina sebarkan seolah menguap begitu saja.
Karina mengalihkan pandangannya ke sisi lain ballroom. Ia mencari keluarga Nara.
Ia berharap melihat kegugupan, pakaian yang salah pilih, atau sikap yang terlalu norak.
Namun yang Karin lihat justru berbeda.
Keluarga Nara tampil rapi dan sopan. Orang tua Nara tersenyum hangat saat menyambut tamu yang menyapa mereka. Saudara-saudaranya berpakaian sederhana tapi pantas. Tidak ada gestur berlebihan. Tidak ada sikap memalukan.
Bahkan Karina sempat beberapa kali salah menebak, mana keluarga Nara, mana relasi Arkan. Semuanya terlihat menyatu.
Semua terlihat pantas berada di sana.
Karin menggertakkan giginya pelan. Rencananya gagal lagi.
Karina menatap ke arah pelaminan.
Arkan berdiri tegap, sesekali membungkuk sopan pada tamu. Tangannya selalu kembali menggenggam tangan Nara setelah selesai bersalaman.
Dan Nara, Tidak terlihat gugup. Tidak terlihat kampungan, Nara berdiri dengan punggung tegak, senyum tulus, dan tatapan yang tenang.
Bukan tatapan perempuan yang takut dihakimi.
Melainkan perempuan yang tahu dirinya layak.
Karina langsung merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan yaitu kalah. Bukan karena uang. Bukan karena popularitas. Tapi karena wibawa yang Nara miliki.
Sementara itu, Nara sama sekali tidak memikirkan Karina, Ia terlalu sibuk menerima doa, pelukan, dan ucapan tulus dari orang-orang yang benar-benar datang untuk merayakannya.
Jika kemarin saja Nara masih sempat bertanya dalam hati apakah dirinya pantas? Maka hari ini Nara mendapatkan jawabannya.
Bukan dari pembelaan. Bukan dari pembuktian.
Tapi dari cara orang-orang memandangnya.
Dan di tengah pesta mewah itu, yang runtuh bukan harga diri Nara, melainkan kesombongan Karina sendiri.
Karina tidak bisa terima, Karina pikir keluarga Nara akan kampungan soal makanan, tapi ternyata Karin salah, malah keluarga Nara terlihat tidak terlalu rakus.
"Kenapa bisa seperti ini?" Karina menatap pantulan wajahnya dicermin yang ada di toilet.
"Tidak bisa, pokoknya mereka semua harus tahu, kalau Nara itu hanya seorang pembantu. Yah semua orang harus tahu itu." Karin kembali berpikir. Mencari satu cara saja untuk menjatuhkan Nara.
Karin keluar dari toilet, dan perasaannya sangat kesal, karena pesta pernikahan Arkan dan Nara berjalan dengan sukses.
"Sial, aku yang berusaha mengambil hati tante Indah, tapi malah tidak bisa mendapatkan Arkan, tapi wanita itu?" Karin menatap Nara dengan tatapan iri.
"Aku pasti akan dapat cara buat kamu malu." kata Karina dengan tatapan penuh dendam ke arah Nara, sedangkan Nara masih sibuk dengan tamu-tamu yang ternyata sangat banyak.