Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar kelam
Jakarta Selatan tidak pernah benar-benar tidur, dan kawasan Blok M adalah detak jantungnya yang paling berisik.
Di luar sana, deru mesin kendaraan dan teriakan kernet bus mulai memenuhi udara yang masih lembap. Namun, di dalam sebuah kedai kopi tersembunyi dengan konsep dinding semen ekspos dan pencahayaan temaram, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi ruangan, mencoba meredam polusi yang merayap dari pintu depan. Gio duduk dengan tenang di sudut favoritnya. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap, aromanya menenangkan saraf-sarafnya yang masih mengantuk.
Para pelayan berlalu-lalang di sepanjang sudut cafe, melayani satu-persatu pelanggan yang semakin banyak berdatangan menjelang sore.
Suara televisi di dekat meja kasir menjadi salah satu dari suara yang terdengar di dalam cafe itu di tengah kebisingan pengunjung.
Berita yang disajikan hanya itu-itu saja, tidak berubah sama sekali selama seminggu ini. Entah itu berita kebanjiran di pusat kota, perampokan, kecelakaan di tol, fluktual ekonomi, hingga satu berita terakhir yang tiba-tiba menarik atensi Gio.
"Erina Safira, seorang model dan juga influencer yang baru-baru ini viral karena menjadi selingkuhan oleh Adrian, kini ditemukan tewas di basement apartemennya,"
Deg!
Gio langsung menoleh cepat. Entah mengapa, ia berdiri dari kursinya dan tiba-tiba kakinya tergerak mendekat televisi di dekat meja kasir itu.
"Siang ini, security menemukan jasad Erina di basement dengan keadaan tak bernyawa dengan sebuah pisau yang tertinggal di dekat tubuh wanita ini,"
Portal saluran televisi itu lalu menampilkan lantai basement apartemen yang kini sudah diberi garis polisi, terlihat ada sisa bercak darah yang tersisa disana.
Suasana cafe yang sebelumnya sibuk kini menjadi semakin riuh. Beberapa pengunjung di meja sebelah mulai berbisik-bisik sambil menunjukkan layar ponsel mereka. Seorang barista di balik meja bar bahkan berhenti memutar grinder kopi, matanya terpaku pada televisi kecil di sudut ruangan yang sedang menyiarkan berita darurat tersebut.
"Meninggal?" bisik Gio tak percaya.
"Kasihan sekali ya, masih muda malah sudah meninggal," ucap seorang barista disana. Namanya Ethan.
Gio menoleh, "Berita itu... Baru saja terjadi?"
Ethan menatap laki-laki di hadapannya itu, "Ya. Baru beberapa jam lalu, gua sempat nglewatin apartemen itu dan ngeliat banyak mobil polisi disana,"
"Padahal tuh cewek pinter, cantik, cuma ya salah jalan aja. Sial banget nasibnya," ucap Ethan kembali. Ia lalu meninggalkan meja kasir itu dan kembali ke meja bar untuk membuat pesanan.
Gio terdiam sejenak di posisinya. Ia berusaha mencerna berita yang baru saja menjadi topik hangat itu. Ini aneh. Seolah direncanakan oleh seseorang, dan sangat tiba-tiba.
Menurut observasi Gio, gadis itu sepertinya dalam lingkungan yang aman dan selalu dikelilingi orang-orang baik meski ada kasus yang sering dia buat. Dan bagaimana bisa kini dia mati konyol karena dibunuh seseorang? Sepertinya salah satu dari orang-orang disekitarnya adalah pembunuh itu, itulah spekulasi Gio.
Ia lalu kembali ke mejanya dan meraih ponsel yang tergeletak diatas sana. Gio menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan nomor Arini dan menelpon wanita itu yang masih berada di Amsterdam.
Belanda, Amsterdam
Di kediaman Arini, wanita itu kini sedang bersantai sambil menonton acara televisi favoritnya. Ia menyeduh cokelat panas dengan beberapa barang churros di sebuah piring di atas meja.
Di tengah acara televisi yang sedang berlangsung, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sedikit menganggu dirinya.
Arini enggan untuk melirik ponsel itu karena masih ingin menonton, namun sambungan telepon di benda itu tak kunjung berhenti.
Mau tak mau Arini akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan meraih ponsel tersebut. Ia melihat notifikasi pesan dari Ryan. Pria itu memintanya untuk makan malam bersama di salah satu cafe di dekat komplek sini.
Namun selain notifikasi dari Ryan, rupanya Gio sedari tadi sudah menelpon dirinya bahkan sampai 5 kali. Tumben sekali, pikir Arini. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting sehingga membuat laki-laki itu tiba-tiba menelponnya hingga berulang kali.
Arini pun membalas pesan dari Ryan dulu untuk mengiyakan ajakannya makan bersama malam ini. Setelah itu ia menekan nomor Gio dan menelpon kembali laki-laki itu di sana.
Sementara itu di Jakarta
Gio memijat pelipisnya pelan, rasanya ada banyak sekali spekulasi yang muncul setelah dirinya mendengar berita gadis itu.
Gio sebenarnya merasa kasihan dengan gadis itu, namun disisi lain ia khawatir jika berita itu bisa saja menjadi senjata untuk menjatuhkan nama Arini di publik.
Beberapa saat kemudian, ponsel yang sebelumnya mati itu kini menyala karena muncul sambungan telepon dari Arini. Gio menghela napas lega, ia meraih ponselnya dengan cepat dan mengangkat telepon wanita itu.
"Halo?" suara Arini terdengar di seberang sana.
Wanita itu menyapa Gio sekali lagi, namun tak ada jawaban. Merasa penasaran, akhirnya Arini berteriak di telepon hingga membuat kuping laki-laki itu hampir pecah.
"HALO, LU DENGER NGGA SIH?!"
"WOY, MONYET! LU PUNYA TELINGA KAN?"
Gio mendengus kesal sambil mengorek telinganya. Rasanya gendang telinganya hampir pecah.
"Iya, iya, gue denger kok." sahut Gio.
"Setop manggil gue monyet. Orang ganteng kok dipanggil monyet, cih,"
Suara decakan pelan Arini terdengar. "Cepet Kenapa lo tiba-tiba nelpon?"
Gio terhenyak. Tak lama kemudian, ia kembali bersuara. "Erina.. Meninggal."
"WHAT? LO BILANG APA?!" Arini terkejut bukan main mendengar ucapan Gio.
"Wait, lo kalau mau bercanda jangan sekarang deh. Ngga lucu!" ucap Arini kembali.
Gio menghela napas, lalu menyahut, "Memang nada bicara gua keliatan lagi bercanda?"
"Gua serius. Erina udah meninggal.. Baru saja, beberapa jam lalu,"
Arini terdiam. Matanya berkaca-kaca. Sepersekian detik kemudian ponsel itu jatuh dari tangannya ke lantai. Ia merasa kedua kalinya langsung lemas.
Suara Gio samar-samar terdengar dari sambungan telepon itu, kembali memanggil nama Arini. Namun Arini tak menyahut. Ia masih terhenyak dalam isi pikirannya sendiri.
"Gua tahu lo lagi syok,"
"Untuk sekarang yang gua tahu, gadis itu meninggal karena di bunuh. Pembunuhan berencana, entah siapa itu,"
"Dan gua mau minta satu hal sama lo, Arini,"
"Jaga diri lo baik-baik disana. Gua ngerasa ada firasat buruk, gua takut kalau ini bisa jadi senjata buat hancurin nama baik lo di depan publik,"
"Take care,"
Sambungan pun berakhir secara sepihak.
Ponsel yang terjatuh di atas karpet tebal itu masih menyala, menampilkan layar hitam yang menandakan panggilan telah berakhir.
Cokelat panas di atas meja yang tadinya mengepulkan uap manis kini mendingin, diabaikan begitu saja. Arini masih terpaku, jemarinya yang dingin meremat ujung sofa. Kalimat Gio terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, "Pembunuhan berencana,"
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