NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Pride in the Poverty

Di dalam kemewahan White Rose Mansion, Liora Elowyn merasa seperti burung cendrawasih yang terkurung di sangkar emas. Kamarnya luas, ranjangnya empuk, dan setiap pagi pelayan menyiapkan sarapan yang harganya mungkin setara dengan gaji sebulan di kantor lamanya. Namun, bagi Liora, setiap kemewahan itu terasa seperti beban yang menghimpit dadanya.

​"Liora, kau tidak perlu pergi ke toko buku itu lagi, Nak," ujar Eleanor suatu pagi di meja makan. Wanita itu menatap Liora dengan kasih sayang yang tulus. "Tinggallah di sini. Bantu aku mengelola yayasan dari rumah saja. Kau tidak perlu kelelahan lagi di sana."

​Liora tersenyum tipis, lesung pipinya muncul meski nampak layu. "Terima kasih, Nyonya. Tapi saya tidak bisa. Saya tidak ingin menjadi beban. Saya ingin tetap bekerja dengan tangan saya sendiri. Toko buku itu adalah satu-satunya tempat yang mengingatkan saya bahwa saya masih memiliki hidup yang nyata, bukan sekadar pemberian orang lain."

​Eleanor mendesah, ia tahu watak Liora yang keras kepala dalam hal harga diri. "Kau persis sepertiku saat muda, Liora. Baiklah, tapi setidaknya biarkan sopir mengantarmu."

​"Tidak perlu, Nyonya. Saya akan naik bus seperti biasa."

​Liora ingin tetap berpijak pada bumi, karena ia tahu, sekali ia terbang terlalu tinggi dengan sayap orang lain, jatuh akan terasa jauh lebih mematikan.

​Sementara itu, kebencian di hati Leo Alexander Caelum telah bermutasi menjadi racun yang pekat. Jika sebelumnya ia membenci Liora karena kemiskinannya, kini ia membenci gadis itu karena Liora telah merampas satu-satunya hal yang paling berharga bagi Leo: kasih sayang ibunya.

​Leo duduk di kantornya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV di sekitar White Rose Mansion. Ia melihat Liora keluar dari gerbang setiap pagi, berjalan kaki menuju halte bus dengan kepala tegak.

​"Lihat dia," desis Leo pada Jacob yang berdiri di sudut ruangan. "Bahkan setelah masuk ke rumahku, dia masih berakting menjadi martir. Tetap naik bus? Tetap bekerja di toko kumuh itu? Dia hanya ingin membuatku terlihat seperti penjahat besar di depan Ibu."

​"Mungkin dia memang hanya ingin mandiri, Tuan," sahut Jacob dengan suara datar.

​"Mandiri?" Leo tertawa pahit. "Itu manipulasi tingkat tinggi, Jacob. Dia ingin Ibu merasa kasihan setiap kali melihatnya pulang dengan peluh dan debu. Dia ingin aku dihantui rasa bersalah. Tapi dia salah besar."

​Leo bangkit, menyambar kunci mobilnya. Emosinya yang meledak-ledak tidak bisa lagi ia tahan di dalam ruangan berpendingin udara itu.

​Sore itu, saat Liora sedang menyusun buku-buku di rak bawah, bayangan besar menutupi cahaya lampu. Liora tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Bau maskulin yang tajam itu sudah terpatri di memorinya.

​"Masih di sini, oh asisten kesayangan Ibu?" suara Leo terdengar lebih berbisa dari biasanya.

​Liora tetap pada posisinya, terus memasukkan buku ke rak. "Jika Anda ingin menghina saya lagi, silakan. Saya sudah terbiasa."

​Leo berjongkok di sampingnya, membuat jarak di antara mereka hilang. Ia berbisik tepat di samping telinga Liora, suaranya dingin dan mengancam. "Kau pikir dengan tinggal di rumah Ibuku, kau sudah menang? Kau pikir pelukan Ibu akan melindungimu dariku selamanya?"

​Liora menoleh, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Saya tidak pernah merasa menang, Tuan Leo. Saya hanya mencoba hidup."

​"Hidup?" Leo mencengkeram lengan Liora, menariknya berdiri dengan paksa. "Kau sedang merusak keluargaku! Ibu tidak mau bicara padaku karena kau! Kau mencuci otaknya dengan kepura-puraanmu ini! Kenapa kau tetap bekerja di sini? Untuk menunjukkan pada dunia betapa kejamnya aku karena membiarkan asisten ibuku kepanasan di bus?"

​"Saya bekerja karena saya tidak sudi memakan uang Anda!" balas Liora dengan suara meninggi.

"Setiap butir nasi yang dibeli dengan uang Caelum Empire terasa seperti duri di tenggorokan saya! Saya lebih baik mati kelaparan daripada harus merasa berhutang budi pada pria yang menganggap saya sampah!"

​Leo tersentak. Matanya menyipit penuh amarah. "Kalau begitu, pergilah dari rumah itu! Jika kau begitu suci dan punya harga diri, kenapa kau masih tidur di bawah atap keluargaku?!"

​"Karena Nyonya Eleanor memohon pada saya! Dia satu-satunya orang yang memperlakukan saya seperti manusia!" Liora menghempaskan tangan Leo. "Anda tahu apa yang paling menyedihkan, Tuan Leo? Bukan kemiskinan saya. Tapi kenyataan bahwa Anda memiliki segalanya, namun hati Anda lebih kosong daripada saku saya."

​Leo terdiam. Wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. Ia ingin membalas, ia ingin menyeret Liora keluar saat itu juga, namun ia tahu ia tidak bisa melawan perintah ibunya tanpa kehilangan Eleanor sepenuhnya.

​"Kau benar-benar parasit yang lihai," ucap Leo dengan suara rendah yang bergetar. "Tapi ingat ini, Liora. Aku akan mengawasimu. Setiap napas yang kau ambil, setiap langkah yang kau buat. Aku akan menemukan celahmu. Dan saat saat itu tiba, aku akan memastikan kau diusir bukan hanya dari rumahku, tapi dari kota ini. Aku akan membuatmu memohon padaku untuk mengakhiri penderitaanmu."

​Leo berbalik dan keluar dari toko, menendang tumpukan kardus di dekat pintu hingga berantakan.

​Liora jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya. Ia tidak menangis kali ini. Air matanya sudah kering. Ia hanya merasa lelah. Sangat lelah. Di mansion ia merasa seperti orang asing, dan di toko buku ia terus diburu oleh monster bernama Leo.

​Dunia seolah tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi Liora Elowyn untuk sekadar bernapas tanpa rasa takut. Sementara di luar sana, Leo masuk ke mobilnya dengan napas memburu. Ia benci Liora. Sangat benci. Namun, ia juga benci kenyataan bahwa kemarahan ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa terhubung dengan gadis itu.

​"Bagi Leo, harga diri Liora adalah sebuah penghinaan terhadap kekuasaannya; ia lebih suka Liora memohon uang daripada melihatnya bekerja keras dengan bangga."

​"Liora sadar bahwa tinggal di mansion Eleanor bukan berarti ia selamat, melainkan ia hanya pindah ke kandang yang lebih cantik untuk menunggu sang singa menerkamnya."

​"Kebencian Leo adalah api yang membakar dirinya sendiri, namun ia bersumpah akan memastikan Liora menjadi orang pertama yang hangus oleh apinya."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!