Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 28
Zahra duduk dengan punggung kaku. Tangannya meremas ujung jaketnya sendiri di bawah meja. Interior kafe itu terlalu rapi, terlalu bersih, dan terlalu… bukan dirinya.
Pelayan datang membawa menu. Zaidan menerimanya santai, sementara Zahra bahkan tidak berani membuka daftar harga.
“Pesan apa?” tanya Zaidan ringan.
“Saya nggak lapar,” jawab Zahra cepat.
“Kamu belum makan dari siang,” sahut Zaidan tanpa menatapnya, seolah sudah hafal kebiasaan Zahra.
Zahra menunduk. “Mas… kita pulang aja, ya?”
Zaidan akhirnya menatapnya. “Zahra, santai. Kita di sini cuma makan.”
“Saya nggak nyaman.”
“Kamu pikir orang-orang di sini peduli?” Zaidan menyandarkan punggungnya. “Mereka sibuk sama urusan masing-masing. Kita datang, pesan makan, bayar. Selesai. Kita di sini makan, bukan buat maling.”
Zahra menggigit bibirnya. “Bukan itu maksud saya.”
“Terus apa?” tanya Zaidan lembut.
Zahra menarik napas panjang. “Saya nggak biasa di tempat kayak gini. Saya ngerasa… nggak pantas.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Zahra jujur dengan perasaannya saat ini.
Zaidan terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Siapa yang bilang kamu nggak pantas?”
Zahra tersenyum hambar. “Mas nggak ngerti.”
“Ya sudah, jelasin biar saya ngerti.”
Zahra menggeleng. “Mas selalu begini. Mas nyaman dengan cara Mas. Mas terbiasa dengan tempat bagus, makanan mahal. Saya nggak. Hal kecil kayak gini aja kita sudah beda.”
Ia menatap Zaidan, kali ini lebih berani. “Saya sudah bilang dari awal. Dunia kita beda.”
Zaidan menyandarkan kedua tangannya di atas meja. “Jadi karena tempat makan, kamu nilai kita nggak cocok?”
“Bukan cuma tempat makan!” Zahra mulai terdengar frustrasi. “Mas selalu maksa. Saya bilang mau pulang, Mas tahan. Saya bilang nggak nyaman, Mas bilang biasa aja. Ini baru hal kecil saja kita nggak sejalan. Lalu gimana saya bisa nerima perasaan Mas?”
Suasana di antara mereka mendadak hening. Suara mesin kopi dan obrolan pelan dari meja lain terdengar samar.
Zaidan tidak langsung menjawab. Ia menatap Zahra lama, bukan dengan marah, tapi seperti sedang mencerna setiap kata yang keluar dari wanita itu.
“Kalau saya maksa, maaf,” ucapnya akhirnya. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Saya cuma nggak mau kamu terus lari.”
“Saya nggak lari.”
“Kamu lari dari kemungkinan,” balas Zaidan pelan. “Kamu sudah memutuskan kita beda bahkan sebelum kita mulai.”
Zahra terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Saya ajak kamu ke sini bukan buat pamer,” lanjut Zaidan. “Saya cuma mau duduk lebih lama sama kamu. Kalau kamu lebih nyaman makan di warung pinggir jalan, kita bisa ke sana. Kalau kamu mau cuma minum es teh di depan minimarket, saya juga bisa.”
Ia berhenti sejenak. “Masalahnya bukan tempatnya, Zahra. Masalahnya kamu nggak mau kasih saya kesempatan.”
Zahra menatap meja, matanya mulai terasa panas.
“Saya takut,” bisiknya hampir tak terdengar.
Zaidan mendengarnya.
“Tapi jangan hukum saya karena ketakutan kamu,” ucapnya lembut. “Kalau memang kita nggak cocok, biar waktu yang buktiin. Bukan karena kamu sudah menyerah duluan.”
Zahra menutup matanya sesaat. Semua terasa rumit. Ia ingin menjaga jarak, tapi Zaidan selalu datang lebih dekat. Ia ingin yakin mereka berbeda, tapi pria itu terus berusaha menjembatani perbedaan itu.
Pelayan datang membawa minuman yang tadi sempat dipesan Zaidan tanpa ia sadari. Dua gelas minuman dingin diletakkan di meja.
Zaidan mendorong salah satunya ke arah Zahra. “Minum dulu. Habis itu, kalau kamu tetap mau pulang, saya antar.”
Kali ini tidak ada nada memaksa. Zaidan hanya menawarkan, selebihnya terserah Zahra.
Zahra menatap gelas itu lama sebelum akhirnya meraihnya perlahan. Ia berharap dengan sedikit minuman dingin ini, ia bisa menenangkan dirinya.
