Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resign
Di sebuah perusahaan yang memang masih beroperasi meskipun hari sabtu. Pak Priawan mendatangi Pak Budi Ayah Maura. Pak Budi merasa heran dan sedikit tersanjung dengan kedatangan Pak Priawan ke ruangannya. Namun, tak berselang dirinya merasa terkejut dan tak percaya.
"Pak Budi. Sebelumnya saya mohon maaf dan sekaligus merasa kecewa. Walau mungkin Pak Budi sendiri belum mengetahuinya. Saya pun terkejut dan merasa tak terima saat pagi tadi Putra kami datang dan memberikan hasil pemeriksaan dari rumah sakit."
"Hasil pemeriksaan ternyata putri anda tidak bisa memiliki keturunan dan kami menginginkan keturunan dari putra kami. Saya kembalikan Putra anda Maura pada anda. Dan mungkin saat ini istri saya pun telah meminta Maura putri bapak untuk kembali ke rumah kalian."
Setelah mengatakan itu semua Pak Priawan pun berpamitan pada Pak Budi. Pak Budi hanya diam setelah mengucapkan kata maaf. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sebagai seorang Ayah dirinya pun merasa terpukul jika memang benar Maura putrinya tidak bisa memiliki keturunan.
Setelah berfikir sejenak akhirnya Pak Budi memutuskan untuk resign dari perusahaan yang telah memberikannya kehidupan yang layak baginya dan keluarganya. Dengan berat hati Pak Budi meninggalkan semuanya. Dirinya mengirimkan surat resignnya kepada HRD kemudian bersiap pulang.
Tak ada yang berani menegur atasan mereka di divisi yang di pimpin Pak Budi. Dirinya hanya diam seraya menatap satu persatu bawahan yang dia naungi. Bahkan teguran dari Arif asistennya pun tak di harapkan.
"Saya pamit Rif. Semoga kalian bisa lebih sukses setelah kepergian saya."
Hanya kalimat itu yang meluncur setelah itu Pak Budi meninggalkan perusahaan. Tak satu pun tau apa yang terjadi antara Pak Budi dan Pak Priawan di dalam ruangan Pak Budi pagi tadi. Bahkan Arif asistennya. Dan tak ada satupun yang tau jika Pak Budi merupakan besan dari Pak Priawan selain Arif.
Sampai di rumah Pak Budi melihat putri nya sudah berada di rumah dan tengah menangis di pelukan sang istri. Pak Budi hanya diam mematung di ambang pintu.
"Ayah..."
Maura dan Ibu Tias pun melerai pelukan mereka setelah mendengar suara Maulida memanggil Pak Budi. Keduanya hanya diam memandang Pak Budi. Kemudian Pak Budi menghampiri putrinya. Maura pun menghambur kedalam pelukan sang Ayah dan menumpahkan segala perih di hatinya.
Sementara di sebuah apartemen di kawasan kota Aska dan Clara kekasihnya tengah saling membantu mencapai puncak kebahagiaan mereka. Aska bagai bayi kehausan yang terus menempel pada Clara. Dan Clara terus memberikan sumber kehidupan pada Aska. Setelah keduanya saling terpuaskan Clara pun memeluk erat Aska.
"Bagaimana reaksi Papi dan Mami sayang?" Tanya Clara.
"Sepertinya mereka kecewa dan marah padanya." Jawab Aska.
"Hm... Terus gimana sayang?" Clara.
"Mami akan mengurus perceraiannya sayang. Dan setelah itu aku akan meminta Papi dan Mami melamar kamu sayang." Aska.
"Terima kasih sayang." Clara.
"Terima kasih kamu sudah bersabar ya sayang." Aska.
"Kamu juga sayang. Sekarang kontrak sialan itu telah berakhir dan aku akan menjadi milik mu seutuhnya." Clara.
Mereka berdua pun kembali saling memberikan kepuasan satu sama lain. Kali ini Aska tak menggunakan pengamannya karena berharap apa yang di tanamnya segera tumbuh.
Di kediaman orang tua Maura. Maura menceritakan semua tentang pernikahannya dan kebohongan hasil pemeriksaan yang tak pernah dia lakukan sama sekali. Pak Budi merasa tak terima tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Namun Ibu Tias terus mengusap punggung Pak Budi untuk membuatnya tenang. Isakan tangis masih terdengar dari Maura.
"Maafin Kakak Yah." Ucapnya penuh penyesalan.
"Kakak tidak salah Nak. Maaf kan juga Ayah yang terlalu cepat mengambil keputusan nak." Sesal Pak Budi.
Lanjut....