Zahra akhirnya meneguk minumannya pelan. Dingin cairan itu terasa kontras dengan dadanya yang hangat dan sesak sekaligus.
Mereka tidak banyak bicara setelah itu. Bukan karena marah, tapi karena sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Beberapa menit kemudian, Zahra berdiri lebih dulu.
“Mas… saya mau pulang.”
Kali ini Zaidan tidak menahan. Ia ikut berdiri, mengambil kunci motor dari meja tanpa banyak komentar.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Tidak ada lagi candaan soal kucing atau posisi duduk. Zahra tetap menjaga jarak, tapi kali ini bukan karena canggung, tapi lebih karena sedang berpikir.
Setibanya di dekat gang rumah Zahra, Zaidan mematikan mesin.
“Makasih,” ucap Zahra pelan.
Zaidan menoleh sedikit. “Saya nggak nyerah cuma karena kamu bilang kita beda.”
Zahra tidak menjawab. Ia turun, melepas helm, lalu menadahkan tangannya, berharap Zaidan segera memberikan kunci motornya. Melihat itu Zaidan segera turun dari motor dan mengembalikan kunci motor Zahra.
Tatapan mereka bertemu sebentar sebelum Zahra kembali naik ke atas motor, menyalakannya lalu kemudian membawa motor tuanya itu masuk gang untuk kembali ke rumahnya.
Zaidan menghela napas panjang.
Beberapa menit kemudian, ia kembali memesan ojek online dari pinggir jalan. Ia pulang dengan perasaan gelisah karena pertemuan mereka hari ini tidak berakhir dengan baik.
Sore menjelang saat Zaidan tiba di rumah. Ia turun dari ojek tepat ketika Fadi sedang menyiram tanaman di halaman.
Fadi menghentikan semprotannya, menatap anak laki-lakinya dari atas sampai bawah.
“Lho?” alisnya terangkat. “Kok naik ojek?”
Zaidan membuka helmnya sambil berjalan masuk. “Iya.”
“Motormu mana?” tanya Fadi lagi.
“Dipinjem.”
“Dipinjem siapa?” Suara lain ikut menyahut.
Bunga muncul dari dalam rumah, masih memegang ponsel. Ia memicingkan mata curiga. “Kamu jangan bilang motornya digadai demi cinta?”
Zaidan mendengus. “Nggak lebay, bisa nggak?”
Fadi mendekat, menyilangkan tangan di dada. “Motor terparkir rapi di garasi dibilang dipinjem. Kalau motor rusak kan masih ada mobil. Atau motor Papa. Kenapa malah naik ojek? Hemat BBM atau lagi program diet kendaraan?”
“Papa ini…” Zaidan mengusap wajahnya kasar.
“Jangan-jangan…” Bunga menutup mulutnya dramatis. “Sengaja biar bisa deketin calon mantu?”
Zaidan menatap adiknya tajam. “Nggak ada kata mantu-mantuan.”
Fadi tertawa kecil. “Kalau jalan sama cewek, pakai motor sendiri dong, Dan. Masa kamu kayak nggak modal gitu pakai motor cewek.”
Zaidan terdiam sepersekian detik. Kenapa harus ketemu dengan mereka sih, pikirnya. Zaidan pikir ia masih aman seperti saat ia pamit pergi tadi siang.
“Nah loh!” Bunga berseru kemenangan. “Fix! Ini kamu pakai kendaraan ceweknya. Ngapain sih kayak gitu? Lagi trend nya begitukah?”
Zaidan menggeleng tak habis pikir. “Kalian ini kebanyakan nonton sinetron.”
Fadi menepuk bahu anaknya pelan. “Papa cuma mau tahu satu hal.”
“Apa lagi, Pa?”
“Kamu serius atau cuma coba-coba?”
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit berubah. Tidak lagi sekadar candaan.
Zaidan menatap ayahnya mantap. “Serius.”
Fadi mengangguk pelan. “Kalau serius, jangan gengsi. Tapi juga jangan maksa.”
Zaidan terdiam, teringat wajah Zahra di kafe tadi. Wajah gelisahnya dan tidak nyamannya.
Bunga menyenggol lengannya. “Kamu ditolak ya tadi?”
Zaidan melirik kesal. “Nggak ditolak.”
“Belum diterima?” Bunga mengoreksi dengan senyum jahil.
Zaidan berjalan masuk ke rumah tanpa menjawab.
Dari belakang, Fadi berseru, “Besok jangan lupa perginya pakai motor kamu. Atau nanti Papa gadaikan aja di Pegadaian!”
“Papa!” sahut Zaidan frustasi, sementara Bunga sudah tertawa terbahak.
Selamat dobel Z.
Gk ada bonchap thor🤭
papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤
🤣🤣🤣🤣🤣
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini